
Fara melirik Al Fath geli, tatapan matanya penuh akan cibiran saat sang suami memasukkan sebuah kapsul ke dalam mulut lalu menenggaknya bersama air minum.
"Mau susu bumilnya sekalian bang?" tawar Fara.
"Uhuukk---uhuukk!" Al Fath sampai tersedak saat kapsul itu masuk ke kerongkongan.
"Kamu mau ngeledek abang, dek?" ia menyimpan gelas yang sudah setengah kosong di atas meja, dan kemudian membungkuk di depan perut Fara sambil mengelus perutnya yang masih datar, "ternyata begini rasanya jadi calon ayah, kok mual yah?!"
Dan meledaklah tawa Fara saat itu juga, "sebelum pergi, Fara mau telfon 'nyak dulu ya bang!"
"Iya."
~~
Jalanan memang tak semacet ibukota. Sejauh mata memandang, view alam masih terlihat alami belum banyak dirusak oleh tangan manusia.
"Ini langka banget nih, kalo di ibukota udah ngga ada yang kaya gini!" ujar Fara berdecak kagum, membuka kaca jendelanya sedikit demi merasakan udara.
"Itu tuh yang disana danau yang terkenal itu bu! Daerah perbukitan luas sampai sana," tunjuk Kintan ke arah luar jendela kanan dari kursi depan.
"Di tanah ini banyak pantai juga bu, kapan-kapan mainlah ke pantai disini, cantik-cantik," sahut Frederick seolah tak mau kalah ikut menjadi tour guide istri komandannya tapi sayangnya niat baik tak selalu berjalan mulus, Al Fath berdehem saat Frederick mengatakan cantik sambil terkekeh pada Fara, membuat sang ajudan segera menyadari kesalahannya, Rick jadi gelagapan karena salah bersikap menghadapi komandan posesifnya dari pantulan kaca spion. Oke! Kini ia tau tersenyum manis pada istri atasannya ini adalah larangan paling penting yang tak tertulis dalam tata tertib sebagai prajurit.
"Maksud saya pantainya yang cantik," ralat Frederick, Kintan tertawa tanpa suara melihat moment itu.
"Oh ya? Masih bersih kan, ngga banyak sampah?! Airnya ngga keruh berbau?!" tanya Fara mencecar Frederick dengan pertanyaan. Jarang sekali ia menemukan pantai yang begitu, apalagi saat musim liburan tiba, pantai ibukota sudah dapat dipastikan seperti kuah kaldu seribu aroma dengan beribu manusia di sepanjang bibir pantainya, sampai-sampai terkadang Fara tak bisa menjejakan kaki di air laut.
"Oh jelas bu, cocok itu untuk bersantai apalagi kalau matahari terbit atau matahari mau tenggelam," jelas Frederick, tangannya tak lepas dari kemudi, begitupun mata yang terfokus ke jalanan.
"Wah boleh tuh! Kapan-kapan kita liburan disini, kemping sambil bakar-bakar ikan!" usul Fara.
"Satu batalyon bu?" tanya Kintan mengerjap.
"Oh ya jangan, nanti saya dimarahin sama komandan kalian, kalo tiba-tiba batalyon sepi gara-gara tentaranya liburan semua! Tau-tau ada tero ris dateng, kan berabe!" balas Fara melirik Al Fath yang sejak tadi hanya menyimak obrolan mereka.
"Kalo batalyon sampe sepi, kamu yang abang kurung di gudang senjata!" timpal Al Fath.
"Uuuuuu takuttt!" seru Fara mengejek sang suami yang langsung dihadiahi sentilan sayang oleh Al Fath. Sebelum melesat ke daerah yang mereka tuju, Frederick memang mengarahkan mobil di batalyon resimen demi bertemu bersama rombongan lain.
Dari sekian ibu danyon, mungkin Fara lah yang paling muda disini, dan tentunya yang paling junior.
"Apa kabar bu, lama tak jumpa!" seru para istri danyon saling bertegur sapa seraya cipika-cipiki. Mungkin hanya Fara disini yang tak mengenal siapapun kecuali Kintan, Frederick dan Al Fath. Ia hanya sesekali nyengir kuda menyapa para pendamping petinggi keamanan ini.
Al Fath memintanya berkenalan dengan istri petinggi lainnya, agar saling mengenal. Fara yang dulu memang bukanlah Fara yang sekarang sekalipun besar kemungkinan sifat absurdnya tak akan bisa hilang dari dirinya. Al Fath patut mengucap alhamdulillah saat ini Fara tak berbuat macam-macam, entah kalo siangan dikit.
"Perkenalkan saya Faranisa Danita, istri dari letnan kolonel Teuku Al Fath dari batalyon XXXXX," sapanya.
"Salam kenal bu Fara," balas mereka.
Berangkat bersama dengan kawalan mobil taktis pasukan, mereka akhirnya sampai di distrik paling ujung negri ini, dimana gerbang pembatas antara negri dan negri tetangga berada. Pemandangan laut negri tetangga terbentang luas sepanjang mata menatap.
Suara hentakan kaki dan pukulan tifa juga eme terdengar selaras dengan getaran pikon bersama kecapi mulut, menyambut kedatangan para pemimpin keamanan negri nan ramah membuat siapapun yang datang akan merasa betah dibuatnya, begitupun Fara.
