Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
YANG MABUK SIAPA YANG MUNTAH SIAPA


__ADS_3

Di ruangan lain


Plak!!!!


"Guob lok!" manager club bergaya layaknya seorang presiden direktur menampar staf keamanan.


Terlihat keduanya mengaduh kesakitan, "maaf bos!" hanya kata itu yang bisa mereka ucapkan.


"Apa yang mau saya bilang sama pemilik club ini?! Arghhh, hancur!" ia merogoh ponselnya mencari kontak seseorang yang biasa menjadi benteng dan kuda di papan catur mereka.


Ia menceritakan semua yang terjadi hari ini dan kembali meminta perlindungannya.


Al Fath melakukan tugasnya dengan serius, mau tak mau karena kejadian barusan identitasnya terbongkar, senapan laras pendek berada di pinggang bersama rompi anti peluru yang tetap terpasang di badan. Pria ini sedang melihat data dan perijinan club malam ini, sementara Flora di tangan Wiryawan.


🌟Flashback on🌟


"Ada apa ini?!"


"Mereka siapa?!" cecar para bodyguard tempat itu, tanpa aba-aba Bryan melayangkan pukulannya di perut Al Fath, cukup kuat untuk ukuran anak muda, tapi tak sampai membuatnya mengaduh atau meringis.


"Wan, amankan camar!" titah si mata elang, Wiryawan mengangguk, Al Fath menyerahkan Flora pada juniornya itu.


Melihat Bryan sudah mengambil kuda-kuda Al Fath menarik ia dari tempatnya berada dengan mencengkram leher baju dalam sekali tarikan, Bryan terlempar hingga tersungkur saat Al Fath menyarangkan bogeman besarnya. Masih bisa terbangun, Al Fath mengangkat kaki dan melepaskan tendangan kerasnya, hingga tubuh pemuda itu kembali menabrak meja dan kursi. Beberapa bodyguard bereaksi, bartender yang melihat segera melapor manager agar situasi tak rusuh di dalam lantai dansa.


Beberapa pistol rakitan terangkat mengarah di atas kepala Al Fath, tapi tak ada raut gentar sekalipun darinya, bahkan tanpa perlu repot-repot mencabut senjata api dari pinggangnya hanya untuk menggertak, karena setelah tercabut maka ia harus melukai terlebih dahulu. Di balik mereka, pistol Martinus sudah mengarah pada manager yang baru datang itu, begitupun Wiryawan yang mengeluarkan pistolnya mengarah pada kepala salah satu lelaki yang diyakini kepala keamanan disini.


"Kalian tarik pelatuk pistol itu, maka manager dan kepala keamanan pun berakhir disini pula!" ancam Wiryawan.


"Mari kita bicarakan di ruangan, jangan disini!" pinta si manager mencoba menenangkan agar tak mengganggu pengunjung lainnya.


"Nus!" panggil Al Fath pada Martinus.


"Jaga merpati, tahan untuk tetap berada di tempat, jangan sampai masuk!" perintahnya sebelum ia dan Wiryawan mengikuti orang-orang itu.


"Siap, ndan!"


🌟Flashback off🌟


Teman-teman Flora berjongkok di pojokan, ketakutan? Sudah pasti. Mata tajam Al Fath tak lepas mengawasi mereka. Kondisi teman-teman pria Flora bertel anjang dada sementara Bryan sudah setengah babak belur, bukan Al Fath melanggar kode etik dengan menghakimi warga sipil, tapi pemuda itu yang memulai duluan. Alhasil bogeman Al Fath dan tendangannya mendarat mulus di perut dan wajah Bryan.


Pantang bagi seorang prajurit menembakkan peluru, karena satu butir peluru saja butuh pertanggung jawaban berat, tak boleh sembarangan menggunakannya.


Al Fath menyunggingkan senyuman smirknya, sudah ia duga club ini memiliki backingan dari petinggi aparat, semua data ia dapatkan. Meski belum termasuk siapa dalang yang jadi backingan club ini.


"Cepat atau lambat, kami akan tau siapa yang menjadi benteng dan kuda disini, setelah unit kami datang dan membawa semua data disini!" Al Fath menepuk-nepuk laptop si manager club.


Ia memencet nomor ponsel unitnya, yang sudah bersiap sejak ia berangkat tadi, "Done, eksekusi!" ucapnya singkat.


