Surprise Child

Surprise Child
Bab 35 Penawaran Tiga Pangeran


__ADS_3

Menemukan jejak Cheet beserta anak buahnya membuat hati Damien tidak sepenuhnya senang, itu karena hanya jejak mereka yang Damien temukan tidak dengan Sophia.


Ini membuatnya bertanya-tanya kemana Sophia pergi dan apa yang telah terjadi padanya, dalam kebingungan tiba-tiba instingnya mengatakan harus waspada.


Ia berdiri tegak dihadapan Albert yang membuat pemuda itu keheranan, tapi setelah sebuah sosok keluar dari kegelapan taulah ia mengapa Damien bersikap demikian.


"Zaruta!" seru Damien memanggil kawan lama dengan ekspresi waspada.


"Hai Damien, apa kabarmu?" tanya Zaruta sambil melambaikan tangan kurusnya yang bagai ranting.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Damien enggan sedikit pun bergeser dari hadapan Albert.


"Para pangeran ingin bertemu dengan mu," ujarnya.


Seketika Damien sadar akan bahaya yang mengancam mereka, ia berseru menyuruh Albert merunduk namun terlambat. Dengan kecepatan yang tak bisa Albert imbangi Zaruta sudah berada di belakang Albert dan memukul tengkuknya, ia pingsan seketika sementara untuk Damien ia menaburkan serbuk yang mana ketika Damien hirup hilang sudah kesadarannya.


Entah berapa lama mereka tak sadarkan diri tak ada yang tahu, sebab kini mereka berada di dalam kamar tanpa jendela atau celah lain yang bisa membuat sinar matahari tembus.


"Dimana kita?" tanya Albert.


"Istana vampire," sahut Damien yang tahu betul dimana mereka.


"Kenapa kita ada disini? siapa orang yang kau panggil Zaruta itu?" tanya Albert lagi.


"Akan kejelaskan nanti, yang terpenting adalah apa pun yang mereka katakan tetap tundukkan kepalamu dan jangan sampai menatap mata mereka. Kedua kau adalah anak kejutan ku jadi nyawamu aman tapi jika kau ikut mencampuri urusanku kau selesai," ujar Damien.


"Maksud mu?" tanya Albert heran sebab Damien tiba-tiba meradang.


"Intinya diam dan jadilah anak penurut!" tegas Damien.


Albert langsung membungkam mulutnya, hanya memperhatikan bagaimana Damien bulak balik menatap pintu di depan mereka sampai seseorang membukanya.


"Oh kalian bangun lebih cepat dari yang aku bayangkan," ujar Zaruta.


"Serbuk bodoh mu tidak sebagus yang dulu," tukas Damien.


"Setidaknya itu tetap membuatmu tak sadarkan diri, ayo pergi! para pangeran sudah menunggu kalian," balas Zaruta.


Albert sedikit aneh sebab ia tidak di paksa berjalan seperti yang dilakukan anak buah Cheet, padahal jelas kondisinya saat ini adalah sebagai tawanan.

__ADS_1


Para vampire itu hanya mengawasi dengan mata merah mereka sambil mengawal sampai di singgasana para pangeran.


"Damien.... saudaraku... " sambut salah satu pangeran.


Meski terus menunduk tapi dari kakinya Albert bisa melihat pangeran itu turun dari singgasana dan memeluk Damien, lalu berjalan mendekatinya.


"Jadi ini budak mu? aku tak menyangka pada akhirnya kau akan menampakkan sifat sejatimu," ujarnya.


"Dia anak kejutan ku!" ralat Damien tegas.


Albert cukup kaget saat tangan pangeran itu menyentuh pipinya, begitu dingin bagai es yang membuat seluruh bulu kuduknya merinding.


"Siapa nama mu?" tanya pangeran itu.


"Albert," sahutnya pelan.


"Albert... mm... kau memiliki wangi yang menggoda, kulit mu juga halus seperti pangeran kebanyakan. Aku ingin lihat apa kau memiliki mata yang indah?" tanya pangeran sambil mencoba mengangkat dagu Albert.


Tapi sejak kecil Albert sudah di didik untuk patuh, maka dia pejamkan matanya saat kepalanya mendongak. Membuat pangeran itu sedikit geram namun kemudian tersenyum kecil, melepaskan Albert ia kembali duduk di singgasananya.


