Surprise Child

Surprise Child
Bab 66 Bulu Angsa


__ADS_3

Desa itu nampak berantakan, kumuh dan tidak layak untuk di jadikan tempat tinggal. Tapi Alessa melihat banyak anak kecil berlarian dengan tawa renyah, membuatnya berfikir memang desa itu sudah begitu sejak dulu.


Memilih tempat terbaik tanpa ragu Alessa membuka bisnis barunya, hanya dengan membayar satu koin saja apa pun masalahnya akan Alessa selesaikan.


Awalnya banyak yang ragu, tapi saat seorang wanita meminta bantuan sebab anaknya sakit parah semua pun menjadi percaya sebab Alessa mampu menyembuhkannya.


Dalam waktu sekejap ia sudah meraup keuntungan meskipun kecil, setiap hari pengunjung datang dengan berbagai masalah.


Ketenaran cepat ia dapatkan hingga Raja mencium keberadaannya, titah pun di turunkan untuk mengambil upeti darinya. Setidaknya lima pasukan datang di pimpin Jendral gagah yang memakai zirah, mereka langsung masuk membubarkan antrian panjang di depan.


"Tenang tuan ku, kau pasti akan mendapatkan giliran," ujar Alessa santai padahal jelas wajah Jendral itu bengis.


"Kau pasti orang baru di sini, aku akan berbaik hati padamu selain karena kau orang baru kau juga seorang wanita. Bayarlah upetimu sekarang dan aku akan menjamin keselamatan mu," ucap sang Jendral.


Alessa cekikikan, membuat Jendral merasa tersinggung.


Brak


Ia memukul meja, suaranya yang keras membuat semua pengunjung berlarian menyelematkan diri. Sementara Alessa hanya tersenyum dengan wajah santai, sama sekali tidak takut akan gertakan itu.


"Beraninya kau menghinaku!" hardik Jendral.


"Tuanku, uang yang kudapat tidaklah banyak. Bagaimana jika aku membayar upeti dengan caraku," tawar Alessa.


"Apa maksud mu?" tanya Jendral sebab Alessa tidak sedang menyerahkan tubuhnya.


"Bawa aku ke istana, akan ku bayar upeti ku kepada Raja dengan kemampuan ku."


Jendral tentu tidak yakin, ia takut Alessa adalah mata-mata musuh yang mencoba menyakiti Raja. Dengan syarat ia harus di ikat Alessa menyetujuinya dan mereka pun pergi.


Menjelang malam mereka sudah tiba di istana, karena Raja sedang makan malam maka Alessa harus menunggu sampai Raja selesai makan.


"Bawa penyihir itu!" titah Raja ketika dia sudah diberitahu tentang Alessa.


Maka Jendral pun menyuruh pengawal untuk membawanya, dalam keadaan terikat Alessa datang dan langsung memberi hormat.


"Aku sudah mendengarnya, apa yang bisa kau lakukan untuk mengganti upeti?" tanya Raja tanpa basa basi.


"Yang Mulia, tanpa mengurangi rasa hormat saya minta untuk lepaskan dulu ikatan ini."


Alessa sudah biasa bicara pada yang memiliki tahta, orang-orang seperti itu sangat suka di puji dan di sanjung. Maka ia pun akan memainkan kata yang tepat agar mudah di terima, dengan pandangan meyakinkan Raja pun memberi isyarat agar ikatannya di lepas.


Jendral segera memegang pedangnya, bersiap menarik andai saja Alessa melakukan sesuatu yang membahayakan Rajanya.


"Beri aku satu tugas apa pun dan akan segera ku selesaikan," ujar Alessa.


Raja berfikir, mencari tugas apa yang bisa ia berikan pada seorang penyihir.


"Bisakah kau turunkan hujan? akhir-akhir hasil panen buruk karena kurangnya pasokan air," ujar Raja.


Alessa tersenyum dan menyahut "Saya tidak bisa menurunkan hujan, tapi untuk membuat hasil panen melimpah saya memiliki cara lain."


"Mohon Yang Mulia ijinkan saya melihat ladang untuk mulai menyelesaikan tugas ini," lanjutnya.


"Baiklah, besok pagi kita akan pergi ke ladang."


Alessa mengangguk, besoknya iring-iringan Raja berjalan keluar istana untuk melihat ladang mereka yang kering.


Rakyat yang melihat segera bersujud tak berani melihat, sementara Alessa mulai memeriksa tanah yang keras.


Ladang itu terlalu jauh dari sungai sehingga tidak mungkin ia membuat kincir, tempatnya yang terlalu dekat desa juga sebenarnya tidak cocok untuk di jadikan ladang.


"Saya sarankan Yang Mulia membuat danau buatan di sana, untuk airnya bisa kita ambil dari sungai di dekat sini." ujar Alessa.


Raja mengangguk dan mulai bertanya lagi apakah itu efektif untuk membuat ladangnya jadi subur, dengan lugas Alessa menjelaskan segalanya.