Tugas operasi intelijen khususnya untuk yang terakhir di ibukota sudah selesai, sebelum esok ia berangkat untuk melaksanakan tugas OMSP (operasi militer selain perang) di daerah perbatasan timur. Operasi yang meliputi berbagai bantuan kemanusiaan, seperti...sebut saja AIRSO (Operasi anti Insurjensi, Separatisme dan pemberontakan), pengamanan VIP, SAR khusus, hingga unit perbantuan terhadap pemerintah atau kepolisian.


"Siap eagle eye, perintah di copy!" di sebrang komando sana Andre dan Dilar menjawab.


Manager itu menunduk lesu tak berani menatap Al Fath disusul dua security yang berjaga di depan barusan dengan wajah sedikit lebam.


Tapi tak lama kemudian seorang pegawai club menyusul ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Maaf, pak mengganggu!"


"Masuk! Jangan berbisik, katakan secara keras dan lantang di depan semuanya!" perintah Al Fath tegas nan lugas, membuat siapapun yang mendengarnya akan langsung tertunduk.


"Pengunjung berhamburan keluar, mendengar ada razia disini!" mereka menoleh baik Wiryawan atau Al Fath tak pernah mengatakan ada razia, sudah pasti Martinus pun tak berani mengeluarkan statement (pernyataan) itu tanpa perintah Al Fath, lalu siapa yang mengatakan akan diadakan razia?


Mereka berhamburan panik keluar dari pintu masuk, sampai bertabrakan dan saling dorong. Martinus sungguh terhibur dengan aksi ibu komandannya ini.


Ia turun dengan wajah bayinya, yang tanpa dosa, setelah melakukan aksi yang membuat suasana club gaduh.


"Om Martinus, abang ngga ada di ruangan ini!" dari kumpulan manusia ini Fara tak menemukan sosok Al Fath.


Bartender dan DJ duduk berdampingan tak berani keluar saat mendapatkan tatapan dan penjagaan dari Martinus.


"Pekerja disini tak ada yang boleh keluar!" perintahnya. Fara duduk di salah satu kursi disana, kini suasana club malam itu sunyi kaya kuburan berkat ibu komandan satu ini, ia sukses membuat usaha orang bangkrut dalam satu malam.


Bagaimana tidak percaya, Fara masuk bersama para pria bersenjata, ditambah jaket yang dipakai Fara adalah jaket kesatuan milik Al Fath.


Detasemen pasukan gerak cepat parako unit 1 sampai di depan club, beranggotakan Gentra, Andre, Dilar, I Gusti, Nandi, dan yang lainnya. Mereka turun dari mobil taktis berlapis baja ringan. Dengan pakaian loreng mereka turun, meski tak menenteng senjata secara terang-terangan mereka bersikap mawas diri.


"Kok sepi ?!" tanya Dilar membuat yang lain ikut mengernyitkan dahi, apa betul tempat yang mereka datangi ini adalah club malam yang masih beroperasi, bukan gedung tua markasnya dedemit.


"Sebaiknya masuk saja, benar ini tempatnya. Tetap waspada!" perintah Andre yang mengambil alih komando.


"Siap ndan," jawab mereka. Tak ada hingar bingar lampu disko, tak ada musik yang bisa membuat kepala bergedek, melainkan ruangan club berisi beberapa orang saja termasuk Fara dan Martinus.


"Nus, ini club abis dimuntahin isinya apa gimana?! Sepi amat?!"


"Siap ndan, betul. Tadi...." Martinus memandang Fara yang malah asyik cari minuman di dekat meja bartender.


"Itu mbak, di showcase!" tunjuknya tak berani melawan.


"Fara?!" Fara yang setengah membungkuk kini menegakkan badannya.


"Eh, cuma jemput si Flora aja kok rame amat! Kaya mau ngajak tawuran!" ujarnya santai membuka tutup botol dan meneguk isinya, tenggorokan dan paru-parunya harus segera didetoksifikasi dari aroma-aroma dan racun yang ada disini.


"Komandanmu dimana Nus?" tanya Gentra.


"Di ruang atas bang," jawab Martinus menunjuk ke arah gawang pintu yang ada di sebelah kanan.


"Oke, Gusti dan Nandi berjaga disini bersama Martinus. Sisanya naik ke lantai 2!" perintah Andre.


"Siap ndan!"


