Surprise Child

Surprise Child
Bab 26 Tanda Yang Samar


__ADS_3

Perlahan gumpalan air diatas kepala Sophia memperlihatkan sebuah gambaran yang awalnya tidak jelas, setelah beberapa detik jantung mereka dikejutkan oleh gambaran perang yang begitu mengerikan.


Damien sebagai vampire yang telah melihat berbagai macam perang sama sekali tidak ingat akan perang yang ia lihat itu, sebab para prajurit mengenakan zirah dengan simbol yang tidak ia ketahui.


Hal yang paling mengejutkan lainnya adalah gumpulan air itu memperlihatkan naga besar yang menyemburkan api lewat mulutnya, sementara Sophia berada diatasnya seperti komando.


Terkesiap mereka sadar bahwa Ursula tidak membual, ancaman masa depan benar-benar berada didepan mata.


Byurr..


Puan Sihir menghentikan mantra seketika, membuat air itu jatuh tepat mengguyur Sophia. Butuh waktu untuk pulih dari rasa sakit Sophia hanya terduduk dilantai mengatur nafas dalam keadaan basah kuyup, sementara mereka menatapnya dengan tatapan bingung.


Menimbang, segala pikiran muncul dalam benak Albert yang akan menentukan tindakannya.


"Apa... apa artinya?" tanya Sophia sambil mencoba bangkit sebab ia tak ikut melihatnya.


Sayangnya pertanyaan itu memunculkan sisi egois dalam diri Albert, membuat naluri pertahanannya mendominasi hingga pedang keluar dari sarungnya.


"Kau tidak boleh hidup," jawab Albert pelan.


Tanpa aba-aba ia maju dengan posisi siap menyerang, tak ada waktu untuk menghindar Sophia berkeyakinan hidupnya akan segera berakhir.


Trang!


Bunyi nyaring itu cukup memekakkan telinga, terkesiap Albert melotot pada pedangnya yang patah menjadi dua. Sementara Damien menatapnya dingin dengan aura jahat yang penuh tekanan.


"Jangan coba-coba," ujar Damien memperingati.


"Apa kau gila? kau melindungi Sang Penunggang! dia akan menghancurkan seluruh alam hanya demi kekuasaan!" teriak Puan Sihir.


Jelas Damien tahu apa yang ia lakukan adalah salah, tapi melihat gadis yang ia cintai akan meregang nyawa ditangan anak kejutannya adalah hal yang tidak bisa ia terima.


"Pergi... " ucap Damien sambil menengok ke belakang pada Sophia.


Tapi Sophia tetap berdiri disana, menatap Albert bagai orang asing yang tidak pernah berbagi tawa dengannya. Rupanya hanya dengan mengetahui bahwa mereka bukan saudara seketika hubungan itu bisa putus.


"Pergi!" teriak Damien menyadarkan.


Berlinang air mata kekecewaan Sophia mulai melangkahkan kakinya, Puan Sihir siap mengejar tapi Damien berlari mendahului untuk mencegahnya.


"Kau akan menyesal atas apa yang telah kau lakukan," ujar Puan Sihir tegas.


Damien tahu itu dan dia siap menerimanya.


......................


Entah ia sudah berlari sejauh mana, ia tak pernah menengok ke belakang meski tahu tidak ada yang mengejarnya.


Isak tangis tak mau berhenti meski beberapa menit lamanya sudah terlewat, hingga akhirnya kakinya mencapai batas dan menjatuhkan tubuhnya diatas daun-daun gugur.


Ia menutup mata, tapi yang ia lihat adalah ekspresi Albert yang nampak takut dan benci kepadanya. Perasaan sedih karena kecewa tanpa ia sadari memunculkan sebuah tanda samar di keningnya.


Tanda yang sempat Ursula singgung waktu itu, berkaca pada air di sungai kini ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sebagai sang Penunggang.


Puan Sihir menjelaskan bahwa ia tak bisa lari dari takdirnya namun ia tetap bersikukuh tak ingin menciptakan dunia yang hanya dikuasi bangsa Elf, akhirnya ia memutuskan akan berkelana bagai pengecut yang melarikan diri.