Saat di desa Tutua ia belajar tentang hal ini dari Albert, ia tak menyangka sekarang ilmu itu akan sangat begitu berguna.

__ADS_1


Raja pun segera memerintah dewan untuk menyusun rencana pembangunan bersama dengan Alessa, karena hal ini dalam sekejap ia mendapat kepercayaan Raja.


Mengerahkan seluruh rakyatnya danau buatan itu berhasil di bangun hanya dalam waktu satu minggu saja, kecepatan pembangunan yang menakjubkan membuat Raja heran bagaimana Alessa memimpin rakyatnya.


"Kerja bagus, kau membayar upeti yang bagus," puji Raja.


Kini Alessa sudah duduk di kursi bersama Raja untuk merayakan keberhasilan mereka, menikmati santap makan malam yang nikmat.


"Untuk kedepannya apa kau akan membayar upeti dengan cara yang sama?" tanya Raja.


"Hanya itu yang bisa hamba lakukan," sahut Alessa.


Raja tersenyum, puas dengan jawaban yang diberikan Alessa. Selesai makan malam Raja memintanya datang ke ruang pribadi Raja, Alessa sudah berfikir mungkin Raja ingin bersenang-senang berdua saja.


Tapi begitu ia memenuhi panggilan ia menemukan raut wajah sedih, membuatnya cukup heran.


"Paduka," panggil Alessa memberi hormat.


"Biasanya aku menghabiskan waktu bersama istriku di sini, kami akan bercengkrama tentang segala hal sambil ia menyulam. Ini adalah sulamannya yang belum selesai," ujar Raja sambil memperlihatkannya.


Alessa diam, menunggu Raja melanjutkan ceritanya.


"Istri ku di bawa paksa oleh mereka karena aku tidak mampu membayar upeti," ucap Raja mengakhiri cepat cerita yang akan segera membuat matanya basah.


Kini Alessa mengerti, Raja sedang susah karena berurusan dengan vampire.


"Aku tidak mampu melawan mereka, tapi aku yakin putraku pasti bisa melakukannya. Aku akan mengangkatmu sebagai penasehat pribadi ku dan kelak temani putraku untuk membalas dendam," ujar Raja.


"Hamba siap mengemban tugas," sahut Alessa tegas sembari memberi hormat.


......................


Mata sembab Latisha sudah pasti menarik perhatian, terlebih bagi Percya dan Barney. Tanpa Latisha mengatakan apa pun mereka tahu ada yang menyakiti hatinya, mungkin itu adalah Devy atau anak lain yang melewati batas.


Siapa pun mereka tentu tidak menerimanya, Latisha adalah teman kesayangan mereka bahkan Percy sendiri menganggap Latisha sebagai adiknya.


Mereka yang sudah tak tahan akhirnya merayu Mam agar di ijinkan keluar, tentu Mam menolak setelah apa yang terjadi pada Latisha.


Meski mereka bersimpuh pun Mam benar-benar tidak mengizinkan, kesal sekaligus sedih esoknya mereka membisu saat Mam masuk kelas untuk mulai pelajaran.


"Baiklah anak-anak hari ini kita akan mempelajari jenis burung," ujar Mam.


Ia menatap ketiga muridnya dan ketiga-tiganya menatap malas kepadanya.


"Aku akan menjelaskan langsung kepada kalian jadi mari kita pergi!" ajaknya sembari tersenyum.


"Apa kita akan keluar Mam?" tanya Percy memperjelas.


Mam mengangguk, membuat mereka bersorak sementara Latisha hanya tersenyum kecut.


Dipandu oleh Mam mereka pergi keluar Akademi, satu pengawas pria juga ikut untuk menjaga mereka atas perintah Dekan. Semalam Mam yang bicara langsung kepada Dekan mengenai permintaan Percy dan Barney, ia paham mereka hanya ingin membuat Latisha bahagia seperti biasanya karena itu Mam minta ijin sekaligus satu pengawas untuk menemani mereka.


"Lihat!" seru Barney menunjuk sebuah pohon yang dihinghapi banyak burung pingai.


"Ayo Latisha!" ajak Percy sambil berlari ke arah pohon itu.


Jelas dari mata Latisha ia tertarik pada kawanan burung pingai yang hinggap dan melompat dari satu dahan ke dahan lain, tapi ia masih belum bersemangat hingga hanya berjalan mengikuti yang lain.


Fuuuuiiiiiittttt


Barney bersiul nyaring membuat kawanan burung itu terbang tapi kepadanya, beberapa hinggap di bahu dan tangannya yang terentang.


Tertawa Barney merasa geli karena pijakan kaki-kaki mungil mereka, Latisha yang heran bertanya "Bagaimana kau melakukannya?".


" Kita semua bisa melakukannya Latisha," sahut Mam.


"Sungguh?" tanya Latisha.

