
Suhu di ruangan itu menurun drastis, perlahan setiap benda tertutup es tipis seperti kaca. Api lilin-lilin bergoyang meski tak ada hembusan angin, menari kekiri dan kanan tanpa iringan musik.
Tepat ditengah ruangan sudah sepuluh menit Ursula duduk, memejamkan matanya sambil mengeluarkan asap putih tipis dari mulutnya.
Meski udara di sekitar semakin menipis dengan tingkat kedinginan yang membekukan tapi tubuhnya sendiri panas hingga mengeluarkan bulir keringat.
Saat ini ia tengah mencoba melakukan sihir terkuat yang pernah diajarkan padanya, itu adalah sihir yang mampu membuatnya memasuki alam bawah sadar seseorang dan membuatnya menuruti perintah.
Tujuan dari sihir ini adalah keinginan Ursula untuk segera melaksanakan ritual pembangkit Sang Penunggang, karena tidak tahu dimana Sophia berada dan karena gadis itu bersikeras menolak maka tak ada pilihan selain menjadikannya boneka.
Sayangnya sihir ini memiliki resiko yang cukup merugikan bagi si pengguna, jika ia gagal jiwanya akan terperangkap pada kegelapan sehingga membuatnya tidak waras.
Bila dia berhasil pun tetap ada resiko yang harus dia ambil, itu adalah dimana setengah usianya terpotong. Artinya ia memiliki rentan usia manusia normal dimana saat ini ia telah masuk usia lima puluh sehingga rawan akan kematian renta.
Berbekal nama dan ingatan akan rupa Sophia mudah menemukan diaman ia berada, namun cukup sulit meracuni pikirannya jika ia sedang tersadar.
Karena itu Ursula memilih waktu malam hari, dimana bisa dipastikan ia sudah terlelap. Masuk melewati mimpi gadis itu ia menggunakan rupa Albert, mengoceh tak jelas untuk memikat rasa penasaran Sophia.
Tentu, dengan perlahan dikegelapan itu Sophia mendekati Albert yang memunggungi dirinya. Menepuk pundaknya dengan ringan Albert cepat menoleh, menunjukkan matanya yang merah dan sembab.
"Salahmu! salah mu! ini semua salah mu! kau merenggut kasih sayang orangtuaku! kau merenggut posisiku! kau mengambil Damien ku! kau perusak hidup ku!".
Teriakan demi teriakan itu terus melengking hingga membuat Sophia merasa sakit dibagian kuping dan berdenyut kepalanya, menggeleng ia mencoba menepis semua tuduhan itu namun Albert tak mau berhenti.
Puas menggunakan rupa Albert Ursula berganti menjadi putri Agrarta, tersenyum padanya seperti ibu yang dipenuhi kasih sayang.
"Sophia.... Sophia... kenapa kau tega menyakiti Albert? aku sudah memberimu segalanya bukan? kenapa kau tega?" suara itu mengalun lembut namun tajam menusuk hatinya.
Mata Sophia menjadi basah karenanya, ia ingin membela diri tapi tak ada kata yang mampu terucap.
Kini Ursula berubah menjadi pangeran Thodor, dengan tatapan yang sarat akan tuduhan ia berkata "Andai aku tahu kau adalah Sang Penunggang maka hari itu aku tidak akan menyelamatkan mu dari kematian akibat perang, sungguh sia-sia aku membesarkan mu di istana dengan bergelimang harta. Kini kau justru akan membinasakan kami semua!."
"Tidak..... " untuk pertama kalinya suara keluar dari tenggorokan Sophia.
Ia jatuh terduduk, menundukan kepala membiarkan air mata membanjiri pakaiannya.
"Sophia... " kini Ursula menjadi Damien, memanggilnya dengan suara yang sendu.
"Damien?" sahut Sophia mendongak.
"Kenapa kau berbohong? kau bukan anak kejutan ku, kau bukan siapa-siapa bagiku, kau tidak penting."
"Tidak! Damien... " panggil Sophia saat wujud Damien perlahan memudar.
"Andai kau tahu tidak ada seorang pun yang akan menerima mu didunia ini kecuali bangsa mu sendiri," ujar Ursula kini dengan wujudnya yang sebenarnya.
