Surprise Child

Surprise Child
Bab 20 Surat Pancingan


__ADS_3

Firat membawa Albert kesebuah kota kecil yang sering dikunjungi para vampire tanpa takut identitas mereka ketahuan, sampai didepan sebuah rumah ia mengetuk pintu itu.


Ceklek


Pintu terbuka, memperlihatkan Alessa yang baru bersiap untuk tidur.


"Hai," sapa Firat.


"Siapa kalian?" tanya Alessa sebab ia tak mengenal mereka.


"Namaku Firat, aku mendengar tentang mu dari Lucy."


Mendengar nama Lucy yang disebut tentu Alessa segera sadar siapa mereka dan mempersilahkannya masuk.


"Apa ada yang kena racun lagi?" terka Alessa.


"Tidak! ini sesuatu yang lain."


"Apa itu?" tanya Alessa penasaran.


"Aku mencari Damien, bisakah kau beritahu aku dimana dia?" tanya Albert.


"Dia adalah anak kejutannya," sambung Firat yang membuat Alessa tak bisa berkata.


Butuh waktu beberapa menit baginya untuk mencerna semua ini setelah Albert menjelaskan situasinya.


"Jadi kalian saudara," gumam Alessa.


"Siapa?" tanya Albert yang masih belum menerima penjelasan apa pun.


Alessa pun menceritakan apa yang ia ketahui tentang Damien dan Sophia, putri Meseress yang telah menjadi takdir Damien. Juga misi melarikan diri dari Elf yang mencoba menculik Sophia demi ritual kebangkitan Sang Penunggang.


"Jadi aku punya saudara? kenapa tidak pernah ada yang memberitahuku tentang ini?" tanya Albert kaget.

__ADS_1


"Mudah di mengerti, kau adalah seorang pangeran sobat! kau harus mengisi tahta tanpa perlu tahu tentang anak kejutan agar tidak mempengaruhi kerajaan," sahut Firat.


"Lalu dimana Damien sekarang?" tanya Albert.


"Dari pada mengkhawatirkan Damien aku rasa kau harus lebih mengkhawatirkan saudarimu, temui Sophia di Akademi dan tetap bersamanya sampai Damien menjemput kalian. Itu lebih aman," jawab Alessa.


Albert mengerti, maka ia pun memutuskan untuk pergi ke Akademi seorang diri.


Entah sudah berapa lama ia keluar dari Akademi, tentu itu adalah jumlah waktu yang banyak mengingat semua hal yang telah ia alami.


Saat sampai di gerbang utama Akademi entah mengapa ia merasa gugup seolah akan menghadapi ujian, bahkan ia bisa mendengar degup jantungnya yang keras hingga membuat telinga berdengung.


Kepada penjaga ia mengatakan ingin bertemu dengan Sir.Hummut sang Dekan, setelah diijinkan masuk matanya tak bisa berhenti untuk melihat setiap gadis dengan pikiran yang terus mempertanyakan mana Sophia.


"Albert! ini sungguh sebuah kejutan," ujar Dekan menyambut hangat kunjungan itu.


"Sir, apa kabar?" tanyanya.


"Seperti yang anda lihat, um... sebenarnya kedatangan ku kesini adalah untuk menemui saudara kembarku," ujar Albert langsung pada intinya.


"Saudara kembar?" tanya Dekan heran sebab ia tak pernah tahu tentang hal ini.


"Ya, Sophia."


"Tunggu! Sophia.... ya... kenapa aku baru menyadarinya? kalian berasal dari Kerajaan yang sama, Damien membawanya ke sini satu tahun yang lalu."


"Syukurlah.. bisakah anda memanggilnya untuk ku?" tanya Albert penuh harap.


"Tidak Albert, Sophia pergi beberapa hari yang lalu."


"Apa?" tanya Albert tak percaya.


......................

__ADS_1


Matanya menatap bangga barisan pasukan yang dengan susah payah telah ia bangun, sambil menikmati anggur kualitas terbaik hasil racikan terbaik petaninya.


"Sudah satu tahun berlalu, Penunggang ku.... pasti sudah ranum dan sangat siap untuk dibangkitkan," gumamnya.


Dari belakang seorang tangan kanannya yang baru bernama Cheet adalah gadis muda dengan mata indah bagai samudra, memiliki kecerdikan yang telah di asah dan pengabdi setia seperti mendiang ayahnya Afragus. Berjalan mendekatinya untuk melaporkan berita terbaru.


"Kami telah mengetahui dimana dia bersembunyi, selama ini dia berada di Akademi."


"Pantas saja aku tidak bisa mencium keberadaannya, lalu apa yang harus kita lakukan? tempat itu sangat dilindungi oleh semua ras," tanya Ursula tanpa memalingkan pandangan dari para prajurit yang berlatih.


"Kita bisa pancing dia untuk keluar, jika anda berkenan biar saya yang urus semuanya."


"Oh Cheet... aku tidak bermaksud buruk tapi kau lebih baik dari ayah mu," ujar Ursula sambil membalikkan badan untuk memberi gadis itu senyuman.


Itu adalah sebuah penghargaan bagi Cheet, maka dengan membusungkan dada ia pun memulai rencananya.


Sebuah surat ia tulis dan dia kirimkan ke Akademi untuk Sophia, sebuah surat yang isinya adalah kelemahan terbesar Sophia.


Mendapatkan surat itu seketika Sophia kehilangan ketenangannya, tanpa pikir panjang ia segera pergi meninggalkan tempat yang paling aman di muka bumi. Kini surat itu juga telah membuat Albert hendak pergi menyusul namun Dekan melarangnya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dan aku tidak pernah ingin ikut campur, tapi sebagai mantan Dekan mu aku khawatir akan keselamatan mu. Karena itu aku sarankan sebaiknya kau temui Damien terlebih dahulu sebelum menyusul Sophia," ujarnya.


"Tapi saudara ku dalam bahaya, jika aku tidak cepat menyusulnya... " Kata-kata itu tak sanggup Albert selesaikan karena ia pun tak mampu membayangkan hal yang mengerikan.


"Aku mengerti, tapi tetap saja ini demi keselamatan kalian juga."


Albert begitu kesal akan apa yang terjadi pada mereka, bagai main kucing-kucingan ia tak pernah berhasil bertemu Damien atau Sophia padahal ia sudah sangat dekat.


"Tidak Sir, aku akan tetap menyusul Sophia!" tegasnya untuk terakhir kali sebelum pergi.


Namun dia tidaklah bodoh, untuk berjaga-jaga ia juga mengirimkan sebuah pesan untuk Alessa yang memintanya agar memberitahu apa yang terjadi pada Sophia kepada Damien.


Ia berharap Alessa bisa cepat mengabari Damien agar mereka semua bisa bertemu ditempat dimana takdir mereka berasal, istana Meseress.

__ADS_1


__ADS_2