Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
TAMU PENTING


__ADS_3

Kini Marcel tau, dibalik kata konyol, absurd, gesrek nan rusuh ada terselip sebuah sifat mulia dari atasannya ini.


"Om tolong diangkatin ya!" pinta Fara.


Sebelum benar-benar pulang Fara mampir ke kedai minuman bersama kedua ajudannya itu.


"Duduk, pesan saja nanti biar saya yang traktir! Itung-itung menang arisan kemarin," imbuh Fara.


Kintan mengerutkan dahinya, "maaf bu, tapi---"


"Ngga usah so ngga enak gitu Ntan, tenang aja. Dompet saya masih sanggup buat kasih kamu makan sampai muntah, bukan hasil korup juga!" ucap Fara berkelakar. Bukankah tadi atasannya bilang bahwa berbelanja hari ini adalah hasil uang arisan miliknya ditambah uang pribadi? Memang sebanyak apa uang jajan atasannya ini dari sang komandan?!


"Terimakasih bu," ucap Marcel.


Sebenarnya ada maksud tersendiri Fara mengulur-ulur waktu untuk kembali ke batalyon, ia malas untuk membantu memasak, karena faktanya di batalyon para ibu-ibu kumpulan tengah memasak untuk dibawa nanti siang ke desa yang terkena bencana. Fara tetaplah Fara, meski sudah berubah ia tak benar-benar 100 persen berubah.


Setelah menghabiskan beberapa jajanan bersama kedua ajudannya ia melirik jam di tangan dan memutuskan untuk pulang.


"Pulang sekarang aja yuk! Kayanya ibu-ibu juga udah selesai masaknya," Fara langsung mengatupkan bibirnya.


"Ha-ha-ha! Jadi ibu mengajak kami makan karena itu rupanya?" tawa Marcel, dibalas tawa Kintan.


Fara cengengesan, "keceplosan. Ck--lagian males om ah! Mesti bau-bau bawang, capek! Ngga kuat Fara kalo harus masak besar gitu, di depan kompor panas-panasan!" akhirnya ia mengaku, bumil ini beranjak dari posisi wenakk-nya.


****


Mobil yang ditumpangi Fara sudah sampai di batalyon, membawa serta barang-barang yang sudah dibelinya.


Kebetulan sekali, saat Fara sampai ke batalyon aktivitas memasak para istri memang sudah hampir rampung. Ratusan box makan siang sudah siap angkut.


"Om Gentra!" panggil Fara saat melihat Gentra dan Yosef kembali


"Iya bu,"


"Gimana kondisi disana? Apa memungkinkan untuk perwakilan ibu-ibu persit kesana?" tanya nya.


"Insyaallah bu, jalur sudah aman. Tapi apa ibu yakin mau menyebrangi sungai?" tanya Gentra melirik perut Fara.


Fara menarik senyumannya menenangkan, "tenang aja om! Kita kan bolang! Bibitnya si mata garuda pasti tangguh!" ia mengusap-usap perutnya membuat bang Yo dan Gentra tertawa.

__ADS_1


"Apa tak sebaiknya kau kabari Fath terlebih dahulu, Ra?" tanya Yosef.


"Ngga usah bang, kalo ngasih tau dulu jatohnya Fara jadi kaya mau piknik anak tk. Harus segala ikut aturan abang," jawab Fara.


"Wahh, nanti dia bisa marah Ra?!"


"Tenang aja om, nanti Fara pasti bilang kok, minta ijin. Pasti diijinin,"


"Ck, kau ini---mau bagaimana tak diijinkan kau saja sudah di lokasi?!" sahut bang Yo.


"Ha-ha-ha! Pinter bu!" Gentra memberinya acungan jempol, istri Al Fath memang cerdik mirip kancil.


Dua buah truk Reo dipakai untuk mengangkut makanan dan barang-barang yang Fara bawa.


Fara berangkat bersama perwakilan beberapa istri prajurit dan prajurit yang kembali membantu warga membangun jembatan.


Terngiang semua janji yang sering ia ucapkan saat kumpulan,


VisiMisi Persatuan Istri Prajurit


Ikut serta mewujudkan masyarakat negara yang adil dan makmur material maupun spiritual berasaskan 5 sila.


Tugas pokok persatuan istri.


