Surprise Child

Surprise Child
Bab 37 Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Meski menang dari bangsa Elf tapi aliansi itu tidak bisa menutup kecemasan mereka, selama Sang Penunggang masih hidup dan entah berada di mana mereka terus melakukan segala upaya untuk perdamaian dunia.


Terus saling mengabari dalam misi pencarian Zaruta datang dengan kabar yang cukup mengejutkan para Raja, itu adalah pesan dari tiga pangeran yang ingin menyatukan kekuatan demi mewujudkan impian semua orang.


"Katakan pada tuan mu untuk datang di seperempat malam, kami akan mendengarkan," ujar Raja Thomas.


Sudah ratusan tahun mereka menganggap vampire tidak pernah ada kini mereka harus mau menerima kehadiran mereka dengan terpaksa, semua demi menemukan Sophia semata.


Tiga pangeran menyanggupi permintaan Raja Thomas dan datang sesuai permintaan, tanpa adanya pengawal hanya tiga pangeran dan Zaruta saja.


Di istana megah milik Raja Thomas para raja dan tiga pangeran bertatap muka untuk yang pertama kalinya, saling melempar pandangan yang mengawasi satu sama lain.


"Maaf karena tidak ada sambutan yang pantas untuk kehadiran kalian," ujar Raja Thomas mengawali rapat itu.


"Jangan dihiraukan, kami sudah terbiasa dianggap tak ada," sahut Dimitri.


"Bagaimana jika kita langsung pada intinya," ucap Raja Salim.


Seperti yang diharapkan Dimitri para manusia itu memang tidak sabaran, ia pun mengatakan tentang rencana yang ia bangun untuk membuat Sophia keluar dari sarangnya.


"Apa kau yakin ini akan berhasil?" tanya Raja Thomas sedikit tak yakin.


"Kita bisa mencobanya, bukankah lebih baik dari pada pencarian yang tidak kunjungan membuahkan hasil?" sahutnya.


Raja Thomas sadar hal itu ada benarnya, maka ia pun menerima saran itu sekaligus persekutuan mereka.


......................


Memutuskan berjalan menyusuri sungai langkah mereka berhenti saat melihat air terjun yang curam, tak ada jalan aman kecuali masuk ke hutan namun Albert tak menyukainya.


Ia berdiri di tepian sungai sambil mencari cara untuk turun ke bawah sana dengan aman.


"Kenapa kau mau membuang waktu untuk hal yang tidak berguna? kita bisa mengitari hutan dan kembali ke aliran sungai dengan aman," ujar Damien mulai kesal sebab Albert terlalu lama diam.


"Tidak, hutan ini terlalu gelap. Mungkin ada satu jalan," ujarnya.


Damien tidak mengerti mengapa Albert bersikukuh, ia pun hanya memperhatikan pemuda itu meloncat ke satu batu untuk melihat seberapa curam air terjun itu. Menatap ke seberang sungai ia berfikir mungkin bisa menyebrang dengan aman dan turun dengan berpegangan pada akar-akar pohon.

__ADS_1


"Apa menurut mu akar-akar itu cukup kuat?" tanya Albert sambil menengok.


"Mungkin, tapi kurasa akan sulit berpegangan karena licin."


"Begitu, mungkin kita tidak harus menyentuh akarnya secara langsung. Kita bisa gunakan kain dulu," ujar Albert.


Ia meloncat lagi pada satu batu, namun karena jaraknya yang cukup jauh ia salah perhitungan sehingga kakinya tergelincir.


Byuurrr...


"Albert!" teriak Damien kaget melihat Albert jatuh ke sungai.


Tanpa pikir panjang ia segera menceburkan diri ke sungai, mencoba meraih tangan Albert yang menggapai-gapai diatas permukaan air.


Sayangnya aliran sungai yang deras membuatnya sulit untuk berenang, itulah yang membuat Albert terbawa arus dengan cepat dan hampir tenggelam.


Sebisa mungkin mereka terus menyembulkan kepala ke atas permukaan air untuk menghirup udara, tapi semakin mereka dekat pada ujung air terjun aliran airnya semakin deras yang membuat Albert sulit untuk bertahan hingga tanpa sengaja kepalanya membentur batu.


