
Perjalanan kembali di lanjutkan saat siang telah berganti malam, Albert memacu kudanya yang telah di beri makan dan cukup istirahat untuk melintasi hutan.
Akhirnya mereka sampai di bawah tebing tepat dimana gua itu berada, menatap dari bawah Latisha baru sadar tidak mungkin ia memanjat tebing itu dengan selamat.
"Naik ke punggung ku," ujar Albert sambil jongkok di depan Latisha.
"Apa?" tanya Latisha ragu.
"Aku akan membawamu ke atas," sahutnya.
Latisha tidak yakin, tentu saja karena dengan menggendongnya bukankah beban Albert akan bertambah dan resiko mereka jatuh lebih tinggi? tapi Albert terus memaksa yang membuatnya akhirnya menurut.
Memejamkan mata Latisha naik ke punggung Albert, ia merasakan goyangan saat Albert berdiri daan mulai memanjat.
"Berpeganglah yang kuat," perintah Albert.
Tanpa diberitahu Latisha sudah pasti akan berpegangan kuat sebab ia tak mau terjatuh, sambil dalam hati ia berdoa demi keselamatan mereka.
"Apa kau akan terus seperti ini?" tanya Albert tiba-tiba.
Latisha tidak merasakan goyangan lagi, merasa aneh ia membuka mata dan alangkah terkejutnya ia saat melihat mereka sudah berada di atas.
Turun dari punggung Albert ia menatap heran, padahal ia merasa baru naik tapi sekarang ia sudah sampai di atas.
"Bagaimana mungkin?" tanyanya heran.
"Kenapa?" tanya Albert yang justru lebih heran.
"Ah tidak," sahut Latisha.
Ia pun membalikkan badan, berjalan masuk ke dalam gua hingga mereka sampai di ujung dimana tembok pemisah antara dunia Naga dan dunia pedang sihir.
"Ayo!" ajak Latisha bersiap masuk melewati tembok itu.
Tapi Albert diam, tak bergeming sedikitpun.
"Kenapa?" tanya Latisha.
"Aku tidak bisa masuk," sahut Albert.
"Hanya Sang Penunggang dan tunggangannya yang bisa masuk ke dalam sana," lanjut Albert.
Latisha tidak pernah mendengar hal ini dari ibunya, ia pikir siapa pun bisa masuk tanpa masalah. Tapi kemudian ia ingat bahwa dirinya hanya anak dari Sang Penunggang, itu artinya dia orang lain tapi bisa masuk ke dalam dunia itu.
"Pegang tangan ku," ujar Latisha mengulurkan tangan.
Menatap ragu Albert tak yakin apa ia harus melakukannya, tapi tatapan Latisha mengatakan ia pasti bisa masuk.
Akhirnya Albert pun menerimanya, ia membiarkan Latisha menarik tangannya dan berjalan menembus tembok. Saat tangannya yang lebih dulu maju Albert menutup mata takut akan menabrak dinding batu itu, tapi setelah beberapa langkah berjalan justru hembusan angin yang menyapanya.
Ia membuka maka, langit malam itu dipenuhi kemerlap bintang dan memiliki dua sisi yang berlawanan. Setelah di lihat lagi rupanya yang di bawah adalah genangan air besar yang memantulkan pemandangan langit, sebuah lautan besar dengan pulau-pulau kecil yang mengapung di udara.
__ADS_1
"Aku... bisa melewatinya?" tanya Albert tak percaya.
"Sudah kuduga, jika bersentuhan dengan Sang Penunggang atau Naganya kita pasti bisa melewati dinding itu," ujar Latisha.
Albert tersenyum, ia tak mengira selama hal semacam itu dapat terjadi.
"Oh Tisha kita harus cepat menyusul ke kastil," ujar Albert hampir larut dalam kesenangan.
Latisha yang diingatkan kemudian bersiul, suaranya begitu nyaring dan cukup memekakkan telinga.
