
Benturan dikepalanya memberikan rasa beedenyut yang sakit, bahkan perutnya ikutan mulas namun tak ada muntahan yang keluar. Mengerjap beberapa kali hal pertama yang ia lihat adalah nyala api yang terang, begitu hangat dan nyaman meski tubuhnya terbaring diatas batu keras.
"Albert, kau sudah bangun?" tanya Sophia melihat kelopak mata Albert terbuka.
"Sophia! itu kau?" tanya Albert terperanjat.
"Syukurlah... keliatannya kau baik-baik saja," ujar Sophia mendapati semangat di pemuda itu.
Lantas karena Albert bertanya Sophia pun menceritakan apa yang telah terjadi padanya, meski ia sendiri bingung mengapa biisa lepas dari Cheet tapi yang terpenting adalah ia sudah aman.
"Damien sedang keluar mencari makan, sebentar lagi dia pasti kembali," ujar Sophia memberitahu.
"Apa... naga itu jinak?" tanya Albert penasaran sambil terus mencuri pandang pada Luca.
"Dia cukup jinak dan baik, buktinya dia menolong kalian yang hampir mati di air terjun kan?" sahut Sophia.
"Kau benar," balas Albert.
Sang Penunggang yang baik dan tunggangannya yang jinak, Albert berfikir bagaimana mungkin banyak ramalan mengatakan mereka adalah Sang penghancur bumi.
"Oh kau sudah sadar rupanya," ujar Damien sambil berjalan masuk.
Albert mengangguk, Damien hendak memberikan buah-buahan yang ia temukan untuk Albert. Tapi tiba-tiba kepalanya terasa pening hingga membuatnya jatuh.
"Damien!" seru Albert dan Sophia berbarengan.
Dengan sigap mereka merangkul tubuh Damien yang tiba-tiba lemas, terus memanggilnya sebab Damien kelihatan kehilangan kesadaran secara perlahan.
"Damien, kau baik-baik saja?" tanya Sophia cemas.
"Uh, ya.. " sahut Damien beberapa detik kemudian.
Ia bangkit dan duduk sambil memegang kepalanya, masih merasakan sensasi pening yang cukup mengganggu.
"Ada apa? kenapa kau tiba-tiba jatuh?" tanya pula Albert.
__ADS_1
"Alessa, dia mencoba menghubungi ku lewat sihirnya."
"Sungguh?" tanya Albert.
"Dia mengirim pesan untuk kita, ingat pangeran vampire yang kita temui? mereka bersekutu dengan para raja untuk menemukan kita dan memberi hukuman sebagai pengkhianat dunia," ujar Damien.
Albert terdiam, tak heran jika mereka di buru karena tak mau menyerahkan Sophia bahkan melindunginya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.
"Pergi!" sahut Sophia.
"Kita tidak akan pernah aman jika terus bersama, kalian harus pergi ke hutan kegelapan seperti rencana sebelumnya."
"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Albert.
"Aku dan Luca bisa bersembunyi di sini," sahutnya.
"Tapi sampai kapan? Luca harus keluar untuk cari makan begitu juga kau! cepat atau lambat mereka pasti akan menemukan mu!" tukas Damien tak setuju.
"Ada satu tempat yang tidak ketahui siapa pun, aku dan Luca akan aman di sana."
"Itu adalah tempat untuk naga dan penunggangnya, tak ada yang bisa masuk kecuali kami," ujar Sophia tanpa menjelaskan lebih rinci.
Meski Sophia yakin ia akan aman tapi Damien benar-benar tidak bisa berpisah lagi dengan Sophia, ia ingin terus hidup di sisi gadis itu sampai keabadiannya habis.
"Albert adalah anak kejutan mu, dia lebih berhak atas dirimu dan kau tidak seharusnya egois. Bagaimana pun keselamatan Albert lebih utama di tanganmu," ujar Sophia mencoba memberi pengertian saat Damien menghirup udara segar di mulut gua.
