Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
HUTAN MENCEKAM


__ADS_3

Dorrr!---Dorr!


Hutan tanah timur kini dihujani tembakan peluru, kelompok mereka mulai bermunculan dan semakin bertambah. Senjata yang dipakai pun layaknya pelontar bola tennis cepat terarah dengan jumlah tak sedikit, pasukan Al Fath benar-benar diberondong oleh peluru, dan sialnya arah tembakan selalu berhasil menjangkau radar para anggota detasemen mengingat mereka merupakan anggota terlatih, entah dari negri Suri akhh atau IR ann.


"Hanya 10 orang,"


Mereka menarik nafas demi terfokus pada target, tembakan harus tepat sasaran pada organ vi tal.


Butuh waktu cukup lama bagi mereka mengobrak-abrik lapisan ring satu, tak jarang mereka harus mengulur waktu demi menghindari serbuan peluru bertuan. Serangan mereka lancarkan dengan menggunakan senapan laras panjang dan pendek berkaliber cukup untuk menembus organ-organ penting, senjata yang dimiliki komando kesatuan tentara negri cukup modern nan canggih. Jam terbang dan latihan rutin memang tak bisa menipu hasil, terbukti dari arah tembakan yang langsung bisa melumpuhkan musuh.


Setelah dirasa tak ada lagi perlawanan, dan musuh tumbang mereka bergerak maju.


Para pria yang kebanyakan pemuda ini terkapar mengenaskan dengan jumlah luka tembakan lebih dari satu di setiap daerah mematikan. Dar @h segar mengalir di setiap lubang timah panas yang bersarang, Bucek memeriksa denyut nadi mereka, "nol ndan," angguknya.


Sayang sekali di usia produktif begini, mereka harus digelapkan dengan pemikiran-pemikiran separatis.


Taufik, Dude, Gentra dan Dilar memeriksa sekitarab area ring 1 ini.


"Ndan, amunisi."


Satu gunduk amunisi peluru ditemukan di bawah semak belukar yang sudah diatur sedemikian rupa.


"Amankan,"


Suara lolongan dan lengkingan binatang malam mulai hilang seiring dengan hari yang mulai memasuki subuh. Mereka harus pandai-pandai mengatur tenaga, waktu dan pasokan ransum, juga peluru.


"Kita istirahat bergantian." Dengan posisi yang layaknya binatang hutan para pasukan komando ini harus bisa istirahat.


"Saya jaga duluan bersama bang Yo, atau abang mau istirahat duluan? Biar saya jaga bersama kapten Regan?" tanya Al Fath.


"Bang Regan saja dulu ndan, kasian bang Yo udah tua nanti encok kalo digempur terus!" kikik Dilar.


"Si-alan!" Yosef menendang Dilar.


"Ya okelah, Regan saja dulu. Biar nanti aku bersama Dude!" balasnya.


"Kira-kira peleton komando cadangan berapa lama lagi bang sampai lokasi ini?" tanya Gentra.


Andre melihat jam di tangannya, "sekitar 1,5 jam lagi jika amfibi mudah dikendarai saat melewati sungai," jawabnya.


Mereka tidak benar-benar tidur, hanya sekedar merebahkan otot-otot yang tegang, kaku dan lelah akibat aksi seharian ini. Mereka akan dituntut untuk kurang istirahat dalam hal ini.


Tak ada api unggun layaknya anak pramuka, benar-benar hening dalam kegelapan malam, untung saja hari memang sudah mulai terang.


"Hari ini Zidan kenaikan sabuk, dan saya tidak disana." Regan buka suara, Al Fath menoleh padanya.


"Semoga jagoan bang Regan selalu tangguh seperti ayahnya,"


Regan menyunggingkan senyuman getirnya, "terakhir kali bertemu, wajahnya masam, marah dan kecewa."

__ADS_1


"Dia akan mengerti bang, jika ayahnya adalah prajurit negara."


"Hm. Fara sudah berapa bulan Fath?"


"Jalan bulan ke-3."


"Sebentar lagi Allah akan meniupkan ruh di janinnya, jangan lupa lantunkan ayat suci Al Qur'an,"


Al Fath mengangguk paham. Tiba giliran Al Fath dan Regan istirahat meski matahari sudah mulai malu-malu memancarkan kehangatan di belantara rimba timur.


