
Ia baru membuka mata saat matahari sudah terbenam, dilihatnya para manusia serigala itu sedang sibuk menyiapkan makan malam. Tak ingin hanya merepotkan Damien segera bangun dan membantu mereka, setidaknya harus ada tenaga yang ia keluarkan.
Sementara Albert yang sudah bangun sejak tadi nampak sendang bermain dengan anak-anak, memberi mereka ilmu pengetahuan yang ia dapat dari membaca buku di Akademi.
"Meg, aku akan keluar mencari santapan. Kalian bisa makan tanpa aku," ujar Damien berpamitan.
"Baiklah hati-hati, nanti jangan sampai salah masuk lagi seperti kemarin," gurau Meg.
Ia mengerti Damien hendak mencari darah segar jadi ia mengijinkannya, sementara untuk gurauan jalan itu karena Damien menceritakan bahwa ia dan Albert sempat bingung hingga panik karena mereka terjebak di jalan buntu.
Meg tertawa geli atas apa yang menimpa mereka, ia tak menyangka Damien dapat begitu ceroboh hingga masuk ke dalam perangkap yang mereka buat untuk melindungi kawanannya.
Damien hanya beringsut malu, tak ada kata pembelian yang dapat ia utarakan.
Keluar dari gua angin dingin segera menyapanya, jika ia manusia tentu ia tidak akan tahan sebab pakaiannya yang cukup tipis membuat angin itu mampu membuatnya merinding.
Baru saja ia melompat turun dari mulut gua yang tempatnya berada di tengah tebing, tiba-tiba kepalanya terasa pening hingga membuatnya jatuh ke tanah.
Telinganya berdengung dan diantara suara dengungan itu terselip suara Alessa yang memanggilnya.
"Damien... kembalilah... anak mu ada bersama ku dan tengah menunggu mu," begitulah suara Alessa yang berulang-ulang terdengar.
Beberapa menit kemudian dengungan itu berhenti juga dengan suara Alessa, kepalanya pun sudah tak pening lagi.
Bangkit dengan jantung berdebar Damien tahu itu merupakan pesan dari Alessa, kehilangan rasa dahaga ia kembali masuk ke dalam gua dan segera menghampiri Albert.
"Kita harus pergi!" ujarnya.
"Apa? kenapa?" tanya Albert bingung sebab Damien tiba-tiba terlihat gusar.
"Alessa mengirimkan pesan padaku dan mengatakan anak kejutan mu ada bersamanya," jawab Damien.
Sontak hal itu membuat Albert segera berdiri, empat belas tahun sudah ia menantikan anak kejutannya dan sekarang Sophia benar-benar sudah menepati janjinya.
Tak mau membuang waktu Albert dan Damien segera berpamitan kepada kawanan manusia serigala itu, meski mendadak tapi Meg dan yang lainnya memberi mereka jalan.
......................
Sadar kini nyawanya dalam bahaya Sophia mencuri beberapa pakaian dan mengenakannya, ia juga memutuskan untuk membaur dengan rakyat biasa agar tidak mudah dikenali.
Beruntung ia masih memiliki beberapa uang untuk membeli kuda dan melanjutkan perjalanannya ke desa Tutua, ia berharap Latisha sudah sampai di sana dengan aman.
Tapi tiba-tiba ia menghentikan laju kudanya di tengah jalan.
"Tidak, aku tidak boleh pergi kesana," gumamnya.
Ia baru sadar jika ia pergi ke sana maka orang-orang yang memburunya akan tahu bahwa ia memiliki anak dan Latisha akan terancam bahaya.
Memutar balik Sophia memilih untuk kembali ke gua, dengan begini para pemburu itu tetap akan mengejarnya dan Latisha aman.
Sementara wanita siluman yang baru menemukan jejak Sophia di pinggir sungai berdecak kesal, padahal mangsa di depan mata tapi ia lolos begitu saja.
Mengikuti jejak kaki Sophia sayang sekali mengarah ke sebuah desa, ia tak bisa melanjutkan pencarian sebab ia tak suka tempat dimana orang-orang berkerumun.
Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke markas menemui Red, markas itu merupakan kastil tua yang tidak begitu besar. Red temukannya saat dalam perjalanan mencari jejak Sang Penunggang, pintu depan yang dijaga pengawal ia lewati dan langsung masuk ke ruang rapat dimana Red berada.
__ADS_1
"Kau sudah kembali Amora?" tanya Red.
"Aku menemukan Sang Penunggang, tapi sayangnya aku kehilangan jejak saat ia jatuh ke sungai. Perkiraan ku dia masuk ke desa," jawabnya.
"Kau terlalu banyak membuang-buang waktu," tukas Red.
"Hei! lalu bagaimana dengan mu? dasar penjilat!" gerutu Amora.
Mereka di angkat oleh Zaruta hampir bersamaan, jika Red adalah tangan kanan Zaruta maka Amora merupakan tangan kirinya.
Mereka di beri tugas yang sama yaitu membawa Sang Penunggang kepada Zaruta, dengan begini Zaruta berharap mereka tidak selalu bertengkar dan bisa bekerja sama.
Jika menyangkut kepentingan Zaruta mereka sama-sama dapat melakukan yang terbaik, tapi tetap saja mereka sulit untuk akur.
"Ayo pergi!" ajak Red.
"Kemana?" tanya Amora.
"Dia pasti hendak pulang ke guanya, jika kita cepat kita akan sampai sebelum dia masuk ke dalam."
Itu masuk akal, Amora pun bergegas ikut. Beruntung bagi mereka hari itu hujan turun sepanjang hari sehingga meski siang hari mereka tetap bisa melanjutkan perjalanan, sampai di tempat anak buahnya biasa mengintai mereka mendapat berita bahwa belum ada yang masuk atau keluar dari gua itu yang artinya Sophia belum sampai.
Setelah menunggu berjam-jam akhirnya anak buahnya memberitahu ada seorang wanita menunggangi kuda berjalan ke arah gua, Red pun segera menyuruh mereka untuk menghadangnya.
Ngiiiiiikkkk....
Kuda itu mengangkat kedua kaki depannya membuat Sophia terjatuh ke belakang, saat ia bangkit para vampire sudah berdiri mengepungnya.
"Akhirnya kita bertemu lagi," sapa Amora sambil berjalan ke depan menghadapi Sophia.
"Kali ini kau tidak akan bisa kabur jadi menyerahlah," ujar pula Red.
"Bagaimana ya? bahkan aku sudah membunuh para pengeran terdahulu jadi cecunguk seperti kalian rasanya tidak pantas berkata seperti itu," olok Sophia.
"Kurang ajar!" hardik Amora emosi.
Ia merubah wujudnya menjadi seekor ular, tapi Sophia lebih dulu melakukan kontak batin dengan Luca sehingga ketika ia hendak menyerah Sophia cakar Luca lebih dulu menghantamnya kuat hingga terjungkal.
Whuuusss... Whuuuussss...
Tanpa mendarat Luca terbang tepat di belakang Sophia, sayapnya yang lebar mengepak-ngepak membuat angin kencang yang menyapu para vampire hingga terbang cukup jauh.
Ini adalah kali pertama Red melihat Sang Penunggang bersama dengan naganya, tentu saja ia takjub akan kekuatan yang di miliki Sophia dan Luca.
Ssssssstttttt
Amora yang tak terima akan perlakuan itu kembali bangun dan merayap ke arah Sophia lagi, tanpa mengenal rasa kapok sekali lagi Luca menghadangnya.
Pertarungan antar hewan pun terjadi, Luca terus menberikan serangan dengan cakarnya sementara Amora mencoba melilit tubuh naga itu.
Tentu saja tubuh Luca yang besar tidak akan bisa Amora lilit karena ia kalah besar, tapi ia memiliki rencana untuk melilit leher Luca sampai naga itu kehabisan nafas.
Tentu saja Sophia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dengan rapalan mantra sebuah cahaya keluar dari tangannya. Setelah membidik Amora ia melepaskan cahaya itu untuk membuat ledakan yang dapat melukai tubuh Amora, dua bidikan telah sukses yang membuat Amora merayap pergi meninggalkan Luca.
