Surprise Child

Surprise Child
Bab 10 Ritual


__ADS_3

Menyambut hari penting Ursula bangun dengan wajah segar, dibantu para pelayannya ia mengenakan jubah merah yang sudah diturunkan dari generasi sebelumnya.


Beberapa hari yang lalu setelah Afragus pergi bersama prajuritnya pengumuman segera disebar kesemua ras Elf, ritual akan segera dilaksanakan dan mereka harus segera bersiap.


Menjelang siang seorang bupati memberitahu bahwa semuanya telah siap, Ursula pun berjalan keluar untuk menemui rakyatnya.


Dari balkon ia bisa melihat semua rakyatnya mengenakan tudungan hitam dengan bunga mawar hitam ditangan mereka, berdiri tegak menatapnya dengan senyum menghiasi wajah mereka.


"Penderitaan kita, tangis kita, kehilangan kita, akhirnya telah didengar oleh Dewa. Hari ini menandai kebangkitan Sang Penunggang yang akan menuntun kita ke puncak ras, bersama mari kita sambut 'Yang Terhormat'."


"Bangkitlah Sang Penunggang!" seru Jendral sambil mengacungkan tinjunya ke udara.


"Bangkitlah.. bangkitlah... "


Seruan itu saling bersautan, membakar setiap hati merah mereka menjadi bara api yang membara.


Tepat saat matahari berada diatas langit Ursula memimpin ritual itu dengan memakan bunga mawar merah pertama, mengunyah nya selama sepuluh kali sebelum menelannya.


Diikuti para pejabat baru kemudian rakyatnya, secara perlahan samar-samar tubuh mereka mulai diselimuti asap hitam yang menandai ritual telah selesai dilaksanakan.


......................


Klang Klang Klang


"Ah!" pekik Sophia saat ujung pedang kayu itu menempel di lehernya.


Alessa tersenyum, nafasnya yang tak beraturan adalah tanda bahwa ia sudah kelelahan. Sejak pagi buta hingga matahari tinggi diatas langit tanpa lelah Sophia terus memintanya untuk menemani belajar, bahkan meski Alessa sudah kelelahan ia tetap bersikeras.


Sungguh dibalik sifatnya yang tidak memiliki tujuan hidup tetap Sophia termasuk orang yang gigih.


"Cukup, kita sudah bertarung sebanyak sebelas kali dan kau menang tiga kali. Itu adalah peningkatan yang bagus selama sepekan," ujar Alessa menarik pedangnya.


"Tapi itu belum cukup," keluh Sophia.


"Astaga... aku memang dibayar untuk melatihmu tapi bukan berarti harus seharian, aku juga butuh makan dan istirahat jadi sisanya silahkan latihan sendiri."


Sophia merengut, ia tak suka berlatih sendiri karena merasa tak ada kemajuan. Tapi Alessa benar, ia punya pekerjaan lain selain mengajarinya. Tersenyum kecut ia membiarkan Alessa pergi.


Setelah membersihkan diri dari keringat Alessa pergi ke pusat kota, sebagai penyihir ia bekerja dalam bidangnya yaitu sihir.

__ADS_1


Dalam sebuah bangunan kecil yang ia sewa adalah tempat dimana ia bekerja, orang-orang biasa datang untuk meminta obat atau bantuan dalam hal sihir.


Seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri itu, mereka meminta obat apa pun atau sihir apa pun yang bisa membuat mereka memiliki keturunan.


Alessa memberi mereka sebuah ramuan disertai ritual kecil yang harus mereka lakukan selama tujuh hari, dengan bayaran tinggi Alessa menjamin jika ramuan itu tak berhasil ia akan mengembalikan uangnya.


Selepas pasangan itu pergi beberapa pria masuk dengan wajah yang ditutupi tudungan, curiga Alessa memberi tatapan waspada namun tetap bersikap ramah.


"Ada yang bisa aku bantu tuan-tuan?" tanyanya.


"Ya, kami mencari seorang gadis bernama Sophia. Dia baru lima belas tahun dan pergi bersama vampire bernama Damien, aku ingin kau melacak mereka."


Alessa tertegun, jelas tanpa perlu melacak ia sudah tahu dimana mereka berada.


"Kenapa kau ingin melacak mereka?" tanya Alessa.


Afragus membuka tudungannya, memperlihatkan telinga runcing yang ia miliki.


"Kau tidak perlu tahu hal itu, aku hanya perlu melakukan apa yang ku perintahkan," ujarnya tegas.


