
Mereka masih tinggal di sana, di kediaman Alessa dan menjadi satu keluarga utuh yang unik. Latisha dan Albert sering keluar siang dan berkeliling desa, membantu penduduk yang membutuhkan bantuan sambil memberi Latisha pelajaran.
Tentu banyak rumor yang berseliweran tentang mereka, Alessa sebagai kepala desa menuntut rakyatnya diam dan cukup mengatakan mereka adalah keluarga Alessa.
Awalnya mereka hanya takut Albert dan Latisha membawa masalah untuk desa mereka, tapi semakin lama mereka tinggal justru desa itu semakin berkembang dan kaya.
Ini karena Albert memiliki otak cerdas yang ia pergunakan untuk membantu rakyat yang kesusahan, itung-itung balas budi karena telah mengizinkan mereka tinggal dan tak mengusik mereka.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan cepat bergulir. Penduduk desa sudah terbiasa akan kehadiran Albert yang merupakan vampire, sebaliknya mereka sangat tergantung kepada Albert hingga membuatnya cukup kewalahan.
Hari itu ia sibuk membuat kincir di tepian sungai untuk mengairi sawah yang kering sebab hujan sudah lama tak turun, sementara Latisha yang kini sudah terbiasa hidup di sana baru datang dengan sekeranjang roti yang ia buat sendiri.
"Semuanya... kemari dan makan roti kalian dulu!" seru Latisha.
Para pria yang sudah kelelahan membantu Albert membuat kincir segera menyerbu Latisha, masing-masing mengambil satu roti dan menikmatinya.
"Ah.. kau sangat pandai membuat roti, ini benar-benar enak!" puji seseorang.
Latisha tersenyum senang akan pujian itu, apalagi saat Albert ikut mencoba ia juga memberikan pujian.
Saat senja telah tiba mereka baru pulang bersama, Alessa yang menyambut kedatangan mereka sudah seperti ibu yang lebih sibuk mengurus keluarga dari pada seorang kepala desa.
Ia menyuruh Albert dan Latisha tak lupa mencuci tangan sebelum makan malam, saat matahari sudah terbenam dan mereka sedang sibuk makan malam barulah Damien bangun dari tidurnya.
Ia langsung ikut bergabung sambil mendengarkan cerita Latisha tentang apa saja yang ia lakukan hari ini, selesai makan malam Damien mengajak Latisha jalan-jalan di luar.
"Apa kau senang tinggal di sini?" tanya Damien.
"Tentu saja ayah, kenapa?" balas Latisha.
"Apa kau ingin melihat dunia luar?" tanya Damien lagi.
"Apa ayah akan mengajak ku melakukan perjalanan jauh?" tanya Latisha nampak antusias.
"Tidak sayang, kau akan pergi sendirian."
"Maksud ayah?" tanya Latisha bingung.
"Ayah sudah membicarakan ini dengan Albert dan dia setuju, kau akan pergi ke Akademi untuk mendapatkan pelajaran yang sama seperti ibumu."
"Akademi?" tanya Latisha yang baru mendengar kata itu.
"Ya, dulu demi melindungi ibumu ayah juga memasukkannya ke Akademi. Sekarang ayah rasa kau perlu pergi untuk belajar," jelasnya.
Latisha merenung, sepertinya itu akan menjadi menarik baginya.
"Hanya saja setelah kau masuk Akademi kau harus menuruti semua peraturan di sana, seperti di larang keluar sebelum kau lulus ujian."
"Itu artinya sama seperti saat aku di dunia Naga, ibu juga melarang ku pergi keluar," ujar Latisha yang kurang senang jika dia harus di kurung kembali.
"Tapi kali ini kau tidak sendirian, ada banyak teman yang sebaya dengan mu. Kau bisa berteman dengan mereka sambil belajar," bujuk Damien.
Latisha kembali merenung, ia mempertimbangkan segala kemungkinan sampai akhirnya ia pun setuju untuk pergi.
Esoknya ia diantar oleh Albert agar mereka bisa cepat sampai, berpamitan dengan Alessa tak ia sangka akan ada air mata kesedihan mengalir di pipinya.
"Mungkin seperti ini rasanya memiliki keluarga," ujar Alessa menatap kepergian Latisha dengan Albert.
