Surprise Child

Surprise Child
Bab 69 Kisah Menyedihkan Peter


__ADS_3

Tiada yang lebih menyedihkan selain dari lelapnya tidur seorang gadis kecil diantara gelimpangan mayat busuk, dan melihat bagaimana lahapnya ia makan tanpa peduli bau busuk yang bercampur dengan apek membuat Albert semakin meringis lagi.


Sepanjang hari ia telah bersama Peter, mendengarkan bagaimana perjalanan hidupnya yang menyedihkan.


Awalnya ia berhasil masuk ke wilayah kerajaan Raja Abner, ia mendapat pekerjaan sebagai peternak babi dalam waktu yang cukup lama sampai jatuh cinta dengan gadis di desa itu.


Semua berjalan dengan baik awalnya, sampai Raja Abner mewajibkan setiap keluarga memberi perwakilan untuk menjadi tentara. Karena Peter baru berkeluarga maka dia sendiri yang pergi memenuhi tanggungjawab kepada Raja barunya itu, ia mengikuti pelatihan hingga ikut terjun dalam perang yang melawan Sophia.


Ia berhasil selamat dan kembali ke rumah, namun sayangnya istrinya sudah tiada karena sakit sementara putrinya yang baru berusia dua bulan di asuh oleh tetangga yang baik.


Peter yang tak ingin kembali ke medan perang memutuskan untuk hidup berkelana dari satu desa ke desa lain, melakukan apa pun untuk hidup anaknya yang lebih baik.


Ia tentu mendengar banyak kabar yang beredar tentang Sang Penunggang dan sudah tidak peduli lagi akan hal itu, pelariannya mencari tempat yang layak akhirnya membawanya kembali ke reruntuhan istana Meseress.


Meski tidak layak huni tapi Peter memutuskan untuk menetap di sana dengan kumpulan tulang belulang, setidaknya ia bisa hidup dengan mengandalkan alam.


Di tengah malam dengan sinar bulan angin dingin meniup punduk Peter dan gadis kecilnya, membuat mereka saling merekat satu sama lain agar lebih hangat.


Tak tega pada teman sekaligus mantan rakyatnya diam-diam Albert mencari tempat yang lebih layak diantara puing bangunan, satu tempat yang itu ia perbaiki agar terlindung dari teriknya matahari, dinginnya malam dan bahaya hewan buas.


Bagi vampire sepertinya tak masalah bergadang semalaman hanya untuk membuat satu kamar yang bagus, saat fajar tiba ia memberikan kamar itu kepada gadis kecil Peter untuk di tinggali.

__ADS_1


Tak di sangka gadis itu senang bukan main, ia bahkan meloncat kegirangan dan meminta ijin untuk menghias kamarnya dengan bunga-bunga.


Kepolosan gadis itu membuat Albert meneteskan air mata haru, sebelum pergi ia juga memberikan mantelnya untuk Peter agar lebih merasa hangat di malam hari.


Tak ada yang dapat Peter lakukan untuk membalas kebaikan Albert selain ucapan terimakasih, tapi ucapan yang tulus itu justru membuat Albert semakin terpuruk karena perasaan bersalah.


Orangtuanya telah rela melakukan segala upaya hingga mengambil resiko dengan menjadikan Sophia sebagai anak kejutan untuk melindungi dirinya, dengan harapan ia akan membawa kedamaian bagi rakyatnya sebagai raja yang hebat.


Tapi yang ia lakukan justru terus menebar kesengsaraan bagi seluruh umat, kini menyesal pun tiada guna. Albert hanya dapat mengupayakan hidup Peter dan putrinya menjadi lebih baik, ia berjanji akan berkunjung lain kali untuk memberikan bantuan lagi.


Peter yang tak ingin berharap banyak hanya menjawab agar Albert tidak memaksakan diri, ia dan putrinya sudah terbiasa hidup berkelana jadi itu tidak masalah.


......................


Biasanya ada saja ucapan Erick kepadanya yang akan mengundang pertikaian meski kecil, tapi sudah beberapa hari Erick bahkan tidak keliatan.


Bukannya Latisha benar-benar peduli, ia hanya bingung kemana pangeran satu itu sebab saat jam istirahat pun ia tidak keliatan.


Pertanyaannya terjawab saat Latisha lebih dulu masuk kelas setelah jam istirahat karena belum menyelesaikan tugas catatan yang di berikan wali kelasnya, saat berjalan melewati ruang latihan ia mendengar suara gaduh kecil yang ternyata itu adalah Erick.


"Rajin sekali kau latihan!" seru Latisha membuka pintu lebar-lebar.

__ADS_1


Erick menghentikan latihannya, dengan nafas yang terengah-engah ia menyahut "Apa pedulimu?".


" Apa kau sedang menyiapkan diri untuk pertarungan besar?" tanya Latisha lagi.


"Bukan urusan mu!" sahut Erick yang kemudian kembali mengangkat pedang.


"Sedikit saran dariku, tidak peduli seberapa keras kau berlatih jika tidak makan kau tidak akan mempunyai tenaga untuk melawan musuh."


"Kau ini kenapa sih? bisa tidak jangan ganggu aku?" bentak Erick kesal.


Latisha merengut, ia sudah bersikap sebaik mungkin tapi respon Erick sangat tidak bersahabat. Dengan tatapan tajam Latisha kemudian mengambil pedang dan menyerang Erick tanpa pemberitahuan, sontak Erick kaget pada serangan yang tiba-tiba itu hingga cepat tersungkur dan jatuh karena tak ada persiapan.


"Lihat! kau kalah!" seru Latisha menyombong.


"Huh! dasar so pintar!" balas Erick kecut.


Ia segera bangkit dan membalas Latisha, sebenarnya Erick jauh lebih kuat tapi apa yang Latisha katakan benar. Sangat percuma kekuatan itu jika Erick tidak punya cukup tenaga hingga untuk fokus pun terasa sulit, sekali lagi ia jatuh dan Latisha menempatkan ujung pedangnya di depan batang hidung Erick.


"Menurut mu mengapa kau bisa kalah dari murid kelas aneh?" tanya Latisha dengan nada mencemooh yang membuat Erick merasa terhina.


"Sudahlah, berapa kali pun ku jelaskan kau tidak akan mengerti," ujar Latisha kemudian menjauhkan pedangnya.

__ADS_1


Ia menyimpan kembali pedang itu pada tempatnya dan bergegas pergi untuk menyelesaikan tugasnya, sementara Erick perlahan mulai mengerti setelah kepergian Latisha.


Esoknya Latisha melihat Erick sedang makan di jam istirahat, itu membuatnya bersyukur sebab nasihatnya telah masuk dengan tepat.


__ADS_2