
12.30 wib
Cuaca terasa semakin menyengat kulit, namun itu tak menyurutkan semangat massa demi menuntut nasib rakyat. Negara yang semakin terpuruk membuat sifat primitif manusia muncul ke permukaan.
Udara di ibukota sudah tak bersahabat lagi, barikade aparat semakin kokoh tak terbantahkan. Satuan petugas berkonsentrasi penuh membuat barikade berlapis. Mobil lapis baja menghadang laju massa, seolah memberi jarak antara mereka yang mengatur sistem dan masyarakat, batasan itu begitu terasa di tengah-tengah keterpurukan negri.
Harris menyeka peluh yang sedari tadi mengucur deras, sebotol air mineral rasanya begitu sangat berharga di tengah dahaga yang membentuk fatamorgana. Ia celingukan berharap bisa menemukan Wicak diantara ribuan massa.
🌟 12.40 wib
Pintu mulai dibuka dan massa mulai bergerak menuju gedung para wakil rakyat melewati kampus Un tar.
"Bang! Bang Ris!" sayup-sayup terdengar suara melengking Wicak diantara suara gemuruh lautan manusia, Harris mengelus dadanya lega, sang sahabat tersenyum lebar di tengah ribuan orang, membelah lautan manusia. Sepasang sahabat itu saling bergandengan tangan demi menatap nasib.
🌟 12.50 wib
Long March mereka terpaksa tertahan oleh barisan aparat yang sudah bersiap dengan tameng dan pentungan. Betapa tidak mereka merasa miris, konsolidasi yang seharusnya berjalan damai, duduk bersama menemukan solusi untuk negri malah berakhir saling membunuh karakter sesama manusia beriman.
Harris tersenyum miris, "tuh! Lu mau kaya gitu kan? Megang tameng sama pentungan kaya hansip?!" tawanya masih bisa berseloroh disaat-saat begini. Syal berwarna merah dan putih dengan bordiran nama Harris terikat kuat di kepala Harris.
"Ngga hansip juga bang!" gerutu Wicak. Ia cukup kagum pada Harris, ia banyak diam tak terlalu bertingkah, tapi lihatlah posisinya sekarang, anggota penting kesenatan TriMandraguna, ketimbang dirinya yang hanya mahasiswa biasa tanpa embel-embel senat atau kegiatan lainnya.
"Kelak gua bakal megang senjata laras panjang kaya yang disana! Ck--keren kan?!" ujarnya menunjuk salah satu aparat dengan senjata di tangan, keduanya berjalan bersampingan.
"Senjata bukan buat keren-kerenan Cak, tapi ada tanggung jawab disana, yang amanah!" pesannya.
"Pasti bang!"
"Ris!! Siapa yang mau negosiasi?!" pekik Heru pada Harris, membuyarkan obrolannya dengan Wicak.
"Lu aja sama Jajang! Gua tunggu sini lah," jawab Harris dengan pandangan yang mulai menyipit saking teriknya panas matahari.
"Bareng Wahid bang, dari kampus kuning!" usul Wicak, Wahid merupakan ketua senat kampus kuning pada masa itu.
"Sip!"
Akhirnya beberapa perwakilan dari mahasiswa bernegosiasi dengan pimpinan komando aparat. Sekitar 20 menit mereka menunggu tertahan meskipun beberapanya menembus pertahanan satgas samping. Usaha bernegosiasi gagal dan tak membuahkan hasil apapun, dengan alasan akan terjadi kemacetan lalu lintas dan dapat menyebabkan kerusakan. Massa merasa kecewa dengan keputusan itu karena merasa aksinya ini adalah aksi damai. Massa terus mendesak masuk, pada saat yang bersamaan pihak aparat menambah barikade pertahanannya sebanyak 4 truk Reo.
"Pertahankan barisan oyyy! Jangan menyerah demi masa depan bangsa!!!" teriak beberapanya menyuarakan orasi.
"Ru! Itu suruh massa berhenti ricuh! Tahan, kondisikan agar tetap aman dan damai, mahasiswi mulai aksi damainya, mawar...mawar...!" teriak Harris, Wicak dapat melihat jiwa kepemimpinan nan peduli dari Harris.
