Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
FARA SAMPAIKAN RINDU LEWAT CITA-CITA YANG TELAH DITUNAIKAN


__ADS_3

Keduanya berjalan sejak masih pagi menyusuri jalanan kampung demi bisa sampai di istana negara tepat waktu.


Sampai-sampai keduanya belum sempat sarapan, hingga memutuskan membekalnya di jalan.


Al Fath menyetir mobil, dan Fara menyuapinya nasi, berbarengan dengan dirinya. Satu kotak makan bertiga, hal ini bukan hal asing untuk mereka, sudah terbiasa mereka lakukan. Definisi suka duka dilewati secara bersama.


"Bang kalo jalan sini masih pagi kayanya ngga akan macet! Kalo lewat dari jam 6, udah---alamat bakalan sampenya ntar jam 9," usul Fara diiyakan Al Fath. Dengan tangan dan mata fokus pada jalanan, sementara mulutnya menerima setiap suapan dari tangan Fara.


Jarak 2 km dari bangunan istana saja laju mobil mulai tersendat, itu tandanya para tamu undangan, antusiasme warga sekitar, dan para peserta pengisi acara upacara sudah mulai mendatangi istana.


Para pasukan pengamanan presiden, aparat berwajib berseragam maupun batik dan tim GEGANA, pasukan khusus Anti-Teror memenuhi ring 1 sampai ring 2 istana, belum lagi di sepanjang jalan sejauh 1 km lajur kanan dan kiri.


Acara peringatan kemerdekaan negara memanglah begitu penting, tamu dari dewan, kementrian, tamu macanegara seperti duta besar menjadi tamu undangan penting acara ini.


Langit cerah ini begitu selaras dengan pikiran dan pandangan Faranisa hari ini. Kini ia tersadar, jika tak semuanya hitam dan kelabu, selalu ada langit cerah setelah kepekatan, termasuk pandangannya.


Kokohnya istana putih berdiri tegap menjadi rumah seorang pemimpin. Untuk pertama kalinya, Fara menjejakkan kaki disini. Suatu kebanggaan tersendiri untuknya, "bapak! Fara sematkan cita-cita bapak disini."


"Fara bawa nama dan do'a bapak sampai sini, pak."


Begitu megahnya bangunan dengan semua cerita kegagahannya. Mobil Al Fath bahkan melalui pemeriksaan ketat saat masuk.


"Bang!" sapa beberapa tim yang berjaga disana. Terang saja mereka mengenal si mata garuda ini, siapa pula prajurit yang tak kenal dengan sniper kebangaan kesatuan.


"Taun ini naik level jadi tamu undangan?!" tanya salah seorangnya.


"Justru turun level, istri saya yang naik level. Jadi tamu undangan bapak negara 1, saya hanya ajudannya hari ini," balas Al Fath.


"Bu," sapa mereka pada Fara yang dibalas senyuman Fara.


"Silahkan masuk bang!" mereka mempersilahkan Al Fath. Jangankan penjagaan dan tim Anti-Teror. Prajurit pengisi acara dari berbagai angkatan banyak yang mengenal si mata garuda, namanya memang cukup melegenda sebagai perwira muda berprestasi.


Jendral Wicak beserta ibu juga berada disana. Istana ini terlalu megah untuk Fara, ia sampai terdiam tak berkutik demi meneliti setiap sudut dan inci bangunan. Serta banyaknya orang penting di jajaran pemerintahan. Ia masih tak menyangka anak singkong, kampungan sepertinya dapat menjejakkan kaki disini sebagai tamu undangan.


Beberapa kali ia harus berhenti untuk sekedar menyapa rekan atau atasan Al Fath, memberikan senyum termanis, hingga Al Fath membawanya duduk di kursi dengan label namanya.


Faranisa Danita, S.Ds. Batalyon XXXXX


Semakin lama detak jantungnya semakin berdebar kencang, bahkan Fara sudah menghabiskan beberapa bungkus permen dari dalam tas clutch miliknya yang dibawa Fara. Tangannya mendingin, padahal matahari sudah mulai menghangatkan bumi.


