Surprise Child

Surprise Child
Bab 41 Kehidupan Baru


__ADS_3

Sring..


Rantai itu berbunyi saat tangan Damien bergerak untuk memegang kepalanya, mengerjap beberapa kali ia baru tersadar bahwa tempat itu asing baginya.


Bukan istana vampire juga bukan istana Raja mana pun, meski penasaran tapi satu hal yang membuatnya segera bangkit adalah karena ia seorang diri.


Melirik ke kiri dan kanan bahkan ke atas sekalipun ia tak dapat menemukan Albert, hingga teringat pada saat sebelum ia tak sadarkan diri kondisi Albert tidaklah baik.


"Maaf karena harus merantaimu seperti itu," ujar Zaruta yang datang dari balik pintu.


"Apa yang kau lakukan pada Albert?" tanya Damien tanpa basa basi.


Zaruta menundukkan kepalanya, memberi ekspresi berbela sungkawa yang membuat Damien meradang.


"Brengsek! kau apakan anak kejutanku!" seru Damien kini sambil berdiri.


Mencoba berlari mendekati Zaruta untuk membenamkan cakarnya pada leher itu, tapi rantai yang merajamnya terlalu kokoh sehingga ia hanya bisa melotot.


"Kami sangat menyesal, sungguh hal ini di luar dari kehendak kami," ujar Zaruta sebagai pembelaan.


"Sialan! aku tak akan pernah memaafkan kalian! aku akan menghancurkan setiap tulang kalian hingga menjadi debu!" seru Damien lagi.


Sumpah serapah masih terus terlontar dari bibir pucat itu, inilah alasan Dimitri menyuruh Zaruta untuk merantai Damien. Saat ia tahu Albert tak selamat tentu ia akan marah besar hingga dapat membahayakan, membiarkan Damien dalam rantai kesedihan yang sesungguhnya adalah perlakuan naif khas vampire.


Zaruta yang sekian lama mengenal Damien untuk pertama kalinya merasa menyesal atas kehilangan Albert, apalagi seumur hidupnya sebagai vampire ini adalah kali pertama ia melihat buliran air jatuh dari mata Damien.


Ia tak menyangka vampire dapat menangis, apalagi yang ditangisi adalah makanan mereka.


"Kami hanya berniat menggunakan kalian untuk membuat Sang Penunggang keluar, setelah Albert tiada ku harap semuanya akan berakhir sesuai rencana agar tidak ada lagi penyesalan," ujar Zaruta sebelum pergi untuk memberi waktu kepada Damien.


Khehehe... hehehehe... aah.. haha.. hahahahaha


Tawa kecil Damien yang berubah menjadi gelak tawa besar itu menghentikan langkah Zaruta, keheranan ia berbalik untuk melihat Damien.

__ADS_1


"Aku melihat sendiri bagaimana ramalan menunjukkan Sophia menunggangi naganya, membakar segala tempat yang ada di depan matanya. Hahaha....padahal Sophia enggan menjadi bahaya tapi sekarang aku mengerti! dia akan benar-benar datang menemui kalian, itu bukan karena dia Sang Penunggang yang membawa bencana tapi karena kalian telah merenggut orang terkasihnya! kalian lah yang mewujudkan ramalan buruk itu!" seru Damien dengan penuh keyakinan.


Nanar sorot matanya menunjukkan bahwa ia berkata yang sebenarnya, itu membuat Zaruta merinding. Tak nyaman akan tatapan itu segera ia kembali berbalik dan pergi, memberi laporan kepada tuannya bahwa Damien telah sadar.


"Segera kirimkan dia keluar!" perintah Dimitri.


Selang tak berapa lama kemudian Damien melihat persekutuan antara prajurit manusia dan vampire kompak menodongkan senjata padanya, mengawasi sambil memindahkan tubuhnya ke balkon.


Malam yang indah dengan taburan bintang itu sayang sekali harus ia lihat dengan mata yang basah kuyup, sebab penyesalan dan kesedihan menusuknya lebih dari pancang.


......................


Tetesan merah itu mengalir melewati kerongkongan, terus berjalan saling mendahului hingga akhirnya bersatu di robekan lambung.


