Surprise Child

Surprise Child
Bab 64 Teman Sekamar


__ADS_3

Begitu Zaruta masuk kedalam kamar pintu pun tertutup, di dalam kemar yang megah itu Viona duduk meringkuk di ujung tempat tidur.


Saat melihat Zaruta ia memang sudah tak takut sebab kemarin Zaruta memperlakukannya dengan baik, tapi tetap saja ia waspada karena masih belum percaya.


Zaruta duduk di tepi ranjang, memperhatikan bagaimana Viona begitu penakut padahal ia sudah berperilaku baik.


"Sekarang ini adalah rumah mu, apa kau tidak punya keinginan untuk pergi melihat-lihat?" tanya Zaruta.


Viona menggeleng, jangankan untuk melihat-lihat istana untuk turun dari ranjang pun ia berfikir ribuan kali.


"Apa yang sebenarnya kau takutkan?" tanya Zaruta tak mengerti.


Viona diam tak menyahut.


"Apa kau masih takut pada anak buahku? pada Red?" tanyanya lagi.


Viona menatap panjang, ia tak mau bicara takut salah dan akan membuatnya di siksa lagi.


Zaruta mencoba membaca gerak gerik Viona dan menebak selama ini ia di perlakukan tidak baik sampai mengalami trauma, beranjak mendekati siluman rubah itu ia mengelus lembut rambut Viona.


Memberinya rasa aman sampai ia merasa nyaman hingga tertidur di pangkuan Zaruta, wajahnya yang cantik terlihat menjadi lucu saat tertidur.


Membuat Zaruta gemas ingin mengigitnya, sifat manja Viona diam-diam membuka naluri pria Zaruta untuk menjadi lebih gagah lagi.


Setiap hari ia pun datang ke kamar Viona hanya untuk mengajaknya bicara dan membuatnya berani melangkah keluar, saat Viona sudah berani bicara dan bergerak tanpa di suruh Zaruta menemukan Viona mampu menggantikan posisi Amora.


......................


Tiga hari masa hukuman telah berakhir, Latisha dan dua temannya kini di ijinkan kembali belajar seperti biasa. Saat dapat bertemu kembali Latisha segera mengutarakan niatnya untuk menyelinap keluar lagi, tapi Percy menolak bahkan memperingati Latisha untuk tidak melakukannya.


Terdapat beberapa alasan yang membuat Percy ngotot, pertama karena tangan Latisha belum sembuh benar. Kedua pintu dapur menuju luar sekarang di jaga ketat sehingga akan sulit bagi mereka untuk menyelinap keluar, ketiga mereka masih diawasi jadi akan gampang ketahuan dan yang terakhir Percy masih trauma akan apa yang menimpa Latisha.


Mau tak mau akhirnya mereka harus membatalkan rencana itu, sebagai gantinya Percy mengajak Latisha ke teman untuk meneliti ulat yang sebentar lagi akan berubah bentuk menjadi kepompong kemudian kupu-kupu.


Meski tak jadi keluar tapi Latisha sudah senang meneliti hewan itu, ia bahkan menggambar bentuk ulat itu di bukunya dan akan ia lakukan setiap hari sampai ulat itu berubah menjadi kupu-kupu.


Setelah pelajaran usai ia kembali ke kamar untuk mengganti pakaian, tapi seorang pengawas pria berdiri disana dengan seorang anak perempuan yang baru ia lihat.


"Ah waktu yang tepat," ujar pengawas itu.


"Latisha perkenalkan ini Devy, mulai sekarang dia akan menjadi teman sekamarmu," lanjutnya.


"Oh salam kenal," ujar Latisha memberi hormat.


"Senang bertemu dengan mu," balas Devy.


"Nah Latisha aku harap kau bisa mengajak Devy jalan-jalan untuk melihat Akademi kita," ujar pengawas.

__ADS_1


"Tentu tuan, serahkan saja padaku."


Mendengar jawaban Latisha pengawas itu pun tersenyum dan segera pergi, Latisha juga segera membantu Devy membawa barang-barangnya masuk ke dalam kamar.


Setelah Devy selesai berbenah ia langsung mengajak Devy berkeliling, ia menjelaskan semua tempat seperti yang Dekan beritahukan kepadanya


"Apa kau sudah bertemu Dekan? kau sudah melakukan ritual?" tanya Latisha penasaran.


"Ritual apa?" tanya Devy tak mengerti.


"Oh lupakan, mungkin besok Dekan baru memanggil mu," ujar Latisha yang segera paham Devy belum melakukan apa pun.


Puas berjalan-jalan mereka kembali ke kamar dan beristirahat sejenak sebelum keluar lagi untuk makan malam.


Mendapat teman sekamar kini Latisha memiliki tempat untuk berbagi cerita, sebelum tidur ia menceritakan bagaimana petualangannya yang dianggap sebagai kenalakan.


Devy yang mengetahui luka di tangan Latisha akibat serangan hewan buas hanya bergidik ngeri, ia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya luka itu dan mengerikannya malam itu.


Esok paginya seperti yang telah Latisha duga Devy di panggil oleh Dekan, itu membuatnya bertanya-tanya apa yang di pilih Devy. Saking penasarannya Latisha sampai tidak fokus saat belajar dan mendapatkan satu hukuman ringan berupa cambukan di mejanya.


