Surprise Child

Surprise Child
Bab 23 Misi Penyelamatan Albert


__ADS_3

Cukup mengejutkan ada seorang gadis yang rela berkorban apa pun demi kekasihnya termasuk siap mati, hidup dalam lingkungan istana Sophia sudah terbiasa mendengar banyak keluhan dari para putri yang harus menikahi pria demi kerajaannya.


Ia adalah tempat curhat bagi teman-temannya sebagai sesama putri kerajaan, paling banyak mereka mengeluhkan ketika harus menjadi selir raja tua yang bau tanah.


Bagi gadis muda seperti mereka tentu mengidamkan pangeran tampan yang datang melamar, itu bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kenyataannya seorang putri dituntut untuk mengabdi pada kerajaan dan satu-satunya cara pengabdian mereka adalah melahirkan pangeran, meski tidak suka pada ayahnya.


Berkaca pada diri sendiri Sophia tidak sepenuhnya beruntung, jika dilihat lagi Damien ratusan tahun lebih tua bahkan dari kakeknya sendiri. Tapi setidaknya Damien memiliki ketampanan yang abadi, yang membuat Sophia merasa dimiliki pangeran meski pelukannya tak nyaman sebab suhu tubuhnya yang dingin.


Melihat Yareen adalah putri kepala suku tentu nasib mereka harusnya tidak jauh berbeda, tapi beruntungnya ia di bebaskan untuk memilih cintanya dan itu jatuh pada saudara kembarnya.


Entah mengapa cinta itu mengalahkan kebesaran miliknya kepada Damien, namun yang jelas itu berarti setidaknya Albert tak hanya memiliki dirinya.


Cukup senang juga mengetahui ia telah memiliki ipar, dalam perjalanan yang tak direstui Matheo itu setidaknya topik obrolan mereka akan menyenangkan.


"Apa tidak masalah kau pergi begitu saja?" sekali lagi dia bertanya.


Mau berapa kali pun Yarren menjawab ia tetap masih tak percaya dengan mudahnya gadis itu berpaling dari keluarga demi sang kekasih.


"Percayalah aku sungguh tidak peduli meski aku orang buangan," sahut Yarren sambil menebang segala dahan dan rerumputan yang menghalangi jalan mereka.


"Apa yang begitu spesial dari Albert? sungguh meski kami bersaudara tapi kami baru bertemu dan hanya menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari saja, itu tidaklah cukup untuk mengetahui bagaimana karakternya."


"Mm.... bagiku semua tentangnya sangat spesial, awalnya dia tukang gombal yang kuno. Sungguh setiap pujian yang dia berikan padaku sama sekali tak menarik, tapi itu menjadi sisi yang paling aku rindukan juga darinya."


"Kau jatuh cinta pada pandangan pertama."


Itu adalah pernyataan yang tepat, Yarren tersenyum sebagai pengganti jawaban.


"Kudengar dari Albert kau anak kejutan Damien si vampire, apa kau keberatan akan hal itu?" tanya Yarren mengalihkan topik agar obrolan mereka berhenti berkutat padanya.


"Tidak, sejak kacil aku sudah diberitahu dan diberi pengertian sehingga aku cukup ikhlas menerimanya. Lagi pula aku menyukai Damien," sahutnya dengan wajah merona.


"Apa dia sehebat itu?" tanya Yarren yang sadar bahwa rasa suka itu adalah sesuatu yang lebih.


Sophia hanya tersenyum, membalas seperti cara Yarren.


Ssshhhh


Sergah Yarren tiba-tiba menghentikan langkah mereka, tentu Sophia kaget apalagi melihat wajah Yarren yang serius membuatnya gugup.


Memberi isyarat Yarren meminta Sophia untuk mengikutinya, mengendap-endap mereka berjalan meringkuk sambil mengawasi sekitar sampai sayup-sayup terdengar gelak tawa.


Menyadari keberadaan orang lain selain mereka membuat Sophia kagum pada pendengaran Yarren yang tajam, dibalik semak-semak mereka mengintip sekelompok prajurit yang tengah beristirahat.


Dari lambang yang timbul pada zirah mereka Sophia tahu itu adalah prajurit dari Kerajaan tetangga, ia ingat rajanya bernama Raja Salim.


Kerajaan itu tidak pernah memiliki hubungan dengan Kerajaan Meseress, tidak pernah bersekutu maupun terlibat perang.


"Kita pergi," bisik Sophia.


Yarren mengangguk, maka mereka pun berbalik namun entah sejak kapan seorang prajurit sudah berdiri dibelakang mereka dan mengawasi.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya prajurit itu.


Reflek Yarren dan Sophia mundur dan bersiap untuk menerima serangan atau kabur begitu saja.


"K-kami hanya lewat dan memeriksa suara apa yang kami dengar," sahut Sophia.

__ADS_1


"Siapa kalian? apa yang dilakukan gadis seperti kalian dihutan?" tanya prajurit itu penasaran.


Suaranya yang kencang rupanya telah menarik perhatian teman-temannya sehingga mereka datang memeriksa, menadapati berada dalam lingkaran prajurit tentu membuat mereka gugup.


