Surprise Child

Surprise Child
Bab 27 Mencoba Melawan Takdir


__ADS_3

Setidaknya ia bisa sedikit bernafas lega setelah mengetahui Damien hanya mencari pertolongan agar dirinya aman kemana pun ia pergi, tapi meski begitu ia tak bisa berlama-lama disana khawatir rahasianya akan terbongkar dan nyawanya kembali terancam.


Sophia telah memutuskan akan tinggal setidaknya untuk satu hari satu malam, esok malam ia akan menyelinap pergi saat semua orang sedang tidur.


Meg membawanya ke rumahnya yang ternyata adalah sarang manusia serigala, pemandangan pertama yang ia lihat adalah para pemuda yang sedang bermain dengan kulit bundar.


Sophia dipersilahkan masuk kedalam satu rumah yang lebih besar dari lainnya, Meg segera menjamu dengan makanan dan minuman yang tanpa segan Sophia terima.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanyanya.


"Silahkan," sahut Meg.


"Bagaimana kau mengenal Damien? maksudku... vampire dan manusia serigala.."


"Bermusuhan," ujar Meg menyelesaikan kalimat itu.


Sophia mengangguk, diam menunggu Meg memulai ceritanya.


"Saat aku kecil orangtuaku mengajarkan untuk waspada vampire, jangan pernah percaya pada apa pun yang bangsa itu katakan. Tapi ada satu vampire yang harus kupercaya, dia adalah Damien. Orangtuaku berkata Damien telah banyak berjasa untuk kami manusia serigala," ujarnya.


Seperti yang dikatakan putri Agrarta kepadanya, sejak kecil dia sudah sering mendengar tentang kebaikan Damien yang menolongnya oleh karena itu ia harus ikhlas menjadi anak kejutan.


Sayang rupanya takdirnya justru menjadi musuh bagi vampire yang namanya telah terpatri di hati, tersenyum Sophia mengalihkan pembicaraan pada hal lain.


......................


Tuk Tuk Tuk Tuk


Sebanyak kerikil yang ia lempar pada batang pohon sebanyak itu pula kekesalannya, sejak kemarin tidak pernah berhenti.


Yarren yang mengerti hanya duduk disampingnya tanpa mengatakan apa pun, tak bertanya apa pun juga.


Saat angin menggugurkan daun kering diatas pohon dan membuatnya melayang di udara untuk beberapa detik sebelum jatuh ke tanah Yarren memperhatikannya tanpa mengedipkan mata.


Seakan waktu berjalan lambat ia merasakan sebuah jarak tercipta antara dirinya dan Albert, begitu kentara dan tak kasat mata namun jelas adanya.


Itu membuat hatinya sedih, bahkan saat Albert jauh dari pandangan matanya ia bisa merasa dekat dengan pemuda itu hingga mampu merasakan nafasnya. Tapi kini meski ia bisa menyentuhnya bahkan ia merasa begitu jauh, jika begini ia pikir lebih baik Albert pergi saja sekalian.


"Aku belum mengatakannya padamu," ujar Albert tiba-tiba.


Yarren menengok, memperhatikan bagaimana kekesalan memenuhi raut wajahnya.

__ADS_1


"Kemarin kami pergi Puan Sihir untuk melakukan pemurnian, saat itu kami semua tahu bahwa Sophia memang benar adalah Sang Penunggang," ujarnya.


"Lantas?" tanya Yarren yang membuat Albert kaget.


"Yarren dia adalah ancaman masa depan, dia adalah bencana yang akan menghancurkan segalanya. Aku harus membunuhnya sebelum dia sempat memanggil naganya," tegas Albert.


"Apa kau lupa pada ucapan ku kemarin? persaudaraan bukan hanya tercipta dari hubungan darah tapi juga ikatan batin, apa kau benar-benar akan membunuh saudaramu sendiri?" tanya Yarren.


"Dia bukan saudaraku! darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah monster yang membunuh keluarga ku!" teriak Albert murka.


Dengan wajah terkejut Yarren mundur beberapa langkah, ekspresinya menunjukkan seakan ia tak mengenal sosok pria yang berdiri dihadapannya.


"Kau lebih percaya pada mitos ribuan tahun daripada apa yang kau lihat langsung dengan matamu, bahkan setelah Sophia berjuang menyelamatkan mu dari bangsa Elf kau masih menganggap Sophia sebagai ancaman."


Albert membuang muka mendengar hal itu, memang mengingat kebaikan hati Sophia yang bahkan tidak berani menyakiti lalat sekalipun sangat tidak mungkin ia akan membawa bencana.


Tapi mengingat kenyataan bahwa dia Sang Penunggang Albert tak bisa mengabaikan rumor begitu saja.


"Tak ada jalan lain, aku akan pergi menemui Alessa dan meminta sarannya."


"Tapi Albert! Damien menyuruh mu untuk tetap tinggal," ujar Yarren mengingatkan.


