
Berjalan sempoyongan Sophia telah kehabisan tenaganya karena terlalu sering membuat portal, baginya yang masih baru tentu itu akan sangat menguras tenaga.
Pada akhirnya ia ambruk diatas rumput dengan mata yang terasa berat, di sisa tenaganya samar-samar terdengar sebuah suara semak-semak.
Tak bisa melihat dengan baik tapi ia yakin seseorang berdiri menatapnya, cukup lama memperhatikan sampai ia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Yang ia tahu hanya tubuhnya melayang pada kegelapan pekat, mengudara tanpa tujuan sampai sketsa perpisahan dengan dirinya dan Albert membuat perasaannya kacau.
Terbangun Sophia segera bangkit dan menatap sekitar, entah mengapa ia tiba-tiba berada di dalam sebuah kamar.
"Jangan-jangan seseorang membawaku saat pingsan," gumamnya mengingat sebuah bayangan samar.
Memutuskan untuk mencaritahu ia segera berjalan keluar kamar, tepat saat itu juga Yarren baru saja akan memeriksa keadaannya.
"Oh kau sudah sadar?" ujar Yarren ketika mereka bertemu diluar kamar.
"Apa.. kau yang membawaku?" tanya Sophia.
"Bukan, itu ayahku."
"Oh, terimakasih sudah menyelamatkan ku," sahut Sophia segera.
Karena Sophia sudah sadar makan Yarren membawanya untuk bertemu Matheo dan makan bersama keluarganya, sekali lagi Sophia mengucapkan terimakasih kepada Matheo.
"Anggap saja sebagai rumah mu sendiri, tidak perlu sungkan!" ujar Matheo ramah.
Sophia mengangguk dan kembali mengucapkan terimakasih atas keramahan itu.
"Melihat mu membuatku teringat Albert, entah mengapa bagaimana kabarnya sekarang. Aku harap dia baik-baik saja," gumam Yarren pelan.
"Kau kenal Albert?" tanya Sophia kaget.
"Ya, apa kau juga mengenalnya? kau tahu dia dimana sekarang?" balas Yarren.
"Dia adalah saudara ku, sayangnya... kami berpisah saat melarikan diri dari Elf. Aku rasa... dia sudah tertangkap," sahutnya.
Yarren tak mau menerima kenyataan yang baru saja ia dengar, termakan emosi ia segera bangkit dan mengambil tas.
"Yarren apa yang kau lakukan?" tanya Matheo.
"Aku akan pergi menyelamatkannya," jawabnya tegas yang membuat Sophia terkejut.
"Tidak! itu terlalu berbahaya," sergah Matheo.
"Aku tidak peduli!" seru Yarren yang kembali berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Jika kau berani keluar dari pintu itu maka artinya kau bukan bagian dari suku Zimbe lagi," gertak Matheo.
Suasana tiba-tiba hening, Sophia yang tidak tahu duduk perkaranya merasa telah salah bicara sebab ketegangan yang telah ia buat.
Ceklek
Yarren membuka pintu, membiarkan angin masuk kedalam rumah itu demi menyegarkan aura panas yang membakar.
"Saat aku mencintainya sudah ku putuskan akan mengambil serta resiko terbesar dalam hidupku, termasuk melepas gelar putri suku Zimbe."
Itu adalah ucapan yang penuh dengan keyakinan dan tegas, sebuah ucapan atas dasar cinta yang siap dalam perjuangan. Membuat Sophia membeku seketika sebab ini adalah kali pertama ia melihat kekuatan cinta yang maha besar, sungguh bukan hanya sekedar rasa suka yang terbalas.
......................
Alessa adalah penyihir yang sudah berteman dengan vampire sejak lama terutama Damien, mereka saling membantu dalam berbagai hal dan sudah biasa berhubungan jarak jauh melalui sihir.
Atas permintaan Albert ia pun mengabari Damien agar pulang demi menyelamatkan kedua anak kejutannya dari Elf, sebuah sihir pemanggil Alessa lakukan yang membuatnya mampu hadir dalam mimpi Damien dan menyampaikan maksudnya.
Berkat panggilan itu dimana pun Damien berada akhirnya ia pulang untuk menagih penjelasan lengkap kepada Alessa, saat sampai tanpa menunda lagi Alessa menjelaskan tentang kehadiran Albert sebagai anak kekuatan lainnya.