Tangan hangat Sophia membelai leher vampire itu untuk memberikan sulur-sulur kehangatan yang tak boleh Damien lupakan, meski hatinya beku dan darahnya sedingin es tapi jiwanya tetap hidup dengan benak yang dipenuhi rasa kasih sayang.
"Kau begitu peduli padanya," komentar Damien.
"Aku telah merenggut banyak hal darinya, pertama buaian ibunya, lalu perhatian rakyatnya, hingga aku juga merenggut hatimu darinya. Tak ada yang bisa ku kembalikan kepadanya kecuali kau," ujar Sophia meratap nasib malang pangeran Meseress.
"Baiklah, aku akan pergi," ujar Damien pada akhirnya.
__ADS_1
Ia memang harus mengalah, memberikan hak Albert seutuhnya sebagai anak kejutan. Tepat sebelum matahari muncul mereka berpisah di mulut gua, Luca yang akan mengantar mereka ke daratan hutan sebab tak mungkin bagi Albert untuk turun dari tebing itu dengan aman.
"Sophia ambilah ini," ujar Albert memberikan potongan tanduk rusa.
"Aku mendapatkannya dari Alex, dia anak manusia serigala. Katanya jika seorang pria memberikan ini kepada gadis itu artinya sebuah lamaran, tapi aku ingin memberikan ini untuk mu sebagai bukti kasih sayang ku yang tulus. Apa pun yang terjadi kita adalah saudara," jelasnya.
Mata Sophia segera berkaca-kaca karena ucapan itu, padahal sudah banyak kesalahan yang ia perbuat dan menjadikan penderitaan bagi Albert. Tapi tetap saja Albert menganggapnya sebagai saudara, kini hutang itu malah semakin membengkak tanpa Sophia tahu harus dengan apa ia membayarnya.
"Jika sesuatu terjadi padaku, aku mohon jangan ragu untuk mengakhirinya," pinta Sophia dalam linangan air mata.
"Tidak akan ada yang terjadi padamu, kita akan hidup damai dan dipertemukan kembali," janji Albert dengan sungguh-sungguh.
Sophia mengangguk, memeluk satu-satunya orang yang ia anggap keluarga. Bersama Damien Albert pun naik ke atas punggung Luca dan melambaikan tangannya sebelum terbang menuruni lembah.
......................
Kabar persekutuan antara pangeran vampire dan para Raja tak hanya sampai ke telinga Alessa saja, tapi Cheet juga tentu mendengarnya.
Ia yang sudah tak peduli pada masa depan dunia dan hanya mementingkan balas dendam tak dapat menerima jika mereka yang membunuh Sophia, ia ingin tangannya sendiri yang membunuh Albert dan Sophia.
Maka pencarian pun kembali dilanjutkan, kini ia lebih menargetkan Albert yang memang rentan agar mudah di culik. Seperti yang sudah-sudah ia yakin jika Albert berhasil ia dapatkan Sophia pun akan datang dengan sendirinya.
Pencariannya membuahkan hasil yang cukup baik, ia menemukan jejak Albert menuju hutan kegelapan.
"Apa kita akan masuk?" tanya salah satu anak buah Cheet.
"Kenapa? kau takut?" tanya Cheet dengan nada keras.
"Ti-tidak, hanya saja... itu hutan yang sangat menyeramkan," sahutnya.
"Bodoh! itu namanya kau takut!" hardik Cheet.
"Jika kalian tidak berani masuk silahkan pergi dari sini, aku akan masuk sendirian."
Mengambil obor dari tangan anak buahnya tanpa ragu Cheet mulai melangkah masuk ke dalam hutan, baru satu langkah dan tubuhnya sudah ditusuk banyak duri serta ranting tajam.
__ADS_1
Hutan kegelapan bagai dimensi yang berbeda, begitu masuk meski saat siang tapi hutan itu cukup gelap bagai senja apalagi saat malam hari.
Tanpa memperdulikan kengeriannya Cheet terus melangkah menerjang pohon-pohon rambat yang menghalangi, sampai tiba-tiba telinganya mendengar sebuah jeritan yang entah berasal dari mana.