Surprise Child

Surprise Child
Bab 50 Wanita Siluman


__ADS_3

Awan gelap mulai berarak menutupi cerahnya matahari, membuat senja itu semakin gelap saja. Dengan cepat Sophia mengajak Latisha mencari tempat perlindungan, entah itu gua atau akar pohon besar dengan daun rindang.


Tes Tes Drsssss


Tapi hujan lebih cepat turun dari langkah mereka, akhirnya mereka tetap basah kuyup. Dalam pelarian mencari perlindungan tiba-tiba Sophia menahan langkah Latisha, matanya tajam mengawasi siluet yang berkelebat dari pohon ke pohon.


"Tetap di dekat ibu," ujar Sophia menyadari akan adanya bahaya.


Ah! Prang....


Sebuah belati yang melayang ke arah mereka berhasil Sophia tangkis dengan perisainya, lalu di hadapannya seekor ular hijau tiba-tiba berubah bentuk menjadi wanita bergaun hijau dengan sanggul yang mengikat rambutnya.


"Siluman?" tanya Sophia tak percaya pada apa yang ia lihat.


Dunia memang menyimpan banyak misteri, salah satunya adalah siluman. Makhluk yang satu ini merupakan sesuatu yang mampu berubah wujud menjadi dua sosok, biasanya bentuk manusia dan hewan.


Saat masih di Akademi ia sempat menemukan buku anatomi tubuh manusia yang menjelaskan tentang siluman, tidak banyak yang ia baca karena memang jarang ada buku yang mengulas tentang makhluk satu ini.


Keberadaannya sangatlah jarang, hampir 1:10000 dalam siklus kelahiran. Makhluk yang satu ini di gadang-gadang memiliki tipu daya yang sama hebatnya dengan vampire, ilmu sihirnya juga sama kuatnya dengan penyihir.


"Dua orang gadis berjalan di tengah hutan, sudah bisa dipastikan kalian bukan manusia biasa," ujar wanita siluman itu.


Wajahnya cukup cantik dengan kulit mulus putih pucat, tangannya pun lentik bak ranting namun tidak kaku.


"Siapa kau?" seru Sophia bertanya.


"Tuan Zaruta yang mengutus ku untuk menjemput kalian," sahutnya.


Sophia mengernyitkan dahi, rasanya ia pernah mendengar nama itu. Membuka lembaran memori dalam kenangan tempo dulu akhirnya ia ingat Zaruta yang merupakan anak buah pangeran vampire, rupanya memang sampai kapan pun bangsa vampire tidak akan menyerah untuk mendapatkan darahnya.


"Aku tidak akan ikut dengan mu," ujar Sophia tegas dengan tangan memegang kuat Latisha.


"Sayang sekali bukan itu jawaban yang ingin aku dengar," ujarnya.


Gaun hijaunya yang memiliki selendang kemudian menjadi kaku dan menyerang mereka bak tombak, Sophia mencoba bertahan di dalam perisainya.


Namun rupanya wanita siluman itu cukup kuat hingga mampu membuat menggoyahkan perisainya, Sophia sadar ia terlalu lama di dunia naga dan tak pernah berlatih sehingga sekali ia cukup kaku utuk bertarung.


"Ibu," panggil Latisha panik.

__ADS_1


"Tisha bantu ibu!" seru Sophia yang punya rencana untuk kabur.


Meski ragu tapi Latisha kemudian mengangkat satu tangannya, ia merapalkan mantra yang telah Sophia ajarkan padanya dan sebuah sinar pun muncul dari telapak tangannya.


Sinar itu semakin terang dengan daya kekuatan yang cukup dahsyat, dirasa cukup kemudian Sophia menghilangkan perisainya agara Latisha bisa melepaskan serangan.


Bum


Sebuah ledakan terjadi begitu Latisha menyerang, sayangnya wanita siluman itu berhasil menghindar hingga sebuah pohon yang menjadi tumbal.


Namun meski selamat ia kehilangan Sophia dan Latisha, mereka sudah kabur tepat setelah Latisha melancarkan serangan.


Diguyur hujan deras kaki mereka yang terus bergerak membuat suhu tubuh mereka hangat sehingga tidak kedinginan, terus berlari dengan sesekali menoleh kebelakang Sophia memastikan mereka harus aman.


Sayangnya wanita siluman itu berubah menjadi ular, gerakannya yang lincah sebentar lagi akan menyusul mereka.


Menarik tangan Latisha untuk berbelok dan bersembunyi di balik batang pohon besar Sophia kemudian menyerahkan sisa potongan tanduk rusa kepada Latisha.


"Ibu akan mengalihkan perhatiannya, kau harus melanjutkan perjalanan sendiri. Ingat! jangan percaya siapa pun kecuali manusia serigala dan temukan penyihir Alessa secepatnya," ujar Sophia yang bergelut dengan waktu.