__ADS_1
"Aku pikir seumur hidup ku hanya akan sendirian dan terus bermain dengan sihir," lanjutnya sambil menutup pintu.
"Kau tidak menganggap ku ada selama ini?" tanya Damien.
"Hahahaha jangan bergurau, kau hanya datang jika membutuhkan bantuan ku," tukas Alessa sinis.
Damien tersenyum dan meminta maaf.
"Andai Sophia ada di sini dia pasti akan ikut mengantar Latisha pergi ke Akademi," ujarnya.
"Belum tentu, mungkin saja dia akan sama seperti mu. Memilih Albert untuk mengantarnya agar bisa berduaan dengan ku," sahut Damien.
"Apa kau mencoba menggodaku?" tanya Alessa sambil membelalakkan mata.
Damien tertawa kecil, mereka sama-sama tahu Alessa memiliki hati untuknya namun Damien tidak. Tapi kini setelah ia mengenal cinta melihat Alessa begitu perhatian kepada Latisha seperti kepada anaknya sendiri hatinya mulai tersentuh, perlahan ia mendekatkan wajahnya kepada Alessa.
Mematung Alessa tak mengira Damien akan memulainya, padahal dulu ia yang selalu membuat berbagai kesepakatan agar bisa berada di posisi ini.
"Apa kau yakin?" bisik Alessa tepat sebelum Damien menyentuhnya.
"Kau tidak yakin?" balas Damien heran sebab setahunya Alessa sangat mendambakannya.
"Aku sudah mendapatkan pengganti mu," sahut Alessa.
"Kalau begitu bantu aku membasuh kepedihan ku," pinta Damien.
Awalnya Alessa diam, ia membiarkan Damien memangut bibirnya beberapa kali sambil memberi waktu pada bibirnya yang sudah lama tidak disentuh.
"Buka," pinta Damien yang mulai merasa panas.
Alessa memberikan apa yang diminta, tangan dingin Damien pun menarik rambut Alessa hingga ia mendongak. Hentakan itu membuat Alessa kaget dan mendesah lembut, membuat Damien semakin panas hingga mengaitkan lidahnya di dalam mulut Alessa.
Sampai akhirnya ia menanggalkan pakaian dan mereka pun berakhir di ranjang yang empuk.
......................
Perjalanan menuju Akademi cukup memakan waktu meski dengan menunggangi kuda, kendala terbesarnya adalah karena banyak hal yang membuat Latisha penasaran dan Albert tak bisa menolaknya.
Mereka jadi sering berhenti hanya untuk memuaskan rasa penasaran Latisha saja, sampai akhirnya mereka sampai tempat itu benar-benar tidak berubah sejak terakhir kali Albert meninggalkannya.
"Ada apa?" tanya Latisha melihat nanar tatapan Albert.
"Aku juga pernah belajar di sini," ujarnya.
"Sungguh?" tanya Latisha.
"Bahkan aku besar di tempat ini, hampir separuh hidup ku habis untuk belajar di tempat ini dan semua hal yang ku ajarkan kepadamu dan anak-anak adalah hasil belajar ku di sini."
Latisha menatap kastil megah itu, kini ia merasa gugup sebab ia akan masuk ke tempat paling bersejarah dalam keluarganya.
"Ayo!" ajak Albert.
Mereka menuruni bukit, terus berjalan hingga sampai di pintu gerbang. Seperti biasa ia mengatakan kepentingannya agar bisa di ijinkan masuk, begitu pintu gerbang terbuka segera Latisha terpesona oleh pemandangan dalam kastil yang lebih hebat.
Seorang wanita yang baru di lihat Albert kemudian mengajak mereka masuk untuk bertemu Dekan, mereka pun berjalan tepat di belakang wanita itu hingga sampai di sebuah pintu.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Permisi Sir... ada yang hendak mendaftar," seru wanita itu dari luar.
"Masuk," sahut suara dari dalam.
Suaranya begitu berat dan serak, saat pintu terbuka wanita itu mempersilahkan Albert dan Latisha masuk.
"Albert!?" tanya Sir Hummut yang tidak akan melupakan wajah itu.
"Sir!" balas Albert segera menghampiri dan memeluk Dekannya.
