
Albert sangat tahu makhluk seperti apa itu vampire, makanan mereka hingga segala hal yang bisa menyakiti mereka meski belum teruji kebenarannya.
Saat Damien memberitahu bahwa satu-satunya jalan menuju kekuatan yang instan adalah menjadi vampire tidaklah mudah baginya untuk menerima, karena itu ia tak menjawab.
Damien cukup pengertian sehingga ia tak bertanya lagi.
"Boleh aku tanya sesuatu?" ujar Albert.
"Katakan," sahut Damien.
"Bagaimana bisa kau menjadi vampire? maksudku vampire tidak dilahirkan kan? mereka di buat," ucapnya memilih kata-kata yang tepat agar tak menyinggung.
Damien menghentikan langkahnya, itu adalah kenangan yang sudah ia lupakan ratusan tahun lalu.
"Aku hanya pemuda yang senang mabuk arak, lahir dari keluarga sederhana dan di ambil paksa untuk menjadi budak di istana vampire. Melihat potensi ku alih-alih menjadikan ku santap malam mereka justru menjadikan ku bagian dari mereka," ungkap Damien.
"Apa... rasanya sakit?" tanya Albert lagi menatap ragu.
"Heh, ya! saat darah vampire pertama mengalir diseluruh uratku rasanya bagai terbakar dan kedinginan secara bersamaan, tapi bagian yang paling menyiksa adalah dahaga."
Albert menelan ludah, ia tahu maksud Damien dan itu membuat perutnya bergejolak hingga mual.
Perjalanan mereka berlanjut, Damien ingat tanah yang ia injak telah memasuki wilayah salah satu temannya. Tempat yang cukup aman untuk mereka beristirahat.
Dari kejauhan mereka bisa melihat api unggun yang cukup besar dikelilingi oleh banyak orang, itu membuat Albert bertanya-tanya siapa kenalan Damien kali ini.
"Apa daging panggangnya masih ada?" tanya Damien tepat setelah mereka sampai.
"Damien!" seru Meg segera berdiri dan memeluknya.
"Oh aku tak pernah bisa tak kaget saat memeluk tubuh dingin mu," ujarnya seraya tersenyum.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Damien membalas senyum itu.
"Baik," sahutnya.
Damien pun tak lupa mengenalkan Albert pada mereka, tentu ia juga mengatakan kalau Albert adalah anak kejutannya.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat mereka kaget sebab sebelumya yang mereka tahu Sophia lah anak kejutan Damien, dengan ringkas Damien mengatakan banyak hal yang terjadi dan kenyataannya Albert memang anak kejutannya.
"Damien apa yang terjadi? beberapa minggu yang lalu Sophia datang ke sini sendirian dan tiba-tiba ia pergi begitu saja tanpa berpamitan," tanya Meg.
Kulit Damien memang putih pucat, tapi malam itu seakan rembulan memberi semua sinarnya ke wajah Damien.
"Ayo kita bicara," ajak Meg pergi ke tempat lain yang lebih sepi.
Cukup sulit bagi Damien untuk berkata jujur, tapi pada akhirnya tanpa rayuan apa pun Meg dapat membuat Damien membuka rahasianya.
Damien kira ia akan melihat ekspresi terkejut di wajah wanita itu dan mendengar ribuan kata pembodohan seperti yang dilakukan semua orang padanya, tapi Meg justru menatapnya dengan takjub.
"Ini adalah kali pertama aku melihat cinta dihati yang beku, kenapa kau sangat takut Damien? kau memiliki kami! aku akan membantu mu," ujar Meg bersungguh-sungguh.
"Apa kau serius? Meg yang sedang kita bicarakan adalah Sang Penunggang! Sophia mungkin akan menyakiti keluarga mu dan apa kau tidak keberatan akan hal itu?" tanya Damien tak percaya.
"Bukankah itu bukan kehendaknya? kau yang bilang dia tidak ingin menyakiti siapa pun dan aku percaya itu, sebab dia telah menunjukkan belas kasihnya kepada kami."
Damien pernah mendengar manusia serigala adalah makhluk berdarah panas yang selalu di penuhi cinta, kini ia mengerti mengapa ada sebutan itu.