🌟 13.30 wib
Massa akhirnya dapat tenang, dan memutuskan untuk duduk di jalanan, bahkan para mahasiswi mulai membagikan mawar untuk para aparat. Aksi itu berlangsung tepat di depan bekas kantor walikota.
Tapi sayang seribu sayang, rupanya dari pihak pengamanan malah menambahkan kembali pasukan, agar terciptanya kedamaian.
🌟 14.00 wib
__ADS_1
Negosiasi terus dilakukan bersama beberapa wakil rakyat, sementara mimbar terus berlanjut di jalanan dengan diselingi teriakan yel-yel juga nyanyian-nyanyian. Meskipun kini langit mulai menurunkan tangisannya massa tetap tak bergeming.
"Bang! Turun dulu lah neduh! Ntar lu sakit!" pinta Wicak.
"Kan ada elu! Ntar gantian deh kerokan!" sempat-sempatnya ia memikirkan itu saat tak tau kapan mereka akan pulang ke kost'an. Saking lamanya masa hanya saling diam dan saling tunggu, akhirnya beberapa dari massa sesikit demi sedikit mulai berkurang menuju kampus. Aparat memasang garis police line, dan massa hanya berjarak 15 meter dari sana.
Hari semakin sore, sekitar pukul 16.45 wib, akhirnya negosiasi berakhir dengan kesepakatan untuk saling memukul mundur di kedua belah pihak.
"Yaaaa! Kok mundur! Udah cape-cape kita kesini, malah disuruh mundur tanpa hasil?!"
"Tenang--tenang!! Semuanya, insyaAllah semuanya sudah dibicarakan dan disampaikan, mengingat hari sudah mulai sore ditambah cuaca hujan, sebaiknya kita mundur!" teriak para Dekan dan dosen mencoba menenangkan para mahasiswa.
Situasi semakin kondusif saat dari pihak aparat mengucapkan terimakasih pada massa karena para mahasiswa sudah mau tertib. Kedua belah pihak sama-sama mengurai ketegangan, dan mengusung perdamaian.
Hujan semakin turun dengan deras, "Cak, balik aja! Gua mau ke kampus dulu bareng yang lain, buat bicarain masalah ini!" pinta Harris.
"Gua ikut abang lah, biar nanti bisa ngopi bareng di kost'an!" kekehnya, Harris menggelengkan kepalanya, anak horang kaya ini bagai ekor itik padanya.
Tanpa diduga, kejadian mencengangkan terjadi, petaka yang seharusnya tidak terjadi kini dialami oleh bangsa ini, beberapa oknum tak bertanggung jawab tega berbuat kejam, ia yang mengaku-ngaku alumni kampus berteriak mengeluarkan kata-kata kasar memancing amarah di tengah rasa lelah. Massa yang terpancing sempat mengejar karena oknum tersebut lari ke arah barisan aparat. Hingga terjadi pergesekan antara aparat dan massa. Tapi para kamtibpus bertindak semua dapat kembali tenang. Massa ditarik mundur kembali.
Diantara barisan pengamanan, terdengar suara sumbang yang meledek dan menertawakan juga mengucapkan kata-kata kotor ke arah mahasiswa, sontak saja barisan mahasiswa tak terima, pergesekan itu tak terelakkan lagi.
Awan memang benar-benar menangis sejadi-jadinya, karena yang terjadi selanjutnya adalah barisan pengamanan yang menyerang massa dengan tembakan dan pelemparan gas air mata,
"Mundurrr semuanya!"
Dorrr!!!!
Dorrr!!!!
Shutttt, dorrr!
Harris beserta yang lainnya sontak berlari berhamburan, mereka panik dan mencari tempat berlindung menuju kampus. Situasi dingin dan tenang mendadak chaos dan memanas.
Bau asap dan pembakaran menyengat hidung. Suara bising teriakan dan tembakan saling bersahutan.
"Mundurrrrr!!!!"
"Ris! Kampus! Kampus!"
"Cak, ke kampus gua!" ajaknya.