__ADS_1
Al Fath, Fara dan rombongan berjabat tangan dengan para pimpinan distrik.
"Selamat datang di tanah timur, salam hangat dari kami semua," seorang perempuan berpakaian adat mengalungkan kain khas daerah bermotif unik di leher para tetamu. Entah kapan ia akan berhenti tersenyum menatap negrinya ini, *lama-lama tuh gigi kering*! Kini hatinya tergugah untuk itu, sedikit demi sedikit gunung es di hati Fara mulai mencair, menyisakkan aliran hangat di dalam da rah.
Suguhan yang tersaji di lengkapi dengan senyuman membawa perasaan haru di diri Fara, inilah yang ingin Al Fath tunjukkan padanya. Bahwa masih banyak keramahan diantara beberapa ketidakadilan.
Mereka mengobrol basa-basi dalam taraf berbobot, yang cukup membuat Fara ingin melemparkan sepatunya ke bibir pantai. Daripada nanti rambutnya mengembang kaya singa, dan acak-acakan kaya sapu ijuk, lebih baik ia mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang dapat mengenyangkan perut. Hamil membuatnya mudah lapar sekarang, radar penciumannya lebih tajam manakala mengendus bau-bau penganan. Di sudut meja sana tuan rumah sengaja menjamu para tamu dengan penganan khas daerah timur, mulai dari papeda kuah ikan kuning, keladi tumbuk, hingga kue lontar berderet cantik melambai-lambai minta di lahap. Bukan hanya para orang dewasa yang antusias dengan kedatangan mereka, namun terlihat banyak anak-anak yang mengintip malu-malu di balik bangunan, sambil berlarian. Senyum mereka begitu polos di netra Fara, tulus tanpa kepalsuan.
"Silahkan sambil dinikmati kudapan yang sudah disediakan!" pinta seorang perempuan tetua desa bernama Maruna. Bak gayung bersambut, bumil satu ini langsung saja mengekori si ibu, sementara yang lain masih kritis menyikapi masalah kenegaraan diantara mereka mungkin hanya Fara yang begitu.
Fara melirik-lirik ke arah Al Fath yang ikut berdiskusi sesekali diangguki yang lain, ia bimbang dan galau...antara makanan dan ikut menanggapi obrolan komandan resimen yang bikin otak kerdil, "ah bo do amat lah! Lagian kalo laper ngga akan bisa mikir!" gumamnya melengos.
"Ntan! Saya mau kesini aja lah! Laper," nyengirnya.
"Bu, maaf!" Kintan berdehem.
Fara berbalik, "apa?" tanya nya menggumam.
"Ck--ah! Laper Ntan, biarin aja lah! Suka-suka mereka, toh udah ditawarin juga kok! Di hajatan aja tamu abis salaman langsung makan kok!" jawab Fara. Kintan menepuk jidatnya, memang disini atasannya lah yang paling konyol.
"Udah yuk *capcus* ahh! Jangan dilama-lama nanti makanannya dilalatin! Mubadzir tau, udah disiapin juga!" ajak Fara meninggalkan rombongan termasuk Al Fath, yang masih sibuk dan fokus bersama rombongan.
Tak lama Al Fath menyadari, jika istrinya itu sudah tak ada di sampingnya, "Rick, istri saya mana?!" tanya nya celingukan.
"Maaf ndan, ibu...." ia menggaruk telinganya.
"Emhhhh! Enak lohhh!" ekspresi berbinar dan penuh pujian Fara yanh terkesan menggemaskan membuat para ibu dan warga yang ikut serta, tertawa.
"Ini apa namanya?!" tanya nya berseru.
__ADS_1
"Itu papeda pake kuah ikan kuning.. mace," Jawab ibu Maruna.
"Coba deh Ntan!" pinta Fara menyendokkan makanan dari piringnya ke depan mulut Kintan, seperti seorang ibu pada anaknya, Kintan merasa segan dan sungkan namun Fara tetap memaksa.
"Enak kah mace ?" tanya bu Maruna lagi.
"Enak bu!" angguk Fara dekat.
"Panggil saja sa, mama... jangan ibu, biar terasa dekat mace," senyum ramah lainnya bernama Elliyah.
"Owhhhh, iya mama." Ralat Fara melahap kembali papeda kuah ikan kuning. Emejingggg! Dalam hitungan menit, ibu danyonnya ini berhasil akrab dengan warga sekitar, rupanya memang inilah keistimewaan Fara, disaat yang lain memberikan jarak bagi orang lain tapi tidak dengan Fara, Kintan akui itu.
Fath terkekeh, disaat istri lainnya saling bercengkrama dan membanggakan diri, istrinya malah berkumpul bersama warga distrik sambil nyemilin makanan.
Fara bahkan tak segan turun dan menanggalkan status ibu danyonnya untuk berbaur bersama anak-anak yang sejak tadi mengintip malu melihat kedatangan para petinggi keamanan.
Dari kejauhan Fara melihat segerombolan pemuda distrik yang menatap penuh jengah pada rombongan mereka, pandangan yang ia sangat kenal karena sorot mata itu pernah ia tujukan pada sistem negara ini.
"Mama, sa boleh bertanya?" tanya Fara.
"Ya, boleh mace," jawab Elliyah.
"Para pemuda disini tidak berkerja kah?" pandangan Elliyah mengikuti pandangan Fara, seketika tatapannya menyendu.
.
.
.
__ADS_1
.