Surprise Child

Surprise Child
Bab 42 Pertempuran di Kastil Enyver


__ADS_3

Pergi saat matahari telah terbenam Sophia menyusuri hutan itu sendirian sambil sesekali menyerukan nama Damien dan Albert, tapi berjam-jam ia mencari tak ada yang menyahut kecuali angin.


Hampir putus asa akhirnya di depan sana samar dilihatnya tubuh seseorang tergeletak di tanah, dengan cepat ia berlari untuk memeriksa.


"Ah!" pekiknya kaget menemukan itu adalah mayat Cheet yang sudah mengeluarkan bau tak sedap.


Jelas pertempuran telah terjadi di sana, merasakan firasat buruk Sophia kembali berjalan menyusuri tempat itu sampai menemukan mayat-mayat lainnya.


Ada satu kelegaan dihatinya sebab ia tak menemukan mayat Damien atau Albert yang menandakan mereka masih hidup, tapi ia juga tak bisa tenang sebab belum pasti mereka baik-baik saja.


......................


Rasa dahaga kembali timbul saat ia bangun dari tidurnya, berjalan keluar untuk mencari minum sayangnya air bukanlah hal yang ia butuhkan.


Memutuskan untuk pergi keluar rasa kering terbakar yang menganggu hingga terasa menyiksa membuat jalannya sempoyongan, tanpa sengaja ia berpapasan dengan seorang pria dan hampir menabraknya.


"Hei! apa kau baik-baik saja?" tanya seorang pria yang hendak pulang itu.


"Apa kau mabuk?" tanya pria itu memperhatikan.


"Haus.... " jawabnya dengan suara serak.


"Oh kau ingin minum," ujarnya segera mengeluarkan botol air.


Ia menyerahkan botol itu kepada Albert namun Albert malah diam, matanya justru terpaku pada leher si pria yang entah mengapa ia bisa melihat darah mengalir di urat lehernya.


"Kenapa?" tanya pria itu bingung.


Albert memeluk pria itu dan membenamkan taringnya yang segera mencuat keluar di leher pria itu.


Aaarrgghhh..... Aaarrgghhh


Kesakitan pria itu menjerit sambil mencoba melepaskan diri, tapi dekapan Albert terlalu kuat hingga akhirnya ia malah jatuh pingsan. Kini dengan tenang Albert memuaskan dahaganya, namun setelahnya ia justru kaget dan menyesal atas apa yang telah ia lakukan.


Berlari menembus hutan ia berharap apa yang telah ia lakukan adalah sebuah mimpi mengerikan, tapi noda darah di sudut bibirnya basah yang mengartikan semua adalah nyata.


Hhhhh Hhhhhh Hhhhh


Lelah berlari ia mengatur nafas di atas batang pohon yang tumbang, gemetar tubuhnya karena tak siap akan perubahan drastis itu. Tapi ia harus kuat, teringat ucapan Damien mungkin ini sudah takdirnya untuk menjadi kuat dengan cara ini.


Tak berhasil menemukan Alessa satu tempat lagi yang bisa ia mintai tolong adalah Meg dan kawanan manusia serigala lainnya, bertempur dengan waktu agar ia sampai di tempat itu sebelum pagi langkahnya pun semakin di percepat.


Sayangnya hanya tinggal beberapa puluh kilo lagi sinar matahari pertama sudah muncul, memaksanya untuk mencari tempat teduh.


Beruntung ia menemukan sebuah gua, meski tak dalam tapi cukup aman untuknya beristirahat.


"Jadi ini rasanya menjadi vampire? tidak buruk, " gumamnya bicara sendiri saat sadar ia tak mudah kelelahan seperti biasa.


Tapi tetap saja saat matahari mulai meninggi ia semakin ngantuk dan akhirnya terlelap, anehnya meski tak berselimut atau pun tanpa api ia tak merasa kedinginan.


Kulitnya kini pucat bahkan wajahnya juga nampak seperti mayat, bangun saat malam tiba dahaganya kembali hadir menyiksa. Namun kali ini mendapatkan kewarasannya sehinga bisa mengontrol diri, ia berhasil menangkap babi hutan dan menghisap darahnya tanpa rasa bersalah ataupun jijik.


Melanjutkan perjalanan ia berhasil sampai dan disambut riang oleh kawanan manusia serigala itu, kedatangannya yang seorang diri tentu menaruh tanda tanya besar.


Albert segera menceritakan apa yang telah terjadi, semua yang ia ketahui dan asumsinya bahwa Damien telah ditawan.


"Kita harus segera menyelamatkannya," ujar Meg.


"Tapi aku tidak tahu dimana Damien di tahan," sahut Albert.


"Ada satu tempat yang pasti, kastil Enyver. Tidak salah lagi mereka menawan Damien disana untuk memancing kedatangan Sophia," sahut Meg.

__ADS_1


"Bagaimana kau tahu?" tanya Albert heran.


