Surprise Child

Surprise Child
Bab 34 Tanda Di Kening


__ADS_3

Menyusuri hutan tanpa meninggalkan jejak adalah cara terbaik untuk bersembunyi, sepanjang perjalanan dalam menyusul Sophia yang ditawan Cheet tak ada sepatah kata pun yang terucap di bibir mereka.


Damien sangat paham kondisi hati Albert saat ini yang enggan diusik, oleh karena itu ia membiarkan pemuda itu larut dalam lamunannya sendiri.


Tapi rupanya Albert tidak sedang merenungi nasib tragisnya yang di tinggal mati oleh kekasih, justru ada hal lain yang mengusik benaknya hingga ia bicara meminta pendapat.


"Apakah mungkin semua ini sudah diatur?" tanyanya tiba-tiba.


"Apa maksud mu?" balas Damien bertanya.


"Ilmu pedang ku tidaklah hebat apalagi saat kondisi tubuhku lemah setelah di tawan, aku ingat saat menghunuskan pedangku pada Ursula dia bisa saja menangkisnya dengan mudah tapi justru ikut menggenggam pedang ku, dan... ya! dia sengaja menghunuskan pedangnya pada sisi kiriku seolah akan menusuk perutku!" jelasnya berasumsi sambil mengingat peristiwa naas itu.


"Tunggu! maksud mu Ursula sengaja membiarkan mu membunuhnya?" tanya Damien meringkas.


"Aku tidak begitu yakin, tapi itulah yang aku rasakan."


Damien diam segera berfikir, ada kemungkinan hal itu benar terjadi tapi apa tujuan Ursula melakukan hal ini tidak mudah ditebak.


"Bukankah ia justru rugi karena melakukan hal ini? dia kehilangan nyawa dan istana yang sudah susah payah ia renggut pasti hancur begitu saja," ujar Damien.


"Tapi aku merasa ia sudah mengatur segalanya," ujar Albert bersikukuh.


"Sudahlah, kita pikirkan sambil mencari Sophia," sahut Damien kembali berjalan.


......................


Seekor tupai sebesar kepalan tangan orang dewasa berlari cepat menuruni batang pohon, mengambil biji ek yang belum lama jatuh dengan kedua tangannya yang mungil.

__ADS_1


Mengendus beberapa kali sambil memutar biji ek di tangannya seakan ia sedang memeriksa itu adalah biji yang bagus, ia hendak kembali ke atas pohon untuk masuk ke sarangnya saat instingnya aktif secara tiba-tiba.


Sebuah gerakan tangan yang jatuh menimbulkan suara halus yang membuatnya terpaku, dengan cepat ia berlari ke akar pohon untuk berlindung. Namun setelah beberapa detik lamanya tak ada apa pun yang terjadi, penasaran tupai itu berlari perlahan menuju sumber suara.


Menemukan tangan dengan pergelangan yang memar ia mengendusnya beberapa detik, membuat Sophia terbangun karena sentuhan geli itu.


"Mmmmm... " ia menggeliat, menakuti tupai itu sampai lari ke atas pohon.


Melirik kiri kanan ia ingat tertidur tadi malam karena lelah berlari seharian, beberapa detik setelah ingatannya benar-benar kembali justru yang ia ingat hanya saat berdiri terpaku sementara Cheet dan para anak buahnya terkapar di tanah tanpa penjelasan.


Ia ingat sempat memeriksa tubuh mereka dan tidak menemukan luka apa pun, meski keheranan tapi ia memilih kabur selagi sempat.


Perutnya yang keroncongan ditambah lelah seharian berjalan dan berlari membuatnya tidur dibawah pohon ek tanpa perlindungan apa pun, beruntung selama tidur tak ada hewan buas atau apa pun yang menyakiti dirinya.


Bangun dengan rasa lapar dan dahaga membuatnya cepat mencari sesuatu untuk dimakan, beruntung beberapa langkah berjalan ke depan menyusuri hutan ia menemukan pohon pir yang lebat buahnya.