Tubuhnya mulai tenggelam dibawa arus hingga akhirnya jatuh di air terjun, Damien yang ikut jatuh sekilas melihat sebuah bayangan hitam melesat ke arah mereka dan merasakan sesuatu mencengkram tubuhnya.


Diatas udara ia baru sadar bahwa sosok itu adalah naga besar, mencengkram tubuhnya dan Albert dengan cukup kuat hingga membuatnya sulit untuk bergerak.


"Uh, Albert!" seru Damien segera memeriksa tubuh anak kejutannya.


"Sial!" gerutunya saat menemukan darah segar keluar dari luka dikepalanya.


Bingung harus bertindak apa ia melihat sang naga seolah mengawasi mereka, tetap berdiri di mulut gua seakan takut mereka akan kabur.


"Luca? ada apa?" tanya seseorang dari dalam gua.


Damien menoleh dan alangkah terkejutnya ia saat melihat itu adalah Sophia, begitu juga dengan Sophia yang tak menyangka akan bertemu mereka.


"Damien!" panggil Sophia segera memeluk.


"Sophia, kami mencarimu selama ini. Apa kau baik-baik saja?" tanya Damien tak bisa menutupi kekhawatirannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Sophia terpaku pada Albert yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Dia terluka," sahut Damien.


"Cepat bawa dia masuk!" perintah Sophia.


Naga itu ikut masuk kedalam saat Damien membawa tubuh Albert masuk, diatas batu besar yang diterangi cahaya api ia membaringkannya untuk segera Sophia obati.


"Dia akan baik-baik saja," ujar Sophia kepada Damien setelah selesai mengobati Albert.


"Apa dia naga mu?" tanya Damien menatap naga yang sedang meringkuk.


"Namanya Luca," sahut Sophia.


Damien tiba-tiba menyentuh pipi Sophia yang membuatnya tersentak kaget karena dingin, tapi kemudian ia terbiasa dan membiarkan Damien membelainya.


Saat ibu jari Damien memainkan bibirnya Sophia kembali merasakan sensasi aneh yang sudah lama ia rindukan, tak mampu untuk menahannya lagi meski dingin Sophia membiarkan Damien melakukan apa yang mereka mau.


Hanya beberapa menit sudah cukup, masih terbalut pakaian yang berantakan sesekali kecupan ringan Damien berikan di kening Sophia.


"Apa kau merasa aman disini?" tanya Damien pelan.


"Ya, Luca dan aku hidup damai tanpa diketahui siapa pun."


"Kalau begitu kami juga akan tinggal di sini," ujar Damien memutuskan.


"Tidak Damien, kalian harus pergi!" sergah Sophia yang membuat Damien mengerutkan kening.


"Kenapa?" tanya Damien.


Sophia menelan ludah, dengan tatapan takut ia menjawab "Karena aku Sang Penunggang."


Saat itu hari dimana ia menatap mata Luca untuk yang pertama kalinya, jiwanya kembali melayang untuk yang ketiga kalinya. Tanda di keningnya sudah jelas terlihat yang menunjukkan bahwa ia siap menjadi Penunggang, tapi kemudian apa yang ia lihat di mata Luca adalah masa depan mereka yang suram.


Seperti yang dikatakan semua orang dia dan Luca adalah bencana, mereka akan menghancurkan semua yang ada di depan mata dan memaksa yang hidup untuk tunduk.


"Aku harus tetap sendirian, terisolir dari dunia luar seperti suku Zimbe. Hanya itu satu-satunya cara agar aku tidak menjadi Sang Penunggang yang menghancurkan," ujar Sophia.


"Bagaimana bisa kau yakin akan hal itu?" tanya Damien tak terima.

__ADS_1


"Tanda di kening ini sudah nampak jelas saat aku bertemu Luca, tapi aku masih memiliki kewarasan ku. Itu artinya kami memang harus di sini untuk selamanya," jawab Sophia.


Damien masih enggan menerima keputusan Sophia, tapi ia berhenti berdebat dan memilih memeluk gadis itu untuk waktu yang lama.


__ADS_2