Memperbaiki sel-sel yang rusak, menyambung setiap potongan urat dan membentuk organ baru yang lebih kuat.


Hingga pada akhirnya lubang itu pun menutup dengan sempurna, diakhir perjalanan itu mereka membungkus jantung dan membuatnya berdetak.


Arrrggghhh....


Untuk pertama kalinya ia melihat dengan pupil merahnya, semua hal begitu dekat dan intens bahkan terkesan tak nyata.


Kebingungan ia bangun dan mencoba berjalan, tapi yang terjadi justru ia malah lari hingga menerbangkan dedaunan kering.


Hhhhhhhhhh


Hembusan nafasnya mengeluarkan asap tipis yang segera menghilang, semakin kebingungan diperiksanya seluruh anggota tubuhnya.


"Bagaimana mungkin?" gumamnya tak percaya setelah ingat harusnya ada robekan di perutnya akibat tusukan pedang Jacspher.


Tapi ini bukan waktunya untuk merenung, menyadari bahwa ia hanya sendirian sudah bisa dipastikan mereka menawan Damien dan dia harus bergegas menolongnya.


Ia pikir akan sulit keluar dari hutan itu sendirian tapi ternyata tidak, hanya dalam waktu beberapa menit saja ia sudah menemukan jalan keluar.

__ADS_1


Terus berjalan membelah padang ilalang yang cukup tinggi instingnya tiba-tiba memberi peringatan untuk waspada, cepat merunduk sambil mengawasi sekitar ia melihat kawanan hyena rupanya telah menargetkan dirinya sebagai mangsa.


Perlahan berjalan mundur karena tak memiliki senjata untuk bertarung tak disangka rupanya kawanan hyena itu telah mengepung dirinya, tapi bukan berarti ia harus menyerah.


Cepat berlari menerjang kawanan itu ia segera di buru, kejar-kejaran pun terjadi yang membuat kawanan itu saling bekerjasama untuk melumpuhkannya.


Sampai satu hyena berhasil menerkamnya, satu gigitan di kaki membuatnya memekik kaget karena sakit. Dengan brutal ia menendang-nendang untuk membebaskan diri, namun sisa kawanan sudah sampai untuk memberi serangan demi serangan.


Aaaaarrrggghhh.....


Sreett


khaik... khaik..


Aneh sekali, entah sejak kapan kukunya begitu tajam hingga bisa melukai lewat cakaran yang kuat.


Satu hyena terluka dan meneteskan darah segar, aroma amis yang masih baru itu membuat cuping hidungnya kembang kempis.


Detak jantungnya berdegup kencang melihat setiap tetesan darah dari hyena yang sudah tak berdaya, sementara hyena yang lain mulai pergi sebab merasa keadaan telah berbalik.


Kini mereka bukan lagi pemangsa, maka kawanan itu memilih untuk pergi meninggalkan satu rekannya yang segera terkulai lemas karena darahnya habis di hisap.


Beberapa detik kemudian setelah dahaganya hilang ia baru tersadar akan apa yang telah ia lakukan, menatap noda merah di tangan dan me-lap bibirnya ternyata sepasang taring baru saja mencuat disana.


"Apa yang terjadi? apa yang telah ku lakukan?" pertanyaan itu kembali muncul dan memenuhi benaknya.


Mencoba berfikir jernih semua perasaan aneh akan tubuh barunya akhirnya menyadarkannya akan ada satu jawaban pasti, ia telah berubah menjadi vampire.


"Tidak, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" gumamnya sambil menatap sepasang tangannya yang masih bernoda darah.


Mencoba kembali mengingat hal yang terakhir terjadi padanya tetap saja ia tak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi, tak ada gunanya terus berfikir ia memutuskan untuk mencari bantuan seseorang.


Langkah pertamanya membawa dirinya ke rumah Alessa tepat sebelum pajar tiba, berharap penyihir itu ada disana namun sayangnya rumah itu terlihat sudah lama ditinggalkan.

__ADS_1


Ia ingin melanjutkan pencarian Alessa tapi cahaya pertama dari matahari sudah muncul, tak ada pilihan ia harus menginap disana sebab saat ia mencoba keluar kulitnya segera melepuh terbakar.


__ADS_2