Sophia berbalik, menatap Ursula dan bangkit.
"Datanglah padaku Sophia... raih tangan ku... bersama kita hidup bahagia di dunia yang kita inginkan," ajak Ursula sambil mengulurkan tangannya.
Sophia meragu, tatapannya tertuju pada tangan kosong Ursula sambil menimbang.
__ADS_1
"Di sini tak ada yang menyalahkan mu, tak ada yang membencimu, kami semua adalah keluarga mu yang sesungguhnya," ujar Ursula lagi.
"Ke... luarga.. " ucap Sophia pelan.
Ursula mengangguk, lebih memanjangkan uluran tangannya lagi. Pupil mata Sophia mengecil, tatapannya mulai sendu hingga kosong. Pada akhirnya ia pun mengulurkan tangan untuk menyambut tangan Ursula, saat Ursula berhasil menggengam tangannya Sophia terbangun tapi hanya raganya saja.
Ditengah kegelapan hutan ia berjalan tanpa melihat kanan kiri, bahkan tanpa jiwa seperti mayat hidup. Sementara di pelataran Ursula membuka matanya, udara sekitar mulai normal yang membuatnya dapat menghirup udara bebas.
Tersenyum ia hanya tinggal menunggu kedatangan Sophia.
......................
Menemukan jejak Albert tidak salah lagi bahwa bangsa Elf yang telah menculiknya, ini membuat Damien semakin khawatir sebab tanda di kening Sophia mulai muncul yang mengartikan ia semakin dekat pada perwujudan Sang Penunggang.
"Kita harus segera menyelamatkannya, firasat ku tidak enak tentang ini," ujarnya kepada Alessa dan Yarren.
Setelah penyerangan waktu itu kemungkinan penjagaan disekitar istana Ursula akan semakin ketat, oleh karena itu ia butuh bantuan sihir Alessa untuk masuk kedalam istana tanpa ketahuan.
Sepakat pada satu rencana mereka memulai perjalanan menuju istana Maseress tempat Albert ditawan.
Malam hari saat mereka sampai Damien lebih dulu mengintai sekitar dari atas pohon, anehnya ia melihat semua bangsa Elf tengan berkumpul tepat di halaman istana.
Namun seperti perkiraan penjagaannya cukup ketat semua pos, Damien segera melaporkan apa yang ia lihat kepada Alessa dan Yarren.
"Mungkinkah ritualnya sudah dimulai?" tebak Alessa.
"Apa kau melihat Albert atau Sophia?" tanya pula Yarren.
"Aku tahu tidak baik berprasangka buruk, tapi melihat situasinya kita benar-benar harus memiliki rencana," ujar Alessa.
Damien paham betul maksud Alessa maka mereka pun mulai mengatur siasat.
•••••••••••••••••••••••
Menatap rakyatnya dari atas balkon Ursula tersenyum penuh kemenangan, ia tahu pengorbanannya tidak akan pernah sia-sia. Terlebih saat Cheet sore tadi mengabari bahwa Sophia sudah datang, masih menjadi bonekanya Sophia segera dipersiapkan untuk ritual.
"Tuanku, Sang Penunggang telah siap," ujar Cheet mengabari.
Segera Ursula beranjak pergi, memastikan Sophia benar-benar telah siap. Di sebuah ruangan nampak para pelayan berdiri di belakang Sophia yang sudah mengenakan gaun lengkap dengan riasan, tersenyum menatap mata kosong Sophia Ursula memberi isyarat kepada pelayannya.
Seorang pelayan pun maju untuk menyodorkan sebuah mahkota, Ursula mengambilnya dan menempatkannya diatas kepala Sophia.
"Kau terlihat hebat dan sempurna," ujar Ursula menatap kagum.
"Ratuku, tanda itu masih samar. Apakah tidak akan menjadi masalah?" tanya Cheet khawatir.
Setahunya memang tanda di kening yang belum sempurna mengartikan bahwa sang Penunggang belum sepenuhnya siap untuk ritual, ia khawatir jika di paksakan semuanya akan gagal mengingat Sophia menolak takdirnya.
"Itulah mengapa aku mengunci jiwanya, jika tidak kita lakukan sekarang mereka akan memburu Sophia dan menghabisinya sehingga hilang kesempatan kita," sahut Ursula.