Alessa menelan ludah, tangannya yang gemetar mulai meraih piringan emas yang berisi air. Perlahan ia memasukkan tangannya kedalam air itu dan mengitari pinggiran piringan dengan jarinya yang basah, matanya ditutup dan mulai membaca mantra.


Tanpa mengucapkan terimakasih ia memberi Alessa sekantong uang dan pergi begitu saja, sementara Alessa yang tahu sahabatnya tengah dalam bahaya segera pergi menyusul.


Memotong jalan dengan menggunakan sihir dalam satu kedipan mata ia sudah sampai dirumahnya, tergesa-gesa ia menghambur masuk ke kamar Damien yang gelap.


"Damien bangun!" serunya sambil mengguncang tubuh vampire itu.


"Mm... Alessa ada apa? bukankah matahari masih bersinar terang?" gumamnya.


"Sophia sedang dalam bahaya! sekelompok Elf tengah mencarinya saat ini!" ujarnya yang membuat Damien langsung bangun.


"Apa? lalu dimana gadis itu sekarang?" tanyanya kaget.


"Di hutan, dia sedang berlatih pedang."


Damien segera memakai pakaiannya, menutup wajahnya dengan topeng tanpa lupa memakai sarung tangan juga. Setelah seluruh tubuhnya dibalut kain dengan rapat dengan cepat ia berlari keluar rumah, menuju hutan hingga menemukan Sophia yang masih dengan antengnya latihan.


"Ayo pergi!" ujar Damien tiba-tiba.

__ADS_1


"Damien? ada apa?" tanya Sophia bingung.


"Kita dalam bahaya, para Elf sedang memburumu!" ujarnya.


Tak ada kesempatan untuk bersiap Sophia segera ikut Damien berlari, tapi Afragus dan prajuritnya sampai pada waktu yang tepat.


"Nona.. akhirnya kami menemukan mu," ujar Afragus membuka tudungannya.


Sophia yang belum siap akan pertarungan sesungguhnya hanya bisa meringkuk dibalik punggung Damien, sementara para prajurit Elf itu mulai menyerang.


Sebisa mungkin dengan pedang kayunya Sophia membantu sebab mereka kalah jumlah, tapi ia belum cukup tangguh sehingga mendapat banyak luka diawal pertarungan itu.


Sementara Damien meski cukup kewalahan ia masih mampu bertarung dengan baik, menggunakan kecepatannya yang luar biasa ia berhasil menumbangkan satu persatu Elf itu hingga tersisa Afragus seorang.


Tak ingin kehilangan Sophia Afragus mengerahkan segenap kekuatannya, mereka beradu tanding dengan sengit. Suara pedang yang saling bertabrakan begitu meriah di tengah hutan yang sepi, dalam hal kekuatan rupanya Afragus tak bisa disepelekan.


Tapi Damien diuntungkan dengan kecepatannya, ia berlari cepat kearah Afragus dan menyerang titik buta sehingga berhasil menorehkan beberapa sayatan yang cukup perih.


Tak mau kalah Afragus mengeluarkan rantai dengan ujung belati yang tajam dari balik pakaiannya, memutarnya di udara ia siap menyerang.


Syuuuuuttt Sring..


Damien berhasil mengelak, ia menggunakan pedangnya untuk menangkis senjata itu.


Whuuungg Whuuungg Syuuuuuttt


Sret


"Damien!" teriak Sophia panik saat ujung belati itu kini berhasil menggores bagian pinggang.


Luka sayatan itu jelas terlihat, berdarah segar yang membuat Damien merasa nyeri. Tak mau berlama-lama Damien mengerahkan segenap kekuatannya dan meningkatkan kecepatan.


Ia berlari memutari Afragus sambil menghindari serangan, sampai ia menemukan titip buta lainnya. Itu adalah punggung Afragus yang bebas tanpa perlindungan, membawa emosi Afragus ai berlari mendekati pepohonan dan.


Jleb


Ujung belati Afragus terjebak di batang pohon dengan kokoh, sementara ia mencoba melepaskan senjatanya Damien melompat kebelakang dan dengan cepat menusuk punggung Afragus hingga pedangnya menembus kedepan.


Ia telah kalah, ambruk dengan satu tarikan Damien saat melepas pedangnya. Darah segar mengalir dari lubang didadanya, melepaskan jiwa yang tak akan tenang itu untuk pergi ke dunia lain.

__ADS_1


Sophia yang melihat dengan jelas bagaimana Afragus menghadapi kematiannya dibuat meringis, apalagi saat mata Afragus menatap kosong padanya. Satu kata yang terakhir yang Afragus ucapkan adalah 'nona'.


__ADS_2