
Kintan meminta sejumlah personel tentara membawa barang bawaan Fara yang dimasukkan ke dalam dus besar.
Melihat aktivitas itu, para warga berbondong-bondong ingin mengetahui apa yang terjadi disana. Tak sedikit anak-anak mulai dari usia TK sampai SMA dikumpulkan.
Fara dan para istri prajurit meminta bantuan dari para relawan muda disana.
"Saya ada sedikit acara untuk anak-anak. Bisa tolong dikondisikan?" kini Clarise dan Sakti selaku ketua para relawan berhadapan dengan bumil cantik ini.
"Bisa bu," angguk Sakti antusias, lain halnya dengan Clarise yang masih menatap sosok Fara dari atas hingga bawah tanpa berkata lebih terlihat bengong dan sesekali tersenyum asin, ia meneliti diri Fara yang menurutnya entah harus bilang apa, cantik kah?
"Di tenda sebelah sana saja bu, biar ngga panas," jawabnya.
Fara ditemani para istri prajurit beserta kedua ajudannya dan Al Fath kini berada di sebuah tenda.
Marcel membawa InFocus ke dalam sana.
"Abang, Fara ikut gelar mini film ya disini," ijinnya pada Al Fath, kebetulan satu sisi tenda adalah kain putih, jadi cocok jika ia mengarahkan proyektornya ke sana.
"Boleh," jawab Al Fath melipat kedua tangan di dada, menanti apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu.
Bukan hanya anak-anak yang ada disana rupanya. Melainkan para orangtua yang penasaran ikut duduk melantai.
"Assalamualaikum, salam sejahtera semuanya!!!" teriak Fara menyapa layaknya host.
"Waalaikumsalam bu!!" suara para perwira lah yang paling kencang dari barisan paling belakang menjaga di setiap sudut.
"Disini ada kah yang kenal mace?" tanya Fara, mereka menggeleng namun para perwira berteriak kencang, "kenal!!" belum apa-apa para orangtua sudah tergelak.
"Yahhh, kok ngga kenal. Padahal peribahasa bilang tak kenal maka tak sayang,"
"Woahhhh ibu sa kenal bu, sa kenal!" teriak Gentra dan Dilar, justru interaksi inilah yang membuat para warga dan anak-anak tertawa.
"Kenalkan, sa Faranisa--- mace paling cantik disini, untuk saat ini dan selamanya!" sontak mereka tertawa mendengarnya meskipun kenyataan berkata benar, tapi sikap percaya diri sebesar bukit teletubbies-nya lah yang membuat mereka tergelak.
"Oke, tapi itu tak penting sekarang. Mace hanya mau tanya, bagaimana kabarnya hari ini?"
"Alhamdulillah mace masih jomblo!" jawab Taufik, Fara pun geli mendengarnya, ingin rasanya ia menghajar para perwira tak berakhlak itu.
"Baik!" jawab mereka.
"Sebelum mace mengajak semuanya nobar alias nonton bareng---cie elah bahasanya! Mari kita semua berdo'a sejenak untuk semua yang ada disini sesuai kepercayaan masing-masing,
"Ya Tuhan kami, berilah kami semua kelancaran dan kemudahan untuk bangkit menjalani hari kembali, rejeki berlimpah dan kesehatan tanpa kurang suatu apapun, ya Tuhan.... berilah kami kesabaran yang berlimpah menerima semua nikmat yang telah kau beri juga hikmah di balik semua yang terjadi, aamiin."
Sejenak semuanya terdiam menunduk demi mengikuti ucapan Fara, hening-----semuanya hanyut dalam pikiran masing-masing, beberapa ibu ada yang sampai sesenggukan, lalu Fara mendekat seorang ibu yang paling terdengar suara isakannya. Fara berjongkok lalu memeluk, "ibu!!" ia langsung memeluk Fara begitu erat seakan meluapkan rasa sedih dan kehilangan.
"Rumah kitorang hilang ibu, hancur tak bersisa---" ucapnya ditengah isakan dan sesenggukan.
__ADS_1
"Sa mengerti ibu."
"Njirr, sedih gua. Bu Far, bisa banget mainin perasaan," bisik Taufik.
"Kuat mama, disini kami siap membantu!" tunjuk Fara pada deretan orang yang berdiri, diantaranya Al Fath bersama beberapa perwira, tim rescue, SAR, BPNB, BPBD, dan para relawan.
"Kitorang satu, satu sakit semua sakit---tak peduli suku, ras dan golongan," Fara tak sungkan mengusap air mata di pipi si ibu dan mengusap-usap punggungnya.
Fara kembali berdiri dan melangkah ke depan, "sa disini bukan untuk mengingatkan luka. Tapi mengajak semuanya untuk bangkit dan kembali tertawa,"
"Mace punya satu film mini animasi, mace harap kam suka!" ucap Fara.
"Siapa yang tau si kotak kuning?!"
"Sa--ibu Sa!!!"
