
Menyambut pagi di desa Zimbe memberikan sensasi berbeda bagi Albert, ia melihat bagaimana mereka saling menyapa dan bicara. Sungguh desa itu merupakan interpretasi surga yang nyata, membuatnya tak ingin pergi namun nyatanya ia tidak boleh berlama-lama disana.
"Kau mau ikut?" tanya Yarren menghampiri.
"Kemana?" tanyanya.
"Hanya memetik beberapa buah untuk makan," sahutnya.
Albert mengangguk dan mengikuti langkah gadis itu, di desa yang luas itu mereka pergi ke kebun dimana letaknya tepat di bawah tebing tinggi.
Itu adalah tebing yang mengelilingi desa, cukup tinggi dan terjal hingga sulit untuk di taklukkan. Satu-satunya akses masuk ke desa itu hanya lewat gua yang kemarin mereka lewati.
"Apa kau di hukum?" tanya Albert.
"Tentu saja, aku tidak boleh keluar lagi selama beberapa waktu."
"Ayahmu mengatakan tidak boleh ada yang keluar dari desa ini, lalu kenapa kau bersikeras berburu di luar?" tanyanya penasaran.
"Kami tidak sepenuhnya di kurung, kami boleh keluar untuk kepentingan seperti mencari bahan makanan atau obat. Kau tahu meski desa ini luas tapi dengan banyaknya orang bahan makanan yang ada tentu tidak cukup," jelasnya.
Albert mengangguk mengerti, artinya mereka hanya tidak boleh sampai bertemu dengan orang asing.
"Cobalah," ujar Yarren memberi sebuah apel merah yang menggoda.
Duduk di atas rumput sambil menikmati pemandangan Albert tak menyangka ada kehidupan damai seperti itu.
"Aku akan pergi besok," ujarnya pelan.
"Kenapa?" tanya Yarren kaget.
"Aku harus menemukan Damien, aku juga ingin merebut kembali istana ku."
Sret
Tanpa di duga Yarren menyayat lengan Albert tepat dimana bekas luka dari panah berada, kaget sekaligus bingung Albert hanya menatap Yarren.
"Kau tidak boleh pergi, lukamu belum sembuh," ujarnya pelan.
__ADS_1
Tersenyum kini Albert mengerti apa maksud perbuatan Yarren, tangannya pun beranjak membelai pipi gadis itu. Lalu masuk ke sela-sela rambutnya untuk mengirimkan sulur-sulur yang menggugah, perlahan namun pasti kepala mereka saling mendekat.
Saling merasakan nafas masing-masing hingga membenamkan sentuhan lembut di bibir, tidak berlebihan tapi cukup memberi tekanan hingga Yarren menghela.
"Tidak bisakah kau tinggal lebih lama?" tanyanya.
"Jika itu keinginan mu, aku juga bisa meraih bintang bila kau menyuruhnya. Tapi aku tetap tidak bisa tinggal," sahut Albert.
"Aku mengerti," balas Yarren.
......................
"Sepertinya kau menikmati pestanya," ujar Sophia saat mereka sedang bersiap untuk mengikuti pelajaran.
"Oh aku sudah lama tidak bertemu Edwin jadi kami banyak mengobrol semalam," sahutnya.
"Kalian sangat dekat rupanya."
"Hahahaha tentu saja, kami sudah bertunangan bahkan sejak bayi."
"Sungguh?" tanya Sophia tak percaya.
Sophia tidak menyangka akan hal itu, tapi mengetahuinya membuat ia terenyuh akan kisah yang begitu romantis.
"Dan kalian menerimanya dengan senang hati," terkanya.
"Yeah, hehe sebenarnya awalnya aku tidak setuju. Maksud ku aku ingin menemukan pangeran ku sendri, tapi setelah mengenal Edwin aku tidak bisa menolaknya."
Sophia tersenyum, jelas kebahagiaan terpancar diwajah temannya itu. Membuatnya mengingat Damien dan kisah cinta mereka yang luar biasa, sayangnya perjalanan kebersamaan mereka tidaklah mulus.
"Bagaimana dengan mu? usia kita sudah lima belas tahun dan sudah saatnya kita memikirkan pendamping hidup," ujar Ariana.