Cheet mengangguk, paham betul kecemasan yang melanda Ratunya. Ia pun undur diri untuk menyiapkan Albert yang masih di tawan di ruang bawah tanah, sementara Ursula segera membimbing Sophia untuk menemui rasnya.
__ADS_1
Saat mereka berdiri di balkon gemuruh tepuk tangan dan sorakan menyambut mereka, Ursula melambaikan tangan seperti bintang dan tersenyum dengan riang.
Puas akan sambutan itu ia membawa Sophia ke altar dimana rupanya Albert sudah berada di sana dalam keadaan terikat, meski pakaiannya telah diganti dengan yang bersih tapi itu tidak menutup semua luka yang ia terima dari Cheet.
"Bangun!" seru Cheet sambil menjambak rambut Albert hingga menengadah.
Kakinya yang lemas mulai bertenaga hingga mampu menopang badannya yang bersandar pada tiang, perlahan membuka mata ia mendapati dirinya berada dalam lingkaran pemujaan.
"Sophia... " panggilnya lirih pada gadis yang berdiri tepat dihadapannya.
"Ritual akan segera dimulai," umum Ursula.
Para tetua mulai menggunakan tudung mereka yang menutup wajah, berbaris rapi di belakang Albert menunggu perintah selanjutnya.
Sementara Cheet dan para pengawal lainnya mundur untuk mengawasi sekitar, memastikan tidak ada yang mengganggu selama proses ritual berlangsung.
Lilin mulai ditambah disekitar Albert hingga ia bisa merasakan panasnya, sementara Sophia dituntun untuk berdiri lebih dekat dengan Albert.
Ursula memulai ritualnya dengan membawa satu lilin besar berwarna merah ke balkon, menghadapi rakyatnya ia berseru.
"Sebentar lagi ritual akan dimulai! pasang mata dan telinga kalian baik-baik untuk menyaksikan ritual sakral ini."
Pidato itu masih berlangsung sementara Albert yang masih memiliki tenaga cukup memperhatikan Sophia dengan seksama.
"Sophia.. " panggilnya kini dengan setengah berbisik.
Anehnya Sophia tidak menyahut, bahkan ia sama sekali tidak berekspresi.
"Sophia.. kau ingat aku? apa yang terjadi padamu?" tanyanya.
"Percuma saja, dia tidak akan mengatakan apa pun," ujar Cheet tiba-tiba.
"Apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Albert.
"Hanya mengosongkan jiwanya, sekarang ini dia hanya boneka kosong yang Ratu Ursula gunakan untuk membangkitkan Sang Penunggang. Memang cara yang cukup kasar tapi tidak ada pilihan lain," sahutnya.
"Tega sekali kalian," hardik Albert.
Sayangnya semarah apa pun ia itu tidak akan mengubah apa pun.
Ursula telah selesai dengan pidatonya yang panjang, kembali ke altar ia menaruh lilin besar itu tepat dibawah kaki Albert. Lalu sebuah pisau yang telah disiapkan ia berikan kepada Sophia sambil berbisik "Waktunya telah tiba."
Menggengam pisau ditangan kanan Sophia berjalan mendekati Albert, membuatnya mulai ketakutan sebab bayangan-bayangan mengerikan tentang apa yang akan dilakukan Sophia kepadanya.
"Demi membangkitkan Sang Penunggang elemen yang paling dibutuhkan adalah pengorbanan, darah dari musuh yang membangunkan Sang Penunggang dari tidur lamanya. Itu adalah darah keturunan kerajaan Meseress!" seru Ursula.
Uuuuuuuu.....
Gema seruan para tetua yang menandai ritual siap dilaksanakan, senyum mengembangkan diwajah Ursula tatkala pisau ditangan Sophia telah sampai di leher Albert.
"Sophia sadarlah! kau bilang kau tidak mau menjadi Sang Penunggang, kau bilang kau adalah Sophia dari Meseress bukan ras Elf apalagi Sang Penunggang! Sophia!" seru Albert sebisa mungkin menyadarkan.
__ADS_1
Tapi Sophia benar-benar telah kehilangan jiwanya.