Sementara Damien membawa Albert pulang ke suku Zimbe dan memerintahkannya untuk tetap tinggal disana.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Albert.


"Aku akan mencari jalan untuk menghentikan Sophia," sahutnya.


"Ilmu pedang ku tidaklah lemah, bawa aku kemana pun kau pergi."


"Berhentilah bersikap seperti anak kecil! kau adalah anak kejutan ku dan sudah semestinya kau mengikuti perintah ku!" bentak Damien yang tak bisa mengontrol emosinya.


Albert terdiam, merasa kesal atas perlakuan Damien tapi tak bisa membalasnya.


"Dengar, Ursula pasti akan mencarimu untuk menjadikanmu tumbal. Meski aku kuat tapi belum tentu aku bisa mejagamu terlebih disiang hari, hanya tempat ini yang aman untuk mu jadi tetap bersembunyi sampai aku datang menjemputmu."


Albert hanya mengangguk, membiarkan vampire itu berbalik untuk meninggalkannya.

__ADS_1


"Dengar, aku menyayangi Sophia seperti saudara. Tapi kenyataan bahwa dia adalah ancaman besar jika tak ada jalan lain maka tanpa ragu aku akan menghunuskan pedang ku lagi dan kau pun harus melakukannya tanpa ragu," ujar Albert.


Damien tak merespon, ia terus berjalan melewati gua itu dan memulai perjalanan.


Satu tahun yang lalu saat mengetahui Sang Penunggang telah lahir Damien pikir Ursula mengincar Sophia demi menjadikannya tumbal.


Oleh karena itu ia datang menghadap para pangeran vampire untuk menceritakan apa yang terjadi, ada sebuah kisah kuno yang menjadi mitos dibangsa vampire.


Mitos itu menyebutkan bahwa darah Sang Penunggang dapat membuat vampire kebal pada sinar matahari, oleh karena itu ia membuat perjanjian dengan para pangeran vampire.


Ia meminta perlindungan untuk Sophia dan sebagai gantinya ia akan membuka jalan persekutuan agar para pangeran dapat andil dalam menumbangkan Sang Penunggang.


Sudah ribuan tahun bangsa lain khususnya bangsa manusia tidak lagi menjalin hubungan dengan vampire, itu karena vampire penuh tipu daya dan serakah.


Mereka memang terkenal dengan bangsa yang abadi dan kuat, tapi semenjak tahu kelemahan vampire bangsa manusia tidak mau lagi tunduk dan melawan mereka yang akhirnya mengakibatkan bangsa itu tidak lagi dipandang.


Tentu itu sangat merugikan, untuk setetes darah saja kini mereka harus mencari sendiri tak seperti dulu yang terus dilayani oleh bangsa lain.


Diantara banyaknya vampire hanya Damien yang memiliki hubungan baik dengan semua ras, itu karena ia melepaskan diri dari para pangeran vampire sehingga kehadirannya tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.


Sebenarnya ini adalah kisah Damien yang terjadi ratusan tahun yang lalu, saat itu ia hanyalah vampire muda yang arogan.


Ia tidak mau tunduk kepada para pangeran karena merasa rugi harus bekerja keras mencari darah untuk para pangeran, perasaan tertindas itu membuatnya tunduk pada satu Raja dari ras manusia.


Mengetahui hal ini tentu para pangeran murka, ia tak habis pikir Damien mau tunduk dibawah kaki yang mana nenek moyangnya adalah budak mereka.


Alhasil bukan hanya kena tegur tapi ia juga kena hukuman berat, ia diminta untuk menghabisi Raja itu dan seluruh keturunannya tapi ia menolak.


Saat ia diambang kematian tak disangka Raja itu mengutus banyak pasukan untuk menyelamatkannya, Damien ditebus dengan budak milik Raja dengan jumlah seratus orang.


Semenjak itu para pangeran tidak boleh menyentuh Damien meski seujung rambut, Damien pun akhirnya terlepas dari para pangeran namun tetap diijinkan bertemu saudara satu rasnya.


Bertahun-tahun berlalu setelah Raja itu meninggal di usia senja Damien memutuskan untuk berkelana, menemui satu persatu ras dan menjalin hubungan baik dengan mereka meski tentu awalnya ia menerima penolakan.


