Surprise Child

Surprise Child
Bab 39 Akhir Balas Dendam Cheet


__ADS_3

Seperti namanya hutan itu memang gelap, padahal hari menjelang siang tapi matahari tidak masuk untuk menerangi tanah hutan itu.


Albert berasumsi pohon-pohon besar itulah yang menjadi penghalang datangnya sinar matahari, dengan daun yang rimbun dan saling bertumpuk dengan tanaman rambat membuat siang itu seakan telah senja.


Setidaknya karena terlindung dari matahari Damien bisa berjalan leluasa tanpa harus menggunakan tudungnya, tanpa terasa sudah seharian mereka berjalan dan Albert sudah kelelahan.


"Bisakah kita istirahat?" tanyanya.


Damien tak menjawab tapi ia segera berhenti melangkah, membiarkan Albert mengatur nafasnya yang tersenggal. Ini bukan kali pertama ia melakukan perjalanan dengan keluar masuk hutan, tapi entah mengapa oksigen di hutan itu seakan sangat sedikit sehingga membuatnya cepat sesak.


Sambil beristirahat Damien memeriksa sekeliling, hutan itu sangat sepi bahkan saking sepinya terasa mengangganggu.


Terlalu waspada pada sekitar Damien sampai tidak menyadari bahaya terdekat yang lebih dulu Albert rasakan.


Aaaaaaaaa....


Jeritan Albert itu sontak membuatnya segera berbalik dan menghunuskan pedang, tepat dihadapannya ular besar meliuk-liuk turun dari atas pohon.


Warnanya yang hijau kehitaman sulit di lihat karena sama dengan batang pohon berlumut, andai Albert tak mendengar suara desisan tepat di telinganya mungkin ia sudah mati di lahap.


Melihat Damien siap bertarung Albert mengeluarkan pedangnya untuk membantu, tapi Damien malah memberi isyarat untuk berlindung di belakangnya sehingga dengan ketus Albert mengurungkan niatnya.


Sssshhhhhaaahhh


Tanpa peringatan ular itu maju, muali menyerang dengan moncongnya yang terbuka menampilkan sepasang taring panjang yang mencuat.


Damien berguling kesamping untuk menghindar begitu juga dengan Albert yang lari ke arah lainnya, tak menunggu Albert siap ular itu kembali menyerang Albert dan mencoba melilitnya.


Beruntung Damien cepat bertindak sehingga ular itu belum mengerahkan kekuatan lilitannya yang mematikan, dengan satu serangan kuat Damien mengakhiri cepat pertarungan itu dengan memotong kepala si ular.


Darah muncrat dari potongan kepala itu mengotori wajah dan pakaian Albert, membuatnya meringis jijik.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba," ujar Cheet yang entah datang dari mana.


Baru saja otot Damien santai kini ia menegang lagi, menatap waspada saat Cheet berjalan mendekati mereka.


"Argh...aku sangat merindukanmu Albert," ujar Cheet dengan senyum licik.


Ia melesat seketika ke arah Albert sambil menghunuskan pedangnya.

__ADS_1


Trang


Tapi Damien tak akan membiarkan Cheet menyentuh Albert meski seujung rambut sekali pun, pedang mereka saling beradu ketajaman dan kekuatan sang pemilik.


"Kau memang cepat, tapi jangan remehkan kekuatan ku!" seru Cheet.


"Tenang saja nona aku tidak akan menahan diri meski kau seorang wanita," sahut Damien.


Pedang mereka terus saling beradu dengan bantuan beberapa tinju dan tendangan, baik Cheet maupun Damien sama-sama menerima luka namun Damien tentu lebih unggul sebab semua luka sayatan yang ia terima pulih dengan sendirinya dalam beberapa detik.


"Cih!" ketus Cheet membuang ludah yang bercampur dengan darah.


Meski ia rajin berlatih ternyata memang cukup sulit melawan vampire yang jauh lebih berpengalaman, apalagi ia hanya sendiri tanpa ada anak buah yang membantu.


"Cukup sampai di sini!" teriak Cheet mengumpulkan semua energi dan perasaannya hanya pada pedangnya.


Bilah baja yang telah ia tempa sedemikian rupa agar menjadi senjata yang dapat ia gunakan untuk mewujudkan impiannya, mimpi gadis kecil yang tidak pernah di pandang.


