
Dia menutup mata salah satu pelayannya dengan selembar kain, memutarkan badannya beberapa kali sebelum kemudian harus menemukan dirinya.
Sambil tertawa ia berlarian kesana kemari sampai tiba-tiba.
Bruk
Ia terus mundur tanpa mengetahui ada orang dibelakangnya, perlahan Sophia membalikkan badan dan menatap seseorang dengan pakaian serba hitam yang benar-benar menutupi seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.
Mata mereka beradu, saling pandang dalam waktu delapan detik hingga akhirnya Sophia maju untuk menjauhkan diri darinya. Itu adalah pertemua pertama yang tak akan di lupakan
...****************...
Hewan malam mulai bernyanyi saat Sophia datang dengan menggunakan celana hitam panjang serta baju yang berlapis mantel, meninggalkan gaun serta pernak perniknya Sophia merasa tengah bertelanjang.
Damien berjalan mendekat, mengulurkan tangannya kepada Sophia. Dengan ragu Sophia memberikan tangannya dan tanpa ia sangka Damien mengecup punggung tangannya, ada sensasi dingin yang membuat Sophia merasa tersengat tapi yang membuatnya terpaku adalah tatapan mata Damien.
Begitu tajam menusuk hatinya sekaligus jernih bagai mata air, dengan senyum simpul yang entah mengapa tiba-tiba membuatnya terlihat menawan.
Itu merupakan kali pertama Sophia merasa kaget karena kulit dingin Damien, sensasi yang tidak pernah bisa Sophia redam hingga di akhir hayatnya.
...****************...
Damien yang ikut senang melihat tawa bahagia Sophia masih mengikuti alurnya, menempatkan satu tangannya di pinggang Sophia dan mengajaknya untuk berdansa.
Kembali Sophia dapat melihat tatapan hangat dari Damien, bahkan meski tangannya sedingin salju tapi hembusan nafasnya penuh akan kehidupan. Menerpa wajahnya yang kian memanas dan larut dalam buaian, dengan debaran jantung yang semakin kencang ia membiarkan nalurinya mengambil alih untuk lebih dekat lagi pada sang vampire.
"Kau tidak takut padaku?" tanya Damien tapi yang ia tatap adalah bibir gadis itu.
"Kenapa aku harus takut padamu?" balas Sophia tak mengerti.
"Aku seorang vampire, ingat? aku memangsa manusia dan hewan lainnya."
"Kau akan memangsa ku?" tanya Sophia.
"Entahlah, bagaimana jika aku lepas kendali?" balasnya.
Sophia tersenyum, memeluk tubuh kekar Damien bagai makhluk tak berdaya yang mencari perlindungan.
"Mungkin aku juga menginginkannya," bisik Sophia.
Rayuan pertama dari mulut gadis yang ranum telah mencairkan hati beku sang vampire, benaknya ingat jelas akan saat-saat kebersamaan itu.
...****************...
Memperhatikan gadis yang sudah ditakdirkan untuknya, menikmati setiap sensasi getaran dihatinya yang terasa baru. Malam semakin larut dan angin mulai membawa hawa dingin yang mengalahkan api, Sophia yang terusik semakin menekukkan lututnya untuk menjaga tetap hangat.
Setelah sekian lama Damien kembali merasa menyesal telah menjadi vampire, tubuh dinginnya tak akan bisa membuat Sophia hangat.
Tapi sebagai pria ia tak akan diam saja, dibuatnya api lagi di dekat Sophia agar gadis itu bisa tidur dengan nyaman dalam kehangatan.
Itu merupakan saat dimana naluri pria pada diri Damien bangkit untuk melindungi dan menjaga gadisnya dengan segala cara.
...****************...
Jelas Damien tahu apa yang ia lakukan adalah salah, tapi melihat gadis yang ia cintai akan meregang nyawa ditangan anak kejutannya adalah hal yang tidak bisa ia terima.
"Pergi... " ucap Damien sambil menengok ke belakang pada Sophia.
Tapi Sophia tetap berdiri disana, menatap Albert bagai orang asing yang tidak pernah berbagi tawa dengannya. Rupanya hanya dengan mengetahui bahwa mereka bukan saudara seketika hubungan itu bisa putus.
"Pergi!" teriak Damien menyadarkan.
__ADS_1
Berlinang air mata kekecewaan Sophia mulai melangkahkan kakinya, Puan Sihir siap mengejar tapi Damien berlari mendahului untuk mencegahnya.
Itu adalah masa dimana cinta merubah keindahan menjadi keegoisan, ia rela di hukum satu dunia bahkan mengetahui Sophia dalam keadaan baik baginya lebih wajib dari meneguk darah demi memperpanjang usianya.