Mereka berlarian seperti semut yang disemprot asap, aparat menyerang secara bru tal. Pandangan semakin kabur manakala gas air mata dilempar di setiap sudut jalanan, yang mereka lakukan hanya berlari sejauh mungkin dari tempat itu.
Nafasnya memburu mencari tempat berlindung. Suara benda tumpul membentur sesuatu dan teriakan raungan kesakitan menggema dimana-mana, kekerasan terjadi di sekelilingnya, tak terhitung mahasiswa yang tertembak peluru karet.
"Dorrr!"
Wicak mengerang saat pinggangnya tertembak.
__ADS_1
"Cak!" Harris kembali dan menggapai Wicak, mengalungkan lengan Wicak di pundaknya demi berlari bersama.
"Lelaki harus kuat, kelak kamu akan jadi perwira di atas sana! Perintahkan semua bawahanmu untuk tidak melakukan kekerasan seperti ini pada manusia lainnya yang tak bersenjata!" kilatan kemarahan ada di mata Harris.
Mata Fara nyalang menatap jendral di meja makan, tak sekalipun ia menyela atau angkat suara, yang ia lakukan hanyalah menyimak, aksi ayahnya pada masa muda dulu. Al Fath begitu jelas melihat kilatan amarah ayah Harris pada mata Fara sekarang, ia mengusap lembut pundak sang istri, seperti ikut merasa bersalah, tangan Fara terlihat mengepal keras dan Al Fath dapat melihat itu.
Tidak sampai disitu, pasukan bermotor dengan memakai pakaian lengkap berompi mengejar mahasiswa seperti guguk yang sedang menggembala kambing sampai depan gerbang kampus, sebagian naik ke jembatan, menangkap dan memberi pelajaran fisik pada mahasiswa lalu dibiarkan bergeletak di pinggir jalan begitu saja.
Aparat yang berada di atas jalan layang membuat barisan dan menembaki ke arah mahasiswa yang berlarian di dalam kampus. Sebagian lagi menyerbu dan merapat ke arah gerbang kampus, membentuk dua barisan jongkok dan berdiri, tak terhitung jumlah gas air mata yang dilemparkan pada tragedi kelam itu, langit benar-benar gelap gulita diselimuti asap dan amarah. Aksi yang terus menerus itu mengakibatkan jatuhnya korban baik itu luka, meninggal dunia.
Shottt! Dorrr!
"Lang!!!" teriak Heru, melihat salah satu temannya ambruk, begitupun Harris.
Dadanya begitu bergemuruh marah, diantara posisi membungkuknya, Harris ingin berdiri, tapi Heru dan Wicak menahan.
"Ris! Jangan, kamu bisa mati konyol!"
Prankkkk!
Dorrr!!!
Pendengarannya sudah benar-benar tern oda oleh suara-suara sakit, pecahan kaca jendela kelas yang biasa mereka pakai untuk menuntut ilmu menjadi tanda jika untuk saat ini mereka belum bisa pulang.
Harris berjongkok bersama Wicak dan Heru, dengan di hadapannya tergeletak sesosok kawan, teladan, dan saudara seiman yang sudah tak bernyawa.
Tembakan kembali mereda pada pukul 18.30 wib, para mahasiswa mulai membantu mengevakuasi teman-temannya yang terluka.
"Lang!" tangis mereka pecah melihat salah satu teman dekat menjadi korban.
Harris memeriksa detakan nadi di pergelangan tangannya, tatapan mata teman-temannya menyiratkan rasa penasaran penuh pengharapan, "innalillahi wa innailaihi raji'un," ucap Harris.
Brak!!!!
Fara menggebrak meja makan, membuat mereka yang berada disana terkejut bukan main. Jendral Wicaksono dapat melihat wajah itu sekali lagi di wajah Fara. Wajah kemarahan Harris.
"Dek, duduk dulu. Komandan belum selesai." pinta Al Fath.
"Ini yang Fara ngga suka bang! Fara benci kalian!"
"Dengar dulu saya melanjutkan Fara, tolong!" mohon jendral Wicak.
.
.
Note :
* long march : berjalan jauh dengan penuh semangat.
__ADS_1
* konsolidasi : sebuah usaha untuk menyatukan atau memperkuat hubungan antara dua kelompok atau lebih.