Surprise Child

Surprise Child
Bab 52 Pesan Untuk Damien


__ADS_3

Satu hari habis dalam perjalanan, kini saat ia membuka mata di hari berikutnya ia berencana untuk sampai di desa Tutua senja ini.


Niatnya memang seperti itu, tapi begitu keluar dari penginapan untuk mencari sarapan tiba-tiba seorang anak kecil menabraknya. Awalnya Latisha tidak merasa aneh, tapi saat ia akan membeli sesuatu kantong koin yang tersemat di pinggangnya hilang.


Tak diragukan lagi ia sudah kecopetan dan pelakunya pasti anak kecil itu, dengan panik Latisha memeriksa setiap anak kecil sebab ia ingat jelas wajah pencuri kecil itu.


Sampai akhirnya ia menemukan si pencuri kecil sedang duduk di pojokan tempat sampah sambil mencoba menghitung isi uang yang ada di dalam kantong.


"Hei!" seru Latisha.


Anak kecil itu menoleh dan segera melarikan diri begitu Latisha berlari kearahnya, kejar-kejaran pun terjadi. Anak kecil itu berusaha keras kabur sambil melempar apa pun kepada Latisha berharap itu akan membuatnya berhenti mengejar.


Tentu saja Latisha tidak akan menyerah begitu saja, hanya uang itu yang ia miliki untuk menemukan Alessa.


Melihat ke mana arah anak kecil itu berlari Latisha berinisiatif memotong jalan, saat anak kecil itu memasuki lorong tiba-tiba Latisha jatuh dari atas dan menghadangnya tepat di depan.


Kaget anak itu terjatuh, Latisha yang sudah lelah berlari segera merampas uangnya kembali.


"Dasar bocah nakal!" gerutu Latisha.


"Aw aw aw sakit.... " rengek anak kecil itu saat Latisha menarik kupingnya dengan keras.


"Hei apa yang kau lakukan? lepaskan dia!" seru seseorang.


Sontak Latisha melepaskan tangannya, anak kecil itu pun segera berlari menghampiri seorang laki-laki yang sebaya dengan Latisha.


"Kakak... dia menjewer kuping ku," ujar anak laki-laki itu mengadu.


"Kenapa kau lakukan itu pada adik ku?" tanyanya dengan nada emosi.


"Aku hanya memberinya sedikit pelajaran karena sudah mencuri uang ku," balas Latisha dengan nada tinggi untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Apa kau mencuri?" tanyanya.


Anak laki-laki itu diam sambil menundukkan kepala.


Plak


Sebuah pukulan mendarat di kepala anak laki-laki itu.


"Bodoh! aku capek-capek kerja dan kau malah mencuri! lalu untuk apa kerja keras ku?" hardiknya yang justru membuat Latisha menjadi merasa bersalah bukan anak laki-laki itu.


"Uang yang kakak dapatkan tidak cukup untuk makan kita semua!" seru anak kecil itu sebagai pembelaan.


"Sudah ku bilang aku akan kerja di dunia tempat jadi bersabarlah sedikit," sahutnya.


Dari pembicaraan mereka Latisha bisa tahu mereka sedang kekurangan uang, tak tega melihatnya ia pun menawarkan bantuan.


"Permisi.. apa kau tahu dimana desa Tutua?" tanyanya.


"Ya, kenapa?" sahutnya.


"Bisa kau antarkan aku ke sana? jika aku bisa sampai sebelum matahari terbenam aku akan membayar mu dengan lima koin emas," ujar Latisha.


"Bagaimana jika sepuluh?" tanya anak kecil itu.


"Heh diam!" hardik sang kakak.

__ADS_1


"Setuju!" sahut Latisha membuat si kakak terpaku.


"Nama ku Tisha, kau siapa?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.


"Josh," sambutnya.


"Baiklah Josh bagaimana jika kita pergi sekarang?" tanyanya.


Josh mengangguk, ia pun memberi pesan kepada adiknya untuk mengurus yang lain dan menunggu kepulangannya.


Latisha membawa Josh ke penginapan dimana kudanya di ikat, tanpa membuang waktu mereka segera pergi dengan Josh yang memacu sementara Latisha di belakang.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Josh.


"Apa?" balas Latisha.


"Apa kau mau menemui penyihir di desa itu?" tebaknya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" balas Latisha heran sekaligus gugup.


"Akhir-akhir ini banyak pengelana dan ksatria yang mencari penyihir di desa Tutua, menurut rumor jika niat kedatangan mu baik kau akan pulang membawa berkah. Tapi jika niatmu jelek kau tidak akan pernah bisa pulang lagi," sahutnya.


"Jadi kau ingin tahu niatku baik atau buruk?" balas Latisha bertanya.


"Aku bertanggungjawab dalam mengantarmu, hanya saja satu yang ingin ku perjelas. Aku tidak ada urusan apa pun dengan mu selain mengantar, jadi jangan bawa-bawa aku jika kau dalam masalah."


"Tenang saja, begitu kita sampai aku akan langsung membayarmu jadi kau bisa langsung pergi."


Josh mengangguk setuju, ia pun memacu kuda untuk lebih mempercepat jalannya. Sementara Latisha diam-diam mulai resah, ia takut semuanya tak berjalan sesuai rencana.


Josh benar-benar menyanggupi permintaan Latisha, mereka sampai tepat sebelum matahari terbenam.


"Berhati-hatilah, sampai jumpa!" ujar Josh berpamitan.