Hasil kerja kerasnya membuahkan hasil yang manis, hingga kini namanya terkenal sebagai vampire yang dapat dimintai tolong.


Sementara ia melambungkan namanya diudara para pangeran vampire justru eksistensinya semakin tenggelam, namun tidak dengan kekuatannya.


Oleh karena itu ia meminta pertolongan untuk menjaga Sophia dengan imbalan ia akan memastikan ras lain menyetujui mereka sebagai Sekutu dalam misi menghabisi Sang Penunggang.


Tak disangka ternyata Sophia sendiri Sang Penunggang itu, tapi setidaknya untuk saat ini nyawa Sophia aman sementara ia mencari jalan untuk membebaskannya dari takdir Sang Penunggang.


Langkah pertamanya tentu menemui Alessa, ia menceriakan apa yang terjadi setelah mereka bertemu Puan Sihir.


Sudah bisa ditebak Alessa pun kaget mengetahui kebenarannya, ia tak menyangka yang bersama mereka selama ini adalah Sang Penunggang.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Alessa.


"Aku ingin mencari cara untuk membebaskannya dari takdir Sang Penunggang," sahutnya pelan.


"Damien kau tahu itu mustahil, itu sama saja dengan menyuruhmu mengganti darah dengan susu."


"Aku tahu tapi aku tidak ingin menyerah!" seru Damien yang membuat Alessa melongo.


Ia tahu vampire itu menyukai Sophia tapi ia tak menyangka perasaan itu lebih dari sekedar rasa suka biasa.


"Ada sebuah reruntuhan peninggalan nenek moyang bangsa Elf, kita bisa mulai dengan mencari tahu asal usul Sang Penunggang dan mungkin saja kita bisa menemukan jalannya," ujar Alessa pelan.


"Terimakasih, maaf aku telah membentak mu," sahut Damien menyesal.


"Ini adalah kali pertama kau bicara keras padaku hanya karena seorang gadis, jika dia sangat spesial untuk mu maka sebagai sahabat aku tidak mendukung keputusan mu."


"Sekali lagi terimakasih," ujar Damien.


Tanpa menunda waktu lagi mereka segera melakukan perjalanan itu, berbekal sebuah peta usang yang Alessa miliki mereka harus bergegas sebab waktu sedang dipertaruhkan.


......................


Dengan sebuah pisau bedah yang menjadi satu-satunya senjata yang ia miliki Sophia memotong rambut bagian depannya untuk membuat poni, sedikit merapikannya demi menutupi tanda samar di keningnya.


Perjalanan ini tidak akan mudah, apalagi ia tak tahu kemana ia harus pergi tapi lebih baik dari diam karena ia pun tak memiliki pilihan.

__ADS_1


Tidur beralas daun dibawah langit malam tanpa perlindungan tentu adalah hal yang paling membahayakan bagi seorang gadis, keamanannya sangat rapuh hingga bisa ditembus hewan buas kapan saja.


Tapi tak ada rasa takut bagi Sophia, anehnya juga ia justru merasa aman. Mengingat bahwa dirinya adalah ancaman bagi masa depan ia merasa nyaman hidup sendiri.


Tapi takdir tak membiarkannya benar-benar sendiri, saat berburu kijang kecil untuk santap siang hewan buruannya direnggut oleh serigala yang entah datang darimana.


Tak mau kalah Sophia mengejar hewan itu meski ia butuh tenaga ekstra untuk mengimbangi kecepatannya berlari, tak cukup hanya dengan tenaga ia tahu harus memutar otak agar berhasil merebut kembali buruannya.


Memutuskan menggunakan perisai untuk mengurung serigala itu terlebih dahulu ia harus menggiringnya ke tempat yang lebih terbuka, itu akan mempermudahnya membuat perisai saat sedang berlari.


Dengan cara menyerangnya Sophia berhasil membuat serigala itu berlari kearah yang ia mau, saat tiba dihamparan rumput yang luas ia segera merentangkan tangan kedepan dan membuat perisai tepat dihadapan serigala.