Pukul 08.00 WIB, para pengisi acara sudah mulai memasuki tempatnya masing-masing. Di sudut sebelah kirinya, Gita Bahana Nusantara beserta choir dengan beragam pakaian adat memenuhi tempat bagian musik. Sambil menunggu waktu dan persiapan, tarian daerah menjadi sajian pembuka menjamu para tamu. Kirab budaya pun dilangsungkan dari Monas menuju ke istana negara, ratusan anak negri berbusana daerah berjalan membawa bendera mini ditangannya bersama marching band dari tentara angkatan darat, laut dan udara, membuat atensi masyarakat ibukota tumpah ruah ke jalanan Monumen Nasional sampai istana. Bunyi genderang dan dentingan musik, juga alunan melodi bergema membuat euforia meriah.

__ADS_1


...'DIRGAHAYU NEGRIKU'...


Pukul 09.00 WIB, terlihat para pejabat memadati tempatnya masing-masing. Petinggi angakatan darat, laut, dan udara pun sama. Para peserta dan pasukan upacara sudah mengambil tempat berikut para pasukan pengibar bendera yang merupakan siswa siswi terbaik berprestasi diambil dari tiap sekolah tingkat menengah atas dari seluruh penjuru negri berpakaian serba putih memasuki lapangan upacara. Kereta kencana membawa serta pembawa bendera pusaka.


Upacara sudah dimulai dengan dipimpin oleh pimpinan negara sebagai inspektur upacara.


Jiwa Fara bergetar, begitu menghayati, hatinya begitu khidmat mengikuti setiap step demi step rangkaian upacara, terlebih saat bunyi sirine detik-detik proklamasi dinyalakan.


Suara tegas saat bendera dibentangkan menjadi satu kekuatan tersendiri di dalam diri Fara. Semua menghormat, semua tertunduk demi menghormati bendera negri berkibar bebas di udara, di hadapan bangsa dan ibu pertiwi.


Tak lupa sajian alunan musik dari anak negri mampu membuka ke khalayak luas jika negri ini begitu kaya nan indah. Begitu banyak lagu daerah yang enak di dengar. Gita Bahana Nusantara begitu epic membawakan setiap lagu nasional maupun daerah.


"Mau ke toilet dulu engga?" bisik Al Fath bertanya. Pasalnya Fara memang sedang masa-masanya sering buang air kecil.


"Iya, tapi Fara ngga tau toilet dimana," balas Fara.


Al Fath menarik tangan Fara, untuk keluar dari barisan. "Jangan ditahan, nanti kamu pipis disana malu, jadi penyakit juga!"


Cukup jauh mereka berjalan, menuju toilet, namun tak lama kembali ke tempatnya. Untung saja mereka cepat kembali, sehingga mereka dapat menyaksikan aksi akrobat pesawat jet tempur dari angkatan udara, awalnya jet tempur mengudara secara bersamaan lalu memecah formasi diantara langit biru ibukota, aksi keren mereka sontak mendapatkan tepuk tangan dari warga ibukota dan para tamu undangan juga presiden. Di formasi, mereka sempat melakukan aksi backflip (jungkir balik) di udara.


"Wawww, keren bang!" seru Fara pada Al Fath. Di akhir aksi akrobatnya pesawat tempur itu membentuk fomasi angka sesuai usia negri tahun ini.


"Dirgahayu negriku, jaya selalu!" ucap para pilot jet tempur.


Sontak riuh sorak sorai menggema disana.


"Dirgahayu negriku! Akan kujaga setiap inci lautmu dengan segenap jiwa raga!" hormatnya di tengah-tengah aktivitas mengemudikan kapal perang milik negri.


Tanpa Fara duga dan secara refleks ia berseru, "abang itu Rayyan kan?!"


"Iya dek, dialah kapten marinir Teuku Al-Rayyan Ananta anak abi Zaky dan umi Salwa," jawab Al Fath. Belum usai dengan keterkejutannya melihat sang adik ipar disana, Fara sudah melongo dengan layar yang tiba-tiba menampilkan pasukan prajurit angkatan darat yang memperagakan demonstrasi pasukan tempur, "tim San dha," guman Fara dengan mata berkaca-kaca melirik suaminya.


"Dirgahayu negriku, NKRI HARGA MATI!"


"Letnan Kolonel Teuku Al Fath Ananta," gumaman Fara. Al Fath menoleh seraya tersenyum pada Fara.


