
Ujian terus berlangsung, meski berat tapi Ariana dan Sophia mampu menyelesaikan setiap tugas yang di berikan kepada mereka. Ariana berhasil menyusul setelah melakukan dua tugas dalam satu hari, kini memasuki hari ke enam mereka bersama kembali dalam mengikuti ujian.
Pendidik dan pengawas mengumpulkan para peserta di aula dan memberi penjelasan terkait ujian ke enam mereka.
"Tugas kali ini adalah kalian harus menemukan sebuah kunci yang telah disebar, kalian boleh melakukan sihir apa saja untuk mendapatkan kunci itu dan bertarung melawan sesama. Tapi kalian tidak boleh membahayakan nyawa teman kalian sekalipun dalam pertarungan, sarat wajib dalam ujian kali ini adalah kalian harus menggunakan portal dalam berpindah tempat."
Karena tidak ada yang mengajukan pertanyaan pengawas menganggap semua mengerti dan membuka portal pertama untuk memulai pencarian, mereka memiliki waktu hanya selama satu jam karena itu dengan cepat mereka berlari memasuki portal setelah diberi peta tempat dimana kunci tersebar.
Keluar dari portal Ariana dan Sophia mendapati diri berara di hutan, bukan hanya mereka tapi sebagian peserta lain juga berada di tempat yang sama.
"Coba kulihat," gumam Sophia membuka peta yang di bagikan.
Titik merah dari peta menandakan kemungkinan peta berada, ini adalah hutan pertama dimana kunci tersebar maka bisa dipastikan peserta banyak yang mengincar tempat ini.
"Aku akan berpindah tempat, bagaimana dengan mu?" tanya Sophia.
"Aku ikut," sahut Ariana.
Bersiap Sophia membuka portal, menyebrangi dimensi untuk sampai ke tempat lain. Wilayah baru itu masih merupakan hutan yang rindang, namun cukup hening seolah tak berpenghuni.
"Ayo!" ajak Sophia.
"Menurut mu dimana kunci itu berada?" tanya Ariana.
"Entahlah, bisa dimana saja."
"Pikirkan dimana kau akan menyimpan barang berharga di tengah hutan," ujar Ariana sambil berpikir.
"Ah aku tahu!" seru Ariana tiba-tiba.
Dengan cepat ia berlari, sementara Sophia menyusul dari belakang. Mencoba mendengarkan suara alam Ariana mencari sumber air terdekat seperti sungai, saat akhirnya mereka tiba ia tahu kunci itu akan berada di sana.
Segera Ariana melepas sepatu dan menyeburkan diri kedalam air, menyelam untuk beberapa saat sebelum muncul ke permukaan untuk mengisi udara.
Sementara Sophia berdiri di tepi untuk berjaga, setelah memakan waktu beberapa menit akhirnya Ariana muncul dengan tangan yang menggenggam kunci.
"Aku mendapatkannya!" serunya.
"Kau berhasil! ah aku tak menyangka kau bisa mendapatkannya dengan cepat," ujar Sophia kagum.
"Yah, aku cukup pandai dalam hal menerka," sahutnya sambil berjalan keluar sungai.
"Sekarang kau bisa kembali dan menerima stempel."
"Tidak, aku akan menemani mu mencari kunci baru kita kembali bersama."
"Tapi Ariana bagaimana jika aku butuh waktu banyak untuk mendapatkan kuncinya? atau bagaimana jika aku tidak berhasil menemukannya? tidak! kau tidak boleh menemani ku!" tegas Sophia.
__ADS_1
"Apa kau tidak percaya pada kemampuan mu? kau pasti akan menemukan kuncinya dan aku akan tetap menemanimu, jadi sebaiknya kita mulai mencari sekarang!" sahut Ariana yang bersikukuh.
Sophia hanya menggeleng, bersyukur memiliki teman yang sangat peduli meski sebenarnya ia kurang senang bila merepotkan orang lain.
Tak ada gunanya berdebat, mereka melanjutkan pencarian sambil berfikir dimana kemungkinan kunci itu berada. Mencoba berfikir seperti Ariana, Sophia memeriksa tempat-tempat tersembunyi lainnya seperti gua namun hasilnya nihil.
"Mungkin tidak selalu ditempat yang tersembunyi," ujar Ariana.
"Kau benar, mungkin disuatu tempat yang mudah ditemukan tapi tidak kita sadari."
Menatap sekeliling Sophia melihat seekor burung yang terbang dan hinggap di dahan, memperhatikan burung itu loncat-loncat hingga masuk ke sarangnya membuat Sophia menerka.
"Sepertinya aku tahu dimana kunci itu berada," ujarnya.
Mengikat rambut panjangnya Sophia mulai memanjat pohon itu, berpegangan pada setiap dahan dengan kuat hingga ia sampai diatas.
Dengan hati-hati ia merangkak di dahan sampai cukup dekat dengan sarang burung itu, senyum mengembang diwajahnya saat menemukan kunci itu benar-benar ada di dalam sarang burung.
"Aku menemukannya!" serunya.
"Sungguh? sudah ku katakan kau pasti bisa menemukannya!" balas Ariana dari bawah.
Sophia mengangguk dan hendak mengambil kunci itu sampai tiba-tiba.
Whuuuuuussss
Duar
"Sophia! kau baik-baik saja?" teriak Ariana kaget sebab entah mengapa sesuatu seperti menyerang dahan dan menjatuhkan Sophia.