"Tidak, kamilah yang berhutang pada Sophia. Dia menyelamatkan salah satu anak kami yang terluka parah," sahut Meg.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanyanya.
"Aku akan mencari Sophia, aku harus memastikan dia aman," jawabnya.
Meg mangangguk setuju, ia membiarkan Damien menginap sampai malam besoknya sebelum mereka melanjutkan perjalanan.
Di siang hari saat Damien tidur agar malam ia bangun dan kembali melanjutkan perjalanan Albert memilih untuk berbaur dengan kawanan, ia ikut berburu dengan para pemuda dan bermain dengan anak-anak.
Alex yang sedang mencoba membuat perahu dari daun telah menyita perhatian Albert sehingga ingin ikut membuatnya, berbeda dengan anak-anak lain Albert membuat perahu menggunakan batang pohon yang dibuat tipis baru menambah daun sebagai layarnya.
Saat perahu mainan itu ia taruh diatas sungai segera perahu itu melaju cepat dengan bantuan angin, membuat anak-anak itu kagum dan bersorak.
"Bagaimana kau melakukannya? bisa ajari kami?" tanya Alex dengan mata berbinar.
Albert tersenyum dan dengan senang hati mengajari mereka, seharian itu mereka bersenang-senang sampai lupa waktu.
__ADS_1
Saat Justine memberitahu sudah waktunya makan malam mereka mengerang karena harus pulang padahal masih ingin bermain, Albert hanya tersenyum melihat wajah polos anak-anak itu.
Mengingatkannya pada masa kecilnya yang juga pernah kecewa karena harus mengakhiri permainan saat matahari mulai terbenam, dilangit yang mulai memerah ia sadar bahwa perasaan damai itu hampir ia lupakan karena banyak masalah yang terjadi.
Betapa sekarang ia merindukan masa-masa tanpa harus memikirkan masa depan, ia merindukan menjadi anak kecil yang hanya tahu makan dan bermain.
Setelah makan malam Damien segera mengajak Albert pergi dan berpamitan. Tak disangka dari anak-anak kecil Albert menerima banyak hadiah kecil sebagai tanda perpisahan, itu membuatnya terharu sampai hampir meneteskan air mata.
"Aaaahh... mereka sangat manis sekali," ujar Albert setelah dapat lepas dari pelukan anak-anak.
"Keliatannya kalian sangat akrab," komentar Damien.
"Kami bersenang-senang sepanjang hari," sahut Albert.
"Lihat apa yang kau dapat? kalung dari taring singa, potongan tanduk rusa, gigi buaya... wah... kau benar-benar dilimpahi cinta mereka," ujar Damien memeriksa satu persatu benda itu.
"Sungguh?" tanya Albert menahan tawa.
"Jika seorang manusia serigala memberimu tulang hewan buruan, entah itu berupa tanduk, gigi dan semacamnya artinya kau sangat spesial. Dulu seorang pemuda menggunakan benda-benda itu untuk melamar kekasihnya," jelas Damien.
"Wow, aku baru tahu tentang hal ini," ujar Albert antusias.
"Apa ada hal lain lagi?" tanya Albert tak bisa menahan rasa penasarannya.
Sambil terus berjalan Damien mengatakan beberapa hal yang ia ketahui tentang manusia serigala, sesuatu yang mungkin tidak akan Albert temukan di buku mana pun.
......................
Seharusnya mayat itu sudah membusuk dan menebar aroma tak sedap, tapi Cheet memberi ramuan dan membalurnya pada setiap jengkal kulit sehingga tubuh itu tetap awet tanpa mengkerut atau membusuk.
Hanya potongan leher itu yang mengering, sementara bagian kepalanya yang buntung sama bagusnya dengan tubuhnya.
Sekali-kali Cheet menebarkan aroma lilin di sekujur tubuh yang terbaring itu sambil mencoba menahan tangis dan amarah, setelah selesai ia akan duduk dalam waktu yang lama sambil berpikir apa yang telah terjadi pada dirinya.
Jelas sekali ia menawan Sophia tapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit hingga pada akhirnya tak sadarkan diri, ketika terbangun ia mendapati Sophia sudah hilang tanpa bisa ia temukan ke mana perginya.
"Aku pasti akan menemukannya lagi," janjinya pada tuan yang sudah tak bernyawa.
__ADS_1