"Suami kamu dek," balasnya berbisik. Itu artinya adegan itu dilakukan sebelum mereka kesini, saat mereka baru saja usai melakukan operasi perang dan Fara tak tau itu. Sesuatu yang membanggakan memang terkadang tak perlu diumbar-umbar karena akan muncul dengan sendirinya ke permukaan setelah tiba waktunya.


Fara terhanyut dalam pikirannya sampai ia dikejutkan dengan video hasil karyanya yang diputar jelas dalam layar besar disana.


'DIRGAHAYU NEGRIKU, ELOKLAH SELALU DI MATA DUNIA'

__ADS_1


Video berdurasi 15 menit itu sukses menyihir semua tamu undangan untuk berdecak kagum dan bertepuk tangan. Fara bahkan sampai menitikkan air matanya tak mampu berkata-kata. Video ini kini tersebar luas di media sosial dan kanal youtube kepresidenan. Seketika video Fara menjadi trending topik nomor satu dalam pencarian, ribuan tayangan, like, subscriber tumpah ruah meramaikan video ini, kolom komentar dibanjiri pujian atas hasil karyanya.


Jantung Fara bukan lagi berdegup kencang tapi sudah copot dari tempatnya saat namanya kini disebut oleh pembawa acara untuk maju ke depan demi menerima penghargaan dari presiden.


"Kamu jauh lebih hebat," ucap Al Fath memuji.


"Kepada yang terhormat ibu Faranisa Danita, S.Ds. Dari persatuan istri Kartika Chandra Batalyon XXXXXX, dimohon untuk menempati podium kehormatan untuk menerima lencana penghargaan," ucapnya. Tepukan tangan mengiringi langkah bumil satu ini disertai senyuman bangga Al Fath, 'nyak, umi Salwa, abi Zaky, Zahra, Rayyan, tim San dha, squad hot momy, squad Sajojo, persatuan istri Kartika, batalyon tempat Al Fath memimpin, rekan kerja, bawahan, ajudan, tetangga, kampung, jendral Wicak, negri, dan terkhusus almarhum Harris.


Fara berjalan dengan anggunnya, bumil cantik itu menangis haru turun dari tempatnya menuju podium.


"Bu Far, jangan mewek bu! Ah ngga seru lah kalo bu Far mewek!" ujar Gentra yang saat ini mereka tengah nobar upacara dari layar tv, selepas upacara di Makko.


Senyum hangat pemimpin negara teramah diberikan bapak presiden dan ibu negara pada Faranisa. Secara pribadi, beliau langsung memakaikan sebuah pin dan menawarkan langsung hadiah sesuai keinginan Fara.


"Mau hadiah apa dari saya, dari negara?" tanya bapak pimpinan negara.


"Sepeda!!!" ada beberapa nya berteriak. Fara tersenyum manis, seorang pengawal memberikan mikrophone pada Fara.


"Terimakasih banyak sebelumnya untuk bapak presiden yang terhormat beserta ibu. Bapak dan ibu dewan yang saya hormati dan para petinggi negri termasuk para senior saya beserta suami saya. Karya ini saya buat semata-mata untuk menebus kesalahan saya pada beliau yang telah tiada, untuk negri saya, untuk warga negri, dan untuk tanah timur, saya cinta kalian---"


"Huuu! Hidup ibu!" teriakan Marcel dan seluruh iai batalyon yang tengah menonton bareng juga di dekat kantor.


Pimpinan negara itu tersenyum, "jadi?"


"Boleh saya request ngga pak?" kekeh Fara.


"Mobil Ra!!" teriak nyak.


"Request?" tanya nya memastikan. Al Fath sudah menggelengkan kepala di tempatnya, takut jika istrinya berbuat macam-macam.


"Saya hanya meminta dibuatkan dan dipasangkan alat pemancar juga penangkap sinyal jaringan internet, operator selular di distrik timur demi kemajuan distrik perbatasan," jawab Fara.


Mereka semua terhenyak dengan permintaan Fara, benar! Fara tidak memikirkan dirinya sendiri, baginya kehidupan yang sudah Al Fath berikan sudah lebih dari cukup untuknya.


"Bapak, Fara sampaikan salam rindu lewat cita-cita yang sudah Fara tunaikan,"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2