
Sepeninggal pemimpinnya tak ada satu pun kelompok yang mampu hidup aman dan damai dalam waktu yang lama, berbagai keresahan mulai tercipta hingga saling menyalahkan sesama atas penderitaan yang kini tengah dirasakan.
Begitulah kondisi bangsa Elf saat ini, beruntung mereka masih memiliki para tetua yang walau pun selalu beradu argumen hingga sulit mencapai titik terang tapi setidaknya ada yang mengarahkan kemana tujuan mereka.
Mengingat kini betapa rentannya keselamatan mereka maka tak ada pilihan lain kecuali bersembunyi seperti dahulu, namun Cheet sebagai tangan kanan Ursula tidak pernah mau mengikuti aturan para tetua.
ia dan anggotanya memilih untuk memburu Albert dan yang lain demi membalas kematian Ursula, maka disanalah ia sekarang.
Berdiri tegak tanpa ada keraguan dimatanya, menghunuskan pedang tepat ke leher Albert yang terbaring di tanah sementara Sophia dan Yarren mencoba melepaskan diri dari para prajurit Cheet.
"Cukup sampai di sini," ujar Cheet dingin.
Ia sudah akan mengayunkan pedangnya untuk menebas leher Albert sama seperti yang dilakukan Albert kepada Ursula, tapi Damien segera bertindak dengan melindungi Albert sehingga ia yang terkena sayatan tepat di lengannya.
"Kau!" seru Cheet murka.
"Jangan bergerak!" sergah Cheet cepat menghunus pedangnya kepada Yarren saat Damien hendak bergerak menyerangnya.
"Tidak! kumohon..." pinta Albert lirih.
Melihat bagaimana nanar mata Albert menatap Yarren membuat Cheet sadar nyawa gadis itu lebih berharga dari dirinya, maka itu membuat sisi kekejaman Cheet timbul berkedok nyawa dibalas nyawa.
Jleb
"Ah!"
"Tidak.... "
Tanpa peringatan apa pun Cheet menusukkan pedangnya pada perut Yarren, memutarnya sekali untuk memberikan rasa sakit yang luar biasa hingga air mata mengalir di pipinya.
Lalu ia menarik pedangnya agar darah mengalir bagai sungai, membanjiri tanah dengan warna merah yang bau amis.
"Yarren... " panggil Albert lirik tak percaya akan apa yang ia lihat.
Bahkan Damien sendiri mematung, hanya bisa melihat bagaimana tubuh Yarren dibiarkan jatuh ke tanah sambil memegangi perutnya yang kini berlubang.
"Selamat menikmati masa berkabung," ujar Cheet puas.
__ADS_1
"Beraninya kau!" teriak Albert bangkit.
Ia sudah siap mengangkat senjata untuk menghancurkan tangan Cheet yang berani melukai Yarren, tapi Damien menghentikannya sebab pedang Cheet kini menempel pada leher Sophia.
"Aku sudah tidak peduli lagi pada Sang Penunggang atau pun masa depan bangsa Elf, Ratuku telah kau renggut maka tidak ada lagi alasan ku untuk berjuang. Sekarang ini aku hanya akan membuat mu merasakan penderitaan ku, jika kau berani mendekat aku akan langsung membunuhnya," ujar Cheet.
"Cih! pengecut!" olok Albert sambil membuang ludah.
Cheet hanya tersenyum tanpa memperdulikan harga diri yang selalu ia sanjung.
"Angkat pedangmu!" teriak Sophia tiba-tiba.
"Apa pun yang terjadi padaku angkat senjata kalian dan akhiri penderitaan ini!" serunya lagi kini dengan air mata yang deras membasahi seluruh pipi hingga dagu.
Ucapan itu membuat Albert tersentak, teringat bagaimana hari-hari mereka yang penuh perjuangan. Betapa sampai sekarang pun ia masih menganggap Sophia sebagai saudaranya, dan hal itu membuatnya tak ingin Sophia terluka.
"Pada akhirnya aku pun pasti akan mati, jika tidak ditangannya maka mungkin ditangan orang lain. Ada banyak yang ingin membunuhku maka untuk apa kita terus berjalan? selesaikan semua disini... cepat selesaikan sebelum ada orang lain yang harus menderita karena aku," pinta Sophia dalam isakan tangisnya.
Baik Albert maupun Damien sadar bahwa ucapan Sophia seratus persen benar, tapi justru tangan mereka semakin berat untuk mengangkat senjata.
Hati kecil mereka tak mampu melihat kepergian Sophia yang menyedihkan akibat takdir yang tak pernah ia inginkan.
Tapi sampai hilang suara Sophia mereka masih diam di sana, memeluk Yarren yang ruhnya sudah mencapai ubun-ubun.