"Itu adalah tempat yang suci, tidak ada satu pun buku yang akan mengulas tentang tempat itu sebab beredar rumor siapa pun yang menyebarkan kengerian tempat itu akan di kutuk iblis. Tempat itu selalu di khususkan untuk melakukan ritual persembahan dan sejenisnya, letaknya juga strategis untuk sebuah pertempuran besar," jelas seorang wanita tua.


Untuk pertama kalinya Albert tak tertarik pada sebuah sejarah, ia tak peduli tempat apa itu yang terpenting adalah mereka harus segera menyelamatkan Damien.


Setelah berbagai pertimbangan mereka akhirnya menyusun rencana penyelamatan, Meg segera menyuruh semua anaknya untuk meminta bala bantuan pada kawanan manusia serigala yang tinggal di daerah lain.


Lusa malam mereka akan segera berangkat untuk misi itu, sementara Albert akan tinggal disana.


"Sepertinya kau sudah terbiasa," ujar Meg melihat Albert yang bersiap akan tidur saat pagi menjelang.


"Tidak juga, mungkin aku hanya terlalu fokus pada Damien sehingga melupakan betapa mengerikannya menjadi makhluk penghisap darah," sahutnya.


"Kau tahu sudah ribuan tahun vampire dan manusia serigala tidak akur, dua bangsa ini akan terus bertempur tanpa akhir. Kami sangat membenci vampire siapa pun mereka kecuali Damien, dan sekarang bertambah satu lagi vampire yang akan selalu menjadi saudara kami."


"Terimakasih Meg, itu sangat berarti bagi ku," ujar Albert tersenyum senang.


Saat yang di tunggu-tunggu telah tiba, para pemuda dari bangsa kawanan manusia serigala yang di pimpin Meg berpamitan kepada keluarga mereka dan meminta restu agar pertempuran itu mereka menangkan.


Sekali lagi Albert membuat anak-anak itu bersedih karena pertemuan mereka yang singkat, dengan janji bahwa ia akan kembali suatu hari nanti mereka memberi restu dengan tulus.


......................


Sophia mengetahuinya, kastil itu entah mengapa ada di benaknya begitu saja seolah mereka memiliki hubungan. Memutuskan untuk keluar dari sarang ia membawa Luca terbang di langit malam, melintasi hutan dan sungai hingga dari udara nampaklah kastil yang dibentengi pasukan.


"Damien... " serunya lirih menatap kekasihnya itu di pasung di balkon.


Saat ia membawa Luca terbang lebih rendah busur dan senjata jarak jauh lainnya segera disiapkan untuk melumpuhkannya, tak gentar Sophia membawa Luca turun hingga hinggap di ujung balkon.


Ketiga pangeran vampire dan para Raja yang sudah menunggu kedatangannya segera pergi ke balkon untuk menyambut.


"Damien!" panggil Sophia hendak berlari mendekatinya.


"Akhirnya kau datang juga," sambut Dimitri tersenyum senang.


"Lepaskan Damien!" perintah Sophia tanpa basa basi.


Matanya sudah basah karena tak tega melihat kondisi Damien yang memprihatinkan.


"Bagaimana jika kita permudah, aku akan membebaskannya dan sebagai gantinya adalah nyawamu," ujar Dimitri sebab ia pun sudah tak sabar ingin mencicipi darah Sang Penunggang.


"Tidak! jangan lakukan Sophia, mereka sudah membunuh Albert dan tidak mungkin melepaskan ku setelah mendapatkan mu!" seru Damien.


Tentu Sophia terkejut bukan main, bahkan ia sempat membeku untuk beberapa saat. Matanya yang sudah basah semakin sembab karena tak bisa menerima kenyataan itu, amarah pun perlahan memuncak hingga ke ubun-ubunnya.


Ramalan itu akhirnya menjadi kenyataan sesuai asumsi Damien, mata Sophia berubah biru dan mengeluarkan cahaya. Angin berputar-putar disekelilingnya yang kian membesar dan menyapu sekitarnya, tak hanya menerbangkan debu tapi juga prajurit yang siap berperang.


Rrrrooooaaaaarrrrr


Luca yang tadi anteng berubah agresif dan mulai terbang ke angkasa, seolah merasakan kesedihan Sophia ia membuat suara yang memekakkan telinga.


Tanpa perintah Luca mulai menyemburkan api dari moncongnya, memporak porandakan prajurit dan para Raja sementara ketiga pangeran mulai bersiap akan serangan dari Sophia.


Mereka bekerja sama mengitari Sophia dan mulai memberikan serangan demi serangan, namun ternyata bahkan mereka tak bisa mendekat lebih dari satu kaki karena ada perisai yang melindungi Sophia.


Sementara Damien hanya bisa menonton dari tempat ia di pasung, jauh dari lubuk hatinya sebenarnya ia tak tega melihat Sophia lepas kendali dan berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia kehendaki.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, jika memang seperti ini jalannya ia ingin berakhir bersama Sophia malam itu juga.