__ADS_1


Mam tersenyum, kemudian ia merentangkan tangannya. Tanpa siulan seperti Barney burung-burung itu hinggap disana, membuat Latisha lebih heran lagi.


Ia kemudian mencoba merentangkan satu tangan dan bersiul, tapi yang ada burung-burung itu justru terbang menjauh.


"Mereka melihat mu sebagai ancaman," ujar Mam.


"Lalu yang benar bagaimana?" tanya Latisha.


"Percy kau bisa tunjukan?" tanya Mam.


Percy mengangguk, ia maju ke dahapan Latisha sambil membawa seekor burung yang hinggap di jari telunjuknya.


"Burung Pingai termasuk hewan yang pemberani, mereka tidak takut pada kehadiran manusia bahkan seringkali membuat sarang di atap rumah. Namun mereka tetap tidak mudah ditangkap, untuk membuat mereka hinggap di tangan mu yang perlu kau lakukan adalah pertama memahami mereka. Kau harus membuat mereka mengerti kalau kau bukan ancaman," jelas Percy.


Latisha menatap burung ditangan Percy, mencoba menyampaikan perasaannya dengan sungguh-sungguh.


"Berikan tanganmu," perintah Percy.


Masih menatap burung itu Latisha mengulurkan tangannya, awalnya burung itu hanya menatap Latisha sambil menggerak-gerakkan kepalanya. Melompat perlahan ke ujung jari Percy akhirnya ia mendapat di tangan Latisha, hampir Latisha berteriak kegirangan dan mengejutkan semua orang.


"Aku bisa... " ujar Latisha tak percaya sambil menatap mereka semua.


Akhirnya senyum mengembang di wajah mereka, bahagia melihat Latisha sudah kembali ceria seperti sediakala.


Ia mulai cerewet lagi dengan banyak bertanya kepada Mam, dengan senang hati Mam melayani semua rasa penasarannya.


Tak hanya mempelajari tentang burung Pingai, mereka juga mengawasi rusa hutan dari kejauhan dan hewan lainnya.


Sampai lelah Mam membawa mereka berkeliling, melihat matahari yang sudah tepat di atas kepala Mam pun mengajak mereka kembali ke kastil.


Latisha merengut, ia masih betah di luar sebab banyak hal yang bisa ia lihat dan rasakan. Tapi ia harus menurut pada Mam kalau tidak ia tak akan memberi mereka ijin keluar lagi.


Meski telah kembali bersemangat tapi setelah makan malam Latisha kembali sedih, ia enggan masuk ke kamar untuk tidur dalam kesendirian.


Akhirnya ia duduk di aula tengah sambil menatap langit yang pernah ia robohkan, mengingat bagaimana begitu mudah baginya menggunakan sihir jika bersama dengan Sophia.


Menatap tangannya ia berharap Sophia ada di sini bersamanya, ia ingin berbagi banyak kisah yang telah ia lalui selama di Akademi.


"Tidak bisa tidur?" tanya Mam dari belakang.


Latisha menoleh kaget, melihat Mam berjalan menghampiri ia pun menggeleng.


"Kenapa? apa tangan mu sakit?" tanya Mam.


"Tidak, tangan ku sudah mau sembuh."


"Lalu kenapa ada rasa sakit di matamu?" tanya Mam lagi.


"Aku merindukan ibu," jawab Latisha pelan.


Seketika Mam diam, ia sudah mendengar dari Dekan bahwa ibu Latisha sudah tiada beberapa bulan yang lalu. Itu masih sangat baru jadi wajar jika Latisha masih merasakan sedih, tapi mengingat kecerian Latisha selama ini ia menjadi bingung.


"Selama ini kau baik, kenapa tiba-tiba jadi sangat merindukannya?" tanyanya.


"Saat ibu tiada paman Albert yang paling bersedih, aku sudah janji kepada ibu untuk tetap kuat demi paman. Aku harus bisa diandalkan, saat paman mulai ceria lagi sekarang aku sudah tidak bisa kuat."


Mam pernah bingung saat Dekan mengatakan Latisha adalah anak yang spesial, ia pikir meski jarang ada anak yang berpotensi di kelas hewan tapi itu tidak menutup posisi kelas hewan yang memang biasa saja.


kini mendengar curhatan Latisha ia pun mengerti, di umurnya yang sekarang teman-temannya sudah banyak yang mempersiapkan pernikahan mereka dan akan sibuk melahirkan calon Raja.


Tapi Latisha begitu polos, bersih seperti bulu angsa yang meski di acak-acak akan kembali rapih.


Menghapus air mata yang tanpa sadar mengalir Mam kemudian memeluk Latisha, mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.


"Kau tidak sendirian, ada Barney, Percy dan aku. Kau tidak perlu merasa kesepian," ujar Mam.


Pelukan yang sudah lama Latisha rindukan itu meski bukan berasal dari Sophia tetap ia pegang kuat, ia curahkan kerinduan yang menyiksa hingga lelah matanya dan tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2