Berjam-jam ia berjalan hingga matahari siap untuk terbenam, tepat didepannya sebuah tebing curam berdiri megah bakal istana dengan cat hitam.


Di tengahnya ia bisa melihat sebuah lubang besar yang kemungkinan adalah gua, cukup penasaran entah mengapa Sophia memilih untuk menaiki jurang terjal itu.


Tentu tidak mudah karena permukaannya yang sedikit licin membuatnya hampir terjatuh beberapa kali, itu membuatnya kelelahan dengan cepat saat adrenalin memompa jantungnya secara terus menerus.


Tepat saat sang surya temaram akhirnya ia sampai di atas sana, membantingkan tubuhnya diatas bebatuan yang kasar ia segera mengatur nafas.


Sreet Tuk Tuk Tuk


Kerikil kecil berjatuhan ke bawah jurang saat ia berdiri, rupanya tempat itu lebih mengerikan dari yang terlihat. Tergelincir sedikit saja ia bisa jatuh dan mati mengenaskan dibawah sana dengan tubuh yang berserakan, ini membuatnya harus berhati-hati dalam setiap langkah.

__ADS_1


Masuk ke gua seperti yang diperkirakan suasananya gelap tanpa ada penerangan, karena tak menemukan apa pun yang bisa digunakan untuk membuat api Sophia memutuskan berjalan perlahan dengan menempel di tembok gua.


Meraba-raba apa pun yang bisa dicapai tangannya sampai matanya terbiasa dengan kegelapan itu, ternyata gua itu lebih dalam dan luas namun tak bau lembab seperti gua kebanyakan.


Justru ia seperti mencium aroma minyak dan gosong, seperti sesuatu sering terbakar di sana.


Bum


Tiba-tiba gua bergetar, dengan cepat Sophia berpegangan pada bebatuan sambil meringkuk. Pikirannya sudah melayang pada kematian tragis yang akan ia jalani saat gua itu runtuh karena gempa, tapi getaran hebat itu berhenti.


Bum


Saat getaran yang kedua Sophia merasa ini bukanlah bencana alam melainkan seperti langkah raksasa, diam-diam ia mengawasi sekitar sampai menemukan sosok yang membuat getaran hebat itu.


Meski dalam kegelapan ia bisa melihat moncong besar dengan lubang hidung yang mengeluarkan asap, lalu mulutnya terbuka dan tiba-tiba api menyembur keluar membakar sesuatu di pinggiran gua sehingga kini ia bisa melihat dengan jelas sosok itu.


Matanya biru jernih seperti samudera, kulitnya di penuhi sisik yang berkilauan diterpa cahaya. Membuat berbagai warna cantik mulai dari hijau sapphire hingga emas, namun satu yang membuat mata Sophia tak bisa berpaling adalah pada warna merah dari darah yang menetes keluar dari ujung sayapnya.


Menelan ludah Sophia memiliki keinginan kuat untuk mencoba mengobati luka itu, tapi ia terlalu takut menghadapi makhluk itu sehingga butuh beberapa menit lamanya hanya untuk menyiapkan diri.


Perlahan berjalan keluar ia mengangkat kedua tangan diatas kepalanya tanda menyerah, tentu kehadiran Sophia yang tiba-tiba itu membuat makhluk itu bangkit dan siap menyemburkan api.


"Tunggu! aku tidak berniat jahat!" seru Sophia.


Mereka saling bertatap mata, tanpa Sophia sadari ia sudah masuk ke dalam benak makhluk itu. Tanda di keningnya kini telah jelas terlihat, membawa jiwanya pada tunggangan yang berdiri gagah tepat dihadapannya.


Ia bisa melihat apa yang makhluk itu lihat selama ini, kehidupannya hingga luka yang ia terima di ujung sayapnya.

__ADS_1


Sang Penunggang dan naganya kini telah dipertemukan takdir, siap menjalani apa yang telah digariskan kepada mereka.


__ADS_2