...****************...
"Angkat pedangmu!" teriak Sophia tiba-tiba.
"Apa pun yang terjadi padaku angkat senjata kalian dan akhiri penderitaan ini!" serunya lagi kini dengan air mata yang deras membasahi seluruh pipi hingga dagu.
Ucapan itu membuat Albert tersentak, teringat bagaimana hari-hari mereka yang penuh perjuangan. Betapa sampai sekarang pun ia masih menganggap Sophia sebagai saudaranya, dan hal itu membuatnya tak ingin Sophia terluka.
"Pada akhirnya aku pun pasti akan mati, jika tidak ditangannya maka mungkin ditangan orang lain. Ada banyak yang ingin membunuhku maka untuk apa kita terus berjalan? selesaikan semua disini... cepat selesaikan sebelum ada orang lain yang harus menderita karena aku," pinta Sophia dalam isakan tangisnya.
Baik Albert maupun Damien sadar bahwa ucapan Sophia seratus persen benar, tapi justru tangan mereka semakin berat untuk mengangkat senjata.
Hati kecil mereka tak mampu melihat kepergian Sophia yang menyedihkan akibat takdir yang tak pernah ia inginkan.
Cheet yang melihat ketidakberdayaan itu pun segera menyeret Sophia pergi sambil terus mengawasi Damien dan Albert, kebingungan sebab ucapannya tak di gubris Sophia terus meronta dan berteriak menyuruh Albert dan Damien bertindak.
Tapi sampai hilang suara Sophia mereka masih diam di sana.
Itu bukanlah perpisahan pertama mereka, tapi jelas itu adalah perpisahan yang berat. Damien di paksa memilih kepada siapa harusnya ia lebih berpihak, sekali lagi keegoisan akan cinta telah membuatnya buta hingga Yarrn harus berkorban nyawa demi memenuhi hasrat cintanya.
...****************...
Damien tiba-tiba menyentuh pipi Sophia yang membuatnya tersentak kaget karena dingin, tapi kemudian ia terbiasa dan membiarkan Damien membelainya.
Saat ibu jari Damien memainkan bibirnya Sophia kembali merasakan sensasi aneh yang sudah lama ia rindukan, tak mampu untuk menahannya lagi meski dingin Sophia membiarkan Damien melakukan apa yang mereka mau.
Hanya beberapa menit sudah cukup, masih terbalut pakaian yang berantakan sesekali kecupan ringan Damien berikan di kening Sophia.
Saat dimana cinta akhirnya bermuara baik Damien maupun Sophia bersyukur sebab di tengah gentingnya nyawa mereka masih ada satu waktu dimana mereka bisa saling memadu kasih dengan tenang.
...****************...
Sejenak Damien diam, berkonsentrasi agar kemarahannya reda hingga ia bisa merasakan denyut jantung di dalam perut Sophia. Matanya terbelalak, ia baru saja mendeteksi kehidupan di perut itu.
"Sophia...apa itu anak kita?" tanya Damien.
Sophia melepaskan genggaman tangannya, ia terlalu syok pada kabar yang baru ia terima. Tentu ia senang mengandung anak dari pria yang ia cintai, tapi benaknya terlalu takut pada semua ancaman yang akan datang padanya.
"Maafkan atas keegoisan, tapi aku akan pergi ke dunia naga. Anak ini harus selamat apa pun yang terjadi," tegasnya.
Sayang sekali, Damien mengharapkan raut wajah bahagia namun yang ia temukan adalah kecemasan yang getir. Bahkan kini Sophia seakan tak peduli pada keselamatan Albert yang selama ini ia utamakan, tersenyum pahit Damien berkata "Jika itu keputusan mu."
Diantara banyak perpisahan yang terjadi diantara mereka ini adalah perpisahan yang paling menyedihkan, sebab perpisahan ini Sophia sendiri yang buat.
Ia cukup mengerti alasannya tapi tetap saja ia tak bisa menerimanya dengan mudah.
...****************...
"Ibu...... " jerit Latisha yang pertama kali melihat hal itu.
Sontak Damien dan Albert menatap ke arah Sophia, begitu melihat darah mengucur deras dari lubang di perutnya secepat mungkin Damien berlari menghampiri Sophia.
"Yang Mulia!" seru Red saat melihat Albert memberikan serangan kepada Zaruta.
"Sebaiknya kita mundur dulu," ujar Red berhasil melindungi tuannya.
