Surprise Child

Surprise Child
Bab 18 Ujian Terakhir


__ADS_3

Puncak dari ujian itu telah menyisihkan seperempat peserta yang membuat Dekan cukup murung, ia tak menyangka pada ujian ke enam ada banyak muridnya yang tak lulus.


Meski begitu ia tetap tersenyum senang menyambut para peserta di ujian akhir, pada satu ruangan yang luas masing-masing peserta diberi sehelai bulu gagak.


Tugas akhir sangatlah mudah, mereka hanya perlu merubah bulu itu menjadi senjata pribadi sesuai dengan karakter masing-masing. Setelah di uji kekuatan dan kelayakannya maka peserta yang lulus akan mendapatkan stempel dan berhak ikut serta dalam segala aktivitas senior seperti membantu mengajar junior dan lain sebagainya.


"Gunakan imajinasi kalian sebaik mungkin, pikirkan apa mimpi dan impian terbesar yang ingin kalian wujudkan. Salurkan kheos ke dalam helai bulu itu dan dengan sendirinya akan berubah menjadi senjata," jelas pengawas.


Mudah di ucapkan tapi tentu saja sulit untuk di lakukan, dalam beberapa detik banyak peserta yang berhasil membuat helai bulu itu menjadi senjata tapi begitu digunakan hancur seketika.


Akhirnya mereka harus mengulang sampai berhasil membuat senjata kuat yang dialiri kheos.


Tak terkecuali Sophia, berkali-kali ia gagal membuat senjata sampai hampir putus asa. Menghela nafas ia memutuskan beristirahat sejenak sambil mengamati rekan-rekannya yang lain, termasuk Ariana.


Nampak Ariana begitu bekerja keras tanpa memperdulikan banyaknya helai yang terbuang, itu membuat Sophia penasaran apa yang membuat Ariana sangat gigih.


Termenung ia menyadari semua peserta di dalam ruangan itu terus mencoba tanpa henti, meski berkali-kali gagal mereka akan mencoba tanpa rasa lelah.


Berkaca pada diri sendiri Sophia sadar ia sudah tertinggal jauh, meski Dekan berkata ia memiliki potensi dalam sihir tapi nyatanya dia bukanlah yang terbaik.


Jika di pikir lagi Ariana jauh lebih baik darinya, meski sempat gagal tapi dia mampu mengejar bahkan di ujian ke enam ia lebih dulu menyelesaikan tugas.


Sedetik kemudian semangatnya lenyap.


"Mau menyerah?" tanya Dekan yang tiba-tiba berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Sir," sahutnya sedikit kaget.


"Tidak apa jika kau ingin menyerah, kau masih punya kesempatan tiga kali untuk mencoba esok hari. Tapi bukankah jika kau menyerah sekarang maka kau membuang perjuangan mu sejak kemarin?" tanya Dekan.


Sophia termenung memikir ucapan Dekan yang ada benarnya, ia sudah berjuang setiap hari maka sayang jika harus berhenti di akhir.


"Aku mendapatkan laporan kau selalu melakukan cara tersulit untuk menyelesaikan tugas, bahkan saat ujian ke enam kau mencoba menangkap rusa untuk mendapatkan kunci padahal kau bisa membunuhnya. Ini membuatku penasaran senjata apa yang akan kau ciptakan," ujar Dekan.


"Senjata..." gumam Sophia mengulang.


"Dengar nona Sophia, senjata tidak hanya digunakan untuk menghancurkan atau membunuh tapi ada juga senjata yang digunakan untuk menolong," ucap Dekan sebelum pergi meninggalkannya.


Lagi Sophia termenung, memikirkan senjata apa yang cocok dengan kepribadiannya dan bisa ia gunakan untuk menolong banyak orang.


Tak ada gunanya jika hanya terus berfikir Sophia memutuskan untuk mencoba, ia mengambil sehelai bulu gagak dan menggengamnya di tangan.


Tapi mengingat apa yang sedang mereka alami ia tahu itu tidaklah mudah, satu tahun telah berlalu dengan kedamaian sebab dia berlindung dibawah atap Akademi.


Saat ia keluar sudah bisa dipastikan para Elf akan kembali mengejarnya bahkan Damien dapat terluka lebih parah dari pertempuran terakhir mereka, satu keinginannya yang paling kuat adalah ia hanya ingin melindungi Damien.


Whuuuuusss


Angin tiba-tiba bertiup kencang disekitar Sophia, aliran kheos dari tangannya mulai menyinari helai bulu gagak itu dan menenggelamkannya dalam balutan cahaya.


Para peserta dan pengawas termasuk Dekan menatap kearahnya, penasaran senjata apa yang akan tercipta dari tangan yang tidak pernah mau menyakiti itu.

__ADS_1


Zhaasss


Cahaya itu lenyap, membuka mata dengan sedikit perasaan ragu Sophia menemukan l helai bulu gagak itu berubah menjadi pisau kecil yang mengkilap.


Ia menatap bingung pisau itu sampai Dekan menghampirinya.


"Pisau bedah," ujarnya.


Pengawas pun ikut menghampiri dan menguji pisau itu, ketajamannya mampu memotong sehelai rambut menjadi dua. Ketahanannya mampu bertahan dalam api dan tak mudah tumpul meski di pukul, tersenyum kepada Sophia pengawas itu menyatakan ia telah lulus dan memberinya stempel.


"Selamat nona Sophia," ujar Dekan.


"Tapi Sir, aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya," ujar Sophia.


Dekan menatapnya untuk beberapa detik sebelum mengajaknya ke ruangannya, disana ia memberi Sophia sebuah buku tebal dengan sampul kulit yang cukup usang.


Sophia membuka lembaran demi lembaran buku itu yang berisi berbagai gambar dan keterangannya.


"Dalam beberapa kasus ada sebuah penyakit dalam yang sulit disembuhkan kecuali dengan operasi, itu adalah tindakan dimana bagian tubuhnya di bedah seperti kambing dan mengeluarkan penyakit tersebut. Pisau bedah yang kau ciptakan adalah jenis pisau yang digunakan khusus untuk melakukan operasi," jelas Dekan.


"Jadi... ini bukan senjata!" ujarnya.


"Pisau cukup tajam untuk dijadikan senjata, saat kau bertarung melawan musuh kau bisa menggunakan pisau mu untuk pertahanan diri. Tapi kelebihan dari pisau mu bukan hanya untuk itu saja, seperti yang aku katakan pisau mu bisa digunakan untuk menyembuhkan orang sakit."


Kini Sophia mengerti, meminta ijin kepada Dekan ia ingin mempelajari tentang pengobatan khususnya tentang perbedahan.

__ADS_1


Dekan mengangguk memberi ijin, ia pun senang akan keinginan Sophia sebab di Akademi ia kekurangan orang dalam bidang pengobatan.


__ADS_2