......................

__ADS_1


Dari kejauhan Albert bersama kawanan manusia serigala yang baru sampai dikagetkan akan amukan Luca yang terus membakar segala hal, ini menunjukkan bahwa Sophia berada di sana dan telah berubah menjadi Sang Penunggang.


Tak bisa membiarkan hal itu terus berlarut Meg segera memberi perintah kepada kawanannya untuk segera menyerbu kasti itu, sementara Albert akan mencari dimana Damien untuk menghentikan Sophia.


Jalannya setelah masuk ke dalam kastil rupanya tak mudah, para vampire seakan sudah bersiap menyambut kedatangannya.


Terpaksa ia harus melawan mereka satu persatu, jika ia masih manusia biasa bisa dipastikan melawan satu vampire saja ia tak kan sanggup.


Kini setelah berubah menjadi vampire tubuhnya mendadak kuat hingga bisa melawan banyak vampire bahkan menang dari mereka.


Sampai di puncak kastil ia melihat Damien di pasung tepat di tengah, sementara di sisi lain tiga pangeran masih berjuang melumpuhkan Sophia.


"Damien! kau baik-baik saja?" tanya Albert memilih untuk menyelamatkan Damien terlebih dahulu.


"Albert? kau masih hidup?" tanya Damien kaget.


"Tidak sepenuhnya," sahutnya.


Dengan satu tarikan ia membebaskan kaki tangan Damien dari pasung, membuat Damien heran darimana ia mendapatkan kekuatan besar itu.


"Albert... apakah.." tanpa menyelesaikan pertanyaannya Albert sudah mengerti.


"Ya, entah siapa yang membuat ku menjadi vampire," ujarnya.


"Pasti para pangeran itu," sahut Damien sambil bangkit berdiri.


"Tidak penting, sekarang kita hanya perlu fokus pada Sophia. Dia tidak boleh lebih dari ini," ujarnya.


Damien mengangguk setuju, mereka segera pergi mendekati Sophia yang kini tengah mencekik Jacspher. Mengangkatnya ke atas dengan mudah seolah tubuh vampire itu terbuat dari kapas.


"Sophia!" seru Albert memanggil.


Tapi Sophia seolah tak mendengar, malah Dimitri yang terkejut akan kedatangan Albert. Ia tak menyangka anak itu masih hidup dan sepertinya usahanya membuat Albert menjadi vampire sudah sukses.


"Percuma! dia sudah kehilangan kesadarannya," ujar Damien.


Tak mau menyerah Albert lebih mendekat lagi, tapi baru beberapa langkah Sophia melempar Jacspher tepat kearahnya sehingga ia ikut terjatuh tertimpa Jacspher.


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk


Terbatuk sebab kehilangan banyak oksigen Jacspher nampak tak peduli ia telah menyakiti Albert, bahkan ia hanya terkejut sedikit mendapati Albert masih hidup.


"Aku akan mengalihkan perhatiannya! cobalah untuk menyerang bagian belakangnya!" seru Dimitri berencana.


Jacspher dan Aro mengangguk, tapi Damien dan Albert yang mendengar hal itu tentu tidak akan diam.


"Jangan pikir kau bisa mendekatinya dengan mudah," ujar Damien menghadang Dimitri.


"Cih! kau selalu saja menyebalkan!" tukas Dimitri kesal.


Pertarungan antar mereka pun segera terjadi, begitu juga dengan Albert yang berjuang melawan Aro sementara Jacspher seorang diri mencoba melumpuhkan Sophia.


Di tengah sengitnya pertempuran itu rupanya Jacspher benar-benar bukan tandingan Sang Penunggang, entah bagaimana caranya Sophia berhasil menggenggam jantung Jacspher dengan tangannya.


Meremas kuat jantung itu hingga Jacspher meradang kesakitan sebelum akhirnya ia mencabutnya, membuat lubang besar di dada Jacspher yang kemudian membuatnya ambruk tak bernyawa.


Dimitri dan Aro yang melihat itu menjadi gusar, semakin lama kekuatan Sang Penunggang akan semakin besar hingga tak ada yang bisa menghentikannya dan hilanglah kesempatan mereka.


"Bodoh! biarkan aku membunuhnya! apa kau ingin dia menghancurkan seluruh alam semesta termasuk kau?" tanya Dimitri kesal.


"Aku lebih memilih hal itu yang terjadi dari pada melihatnya mati di tangan mu," sahut Damien bersikeras.

__ADS_1


Aaaaaaaaaa......


Tiba-tiba Sophia menjerit, tubuhnya merunduk sambil memegangi bahu kirinya. Nampak jelas ia kesakitan dari raut wajahnya, membuat mereka kebingungan dengan apa yang telah terjadi.


__ADS_2