Ia pun memberi perintah kepada pasukannya untuk mundur, maka mereka yang masih memiliki tubuh lengkap segera berlari menyelamatkan diri.
__ADS_1
"Sophia!" panggil Damien mendekap tubuh yang sudah tak berdaya itu.
"Alessa! bisakah kau menyembuhkan Sophia dengan sihirmu?" tanya Albert kepada Alessa yang baru datang menghampiri.
"Maaf, kheos ku tidak cukup," sahutnya menyesal.
"Ibu... ibu... " panggil Latisha segera turun dari Naganya dan berhambur menghampiri Sophia untuk memegang tangannya.
Dengan mata yang berkaca-kaca Sophia menatap setiap orang yang memanggil dan mendekatinya.
"Kalian... sudah bertemu," ujar Sophia.
"Jangan banyak bicara, simpan tenagamu," pinta Damien.
Sophia tersenyum, tangannya yang sudah tak bertenaga menyentuh pipi Damien. Ia sedikit berkedut karena merasa dingin saat melakukannya, namun kemudian perlahan ia terbiasa hingga membenamkan seluruh tangannya di pipi Damien.
"Sudah.... selesai, Sang Penunggang akhirnya telah tiada.. kini... dunia akan aman," ucap Sophia.
Dan inilah perpisahan yang paling tidak dapat Damien terima, saat Sophia menutup mata untuk selamanya.
...****************...
"Sophia..... " seru Damien memanggil nama pujaan hatinya.
Ia menatap ke depan, berharap akan menemukan Sophia yang lalu menenangkan degup jantungnya. Tapi itu semua hanya mimpi, semua yang ia lihat dan ia dengar hanya sebuah mimpi dari segala kenangan yang telah mereka buat bersama.
Merangkak ke depan Damien bersimpuh di hadapan dinding batu itu lagi, air mata yang sesungguhnya sudah mengering akhirnya memberikan rasa perih di matanya.
Ia sudah tak bisa menangis lagi, tapi tetap ada isak tangis di kerongkongannya.
Begitu sakit sampai akhirnya ia jatuh tertidur lagi karena lelah.
...****************...
Damien tertawa kecil, mereka sama-sama tahu Alessa memiliki hati untuknya namun Damien tidak. Tapi kini setelah ia mengenal cinta melihat Alessa begitu perhatian kepada Latisha seperti kepada anaknya sendiri hatinya mulai tersentuh, perlahan ia mendekatkan wajahnya kepada Alessa.
Mematung Alessa tak mengira Damien akan memulainya, padahal dulu ia yang selalu membuat berbagai kesepakatan agar bisa berada di posisi ini.
"Apa kau yakin?" bisik Alessa tepat sebelum Damien menyentuhnya.
"Kau tidak yakin?" balas Damien heran sebab setahunya Alessa sangat mendambakannya.
"Aku sudah mendapatkan pengganti mu," sahut Alessa.
"Kalau begitu bantu aku membasuh kepedihan ku," pinta Damien.
Awalnya Alessa diam, ia membiarkan Damien memangut bibirnya beberapa kali sambil memberi waktu pada bibirnya yang sudah lama tidak disentuh.
"Buka," pinta Damien yang mulai merasa panas.
Alessa memberikan apa yang diminta, tangan dingin Damien pun menarik rambut Alessa hingga ia mendongak. Hentakan itu membuat Alessa kaget dan mendesah lembut, membuat Damien semakin panas hingga mengaitkan lidahnya di dalam mulut Alessa.
Semakin lama Alessa yang kembali merasakan hasrat akhirnya ikut bermain, ia membalas dengan kecupan menggebu lainnya.
Sampai akhirnya ia menanggalkan pakaian dan mereka pun berakhir di ranjang yang empuk.
Saling menyentuh dan saling menggigit, Damien menikmatinya hingga menggeram. Tangannya telah basah saat ia lingkarkan di pinggang Alessa, membuka mata di balik punggung Alessa ia melihat Sophia berdiri dengan air mata darah yang menodai seluruh pipi hingga pakaiannya.
"Kau... tega sekali... " ujar Sophia lirih dengan suara serak.
"Tidak.... Sophia.... maafkan aku... " seru Damien.
__ADS_1
Ia mengulurkan tangan hendak meraih tangan Sophia, tapi saat sadar yang ia pedang adalah batu.
Terengah-engah Damien sadar ia ketiduran dan bermimpi buruk, sungguh nasib yang tidak mujur. Penyesalan yang teramat dalam itu mengantarkan Damien pada neraka yang sesungguhnya, tempat dimana bahkan hatinya tidak mampu untuk menangani rasa sakit itu.