Tiba di jam istirahat Latisha cepat pergi ke kantin berharap menemukan Devy, matanya menelusuri setiap kursi yang ada sampai ia menemukan Devy tengah duduk dengan murid-murid dari kelas sihir.


Ia melambaikan tangan saat mata mereka beradu pandang, tapi kemudian Devy segera membuang muka pura-pura tidak melihat.


Tentu itu membuat Latisha heran, apalagi saat pelajaran telah usai tanpa sengaja ia mendengar Devy merengek minta pindah kamar.


Seolah mendapat penolakan Latisha mendatangi Percy dan Barney untuk bertanya mengenai sikap teman sekamarnya yang aneh.


"Dia pasti mendengar hal-hal yang tidak baik tentang kita dari teman-teman sekelasnya, itulah mengapa dia menjaga jarak denganmu," ujar Barney.


"Sudahlah, tidak perlu di pikirkan. Orang semacam itu mudah di provokasi dan ujung-ujungnya hanya akan merepotkan," tambah Percy.


Mencoba menghiraukan Latisha memilih untuk mencari kesibukan agar perhatiannya teralihkan, tanpa sengaja ia melihat Erick tengah latihan sendiri di ruang latihan.


Ia begitu giat hingga membuat Latisha akhirnya menonton dari celah pintu yang terbuka sedikit, namun karena tingkat kewaspadaan Erick yang sedang tajam ia bisa mengetahui seseorang tengah mengintainya.


Syuuutt


Jleb


Satu belati Erick lempar dan tepat menancap di pintu, membuat Latisha kaget hingga terjatuh.


"Dasar pangeran jorok! bagaimana jika sampai kena padaku?" hardik Latisha sambil berhambur masuk.


"Tukang intip seperti mu memang pantas mendapatkannya," balas Erick.


Latisha mendengus kesal, tapi kemudian wajahnya berubah biasa lagi.

__ADS_1


"Apa kau sedang di hukum?" tanyanya.


"Tidak, kenapa?" balas Erick.


"Karena kau masih latihan padahal pelajaran sudah selesai," sahutnya.


"Kau pun masih berani menyelinap keluar hanya untuk melihat hewan buas padahal Akademi melarangnya," balas Erick lagi.


Erick seakan sedang menjawab bahwa ia menyukai pelajarannya, tapi ekspresinya tidak menunjukkan ia sedang menikmatinya. Justru raut wajahnya nampak tegang seolah sesuatu sedang membebani pundaknya.


"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Erick.


"Kau terlihat sedang tidak baik-baik saja," akui Latisha mengutarakan isi pikirannya.


Erick membisu, ia tak mengira Latisha bisa begitu bebas bicara tanpa memikirkannya lebih dahulu. Seperti anak kecil yang belum mengerti artinya menjaga perasaan orang lain.


"Bukan urusan mu!" tukas Erick.


"Memang bukan, aku hanya mengatakan yang sebenarnya," sahut Latisha kesal sebab ia mendapat perlakuan jutek dari Erick.


Membawa kekesalannya Latisha pun pergi keluar ruangan, untuk menenangkan diri kemudian ia memilih untuk membaca beberapa buku.


Tiba jam makan malam Latisha sempat melirik Devy yang tengah asik bercengkrama dengan teman-teman satu kelasnya, diam-diam rupanya Latisha merasa iri.


Ia juga ingin punya teman satu kamar yang bisa diajak bicara tentang segala hal, ia memang memiliki Percy dan Barney tapi mereka laki-laki jadi Latisha tidak bisa berbagi semua cerita.


Selesai makan malam alangkah terkejutnya Latisha mendapati Devy sedang membereskan barang-barangnya.


"Kau mau kemana?" tanya Latisha.


"Oh aku disuruh pindah kamar, jadi... yah... aku harus bereskan ini semua," jawab Devy gugup.


Tentu itu hanya alasan agar Latisha tidak banyak bertanya, padahal Latisha sudah tahu bahwa Devy memang tidak ingin tidur sekamar dengannya.


"Biar aku bantu," ujar Latisha.


"Eh tidak perlu!" larang Devy segera menghalau tangan Latisha.


"Um.... ini sudah mau selesai kok," ujarnya merasa canggung sebab Latisha menberikan tatapan sendu.


Akhirnya Latisha hanya duduk menonton, membiarkan Devy sibuk berkemas sendiri sampai selesai. Setelah Devy pergi Latisha kembali sendirian, kamar itu rasanya menjadi lebih sunyi dari biasanya.


Berbaring Latisha menatap langit-langit kamarnya, membayangkan saat ini ia berada di dunia Naga. Mendengarkan cerita dari ibunya, salah satu cerita terfavorit adalah kisah cinta Sophia dan Damien.


Ia tersenyum saat mengingat bagian lucu dari kisah-kisah yang Sophia ceritakan, tapi tiba-tiba kemudian air mata mengalir melewati pipinya hingga jatuh membasahi tempat tidur.


"Ibu.... " panggilnya lirih.

__ADS_1


Dalam remang cahaya lilin yang bergoyang Latisha merindukan sosok ibunya yang selalu ada untuknya, jika Sophia masih hidup mungkin saat ini ia tidak akan berada di kamar sendirian.


__ADS_2