"Aku adalah putri Sophia dari Kerajaan Meseress, kita tidak memiliki urusan apa pun maka biarkan kami pergi," ujar Sophia mengambil tindakan sebagai putri.


"Kau.. putri Sophia? benarkah?" tanya seorang prajurit tidak percaya.


Sophia mengangguk dengan bingung sebab para prajurit itu terlihat girang mengetahui siapa dirinya.


"Hormat kami, maaf atas kelancangan kami. Sudah lama kami mencari tuan putri atas perintah Raja Salim, mohon putri ikut kami ke istana untuk bertemu Yang Mulia."


Kali ini Sophia yang kaget, tak pernah ada hubungan dengan Raja Salim tentu ia penasaran apa yang membuat Raja itu membuat perintah untuk mencarinya.


"Apa yang diinginkan Raja kalian dariku?" tanyanya.


"Sebatas yang kami tahu Raja ingin memastikan anda selamat dari serangan Elf, untuk selebihnya mohon tanyakan langsung kepada Yang Mulia sebab itu diluar batas kami."


Menimbang Sophia meminta saran kepada Yarren tentang apa yang harus ia lakukan, tentu Yarren tak bisa banyak membantu sebab ia tak tahu menahu masalah Otoritas kerajaan.


"Baiklah, bawa aku pada Raja kalian," ujar Sophia memutuskan.


"Apa ini baik? maksud ku kita harus segera menyelamatkan Albert sebelum sesuatu yang buruk menimpanya," tanya Yarren sebab ia tak mau membuang waktu yang lain.


"Aku punya rencana, ketimbang pergi berdua mungkin kita bisa meminta bantuan Raja Salim," sahut Sophia pelan.


Iringan itu segera meninggalkan hutan, melihat bagaimana cara prajurit memperlakukan mereka Sophia menebak memang mereka diperintahkan untuk memastikan ia aman.


Maka mungkin rencananya untuk meminta tolong dapat tercapai, tiba di istana setelah menghabiskan perjalanan seharian Raja Salim menyambutnya dengan penuh bahagia.


Wajahnya berseri dan terus mengucap syukur atas keselamatan yang melingkupi hidup Sophia, Raja itu menjamunya dengan sangat baik dan memberi pakaian yang pantas untuk seorang putri.


Sophia menerima niat baik Raja itu, namun rasa penasaran membuatnya tak bisa tidur dan terus menerka apa yang diinginkan Raja Salim darinya selain keselamatan.


Akhirnya saat malam tiba seorang pelayan ditugaskan untuk menjemputnya, menuntunnya pergi ke ruang pertemuan seorang diri.


Saat pintu dibuka ia melihat Raja lain yang sudah hadir, ia cukup mengenal mereka sebab dulu sering kali terlibat dalam cakupan politik. Mereka adalah Raja Abner, Raja Thomas dan Raja Arthur, Sophia membungkuk memberi hormat sebelum duduk bersama para Raja.


"Selamat datang putri Sophia, kami sangat senang melihat kau baik-baik saja," sambut Raja Thomas.


"Terimakasih telah mengkhawatirkan ku, bisakah kita mulai rapat ini? aku tidak suka terjebak dalam tanda tanya besar," sahut Sophia.


Para Raja itu saling menatap dan mengangguk, maka Raja Thomas pun angkat bicara untuk memulai.


"Mungkin kau sudah mendengar tentang bangkitnya sang penunggang di bangsa Elf, mereka yang mengambil alih istana mu sudah melakukan ritual untuk menyambut pemimpin sakral mereka. Untuk itu bangsa Elf membutuhkan mu sebagai pengorbanan demi membangkitkan Sang Penunggang, sebagaimana yang telah menjadi rahasia umum kita tidak membiarkan bangsa Elf memimpin terlebih umat manusia. Karena itu kami harus memastikan kau aman," jelasnya.


"Aku mengerti, tapi masalahnya saudara kembarku Albert ditawan oleh bangsa Elf diistana Meseress. Aku tidak bisa membiarkannya berlarut dan harus cepat menyelamatkannya," ujar Sophia getir.


Para Raja itu saling menatap, tak percaya bahwa kerajaan Meseress memiliki seorang pangeran untuk meneruskan tahta.


"Gawat, jika dia ditawan ada kemungkinan pangeran Albert akan dijadikan penggantimu," tukas Raja Abner.


Seketika ruangan hening, kegelisahan mulai menyebar bagai virus yang mengudara dari setiap hembusan nafas.


"Kalau begitu kita harus segera menyelamatkannya," ujar Raja Thomas.


"Dengar putri kami memiliki rencana," lanjutnya.

__ADS_1


"Aku ikut!" tegas Sophia.


"Mungkin ini berbahaya," sergah Raja Arthur.


"Tolong ikut sertakan aku, aku berjanji tak akan mengacau," pinta Sophia dengan sungguh-sungguh.


Bukan hal mudah menyertakan seorang putri yang harus mereka jaga agar tetap aman, tapi sebagai Raja mereka akhirnya memutar otak untuk memanfaatkan keberadaan Sophia dipihak mereka.


