Surprise Child

Surprise Child
Bab 21 Pertemuan dan Perpisahan


__ADS_3

Dalam surat itu tertulis bahwa putri Agrarta ditawan oleh bangsa Elf dan siap untuk dihukum gantung jika dia tidak datang memenuhi panggilan, sebagai anak tentu Sophia tak bisa membiarkan hal itu terjadi.


Dengan sangat menyesal ia harus pergi sendiri, tak peduli apa yang akan menimpanya nanti ia harus menyelamatkan ibunya.


Berjalan seorang diri melewati hutan tanpa rasa takut Sophia terus memasang telinganya, memastikan dia sendiri aman dari bahaya seperti hewan buas atau monster ganas.


Srek Srek Srek


Suara yang ia dengar seperti langkah seseorang membuat tangannya memegang busur dengan kuat, satu anak panas telah ia ambil dan mulai ia pasang sebagai jaga-jaga.


Matanya tajam mengawasi sekitar sambil menerka dari mana makhluk itu akan menampakkan diri.


Srek Srek Srek


Suara itu semakin jelas terdengar, menarik busur Sophia siap menjadi penyerang pertama.


"Akhirnya aku menemukan mu!" seru Albert yang tiba-tiba keluar dari semak-semak.


Hampir Sophia melepaskan anak panahnya, tertegun ia menatap Albert bingung.


"Siapa kau?" tanyanya.


"Sophia... aku Albert, saudara kembarmu."


Itu adalah sebuah lelucon yang tidak lucu, hampir Patricia menghardiknya habis-habisan namun saat melihat ekspresi serius Albert ia pun bertanya "Bagaimana mungkin?."


Albert segera menjelaskan apa yang terjadi, tentang perpisahan mereka yang disengaja untuk meneruskan tahta kerajaan Meseress.


Mendapati kenyataan itu Sophia hanya tertunduk lesu, rupanya selama ini ia memiliki saudara yang disembunyikan.


"Bangsa Elf telah menyerang istana, merebutnya dan menjadikannya kerajaan mereka. Sungguh tak ada yang tersisa disana selain kenangan," ujar Albert.


"Jadi itu semua hanya perangkap?" tanya Sophia.


"Mereka membutuhkan kita untuk membuat ritual kebangkitan Sang Penunggang," sahut Albert.


"Lalu.. apa yang harus kita lakukan?" tanya Sophia.


"Kembali pada Damien," jawab Albert.


Itu adalah keputusan tepat, maka mereka pun memilih untuk pergi ke Alessa dengan harapan Damien akan di sana.


Melakukan perjalanan bersama saudara ternyata cukup membuat mereka canggung selain dari bahagia, sepanjang perjalanan mereka banyak bercerita tentang kehidupan masing-masing.

__ADS_1


Albert yang tak pernah mengetahui bagaimana kehidupan di istana banyak bertanya tentang orangtua mereka, dengan senang hati Sophia menjawab bahkan menceritakan kehidupan bahagia yang pada akhirnya membuat mereka sedih karena kehilangan.


"Setidaknya kini kita saling memiliki, aku berjanji meski tubuh ku tidak kuat tapi aku akan melindungi mu," ujar Albert menghibur.


Sophia mengangguk dengan penuh rasa syukur, tentu saja saat ia telah kehilangan semua keluarga kini Albert menjadi satu-satunya yang paling berarti.


"Wah wah wah, padahal aku hanya melempar umpan sekali tapi yang ku dapat malah dua ekor."


Terkejut Albert dan Sophia segera bangkit, menatap Cheet yang datang bersama anak buahnya. Membaca situasi Albert segera maju kedepan untuk melindungi Sophia, mereka baru bersama hanya beberapa hari tentu Albert tak akan membiarkan Sophia menghilang lagi dari matanya.


"Hmm, bawa gadis itu!" seru Cheet memberi perintah.


"Tidak akan kubiarkan!" balas Albert seraya menarik pedangnya.


Para Elf mulai menyerang, pedang mereka saling beradu ketajaman diudara mencoba untuk saling melumpuhkan. Tak mau hanya menonton Sophia ikut turun tangan mengingat mereka kalah jumlah, satu tahun belajar di Akademi segera ia praktekan.


Syuuuuuuuutt Syuuuuuuuutt


Anak panah terus berterbangan dari busurnya, mencoba menusuk dada para Elf yang mencoba menyakiti Albert.