Kembali merubah bentuk menjadi manusia nampak jelas kaki dan tangannya terluka karena serangan Sophia.
__ADS_1
"Cih, sialan!" gerutu Amora.
"Jangan gegabah! kita harus punya rencana," ujar Red memperingatkan.
"Luca berhati-hatilah, kau pasti yang paling diincar!" ujar Sophia membaca keadaan.
Luca menjawab dengan raungan, beberapa vampire kemudian kembali mengepung mereka. Luca pu terbang ke atas dan mulai menyemburkan api yang membakar para vampire itu, sementara Sophia melawan vampire yang mencoba menyerangnya.
Pertarungan sengit pun tak dapat terelakkan, sementara Sophia sibuk Red menambah kesibukan itu dengan ikut menyerangnya.
Mengambil pedang dari vampire yang sudah mati Sophia kini melawan Red menggunakan senjata, mereka beradu kekuatan dan mencoba saling melukai satu sama lain.
Teringat pesan Zaruta yang menginginkan hidup Sophia mau tak mau Red harus membatasi diri agar tidak membuat luka fatal pada tubuh Sophia, yang ia perlukan hanya melumpuhkannya saja.
Sementara Amora kembali berubah bentuk menjadi ular dan mencoba menyerang Luca lagi, berkat bantuan para vampire Luca menjadi terbang rendah dan di saat itulah Amora berhasil merayap di tubuh Luca dan militer sayapnya terlebih dahulu.
Krek
Ah
Sophia terhuyung, tangannya sakit luar biasa dan saat ia menatap langit Amora berhasil mematahkan sayap Luca.
"Tidaaaaaaakkk.... " teriak Sophia sambil menyerang dengan sihir.
Duaaarr...
Bruk
Sophoa berhasil menyerang Amora, tapi hasilnya Luca juga ikut terjatuh, bergegas berlari menyelamatkan Luca Amora yang kini berubah bentuk menjadi manusia lagi berjalan terhuyung dengan penuh luka.
"Brengsek!" seru Sophia tak bisa menahan emosinya.
Sreeet
Ah
Satu serangan yang Sophia berikan telah memisahkan kepala dari tubuh Amora, darah menyembur keluar dari potongan leher itu. Memandikan pedang yang di pegang Sophia dengan warna merah yang mengkilap di bawah cahaya bulan.
Red yang menyaksikan hal itu tiba-tiba merasakan tekanan kuat pada tubuhnya yang membuatnya tak dapat bergerak, sementara Sophia mengambil kepala Amora yang memiliki ekspresi terkejut.
Kepada Red ia menyerahkan kepala itu, matanya tajam menatap Red seakan siap untuk melahapnya.
"Katakan pada tuan mu terimakasih atas sambutan yang ia berikan, berikan ini padanya dan bilang aku menantikan malam perjamuan di kastil Enyver," ujarnya dingin.
Ini adalah kali pertama Red tak bisa bergerak, tanpa ia sadari giginya bergemelatuk kedinginan padahal vampire tak kenal rasa dingin.
Tak menyahut ia segera memerintahkan anak buahnya untuk mundur, meninggalkan Sang Penunggang yang tengah berduka.
Setelah amarahnya sedikit mereda ia mencoba mengobati Luca sebisanya, tapi patah tulang tak bisa ia sembuhkan dengan sihirnya.
Maka Sophia pun memanjat tebing itu untuk masuk ke dalam dunia Naga, ia memanggil anak Luca yang menjadi tunggangan Latisha.
Diperintahkannya untuk membawa Luca masuk ke dalam dunia Naga, di sana Luca akan di rawat oleh para Naga lainnya.
"Kau memiliki kontak batin dengan Latisha, katakan padanya akan ada sebuah pertempuran besar kedua di kastil Enyver. Kali ini aku akan mengakhiri para vampire itu," sumpah Sophia.
__ADS_1
Kali ini jika ia harus mati ia sama sekali tak keberatan, Latisha masih memiliki Damien dan Albert untuk hidup. Semua petaka ini berawal darinya maka ia telah membulatkan tekad untuk mengakhirinya.