"Tapi bu.. " ujar Latisha hendak memprotes.


Tak ada kecupan di kening, Sophia mendorong Latisha untuk bergerak ke arah yang lain. Bersama dengan hujan air mata Latisha jatuh ke bumi yang telah basah, matanya yang merah menatap Sophia sementara Sophia sendiri mencoba menahan kesedihannya.


Ia tahu hal ini pasti terjadi, suatu saat mereka pasti berpisah karena suatu hal. Tapi Latisha tidak menyangka akan secepat ini, mencoba tegar ia menghapus air mata dan berlari sekuat tenaga.


Siluman itu kini sudah sangat dekat, Sophia yang bisa merasakan bahaya cepat berlari sekencang yang ia bisa. Hingga akhirnya kakinya berhenti tepat di atas jurang, di bawahnya sungai mengalir dengan deras menghantam bebatuan.


hahahaha


Tawa wanita siluman itu membuat Sophia berbalik.


"Kau sudah tak bisa berlari lagi, hei! mana yang satunya?" tanyanya menyadari Latisha tidak ada.


"Kenapa siluman seperti mu bisa bekerja untuk vampire?" tanya Sophia santai meski nyawanya kini berada di ujung tanduk.


"Hmm... bagaimana mengatakannya ya? tuan Zaruta itu sangat tampan dan memesona, dia memperlakukanku dengan baik bahkan memanjakan ku dengan kudapan yang lezat. Bukankah wajah jika aku mengabdi padanya?" jawabnya.


Sophia mengerti, ia pun terpukau oleh pesona Damien sehingga akhirnya melahirkan Latisha.

__ADS_1


"Jika kau pulang dengan bangkai ku apa yang akan di lakukan tuan mu?" tanya Sophia lagi.


Wanita siluman itu terdiam, ia pernah melihat Zaruta marah dan itu sangat mengerikan. Jika dia pulang tanpa atau dengan mayat Sophia ada kemungkinan ia takkan di sayang lagi, bahkan lebih buruknya mungkin dia akan kena hukuman berat.


"Aku akan membawamu sesuai dengan perintah tuan," jawabnya tegas.


"Sayangnya aku tidak setuju," sahut Sophia.


Ia tersenyum penuh arti, merentangkan kedua tangannya dan kemudian tanpa di duga Sophia membiarkan dirinya melayang jatuh ke dasar jurang yang merupakan sungai.


"Tidaaaaakkk.... " jerit wanita siluman itu.


Ia bergegas lari untuk menyelamatkan Sophia namun terlambat, tubuh Sophia sudah jatuh ke dalam air. Dari atas ia bisa melihat tubuh Sophia terbawa arus dengan cepat, menghantam batu beberapa kali hingga sempat tenggelam.


"Sial!" gerutunya.


Bangkit dia memutuskan tak peduli mayat sekalipun ia tetap akan membawa Sophia kepada Zaruta, maka dia pun bergegas berjalan mengikuti aliran air dimana Sophia hanyut.


......................


Terus berlari tanpa henti akhirnya Latisha mencapai batasnya, ia tidak biasa berlari dengan jarak sejauh ini. Biasanya ia menghabiskan waktu dengan menunggangi naga, tentu saja fisiknya tak sekuat manusia biasa sekalipun.


Terengah-engah ia mulai berjalan dengan tangan terus menyentuh batang pohon agar tidak jatuh, akhirnya di balik pepohonan itu ia menemukan sebuah rumah yang letaknya tak jauh.


"To.... long..." ujarnya pelan dengan nafas pendek dan tangan terulur.


Dengan bayangan mungkin saja penghuni rumah itu sudi membantunya ia memaksakan kakinya untuk terus melangkah, sampai akhirnya ia berhasil keluar dari hutan dan berjalan di atas rerumputan yang basah.


Hujan masih mengguyur bumi dengan derasnya, Latisha yang kini sudah benar-benar kelelahan tak bisa menahan lagi matanya yang terasa berat.


Akhirnya tubuhnya pun jatuh ke lumpur, matanya tertutup dan dia tak sadarkan diri.


Beruntung harapannya terkabul, pemilik rumah yang khawatir pada hewan ternaknya bermaksud untuk memeriksa sebab petir menyambar dengan kerasnya.


Saat ia berjalan mendekati kandang yang ia temukan justru tubuh Latisha yang sudah terbaring di tanah, kaget sekaligus penasaran ia memeriksa tubuh Latisha.


Mengetahui Latisha masih hidup ia segera membopong Latisha masuk kedalam rumahnya, istrinya yang melihat segera mengganti pakaian Latisha yang basah dengan pakaian baru yang bersih agar ia tak demam.


"Biarkan dia, mudah-mudahan besok pagi ia sudah sadar," ujar pria itu.

__ADS_1


__ADS_2