Cukup lama Fara menunggu, hingga sekitar 30 menit mereka datang dari gawang pintu membawa seluruh orang yang tadi di giring ke lantai 2 dengan menodongkan senjata, bukan hanya dari komando pasukan khusus saja rupanya yang datang kesini, ada pula dari kepolisian yang datang membawa truk Reo untuk memboyong mereka melakukan beberapa tes. Rupanya operasi militer kali ini, adalah bentuk kerja sama jendral bersama kepolisian untuk mengetahui dalang pejabat aparat yang melakukan backingan tempat-tempat usaha ilegal beserta aktivitas pros titusi dan human trafi cking, selain dari alkohol dan obat-obatan terlarang. Fara sampai menganga saat mereka keluar membawa serta para wanita malam berpakaian minim dan gerombolan Flora.


"Abang?!" ucap Fara. Mendemgar namanya disebut Al Fath menoleh, "dek?! Kamu ngapain disini, abang kan suruh kamu tunggu di mobil? Kapan kamu bangun?" Al Fath menghampiri Fara segera, tak baik untuk istrinya berada disini.


"Udah lama Fara disini, udah sempet gelar kasur!" jawabnya. Pandangan Al Fath menusuk pada Martinus, "siap salah, ndan!!" ia bersikap sempurna.


"Saat saya keluar ibu tidak ada di mobil, ternyata ibu sudah masuk ke dalam!" penjelasannya.


"Kamu tetap salah, setiba di markas push up 10 set!" hukuman telah jatuh pada Martinus, bagaimanapun ia tak bisa melaksanakan tugasnya.


Bugh! Fara memukul dada Al Fath.

__ADS_1


"Jangan galak-galak! Bukan salah om Martinus, Fara yang masuk nyelonong ke dalem, abang ninggalin Fara ih!" omelnya.


"Kamu tidur, ngga mungkin abang bangunin kamu." Fara berdecak kesal karena ditinggal.


Mereka (para karyawan dan wanita malam serta gerombolan Flora) digiring untuk masuk ke dalam truk Reo.


Satu kata sepakat dari mereka semua saat masuk di ruang utama club ini, "SEPI!"


"Bang! Kenapa sepi? Abang bertindak?!" tanya Gentra pada Fath, ia pun bingung, rasanya saat tadi pergi meninggalkan ruangan lantai dansa ini kondisi masih ramai.


"Nus, pengunjung yang lain pada kemana?" tanya Al Fath bertanya.


"Anu ndan, tadi..." baru saja Martinus ingin menjelaskan,


"Ngga tau nih om Tinus! Masa dibilang sama pengunjung bakalan ada razia diadain sekarang?!" potong Fara, ternyata ia pun takut dengan wajah sangar Al Fath, mendengar hukuman Al Fath untuk Martinus bukan tak mungkin ia pun akan mendapat hukuman karena bertindak semaunya yang menyebabkan para pengunjung kabur, padahal seharusnya mereka melewati tes urine.


Maafin Fara, om Tinus.


"Aduh mama'e...saya lagi yang kena bu!" Martinus mengusap kasar wajahnya.


"Hukuman ditambah! Siapa yang suruh kamu bertindak tanpa komando saya?!" Martinus menunduk.


"Suttt! Ah udah--udah!! Pulang yuk!" ajak Fara membekap mulut Al Fath dan mengajaknya keluar, karena merasa bersalah pada Martinus.


"Nus, benar kamu bertindak di luar perintah komandan?" tanya Wiryawan tak percaya jika kawannya seceroboh itu.


"Bukan, saya tak mungkin melangkahi komandan." Jelasnya memelas dan pasrah.


"Lantas?" tanya Gentra ikut nimbrung.


"Bu Fara yang bikin pengumuman, teriak-teriak sambil naik di atas bangku, mencari suami tentara katanya. Otomatis orang-orang langsung bubar!"


"Bwahahahahahaha!" mereka tertawa diatas penderitaan Martinus.


Flora berjalan dibantu Nandi dan Dilar, masuk ke dalam mobil pribadi. Jangan sampai kejadian memalukan ini terekspos media, nama jendral sudah pasti akan tercoreng.


Fara dan Al Fath baru saja keluar dari dalam ruangan tertutup ini di belakang Flora, tapi baru saja menghirup udara segar, Fara membungkuk mencari tempat sampah.


"Huwekkkkk!"


"Dek?!"


"Yang mabuk Flora, kenapa yang muntah Fara?"


.


.


Note :


* Camar : Flora.


*Merpati : Fara.


* Detoksifikasi : mengurangi kadar racun dalam tubuh.

__ADS_1


__ADS_2