"Kediaman Alessa tidaklah jauh, aku akan kembali sebelum Damien datang," ujarnya.


......................


"Apa kalian melakukan ini setiap hari?" tanya Sophia.


"Ya, hampir setiap hari," sahut Meg.


"Bagaimana hidup dengan vampire?" tanya Meg iseng.


"Cukup sulit menyesuaikan waktu awalnya, tentu karena dia tidur saat siang sementara aku tidur saat malam. Tapi sejauh ini kami bisa melewatinya," sahut Sophia mengenang kebersamaan mereka yang selalu singkat.


Meg mengangguk mengerti, ia tak bertanya lagi dan membiarkan Sophia menikmati waktu santainya.


Esok harinya ia cukup kaget melihat aktifitas mereka yang lumayan sibuk, para pria akan pergi dari pagi untuk mencari makan sementara yang wanita dirumah mengasuh anak-anak kecil mereka.


Sophia cepat membaur meski ia tetap mencoba membatasi diri agar tak terlalu dekat dengan mereka, ia membantu para ibu menjahit kain dan mendapat pujian karena kerapihannya.


"Sebenarnya aku cukup terbiasa melakukannya, sebelum bertemu Damien aku seorang putri yang dituntut harus terus belajar sebagaimana putri kebanyakan," ujarnya.

__ADS_1


"Aku mengerti, terlihat dari caramu bertindak kau bukan rakyat biasa," sahut Meg.


"Tolong.... " teriak seseorang tiba-tiba.


Kaget sekaligus penasaran mereka semua berkumpul melihat Justine berlari bersama temannya sambil membawa tandu, jelas sekali seorang pemuda diatas tandu itu terluka.


"Apa yang terjadi?" tanya Meg.


"Ada seekor beruang, aku sudah memperingatkannya untuk jangan maju sendirian tapi dia tidak mau mendengarnya."


Cerita singkat itu sudah memperjelas luka cakaran yang cukup dalam di lengannya, darah segar masih menetes dengan rasa sakit yang sudah pasti tak tertahankan.


"Dimana Tobias? panggil dia untuk segera mengobati lukanya sebelum dia kehabisan darah," seru Meg.


Seseorang segera berlari, sementara Sophia terpaku menatap pemuda itu sambil memperhitungkan seberapa lama ia mampu bertahan.


Jika Tobias yang bertanggungjawab akan penyelamatan tidak kunjung datang atau terlambat sedikit saja luka itu akan infeksi yang pada akhirnya menyebabkan kematian.


Dalam beberapa detik yang terasa lambat Sophia teringat satu tahun masa belajarnya di Akademi, pada puncak ujiannya ia mendapat pisau bedah yang membuatnya harus belajar lagi.


"Benar, jika ada pisau yang digunakan untuk melukai pasti ada pisau lain untuk menyembuhkan," gumamnya yang masih memegang teguh kewarasan.


"Biar aku saja! cepat ambilkan air dan kain bersih," serunya segera menghampiri pemuda yang terluka itu.


Tak ada waktu untuk berfikir mereka segera melakukan apa yang diperintahkan Sophia, dengan cekatan ia membersihkan luka bekas cakaran itu dan menjahitnya agar tak ada darah yang keluar lagi.


Saat orang bernama Tobias itu sampai Sophia sudah selesai dengan pekerjaannya, tentu itu membuat mereka bingung sebab Sophia sangat cepat mengerjakannya.


"Jahitannya rapi, kau pasti sudah sering melakukan ini," ujar Tobias memeriksa hasil kerjanya.


"Ya, setiap hari aku melakukannya pada buah dan telur."


Tobias tersenyum ia tak menyangka ada tabib sehebat Sophia di dunia ini, tak lupa ia dan semua orang mengucapkan terimakasih.


"Aku sudah memberinya obat pereda nyeri, mungkin nanti malam dia akan demam tapi semuanya baik-baik saja. Kita hanya perlu menjaganya saja," ujarnya memberitahu.


Tobias mengangguk mengerti, ia mengatakan Sophia bisa menyerahkan sisa perawatan kepadanya.


Melihat semua orang tersenyum kepadanya membuat perasaan nyaman yang cukup aneh, ia merasa menjadi putri Sophia dari Kerajaan Meseress bukan Sang Penunggang seperti apa yang menjadi takdirnya.


Ini membuatnya berfikir bahwa ia mungkin bisa melawan takdirnya, meski orang-orang percaya bahwa ia adalah sebuah bencana tapi ia akan buktikan bahwa ia bisa menjadi Sang Penunggang yang cinta damai.

__ADS_1


Untuk itu ia harus mencaritahu dulu segalanya tentang Sang Penunggang, mempelajari dari leluhur seperti apa sebenarnya Sang Penunggang itu.


Sesuai rencana saat malam hari tiba ia menyelinap keluar dari rumah itu, berjalan dibawah sinar rembulan memasuki hutan yang mungkin saja dipenuhi bahaya.


__ADS_2