Lahir dalam kumpulan Elf tua yang tak memiliki semangat berjuang membuat cinta pertamanya jatuh pada Ursula, pemimpin bangsa Elf yang meski seorang wanita tapi memiliki kharisma yang kuat.


Berjuang sendiri, berlatih sendiri, satu keinginannya hanya memiliki posisi yang sama dengan ayahnya. Sampai mimpi itu akhirnya terwujud, sayangnya ia harus berdiri sendiri untuk mengabdi.


Sreeet... Argh..


Pedang itu berhasil merobek kulit, masuk terus memotong semua organ dalam seperti usus hingga menembus punggung. Sayangnya itu pedang milik Damien.


Terpaku pada rasa nyeri yang baru ia terima Cheet seakan membeku, darah perlahan melumuri bilah pedang Damien yang kemudian ia tarik hingga lubang di perut itu menganga.


Urgh


Darah lainnya keluar dari mulut Cheet, sementara tangannya bergetar saat mencoba menutup lubang di perut itu. Matanya mulai berkunang-kunang memberi efek ganda saat menatap Albert, ia terhuyung dan akhirnya jatuh.


Rupanya ia masih belum cukup kuat, baik untuk menjadi tangan kanan Ursula ataupun membalas dendam. Sepertinya bahkan untuk menjadi prajurit Elf pun ia masih belum mampu, tapi mengapa Ursula mau mengangkat derajatnya.


Dalam keadaan setengah sadar ia kembali mengingat hari dimana Ursula tersenyum senang menatap rakyatnya dari balkon istana Meseress.


Benar, tidak harus menjadi kuat. Mimpi itu bisa terwujud asal ada kemauan, meski banyak kekurangan tapi pada akhirnya mimpi pasti akan terwujud.


"Apa?" gumam Damien tak percaya saat melihat Cheet perlahan bangkit dengan bertumpu pada pedangnya.

__ADS_1


Jelas darah mengalir keluar dengan derasnya, dalam beberapa menit lagi Cheet pasti tak akan mampu bertahan karena kehilangan banyak darah.


"Aku... tidak akan berhenti... masih... belum... " ujarnya dengan nafas tersenggal.


Segenap kekuatan yang tersisa Cheet kerahkan untuk memaksa kakinya berjalan, meski sudah tak bisa berlari cepat tapi selama tangannya mampu untuk mengangkat senjata matanya tajam menatap musuh.


"Aku akan mengakhiri ini, kau berhak mendapatkan yang terbaik," ujar Damien menghormati perjuangan sang prajurit itu.


Cheet tersenyum, kali ini senyumnya hangat dan manis. Seolah berterima kasih telah bersungguh-sungguh dalam menghadapinya, maka dia pun mulai bergerak maju sambil berteriak.


Aaaaaaaaaaaa....


Syuuuuuuttt.... Jleb..


Ugh!


Bruk


Albert terpaku, demikian juga dengan Damien. Mata mereka menatap tak percaya pada tubuh Cheet yang ambruk karena sebuah anak panah menghujam jantungnya, beberapa detik kemudian Damien sadar akan bahaya baru yang lebih mengancam.


"Lari!" seru Damien.


Meski masih kebingungan Albert tetap menurut, ia berlari tepat di belakang Damien dengan sesekali menoleh kebelakang.


Tak ada yang ia lihat, hanya hutan belantara kosong tanpa ada yang mengejar. Namun tiba-tiba sebuah anak panah melesat tepat kearahnya, beruntung ia bisa menghindar tepat waktu.


Buk


"Ah!" erang Albert saat tubuhnya menabrak Damien yang berhenti mendadak.


"Sebaiknya kau menyerah," ujar Zaruta yang sudah berdiri tepat di hadapan mereka.


"Sial!" gerutu Damien sambil menatap tajam.


Syuuuuuuttt... Jleb


Satu anak panah mendarat tepat di bawah kaki Albert, membuatnya tersentak kaget.


"Tetap berada di dekatku," perintah Damien kepada Albert.

__ADS_1


Tak lama kemudian para prajurit tiba-tiba berdatangan mengelilingi mereka, terkurung Albert bersiap mengeluarkan pedangnya untuk memulai pertempuran.


__ADS_2