"Kau akan baik-baik saja, aku akan mengobati lukamu," ujar Albert sambil memegang kuat tangan Yarren yang mulai melemah.
Tersenyum dengan kelopak mata yang terbuka setengah Yarren nampak lebih cantik dari biasanya, bagai bidadari yang siap menghadap tuannya.
"Aku tidak butuh hiburan, aku adalah putri rimba dari suku Zimbe.. aku tidak takut apa pun termasuk kematian," ujar Yareen pelan dengan nafas yang sudah menipis.
"Maafkan aku..." ucap Albert begitu dalam akan penyesalannya.
"Ingat bagaimana kita pertama bertemu? aku menusukmu dengan panahku," tanya Yarren dengan tawa kecil tanpa suara.
Albert mengangguk keras hingga air matanya jatuh membasahi tubuh Yareen.
"Dengah panah yang sama, tanpa sepengetahuan mu aku menggores luka di lengan ku. Aku.... ingin merasakan sakit yang kau rasakan, tapi pada akhirnya... aku juga justru jatuh cinta dengan tidak wajar kepada mu."
__ADS_1
Kedua mata Yarren masih terbuka setengah tapi hidungnya telah berhenti kembang kempis, Albert membenamkan telinganya pada gadis itu dan menemukan degup jantung pun telah hilang.
Tangisan semakin menjadi, Albert memeluk tubuh yang mulai kaku itu dengan sangat erat seolah sesuatu akan membawanya pergi.
Sementara Damien hanya bisa memberi waktu sampai ikhlas datang kepada Albert agar mau mengubur jasad Yareen dengan layak.
Bersama bunga-bunga harum yang Albert satukan agar menciptakan aroma wangi seperti tubuh Yarren di waktu pertama mereka bertemu disampaikannya ucapan perpisahan.
"Tubumu kini tanpa ruh yang bisa menggerakkan tangan untuk mengangkat busur, tak akan ada lagi kerutan tipis yang menghubungkan hidung dan mulutmu saat kau tersenyum. Maaf jika ini adalah kata perpisahan yang menyedihkan seakan aku akan cepat lupa pada dirimu, hanya saja aku ingin melangkah demi melanjutkan permintaan yang sudah seringkali kau nasehatkan padaku. Yarren, jika semesta menghendaki aku ingin kau terlahir kembali dengan cinta yang sama untuk ku. Cinta yang tidak wajar namun patut diperjuangkan, saat itu aku berjanji akan lebih kuat agar dapat melindungi mu."
......................
Lelah berteriak akhirnya Sophia bungkan dalam waktu yang lama, mengikuti kemana tubuhnya di seret dengan benak yang tak mau berhenti untuk menyalahkan dirinya sendiri.
Di padang alang-alang yang kekuningan mereka beristirahat sebentar untuk meneguk beberapa tetes air yang sudah hampir habis, tujuan Cheet adalah pulang ke gua tempat dimana jasad Ursula ia baringkan.
Ada sebuah rencana gila yang ia susun dengan rapi untuk menghidupkan kembali api di dalam jiwanya, itu merupakan perjanjian terlarang yang butuh pengorbanan dan ia menetapkan Sophia untuk posisi suci itu.
"Kita harus sampai sebelum tengah malam, ayo!" perintah Cheet agar anak buahnya mau kembali bergerak.
Sophia yang diikat tangannya pun di tarik agar mau berjalan kembali, dengan tenaga yang hampir habis Sophia tak mampu lagi hingga jatuh tersungkur.
Hal itu rupanya membuat Cheet murka, terlebih karena Ursula sempat menaruh beberapa perhatian kepada Sophia yang membuatnya iri.
"Bangun!" teriak Cheet sambil menarik lengan Sophia.
"Hanya berjalan saja dan kau begitu menyulitkan kami! sebagai makhluk hidup setidaknya berikan sedikit kegunaan mu!" hardiknya lagi.
Sophia mengangkat pandangannya untuk menatap mata Cheet, memperlihatkan bagaimana penyesalan memenuhi hati Sophia hingga sendu sorot matanya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sophia pelan.
Perlahan jiwanya menyelam pada kubangan penderitaan yang ia ciptakan sendiri.
"Semua salahku..." ujarnya lemah.
Kini ia benar-benar tenggelam, sementara tanda di keningnya mulai kelihatan. Tiga wajikan tepat di antara halisnya perlahan timbul disertai tekanan yang kuat, sebuah kekuatan yang entah dari mana asalnya membuat Cheet serta anak buahnya merasakan pusing yang berdenyut dikepala.
__ADS_1
Semakin lama semakin kuat hingga mereka tak bisa menahannya dan ambruk begitu saja.