"Aku mengerti," sahut Raja Thomas.


Ia pun memberitahu rencana yang telah mereka susun dengan cukup matang.


......................


Kali pertama ia merasa kesulitan adalah saat menghadapi ujian, lebih pintar dalam ilmu pengetahuan dan fisik yang lemah membuatnya harus berjuang ekstra demi lulus ujian Akademi.


Sebagai Pangeran ia dituntut harus menguasai ilmu pedang padahal itu hal cukup sulit baginya, hanya setelah hidup bersama suku Zimbe ia menemukan cara cepat dalam mempelajari ilmu pedang.


Kini kali kedua ia merasa kesulitan dalam fisik adalah mengharuskannya kuat menghadapi siksaan yang diberikan Cheet, dalam satu hari itu Cheet akan berkunjung sebanyak lima kali hanya untuk memberi tamparan keras di pipi atau tinju di perut.


Tidak beresiko besar tapi sakitnya bertahan cukup lama, terlebih satu-satunya sumber tenaga yang ia miliki hanya roti sekering sahara yang selalu nyangkut di tenggorokan. Untuk mendorongnya masuk ke perut saja butuh tenaga yang kemudian terasa sakit bagai menelan bola jarum.


Hari berikutnya bertahan dalam sel sambil memikirkan cara untuk kabur ia mendapat tamu penting, Ursula datang menengok untuk melihat seberapa hebat pangeran bertahan dalam siksaan yang membuatnya ingin hidup untuk balas dendam.


Pakaiannya yang kotor dan rambut yang berantakan menenggelamkan kata pangeran untuk Albert, apalagi bau apek ruangan yang bercampur dengan keringatnya menyempurnakan julukan gelandangan untuknya.


"Tinggalkan kami," perintah Ursula.


Para pengawal dan Cheet menurut, mereka berjalan keluar sementara Ursula berjalan mendekati Albert.


"Bersukurlah pangeran aku tidak akan membunuh mu," ujar Ursula.


"Cih, semoga kau tidak menyesali keputusanmu," olok Albert dengan tenaga yang cukup untuk menghardik.


"Hehe tentu saja tidak, orantuamu yang harusnya menyesal tidak membunuhku malam itu. Malam dimana aku baru saja melahirkan anak pertama mu yang ternyata menjadi Sang Penunggang, andai malam itu saat Thodor ikut membakar ku bersama gubuk kami mungkin Sang Penunggang tidak akan pernah lahir dan kau tidak akan pernah menderita seperti ini."


"Ayah ku tidak membunuh mu karena dia menghormati nyawa musuhnya, dia bukan seorang pengecut yang menyelinap dimalam hari untuk merebut tahta. Seharusnya kau syukuri pengampunan yang dia berikan," balas Albert dengan tegas.


Tak bisa menerima olokan apalagi dari bocah yang baru beranjak dewasa Ursula menangkap leher Albert dengan kekuatan penuh, menekannya sampai wajah Albert memerah karena sulit bernafas.


"Kebangganmu patut diberi tepuk tangan, tapi sayangnya dia lebih menyedihkan sebagai pecundang!" ujar Ursula dengan tatapan tajam penuh emosi.


"Enam belas tahun yang lalu bayi yang kulahirkan memiliki fisik yang berbeda dari Elf kebanyakan, telinganya tidak runcing yang ku kira sebuah kecacatan namun ternyata itu ciri murni dari Sang Penunggang. Ayahmu lalu membawa anak ku ke istana ini, memberinya nama Sophia dengan gelar putri Meseress."


Bruk Uhuk Uhuk Uhuk


Ursula menghempaskan Albert bagai sehelai bulu yang ringan, membiarkannya menghirup udara yang baru demi memenuhi paru-parunya yang sempat kosong.


"Perjanjiannya dengan Damien yang tak bisa dihindari bergelut dengan keinginannya untuk mempertahankan mu sebagai pewaris tahta selanjutnya telah memunculkan ide cemerlang yang berisiko tinggi, dengan keegoisannya dia memberi hidup kepada musuh sejatinya untuk menghancurkan kerajaannya sendiri."


"Bohong! Sophia adalah saudara kembarku, dia bukan Sang Penunggang!" bantah Albert setelah mampu bernafas dengan baik.


Ursula tersenyum, sungguh kenaifan yang nikmat.


"Sophia sudah mencapai umur enam belas tahun, akan tiba saatnya tanda Sang Penunggang muncul di dahinya. Saat itu dia tidak akan mampu mengelak dari nalurinya sebagai Penunggang, tanpa peduli meski kalian pernah saling menyayangi sebagai saudara dia tetap akan menghabisi mu dan siapa pun yang berani menghalanginya dalam membawa kejayaan untuk bangsa Elf."


Berbalik membelakangi Albert untuk yang terakhir kalinya Ursula pun berkata.

__ADS_1


"Itulah mengapa Raja-Raja sialan itu mencoba mendekatiku, setelah menemukan Sang Penunggang mereka akan membunuhnya sebelum tanda itu muncul. Sebab jika tanda itu telah muncul Sang Penunggang tidak akan pernah bisa dihentikan."


__ADS_2