"Uh... punggungku..." erang Sophia sambil mencoba bangkit.
"Hehehehehe... terimakasih atas kuncinya!" seru seseorang tiba-tiba.
Seketika mereka menengok dan mendapati peserta lain mencuri kunci yang Sophia temukan.
"Hei! berani sekali kau berbuat curang!" teriak Ariana marah.
"Curang? maaf ya tapi pengawas sendiri yang bilang kita boleh melakukan sihir apa saja dan bertarung melawan sesama," jawabnya santai.
"Tapi ini tidak bisa disebut bertarung!" keluh Ariana.
"Sama saja... ya sudah aku duluan ya.. " sahut peserta itu segera membuka portal untuk pergi.
"Hei tunggu!" teriak Ariana tapi peserta itu sudah terlanjur menghilang.
"Sudahlah Ariana, mungkin itu memang bukan milikku."
__ADS_1
"Tidak bisa begitu!" bantah Ariana.
"Tidak ada gunanya marah, sebaiknya kau segera menyerahkan kuncimu juga. Kita hanya memiliki waktu tiga puluh menit saja," sahutnya.
"Kalau begitu sebaiknya kita cepat mencari lagi," tukas Ariana yang masih enggan pergi sendiri.
Menggelengkan kepala Sophia hanya mendengus sambil berjalan mengikuti langkah Ariana, mereka mencoba mencari kunci di setiap sarang burung lagi tapi sayangnya selain anak burung dan telur tak ada yang lain.
Sisa lima belas menit lagi Sophia mulai cemas, takut mereka tidak akan tepat waktu dan Ariana tidak lulus karenanya.
Ia mulai membujuk lagi agar Ariana mau pergi namun ia masih bersikukuh untuk menemani, sampai dititik ia hampir menyerah Ariana menemukan dimana kunci itu berada.
"Lihatlah itu," ujarnya pelan sambil menunjuk.
Sophia menatap kemana Ariana menunjuk dan menemukan seekor rusa hutan yang memakai kalung kunci, tersenyum menemukan harapan Sophia tak mau membuang waktu lagi.
"Kita tidak bisa mengejarnya begitu saja, dia akan berlari dan mungkin hilang tanpa bisa ditemukan lagi. Aku akan membuat perangkap jadi tolong awasi dia untuk ku," ujar Sophia yang menemukan sebuah ide.
Ariana mengangguk mengerti, sementara Sophia bergegas pergi untuk membuat perangkap. Tak berapa lama kemudian ia kembali dan meminta bantuan Ariana untuk menggiring rusa itu ke arah perangkap, Ariana mengangguk dan mulai berjalan tepat dibelakang rusa itu.
Membuatnya berlari ke arah perangkap, mereka hampir berhasil saat rusa itu telah sampai di depan perangkap. Mereka hanya perlu menunggu rusa itu masuk untuk memakan buah-buahan yang telah Sophia sediakan, di detik-detik saat rusa itu maju perlahan adalah hal yang paling menegangkan hingga membuat mereka sulit untuk bernafas dengan lancar.
"Sedikit lagi," gumam Sophia memperhatikan rusa itu.
Sruk Sruk
Entah suara itu berasal dari mana tapi yang jelas telah membuat rusa itu takut hingga berlari kearah berlawanan.
"Ah tidak!" erang Sophia.
"Cepat Sophia! waktu kita hanya tinggal tujuh menit lagi!" seru Ariana yang bergegas mengejar rusa itu.
Tak ada pilihan, mereka harus mengejarnya untuk mendapatkan kunci itu. Meski berhasil mengetahui kemana rusa itu lari namun nyatanya mengejarnya adalah hal yang cukup sulit, rusa terkenal akan larinya yang cepat dan mereka sedikit kewalahan karenanya.
Tersisa lima menit lagi saat Sophia berhasil berlari tepat dibelakang rusa itu, ia tahu akan sulit mengejarnya karena itu ia mencoba mengurung rusa itu dengan perisai.
Namun membuat perisai saat berlari ditambah yang akan dia kurung adalah makhluk dengan kecepatan tinggi tentu adalah hal sulit, kini waktu tersisa tiga menit lagi dan Sophia hampir putus asa.
Benaknya hampir saja menyerah di menit terakhir, membuat kecepatan larinya menurun. Namun bayangan Damien entah mengapa tiba-tiba datang untuk memberinya senyuman dukungan, kembali meraih semangatnya Sophia membuat portal tepat dihadapan rusa itu dan.
Whuuuuusss
Melewati dimensi mereka keluar dari portal tepat menuju aula, saat rusa itu kebingungan harus lari kearah mana sebab ada banyak orang Sophia segera membuat perisai untuk mengurungnya.
Tentu orang-orang di aula itu terkejut akan kedatangan rusa hingga kegaduhan kecil terjadi, tak peduli Sophia masuk kedalam perisai itu dan mengambil kalungnya.
"Nona Sophia, seharusnya kau hanya membawa kuncinya saja," ujar pengawas menghampiri.
__ADS_1
"Maaf... mam," sahutnya dengan nafas berat karena kelelahan.
Sophia tersenyum senang saat kartunya mendapatkan stempel begitu juga dengan Ariana, saat waktu dinyatakan habis Sophia berkewajiban mengembalikan rusa itu kehabitatnya.