Ia memejamkan matanya yang lelah, sejenak bagai mimpi jika ia sedang mengusapi perut Fara yang sudah menyembul bak badut seraya melantunkan surat Yusuf dan Maryam dengan memakai songkok di atas hamparan sajadah.


"Abang kata dokter anak kita laki-laki! Fara ngga mau dia jadi tentara kaya abang, cukup sama abang aja kekhawatiran Fara ludes!" gerutunya dengan bibir manyun.


"Biar dia jadi apapun yang dia mau," begitu terasa bibirnya mengecup bibir lembab Fara istrinya, dan wanita itu menthe'sah saat tangan Al Fath turun ke arah si gunung kembar milik Fara yang semakin cihuy, sampai tak sadar ia melipat bibirnya sendiri, hingga...


"Bang,"


Al Fath tersentak membuka matanya, wajah Fara berubah jadi sangar dan berjakun, "astagfirullah!" Gentra mencolek-colek dan menggoyangkan bahunya.


"Mimpi makan nasi padang bang?" tawa Gentra.


"Kamvrett!" umpat Al Fath membuat mereka tertawa, jarang sekali pria soleh ini mengumpat, menyatu dengan kumpulan orang tak waras meluruhkan kadar kesolehannya.


"Paling ngimpiin bini, iye ngga Fath?" tawa kecil Andre semakin disahuti teman-teman lainnya.


"Wajar kalo Fath mimpiin bininya, daripada janda pulau sebrang!" kekeh bang Yo.


"Nah, tuh! Janda mana lagi nih?" ejek Dude.


"Pagi gini enaknya ngopi lah bang sambil ditemenin gorengan atau nasi kuning!" usul Andre.


"Ngopi saja dengan mon yet!" sarkas Taufik.


Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara mobil taktis amfibi yang dikendarai peleton lain.


"Alhamdulillah, ngga menutup kemungkinan di ring 2 musuh akan menurunkan serdadu pilihan," ujar Regan.


"Iya bang, semalam saja agak alot!" seru Bucek.


"Mereka terlatih, rata-rata sudah menjalani pendidikan ter oris di Suri akhhh sekurang-kurangnya 1 tahun," jawab Al Fath.


"Lapor ndan! Peleton 20 Komando cadangan, resimen pusat siap membantu."


"Ya, mana sisanya?"


"Regu lain masih tertinggal di belakang!"


Dengan datangnya pasukan ini membawa serta pelontar bom dan granat serta amunisi tambahan maka mereka melanjutkan kembali perjalanan.

__ADS_1


Satu tim membawa pelontar bom dan pasukan lain dengan senjata masing-masing sementara kendaraan amfibi mengangkut hasil temuan senjata milik musuh.


Tak banyak cakap, kedatangan mereka langsung diberondong dengan hujan peluru.


Dorrr!!!


Dorrr!


Tak jarang pula bazzoka mereka tembakan mengakibatkan kerusakan lingkungan serta beberapa anggota terluka. Tak tinggal diam Al Fath dan kawan-kawan memborbardir musuh.


"Tembak!"


Duarrrr!


Seketika tanah beralaskan rumput dan tanaman liar hutan berlubang secara berantakan dibarengi dengan erangan kesakitan akibat tembakan bazzoka dan lemparan bom dengan daya ledak rendah.


Tak jarang juga prajurit yang terluka akibat terkena peluru musuh atau sekedar jangkauan bom yang kelompok musuh lemparkan.


"Argghhhh!"


"Lar!"


"Gua ngga apa-apa!" Bucek segera berlari menghampiri Dilar dan memberikan tindakan pertolongan pertamanya.


"Cuma keserempet ledakan, telat ngehindar!" ujarnya, luka cukup menganga mengucurkan cairan kental berbau amis di sekitar leher akibat percikan bom.


"Fokus Lar,"


"Siap bang, sorry!"


Satu orang prajurit dari batalyon infanteri gugur disana karena tak dapat menghindar dari hujan peluru.


"Tekan di area luka,"


"Jak..."


"Dia sudah tak ada," mereka memejamkan mata demi menyesali kepergian sang kawan, rekan seperjuangan di haribaan ibu pertiwi.


Hutan elok nan sejuk berubah mencekam saat suara binatang eksotis digantikan oleh dentuman meriam dan bunyi senapan.


Suara air sungai yang mengalir tak dapat lagi terdengar manakala teriakan kesakitan jauh lebih berkumandang.


.


.


Note :


*Haribaan : pangkuan.

__ADS_1


__ADS_2