Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
SETIA, STRONG, LDR, IKHLAS, PENYABAR, TANGGUH


__ADS_3

Suara mesin-mesin mobil berlapis baja mondar-mandir keluar masuk batalyon.


Menjadi seorang prajurit memang tak mudah, ada harga mati yang harus dibayar.


Cetrek!


"Bangun!"


"Regu 1 sampai 3, kompi markas dan senjata saya beri waktu 20 menit untuk bersiap!"


Mata yang belum sepenuhnya terlelap, kini dipaksa segar dengan menceburkan diri ke dalam kolam asrama demi menyegarkan badan para prajurit.


"Regu 2 dan 5 kompi senjata, juga bantuan bersiap latihan darurat, sebagai cadangan!" teriak Danki.


Sejak seminggu yang lalu, Al Fath dan Arjuna menyerukan pada para prajurit untuk melakukan latihan tembak dan fisik secara rutin, dan bersiap melakukan pengawalan bergilir mengingat semakin hari gerakan separatis semakin banyak aksinya.


Mungkin sudah cukup lama musuh mengumpulkan kekuatan demi ingin memisahkan diri dan merdeka sebagai negri baru yang bebas.



Masalah yang sudah berlarut-larut tak terselesaikan ini, memunculkan bibit-bibit apatis nan anarkis.



Sebagai pemimpin, Al Fath tak bisa hanya ongkang-ongkang kaki saja, duduk manis memberi mandat tanpa tau kondisi lapangan yang sebenarnya, saat ini jiwa pemburunya bangun kembali.



"Abang jangan lama-lama," rengeknya, tautan tangan tak lepas memeluk Al Fath, mengelapkan ingus dan lelehan bening air matanya di pakaian loreng Al Fath berbalut rompi secara tak sengaja. Tangan besar nan kasar yang terbalut sarung tangan itu, mampu mengusap lembut pipi sang istri.



"Adek jadi cengeng gini, semenjak hamil," Fara pun tak tau kemana larinya jiwa tangguh yang tak mengenal kata menangis itu, apakah lari ke warteg? Hormon kehamilan dirinya membuat emosi jadi tak stabil.



"Kenapa abang harus ikut?" tanya nya menahan Al Fath agar berlama-lama dengannya.



"Abang hanya meninjau lapangan saja, agar mudah menentukan strategi nantinya, menghitung apa saja yang dibutuhkan meski sudah mendapatkan gambaran lapangan dari para prajurit tetap saja tak bisa di ukur dengan bayangan. Abang bersama staf dan perwira batalyon lainnya jadi adek jangan khawatir, sementara Arjuna berada disini melindungi batalyon sekaligus menjadi orang pertama yang akan bertindak sesuai komando abang,"



"Abang janji balik dalam keadaan baik-baik aja?!" Fara mengacungkan kelingkingnya di depan Al Fath, melihat Al Fath memakai rompi anti peluru begini tetap saja hatinya mencelos.



"Insyaallah," ia mengecup kening Fara. Fara meneliti badan Al Fath dari ujung rambut sampai ujung kaki, "pokoknya nanti pas balik harus utuh kaya gini lagi!" Al Fath menyunggingkan senyumnya, "harus!"



"Jaga si dedek disana, jangan lupa minum vitamin. Jangan pernah keluar batalyon, apalagi tanpa Kintan dan Marsel!" Fara mengangguk. Tak lupa lelaki ini mengecup hangat perut Fara, mungkin kini usianya sudah jalan minggu ke 10, perut Fara mulai terlihat padat berisi.



Pipinya kembali basah hingga Al Fath mengusapnya dengan kedua tangan. Bagaimana tidak, tempo hari secara tak sengaja Fara melihat beberapa prajurit yang kembali dengan badan yang terluka akibat timah panas, dan beberapanya terbalut perban, salutnya para istri mereka begitu tegar.

__ADS_1



"Lapor bu, letnan kolonel Al Fath siap bertugas! Laporan selesai," Al Fath menghormat pada Fara, begitupun Fara membalasnya seraya menangis.



Langkah besar kaki bersepatu delta itu menjauh dari pintu rumah, Fara mengusap jejak-jejak air matanya.



"Hati-hati bang, do'a Fara selalu mengiringi langkahmu," gumamnya, ia menutup pintu rumah



🌟 Sementara di markas besar ibukota.