Mendapati jalan buntu tepat di depan membuat serigala itu kehilangan sedikit keseimbangan karena mengerem kakinya secara mendadak, dalam waktu sepersekian detik ia mencoba mengganti arah lari namun perisai Sophia berhasil mengurungnya lebih dulu.


Hhhhhhhh Hhhhhhhh Hhhhhhh


"Dasar hewan nakal!" gerutu Sophia sambil mengatur nafasnya yang seakan telah habis.


Memperhatikan serigala itu Sophia baru sadar bahwa ukurannya jauh lebih besar dari serigala normal, dan yang tak pernah ia kira tiba-tiba serigala itu berubah wujud menjadi seorang anak laki-laki sekitar berumur tigabelas tahun.


"Lepaskan aku!" perintah anak laki-laki itu dengan wajah penuh amarah.


"Kau... manusia serigala? pantas ukurannya lebih besar dari serigala kebanyakan," tukasnya tanpa menghiraukan perintah.


"Alex!" seru seseorang tiba-tiba.


Sophia menoleh, mendapati seorang wanita paruh baya ditemani seorang pemuda yang sebaya dengannya berjalan kearahnya.


Sophia menduga mereka adalah keluarga anak manusia serigala itu.


"Apa yang kukatakan tentang berburu? kau tidak boleh keluar sendirian," ujar wanita itu memandang tajam kepada si anak.


"Dia mencuri buruan ku," ujar Sophia memperjelas keadaan agar mereka tak salah paham.


"Maafkan aku, dia masih kecil dan labil. Bisakah kau melepaskannya?" tanyanya dengan suara lembut khas seorang ibu.


Sophia sedikit menghela nafas dan melepaskan perisainya, mengawasi Alex yang masih tak mau memberikan kijang itu kepadanya.


"Alex minta maaf dan berikan kijangnya," ujar pemuda itu yang sadar akan tatapan penagihan Sophia.


"Tidak! aku tidak merebutnya! di hutan ini siapa yang cepat dia yang dapat jadi kijang ini punyaku," sahut Alex dengan wajah cemberut.


"Baiklah kau boleh memilikinya, sampai jumpa," ujar Sophia yang kehilangan selera dan memilih untuk pergi.


"Tunggu!" sergah wanita itu.


"Alex sudah berlaku tidak adil padamu, kau pasti pendatang baru jadi biarkan aku menjamu mu sebagai permintaan maaf."


"Tidak, terimakasih. Aku akan melanjutkan perjalanan ku," sahut Sophia yang enggan bersosialisasi.


"Hari semakin gelap, hutan ini tidaklah seaman saat siang jadi sebaiknya kau ikut kami," ajak pula pemuda itu.


"Sekalipun aku mati itu bukan urusan kalian."


Mereka terkejut mendengar hal itu, bahkan Sophia sendiri ikut terkejut mendapati dirinya bisa bicara sekasar itu. Seolah itu bukan dirinya.


"Maafkan aku, maksudku... aku akan baik-baik saja," ralatnya.


"Kami punya selimut dan tempat tidur yang cukup nyaman, setelah kau istirahat aku yakin pikiran mu akan kembali jernih. Mari ikut kami," ajak wanita itu lagi yang seakan mengerti kegundahan Sophia.


Merenung sejenak akhirnya Sophia mengangguk, setidaknya hanya satu malam saja.


"Namaku Meg, ini Justine dan si kecil Alex," ujarnya memperkenalkan.


"Ibu berhenti menambahkan si kecil dalam namaku!" gerutu Alex yang merasa keberatan.


"Kau bisa memanggilku Sophia," sahutnya.


Meg mengerutkan kening kemudian kembali bertanya, "Apa kau anak kejutan Damien?".


Tentu itu pertanyaan yang mengagetkan, ia tak menyangka kawanan manusia serigala itu mengenal Damien. Meski kenyataannya Sophia adalah Sang Penunggang tapi demi keselamatannya ia menganggukkan kepala.

__ADS_1


" Oh Sophia, senang bertemu dengan mu. Damien sudah menceritakannya pada kami," ujar Meg kini dengan senyum sumringah.


"Apa yang dia ceritakan?" tanya Sophia cemas.


__ADS_2