Lama tak bertemu Sir. Hummut sekarang memiliki lebih banyak rambut putih di kepalanya serta kerutan tanda penuaan di seluruh wajahnya, meski begitu ia masih terlihat bugar.
"Apa kabar mu? bagaimana dengan Sophia?" tanya Sir. Hunny yang juga tidak lupa akan hal itu.
"Dia sudah tiada," sahut Albert tersenyum pahit.
"Oh maafkan aku," ujar Sir. Hummut menyesal.
"Sudahlah, aku datang kemari sebab putrinya butuh pembelajaran di sini," ujarnya sambil menarik tangan Latisha agar maju.
"Kau... putri Sophia?" tanya Sir. Hummut tak percaya.
"Nama ku Latisha, senang bertemu dengan anda."
"Oh cantik sekali, kau mirip dengan ibumu," ujar Sir. Hummut.
Mereka segera mengobrol tentang rencana Latisha yang akan tinggal dan belajar di sana, tentu Sir. Hummut dengan senang hati menerima Murid baru apalagi itu adalah anak dari murid berbakatnya.
Setelah menyelesaikan pendaftaran Sir. Hummut mengajak mereka pergi keluar untuk menunjukkan seluruh ruangan kepada Latisha secara langsung, di akhir perjalanan itu ia menunjukan kamar Latisha yang meski memiliki dua tempat tidur tapi ia tinggal sendirian.
Cukup untuk penjelasannya Albert meminta bicara empat mata dengan Sir.Hummut di kantornya, ia mengatakan asal Latisha sehingga meminta Sir. Hummut untuk memaklumi sifat nakalnya yang sebenarnya hanya terlalu semangat saat menyangkut hal baru baginya.
Sir.Hummut meminta Albert agar tidak perlu khawatir, di Akademi itu ia akan menyalurkan sifat Latisha pada hal yang positif.
Selesai bicara Albert pun segera berpamitan dengan Latisha, tentu saja itu adalah hal yang tidak Latisha senangi.
"Aku akan berkunjung sesekali," janji Albert sebab ia juga pasti merindukan anak kejutannya itu.
Latisha mengangguk, sebuah lambaian tangan darinya kemudian mengantarkan kepergian Albert yang menunggangi kuda. Semakin lama Albert semakin terlihat kecil hingga akhirnya hilang dari pelupuk mata, menundukkan wajah Latisha membawa kesedihan dan kerinduan pertamanya masuk ke dalam Akademi.
Sementara Albert yang terus memacu kudanya mengambil jalan yang berlawanan dari arah pulang ke desa Tutua, dalam kebisuan ia terus mengajak kudanya berlari hingga ia sampai pada satu tempat yang bertahun-tahun sudah tidak ia kunjungi.
"Selamat malam duhai kekasihku, apa kau merindukan pujangga mu ini?" tanya Albert seraya tersenyum.
Sekuntum bunga yang ia petik dalam perjalanan kemudian ia letakkan diatas tanah menggembung yang sudah di penuhi rerumputan, dengan tangannya Albert kemudian membersihkan tempat itu agar siapa pun yang lewat dapat mengetahui seseorang bersemayam di sana.
"Coba tebak aku dari mana?" ujar Albert sambil terus membersihkan tempat itu.
"Aku habis mengantar Latisha, dia anak Sophia jadi dia adalah keponakan mu. Dia sangat cantik seperti ibunya dan entah dari mana ia dapatkan sifat curiosity-nya, aku sampai kewalahan menanganinya."
Albert tertawa kecil saat mengingat betapa lucunya tingkah Latisha.
"Kau tahu? aku menikmati masa ku yang memiliki anak kejutan, sekarang aku jadi mengerti mengapa dulu Damien begitu ketat kepada kami. Melihat Latisha aku pun selalu was-was dan khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi padanya," ujarnya.
Lama kemudian Albert menatap batu nisan tak bernama itu, andai ia bisa menyelamatkan Yarren waktu itu mungkin mereka dapat memiliki keturunan sendiri.
"Aku masih berharap dapat meminang mu diantara bintang, menjadikan mu milik ku secara utuh. Bunga ku... aku akan datang lain waktu untuk menceritakan kisah lainnya," ujar Albert.
__ADS_1
Ia mengecup batu nisan itu dengan penuh kasih sayang sebelum kemudian bangkit dan pergi untuk pulang.