"Mohon ijin ndan, untuk memanggil beberapa perwira yang tergabung dalam detasemen 3!" laporan kapten Regan.



"Silahkan!"



Inilah yang membuat para istri prajurit semakin tangguh.




Kapten Regan berdiri di depan ruangan saat bu Fani tengah berada di kumpulan, ia tersenyum begitu lebar nan hangat pada sang istri. Fani yang sudah hidup bersama si kapten ini selama hampir 10 tahun ini tersenyum mengerti.



"Pamit dulu sama anak-anak mas," balasnya tetap menularkan senyum hangat meski hati menangis.



"Berapa lama?" tanya nya masih tegar membendung air mata.



"2 bulan," jawabnya tercekat.



"Mas Zidan sebentar lagi kenaikan sabuk mas," suaranya mulai bergetar.



"Maaf mas ngga bisa liat," sesalnya.



"Ayahhhh!" bocah yang sebentar lagi masuk SD ini berlari menyerbu sang ayah yang langsung dipeluk dan digendong Regan.

__ADS_1


"Hay princess!" Kirani mengernyit.


"Ayah mau kemana?" diliriknya tas besar yang dipakai sang ayah bersama sebuah koper.


"Ayah mau nyusulin kak Fara sama om abang!"


"Asikkk Kirani ikut!" serunya gembira.


"Terus nanti mas Zidan sama mama gimana? Kan mas Zidan mau karate, kenaikan sabuk?" tanya Regan, si kecil Kirani terlihat berfikir.


"Ya udah, abis ketemu kak Fara balik lagi buat nonton mas Zidan," jawabnya se simple itu. Fani sudah melelehkan air matanya, baru kali ini lagi suaminya diberikan tugas jauh dan lama.


"Gini aja, ayah pergi duluan buat nolongin om abang. Om abang lagi repot, kak Fara kan mau punya dedek bayi. Nanti kapan-kapan Kirani bisa main kesana, Ayah mau main tembak-tembakan sama om abang!"


"Oke!" Kirani mengangguk, justru kini ia lebih sulit memberikan pengertian pada si sulung Zidan.


"Mas--- ayah minta pengertiannya, ayah janji nanti kalo mas berhasil naik sabuk, ayah belikan apa yang mas mau!" putra sulungnya ini sungguh kecewa, ia bahkan berlari menjauh.


"Mas," panggil Regan pada Zidan yang hampir hilang di pandangan.


"Mas, Zidan biar aku yang bujuk, mas ngga usah khawatir! Sudah telat kan? Mas hati-hati disana, salam buat Fara dan Al Fath!" kecupan terakhir disarangkan di kening Fani.


"Mas bakal rindu kamu sama anak-anak," Fani meraih punggung tangan suaminya dan mengecupnya penuh hormat.


Selalu ada hati yang dipaksa ikhlas, karena memang itulah jalan yang harus mereka terima sebagai keluarga prajurit.


Regan berjalan menjauh dan bergabung bersama beberapa orang lainnya.


"Alamahoy! Manisnya bang Regan!"


"Ha-ha-ha! Coba liat bang Yo!" tawa Gentra puas.


"Si_alan kau!" desisnya mengusap-usap kepalanya.


"Kenapa?" tanya Regan masih belum bisa tertawa seperti para bujang, wajah Zidan masih terbayang di otaknya.


"Bukannya sungkeman, dia malah dilempar panci sama ibu!" tawa Dilar puas.


"Kau belum merasakan jadi suami! Kusumpahi pulang dari sini kau menikah, dan istri kau lebih manja plus galak!" sumpah Yosef pada Dilar misuh-misuh.


"Darimana pula ini si Andre?!" tanya bang Yo.


"Dapet titipan dari komandan buat Fath," tunjuknya di saku pakaian seragam loreng.


Mereka mengerutkan dahinya, "titipan apa?"


Andre menggeleng memilih diam. Ia pun tak mengerti apa itu, namun dari bentukan bungkusnya seperti sebuah barang seukuran pisau lipat namun dengan panjang yang hanya setengahnya berbentuk kapsul.


"Dari kota kembang pun ada beberapa yang dikirim kan?"


"Iya," Andre tertawa simpul, pasalnya ia tau siapa saja yang di kirim dari kota peuyeum itu, anggota geng duda kelam.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2