"Jadi selama ini aku di bohongi?" tanya Damien tak percaya.
Alessa mengangguk, ia juga menyampaikan pesan Albert yang memintanya untuk segera menyusul ke istana Meseress demi menyelamatkan Sophia.
"Kalau begitu aku tidak boleh menunda waktu lagi," ujar Damien.
......................
Byuuuuuuurrrrrrr
Ah... hhhhhhhhhh hhhhhhhh hhhhhh
Sring...
Rantai itu berbunyi saat Albert berayun karena menggigil, entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri tapi yang pasti cukup lama hingga membuat Cheet harus membangunkannya dengan seember air dingin.
"Akhirnya kau bangun juga pangeran tidur," ujar Cheet.
Bergantung pada rantai yang menahan kedua tangannya perlahan Albert mengangkat kepala, menatap Cheet dengan kedua matanya yang memerah.
"Apa? ingin mencoba menusuk ku dengan tatapanmu? pedang dan mata memiliki ketajaman yang berbeda, jangan terlalu berusaha," tukasnya.
"Dia sudah bangun?" tanya Ursula yang baru datang bersama pengawal.
"Sudah Ratuku," jawab Cheet tegas sambil minggir ke samping.
__ADS_1
Beralih menatap Ursula segera amarah menyerbu hatinya, seketika teringat akan kehancuran istananya dan dialah dalang dibalik segalanya termasuk penderitanya.
"Padahal aku lebih mengharapkan Sophia, tapi tidak masalah. Aku yakin dia akan datang sendiri," ujar Ursula.
"Kau tidak akan pernah mendapatkannya!" seru Albert dengan sekuat tenaga meski sebenarnya tenaganya telah habis.
Hahahahahaha
Tawa Ursula membahana di seluruh penjuru sel, membuat para tahanan yang lain penasaran sekaligus ngeri.
"Aku berhasil memenggal kepala ayahmu dan menyiram tahta dengan darahnya, mengapa aku tidak bisa menangkap seorang gadis kecil?" tanyanya penuh olok.
"Keparat!" teriak Albert tak dapat menahan lagi amarahnya.
Sring.. Sring
Bunyi rantai begitu berisik saat Albert mencoba melepaskan diri, tapi rantai yang tertanam ditembok itu bukanlah tandingan tangannya yang lemah.
"Diam!" teriak Cheet.
Buk
Uh Uhuk Uhuk
Satu pukulan keras di perut membuat Albert memuntahkan ludah yang terus terbatuk kemudian, ia memang diam tapi bukan berarti amarahnya redam.
"Menyedihkan, beri dia makan! aku ingin dia tetap hidup dia adalah tahanan berharga ku," perintah Ursula sebelum pergi meninggalkan sel bawah tanah.
"Pindahkan dia ke ruang tahanan," ujar Cheet.
Dua orang pengawal segera melepaskan tangan Albert dari rantai, tak ada tenaga untuk melarikan diri untuk saat ini Albert membiarkan tubuhnya diangkat dan dijatuhkan begitu saja ke dalam ruang tahanan.
Sementara Cheet bergegas pergi untuk berdiri tepat di samping Ursula, sebagaimana tugasnya sebagai tangan kanan.
"Berapa banyak yang datang hari ini?" tanya Ursula.
"Tiga puluh dua, mereka berasal dari selatan dan mengatakan mereka adalah Elf terakhir dari sana," sahut Cheet.
"Artinya semua Elf sudah berkumpul di sini?" tanya Ursula.
"Sayangnya belum, masih ada beberapa Elf yang memilih tetap bersembunyi."
"Ah pikiran kolot itu memang sulit untuk di ubah, tidak apa. Bagaimana dengan perluasan wilayah?" tanyanya.
"Benteng baru saja selesai dibangun disekitaran rumah penduduk, para penjaga juga sudah ditempatkan di beberapa titik."
__ADS_1
"Bagus, meski terkesan mengurung tapi ini adalah cara terbaik untuk bertahan. Para raja sialan itu sudah mulai bergerak mengkhianati ku," tukasnya.
Ursula memberi isyarat bahwa Cheet bebas pergi, maka gadis Elf itu pun memberi hormat dan segera pergi meninggalkan Ursula dengan niatan akan melatih ilmu pedangnya.