"Sekarang kau bisa mengangkat wajahmu," bisik Damien.


"Yang di tengah pangeran Dimitri, di kiri pangeran Jacspher dan kanan pangeran Aro," ujar Damien memberitahu.


Albert sedikit menunduk untuk memberi hormat, membuat ketiga pangeran tersenyum senang sebab kembali merasakan sensasi di puja yang hampir mereka lupakan.


"Kau anak yang sangat patuh dan baik," puji Aro jelas menunjukkan ketertarikan.


"Bagaimana jika kita langsung ke intinya saja? apa yang membuat ku di undang dengan paksa?" tanya Damien tak ingin berkelit-kelit.


"Ah kau sungguh tidak sabaran, tapi benar! mari kita peringkat saja. Aku ingin kau menyerahkan Sophia kepada kami," ujar Dimitri.


"Sebagai imbalannya apa yang akan kau berikan?" tanya Damien yang membuat Albert membelalakkan mata.


"Kau terus di buru karena gadis itu, dengan banyak musuh kami menawarkan perlindungan untukmu. Selain dari itu kau juga berhak menjadi orang pertama yang meminum darahnya," tawarnya.


Albert hendak bicara sebab tidak senang akan penawaran itu, tapi Damien segera memberi isyarat yang mengingatkannya untuk tidak ikut campur.


"Kau tahu kalian bukan satu-satunya sekutu yang aku miliki," sahut Damien.

__ADS_1


"Berani sekali kau!" hardik Jacspher.


"Aku bisa melindungi diriku dan untuk apa aku berbagi darah Sang Penunggang dengan kalian?" tanya Damien dengan nada meremehkan.


Jacspher hendak menghardik lagi tapi Dimitri memberi isyarat agar diam.


"Kau meminta kami melindungi budak mu atau... anak kejutan mu," ujar Dimitri sambil menatap Albert.


"Saat itu yang hendak ku titipkan adalah seorang gadis," sahut Damien santai.


"Begitu, baiklah... kau yang telah membuat keputusan."


Albert cukup bingung saat ketiga pangeran itu melepaskan mereka begitu saja, sempat ia berfikir tak ada masalah serius sampai ia sadar sejak tadi Damien memasang wajah waspada.


Saat mereka sudah berjalan jauh dari istana Albert baru berani bertanya, "Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui?".


"Ya, sebelum aku tahu kau anak kejutan ku sudah lebih dulu aku titipkan Sophia kepada mereka agar dia aman. Sebagai imbalannya aku akan mengikutsertakan mereka dalam perburuan Sang Penunggang," sahutnya.


"Apa? kau menitipkan seorang gadis pada monster penghisap darah?" tanya Albert hampir tak percaya.


"Dalam sebuah perjanjian vampire adalah makhluk yang paling menepati janji, andai aku tahu sejak awal kalau Sophia adalah Sang Penunggang maka aku tidak akan pernah meminta bantuan mereka. Sekarang bahkan kau pun dalam bahaya," gerutunya.


Albert dapat melihat penyesalan di wajah Damien, membuatnya cukup merasa iba.


"Ajari aku caranya bertarung, sampai saat ini kekuatan ku tidaklah cukup sehingga terus menyulitkan orang lain," pintanya.


"Sekuat apa pun kau vampire bukanlah tandingan mu, gerakan mereka terlalu cepat untuk bisa kau ikuti kecuali kau bertarung dengan bantuan sinar matahari."


"Lalu apa yang harus aku lakukan? aku juga ingin berguna!" seru Albert emosi.


Damien menatap lekat-lekat kedua mata Albert, sejenak berfikir dan menimbang.


"Sebenarnya ada satu cara," ujarnya.


"Apa itu? katakan!" seru Albert.


"Menjadi vampire."


"Apa? aku?" tanya Albert yang tak mengira.

__ADS_1


"Aku bisa merubahmu menjadi vampire, dengan begitu kau akan memiliki kekuatan yang sama dengan mereka. Tapi setelah kau mengambil keputusan ini maka tak ada jalan kembali," jelas Damien.


__ADS_2