"Siapa yang tak kenal si kembar dari negri tetangga?!"
"Kenal!!!" teriak anak-anak.
"Masa? Kapan kenalannya?!" tanya Fara, mereka tergelak tak bisa menjawab.
"Kemarin sore mace!" teriak Gentra.
"Wow--! Tapi adakah disini yang tau si kancil?!" hanya beberapa dari mereka yang unjuk tangan.
"Oke, rupanya tidak semua orang tau to! Kalau begitu mace mau kenalkan si kancil pada semua, tapi ada kata magic nya, biar alat ini mau menyala, mau tau kah?!"
"Coba sebutkan setelah mace menyebutkan, biar alatnya menyala,"
"Tanah timur bangkit, tanah timur jaya slalu!!" ucap Fara.
"Tanah timur bangkit, tanah timur jaya slalu!" tiru mereka.
"Bagusss! Yang suaranya keras, mace kasih hadiah! Nanti di akhir film, yang dapat jawab kuis dapat hadiah!!!" Fara menunjukkan jempolnya.
"Om Marcellll!"
Marcel langsung menyalakan InFokus, dimana layar mulai menunjukkan mini film genre fabel, besutan anak negri...
Mini film berdurasi 30 menit diputar menciptakan gelak tawa dan suasana bahagia di tenda pengungsian. Fara bergantian dengan istri prajurit lainnya mengajak anak-anak bernyanyi lalu memberikan kuis berhadiah jam tangan, sontak suasana semakin ramai dan bahagia. Istri danyon itu juga tak sungkan menggendong para balita dan bercengkrama dengan para ibu, tatapan kagum penuh pujian rupanya bukan hanya terpancar dari warga disana saja, melainkan para relawan terkhusus Al Fath.
"Sekarang gue tau Rise kenapa bu Faranisa dikagumi," ujar temannya, Clarise mengangguk setuju.
"Semakin hari abang semakin cinta, dek."
"Bu, goodie bag-nya mau dibagiin sekarang apa kapan?" bisik bu Hari.
__ADS_1
"Boleh bu, sambil dibagiin aja!" angguk Fara.
Ratusan goodie bag berwarna ungu dan kuning berisi tumbler, lunch box, satu set alat tulis, t-shirt dan topi terbungkus rapi dibagikan oleh para istri prajurit dan kedua ajudan Fara membuat suasana semakin riuh karena antusias anak-anak. Begitupun box makan siang berisi makanan 4 sehat 5 sempurna dibagikan pada semua warga.
Fara keluar dari tenda, ia menatap ke arah desa yang terbentang di bawah bukit, dimana para personel rescue dan batalyon tengah bahu membahu membantu warga mengevakuasi desa. Mencari warga yang masih hilang dan membersihkan longsoran tanah.
Senyum hangat terulas dari seorang pria, sepasang tangan besarnya memeluk Fara posesif, mendekapnya erat dan menaruh dagu di puncak kepala Fara.
"Abang sampai lupa bersyukur atas anugerah yang telah Allah beri saking terpesonanya,"
"Emang Allah ngasih abang apa?"
"Kamu," jawabnya lembut.
Fara mengulas senyuman merona, "Fara cuma salah satu dari sekian banyak wanita biasa di dunia, bang."
"Coba jujur sama abang, dek. Sebenarnya prodi kuliahmu jurusan apa?" tanya Al Fath.
"Kan abang udah tau,"
"Kamu terlalu pintar dalam segala hal," balas Al Fath yang entah pujian ke berapa kalinya saat ini.
"Kemampuan desain grafis, Fara dapetin di kampus dulu. Kemampuan bertahan hidup, Fara dapetin saat hidup terlalu kejam untuk dijalani. Kemampuan menghibur, Fara dapetin disaat satu-satunya hiburan yang bisa Fara nikmati di dunia ini adalah lelucon tentang kehidupan sendiri. Dan kemampuan saling mengasihi, Fara dapetin disaat naluri keibuan Fara mulai timbul." Fara membalikkan badannya.
"Fara memiliki guru terbaik di dunia, pengalaman...." lanjutnya tersenyum, Fara meneteskan air matanya demi mengingat perjuangan hidup yang tak mudah, sampai ia bertemu Al Fath.
"This is my wife! Sa pu maitua," bisiknya di telinga Fara, bumil itu tertawa renyah.
"Tapi Fara nakal bang,"
"Dan itu yang abang suka---"
"...Suka bikin pusing," lanjutnya. Fara semakin tertawa menyentuh dahi dan rambut cepak Al Fath.
Suara derap sepatu delta tiba-tiba terhent, "ups! Salah waktu nih saya datangnya!" ujar Marcel yang berbalik, ia berniat menyusul atasannya.
Keduanya menoleh.
"Om Marcel?" tengok Fara.
"Ck--- ganggu!" decak Al Fath.
"Ada apa?!" tanya Al Fath datar kembali ke stelan awal.
.
.
__ADS_1
.
.