"Aku juga telah dijodohkan saat aku masih bayi, kami sudah bertemu dan saling mencintai. Tapi perjalanan kami tidak mudah seperti mu," jawabnya.
"Oh Sophia aku turut prihatin, tapi kau tidak perlu khawatir! di sini adalah tempat yang tepat untuk menguatkan dirimu, sama seperti kami yang juga sedang berusaha agar masa depan kami cerah sebagai penerus tahta."
Ariana benar soal itu, Damien menyuruhnya untuk belajar maka seharusnya ia fokus belajar agar mereka dapat mengatasi masalah bersama.
__ADS_1
Menemukan semangat dalam dirinya Sophia berhasil dalam pelajaran sihir, memperlihatkan perkembangan yang pesat hingga unggul diantara teman-temannya.
Tanpa terasa akhirnya satu tahun telah berlalu, kini usianya telah genap enam belas tahun. Dengan tak sabar ia menunggu kedatangan Damien menjemputnya, tapi sebelum itu ia harus memikirkan ujian terlebih dahulu.
Para peserta yang akan mengikuti ujian itu berkumpul di aula untuk mendapatkan kartu, nantinya kartu itu akan distempel bila mereka telah menyelesaikan ujian.
Satu stempel berlaku untuk satu ujian, jika sudah lulus dari ujian pertama maka mereka bisa melanjutkan ke ujian berikutnya sementara yang tidak harus mengulang sebanyak tiga kali dan jika masih tidak berhasil akan mengikuti ujian tahun depan.
"Apa kau gugup?" tanya Ariana saat mereka memasuki ruang ujian.
"Sedikit, bagaimana denganmu?" balas Sophia.
"Aku sudah ke kamar mandi tiga kali," sahutnya dengan wajah tegang.
Entah mengapa ujian apa pun selalu menguras banyak energi, Sophia ingat bahkan saat ia di uji untuk kecerdasannya dalam bermain catur benaknya tiba-tiba tak bisa berfikir jernih.
Dalam ruangan yang cukup besar itu hanya berisi banyak meja kecil, diatasnya terdapat pot dengan bunga layu yang sudah hampir mengering.
Di ujian pertama ini mereka harus membuat tanaman yang layu itu segar kembali, peserta diijinkan melakukan sihir apa pun yang terpenting bunga itu segar kembali.
"Apa yang akan kau lakukan?" bisik Ariana yang berdiri tempat disampingnya.
"Mungkin sihir kebangkitan, bagaimana dengan mu?" balasnya.
"Itu cukup sulit, mungkin aku akan memakai sihir pergantian."
Meminta ijin kepada pengawas Ariana mengambil tanaman lain dari luar, dengan sihir pergantian yang perlu ia lakukan hanya mengorbankan bunga lain untuk menghidupkan bunga yang layu.
Cukup mudah karena ia hanya perlu memindahkan energi kehidupan, berbeda dengan sihir kebangkitan yang di pilih Sophia. Dia harus menemukan inti kehidupan dari bunga yang layu itu, jika bunga itu miliki potensi untuk hidup maka dari inti sarinya Sophia mampu membuatnya mekar dengan indah. Tapi sebaliknya, jika bunga itu tidak memiliki inti sari yang cukup untuk bangkit maka ia hanya buang-buang energi.
Fokus pada diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain yang telah lulus Sophia terus mencoba menemukan inti sarinya, masuk melewati kelopak layu tanpa ada tanda kehidupan.
Terus masuk sampai ia menemukan sedikit harapan pada inti yang memudar, merentangkan tangannya tepat diatas bunga itu dibawah alam sadarnya ia memberikan dorongan kuat.
Mulai membaca mantra telapak tangannya mengeluarkan sinar yang perlahan membuat bunga itu bergerak, mengembang dan akhirnya mekar dengan sempurna.
Saat ia selesai dan membuka mata betapa bahagianya ia melihat bunga itu telah hidup kembali.
__ADS_1
"Kerja bagus nona Sophia," ujar pengawas.
Sophia tersenyum dan memberikan kartunya untuk distempel, masih ada enam stempel lagi yang harus ia dapatkan waktunya bersiap untuk ujian berikutnya.