Latisha mengangguk, ia pun segera berbalik dan masuk ke dalam desa itu. Hari yang semakin senja membuat penduduk sibuk pulang ke rumah masing-masing, Latisha memperhatikan para penduduk di desa ini memiliki wajah yang lebih ramah dengan senyum yang selalu mengembang.


Ia pun mendekati seorang wanita lansia yang sedang menggiring ternaknya masuk ke dalam kandang.


"Permisi... " ucapnya.


"Ya?" sahut wanita itu.


"Aku sedang mencari penyihir bernama Alessa, bisakah anda tunjukkan dimana rumahnya?" tanyanya.


Wanita itu tiba-tiba merubah pandangannya menjadi tajam, seakan sedang membedah hati Latisha yang membuatnya meringis.


"Beliau ada di bar, masuklah kesana," sahutnga dingin.


Tentu itu membuat Latisha bingung, mengapa tiba-tiba wanita itu berubah menjadi tidak ramah. Tak mau ambil pusing ia segera mencari bar yang di maksud, begitu ketemu ia segera masuk.


Saat pintu bar di buka pemandangan pertama yang lihat adalah tatapan tajam dari setiap pengunjung, tentu saja itu tidak menyenangkan.


Tepat di hadapannya seorang wanita yang sedang mabuk bersandar pada meja, karena tak ada lagi wanita selain dia maka Latisha menduga dialah Alessa,


Perlahan Latisha berjalan masuk dan duduk di samping wanita itu.


"Kau ingin minum apa?" tanya pemilik bar.

__ADS_1


"Bisa teh saja?" balas Latisha ragu.


Tanpa kata pemilik bar kemudian membuat minuman yang Latisha pesan dan menaruhnya tepat di depan Latisha.


"Hooaaaammm.... sial, sepertinya aku terlalu mabuk hari ini," ujar Alessa sambil mengangkat kepalanya.


Ia mengucek kedua matanya dan mencoba melihat sekeliling, saat ia menengok ke samping alangkah terkejutnya ia melihat Sophia duduk di sampingnya.


Ia segera berdiri dan kembali mengucek matanya, kali ini ia bisa melihat dengan jelas dan rupanya itu orang lain.


Hhhhhh


Menghembuskan nafas panjang rupanya ia hanya berhalusinasi.


"Permisi... apa kau Alessa?" tanya Latisha.


"Mm, ada apa?" sahut Alessa sambil meneguk segelas air putih untuk membuatnya lebih segar.


"Ah syukurlah... aku sudah mencari mu, ibuku yang meminta untuk menemuimu," ujar Latisha bahagia.


Alessa memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki, pakaiannya mungkin biasa saja tapi sikap dan caranya bicara jelas menujukan dia bukan rakyat jelata. Di tambah tidak ada gadis desa yang memiliki wajah cantik dengan kulit mulus yang terawat.


"Katakan kau datang dari Kerajaan mana dan apa yang ayahmu inginkan dariku?" tanya Alessa menduga dia adalah putri yang di utus ayahnya untuk membujuk.


"Aku datang dari jauh, ibu ku bernama Sophia. Aku ingin meminta bantuan mu untuk menemukan ayahku Damien," ujar Latisha dengan suara yang lebih rendah.


Brrruuuuhhh


Alesaa menyemburkan air yang sedang ia kulum di mulutnya, tentu itu membuat semua orang terkejut dan memandang ke arah mereka.


"Apa kau bilang? ibu mu... Sophia?" tanya Alessa memastikan lagi.


Latisha mengangguk, tentu itu tak dapat di percaya dengan mudah. Tapi setelah meneliti lebih jauh hal itu mungkin saja benar, Latisha memiliki beberapa kemiripan dengan Sophia dan Damien.


"Ikut aku!" ajak Alessa.


Ia pun bangkit dan mengajak Latisha untuk masuk ke rumahnya, disana mereka bebas bicara apa pun tanpa khawatir akan ada yang menguping.


"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" pinta Alessa.


Latisha tidak tahu apa yang harus ia ceritakan, apakah hidupnya selama di dunia naga atau pencariannya terhadap Damien.


"Ibu... hanya menyuruh ku untuk menemukan mu, dia bilang hanya kau yang bisa membantuku menemukan ayah," ujarnya.


"Lalu dimana ibumu?" tanya Alessa.


"Ada seorang wanita siluman yang mencoba membunuh kami, ibu menyuruh ku untuk pergi sendiri sementara ia akan mengalihkan perhatian."


Penjelasan itu membuat Latisha bertanya-tajya apakah ibunya baik-bain saja atau sudah tiada.


"Siluman? apa sungguh makhluk itu benar ada?" tanya Alessa yang tak percaya.


"Dia awalnya seekor ular lalu kemudian berubah bentuk menjadi seorang wanita," jelas Latisha.


Melihat betapa yakinnya Latisha akhirnya Alessa pun percaya, lagi pula sekarang itu bukan hal penting.


"Baiklah, aku akan membantumu mencari ayahmu. Sekarang kau tinggallah di sini," ujar Alessa.

__ADS_1


"Terimakasih," sahut Latisha penuh syukur.


Setelah mereka makan malam Latisha pergi ke kamar yang telah di siapkan Alessa, sementara dirinya yang sudah bugar membuat ritual khusus untuk masuk ke dalam benak Damien dan menyampaikan pesan yang selama ini Damien tunggu.


__ADS_2