2. Membantu kesatuan membina mental, fisik, kesehahteraan, dan moril.


3. Mendukung kebijaksanaan pimpinan dengan membina dan mengerahkan perjuangan istri prajurit, menciptakan kekeluargaan dan persaudaraan, persatuan dan kesatuan, juga kesadaran nasional.


Jika disana Al Fath tengah membela negaranya dengan membantu secara fisik. Disini Fara mengikuti jejaknya sebagai seorang istri prajurit sejati.


"Bu, sudah sampai."


Fara tersadar dari lamunannya.


Gentra menyalakan walkie talkienya, "panther come in! Merpati sudah sampai, minta tolong digelar karpet merah di ujung sana!" kekehnya.


"Di copy dolphin, merpati sudah sampai. Karpet merah ngga ada, adanya tenda biru!" balas Dilar dari sebrang.


"Bang Re! Bang Andre! Siapin karpet merah oyyy! Nusantara 1 mau ninjau lokasi bencana?!" teriak Dilar terkikik melihat kebingungan Al Fath, ia melirik Dude dan Taufik rasanya tak ada pejabat negara yang akan datang melihat lokasi bencana saat ini.

__ADS_1


"Nusantara 1 siapa Lar?! Memangnya ada anggota Dewan rakyat atau pejabat yang datang?" tanya Fath kebingungan, ia yang sedang melihat rincian sketsa jembatan dan jalur evakuasi serta pencarian menghentikan aktivitasnya.


"Ada bang, pejabat batalyon!" jawab Dilar menaik turunkan alisnya.


"Kamvrettt, kena amuk Fath gue ngga tanggung jawab Lar!" jawab Andre akhirnya menyadari siapa Nusantara 1. Sejenak Al Fath berpikir, kemudian ia melempar kertas rincian itu secara kasar ke atas meja.


"Si@lan!" sarkasnya.


"Ha-ha-ha!" Taufik dan Dude tertawa begitupun Regan, menyadari jika itu adalah Faranisa.


"Bojo Fath--bojo!" seru Dude. Dilar sengaja mengganti kode merpati jadi Nusantara demi mengelabui Al Fath, tapi rupanya sia-sia belaka.


Rupanya pamor Fara diantara para prajurit cukup tenar, hingga membuat mereka tak ada yang tak mengenal siapa Faranisa.


Al Fath segera berjalan cepat menuju sisi batas jalan menunggu sebuah perahu karet yang membawa Fara beserta rombongan.


Bukan rahasia lagi, jika kehadiran Al Fath menjadi daya tarik tertentu disini. Termasuk para relawan yang ikut berpartisipasi dalam tugas kemanusiaan.


"Sutt, Clarise!" sikut salah satu teman relawan dari sebuah kampus ternama.


Clarise si gadis menoleh saat tengah menumpuk barang-barang bantuan yang dikirim dari teman-teman mahasiswa.


"Pak Al Fath tuh! Ganteng banget ya, ga keliatan udah tua tau ngga. Malah lebih keliatan kaya dewasa! Grrr! Ini nih sambil nolong orang sambil nyari jodoh!" ucapnya menaik turunkan alis. Clarise tersenyum simpul melihat Al Fath melintas dan berdiam di dekat posko awal tempatnya berada.


"Pak Al Fath pasti udah nikah, ngga mungkin orang ganteng belum nikah!" jawabnya pada sang teman, meskipun tak dipungkiri ia pun berharap jika Al Fath masih jomblo.


"Masa sih, tapi ah bo do amat lah! Yang penting kan istrinya ngga ada disini, iya nggak?! Jadi bebas dong liat beliau!" tawanya terkikik.


"Hush!" Clarise menepis udara membawa beberapa box berisi obat-obatan. Bahkan pandangannya tak sedetik pun berpaling dari Al Fath, sampai ia tak sengaja menabrak para prajurit dan tim SAR.


"Aduh! Maaf pak, maaf!" ucapnya meringis.


"Siapin taburan kembang 7 rupa harusnya sama marawis!" gelak tawa Taufik pada Dude dan Andre.


Clarise mengernyitkan dahi, "memangnya siapa yang akan datang, orang pentingkah?!" lama-lama ia jadi penasaran, karena sepertinya orang itu pula lah yang ditunggu si tentara tampan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2