Tapi para Elf itu adalah prajurit yang terlatih, ketangkasan mereka dalam menyerang cukup mengerikan dan kegesitan mereka dalam mengelak sangat merepotkan. Tak ada pilihan, mereka harus kabur selagi sempat.


"Kejar! jangan biarkan mereka lolos!" teriak Cheet.


Tanpa mengurangi kecepatan ia membuat portal di depan dan mengajak Albert melintasi dimensi demi meloloskan diri, tapi sayangnya portal yang ia buat tak menutup dengan cepat sehingga para Elf masih tetap berhasil mengejarnya.


Sophia terus melakukan hal itu sampai tenaganya sedikit demi sedikit terkuras dan tak mampu untuk membuat portal lagi.


Syuuuuuuuutt Jleb


"Ah!"


"Albert!" pekik Sophia melihat sebuah jarum yang berhasil menusuk bagian pahanya.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya segera memeriksa.


"Pergilah... selamatkan dirimu," ujar Albert sambil menarik paksa jarum itu.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkan mu."


"Sophia tidak ada waktu, jarumnya mengandung racun jika kau tidak pergi sekarang mereka akan menangkap kita."


"Karena itu aku tidak akan meninggalkan mu!" teriak Sophia bersikeras.

__ADS_1


Albert tertegun menatap air mata yang seketika membanjiri pipi Sophia, jelas ada ketidakrelaan disana.


"Aku akan baik-baik saja," ujar Albert lembut sambil menghapus air mata itu.


Ia menampilkan senyum terbaiknya yang membuat tangis itu berhenti.


"Aku tidak ingin berpisah lagi dengan mu," ucap Sophia.


"Aku mengerti, tapi kali ini kita harus melakukannya. Kau tenang saja, aku pasti akan menemukan mu lagi. Karena itu pergilah," sahut Albert berjanji.


Akan buruk jika Cheet berhasil mendapatkan mereka berdua dan Sophia tahu itu, tapi ia tak bisa mengorbankan Albert demi keselamatannya.


Dalam hidup ini hanya Albert yang ia miliki oleh karena itu air mata kembali mengalir, saat mendengar langkah dari kejauhan Sophia merentangkan tangan ke depan untuk membuat portal.


Kali ini ia akan memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri, berjalan perlahan memasuki portal untuk terakhir kalinya yang ia lihat adalah senyuman Albert dan sebuah kata tanpa suara "Aku akan menemukan mu".


Portal tertutup tepat saat Cheet dan pasukannya menemukan Albert tengah berdiri seorang diri, ia tahu jarum itu hanya mengandung racun ringan yang akan membuatnya tak sadarkan diri selama beberapa hari saja.


Oleh karena itu ia kembali mengangkat pedangnya, meski ia tahu pada akhirnya Cheet berhasil menangkapnya tapi setidaknya ia akan sibuk sehingga kehilangan jejak Sophia.


" Kalian... majulah..... " seru Albert memperkuat genggaman pedangnya.


......................


Pintu terbuka, menampilkan Raja Thomas yang kemudian memasuki ruangan. Dimeja bundar raja lain yang duduk di kursi masing-masing bangkit untuk memberi hormat, setelah Raja Thomas duduk di kursinya baru mereka duduk dan rapat pun dimulai.


"Apa yang kita punya?" tanya Raja Thomas.


"Kekuatan kemiliterannya telah bertambah, entah mengapa meski kehilangan banyak rakyat tapi dalam waktu satu tahun dia berhasil membangun prajurit dengan kekuatan besar," ujar Raja Arthur.


"Jika terus dibiarkan dia akan mendominasi," timpal Raja Abner.


"Bangsa Elf tersebar diseluruh penjuru dunia, saat mereka mendengar Ursula berhasil membangun kerajaan sudah bisa dipastikan mereka bermunculan kepermukaan," sahut Raja Thomas.


Itu adalah gagasan yang dapat dimengerti.


"Bagaimana dengan putri Sophia?" tanyanya.


"Mereka masih mencarinya," sahut Raja Salim.


"Kita harus menemukannya sebelum Ursula, oh... apa barang yang aku minta telah siap?" tanyanya lagi.


Raja Abner mengangguk dan lewat tangan kanannya ia menyerahkan sebuah kotak peti kecil, Raja Thomas memeriksa kotak itu demi memastikan isinya.

__ADS_1


"Bagus, dengan ini kita hentikan Ursula," tegasnya sambil tersenyum.


__ADS_2