Selang tak berapa lama kemudian seekor Naga terbang ke arah mereka, mendarat tepat di hadapan mereka Naga itu memberikan tatapan tajam kepada Albert.
"Tidak apa, dia bukan orang asing. Kau tidak perlu takut," ujar Latisha segera mengelus punggung Naga itu.
Albert mematung di tempat ia berdiri, membiarkan Latisha bicara dengan Naganya untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka.
Setelah pembicaraan itu selesai Sang Naga kembali terbang di udara menjauhi mereka.
"Apa semuanya baik?" tanya Albert.
"Dia akan bicara dengan yang lain," sahut Latisha.
Menunggu selama beberapa menit akhirnya Naga itu kembali muncul, tepat di belakangnya beberapa Naga terbang bagai iringan monster.
Mereka tersenyum senang, bersyukur akan bantuan besar yang datang. Setelah Naga Latisha mendarat mereka pun naik ke punggung Naga itu, kemudian terbang menembus tembok untuk terus menuju kastil Enyver.
......................
Nampak gagah di tambah pedang yang tersemat di pinggang Zaruta membuat para selirnya histeris, rasanya mereka ingin membelai setiap inci zirah itu dan membasahinya.
"Semuanya telah siap Yang Mulia," lapor Red.
Zaruta kemudian memberi perintah agar pasukannya segera bersiap untuk berangkat, sementara ia masuk ke dalam sebuah ruangan terlebih dahulu.
Tepat di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja dengan potongan kepala Amora yang diawetkan di dalam toples kaca berisi cairan diatasnya, tanpa rasa jijik Zaruta memandang mata yang terbelalak itu.
"Aku akan membalas dendam untuk mu," sumpahnya.
Menundukkan kepala untuk memberi hormat Zaruta mencoba meredam emosinya, setelah cukup tenang ia pun berbalik dan naik ke atas kudanya.
Di depan Red yang memimpin iring-iringan itu memberi aba-aba baru kemudian mereka pun bergerak maju, dari tempat mereka mulai berjalan untuk sampai ke kastil Enyver tidaklah lama.
Hanya enam puluh menit saja dan mereka sudah sampai, nampak kastil yang sudah empat belas tahun di tinggalkan itu masih merupakan puing yang berantakan.
Ditumbuhi lumut di sana sini tanda bahwa kehidupan tidak pernah terjadi di sana, Red kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menyisir tempat itu demi mencari keberadaan Sophia.
"Akhirnya kau datang," seru seseorang tiba-tiba.
Dari dalam hutan yang gelap Sophia muncul seorang diri, pakaiannya yang serba hitam tentu membuatnya tak terlihat di malam hari hingga tak ada yang menyadari keberadaannya.
Zaruta turun dari kudanya, Red juga ikut turun bahkan berjalan mendahului Zaruta seakan siap untuk memulai pertarungan pertama.
__ADS_1
"Haruskah sebanyak ini pasukan yang kau bawa hanya untuk menangkap satu wanita saja?" olok Sophia.
Tentu Red tak terima, ia semakin cepat berjalan menghampiri Sophia untuk memberinya pelajaran. Tapi Zaruta menghentikannya, pertarungan ini akan menjadi miliknya.
"Bagaimana hadiah yang ku kirimkan? kau suka?" tanya Sophia begitu Zaruta sudah berada tepat di hadapannya.
Menatap tajam Sophia yang ada hanya sebuah kebencian, Zaruta benar-benar tidak terima Sophia mengoloknya karena kematian Amora.
Meski vampire terkenal berhati dingin tapi bukan berarti mereka tidak memiliki hati, buktinya Damien bisa begitu mencintai Sophia hingga lebih memilih Sophia menjadi Sang Penunggang daripada mati di hadapannya.
Begitu juga dengan Zaruta, beratus-ratus tahun ia hidup melayani pangeran vampire hingga akhirnya ia merebut singgasana itu secara sah. Memiliki banyak selir dengan tampuk kekuasaan yang menjadikannya di atas puncak rupanya satu yang menjadi kelemahannya, itu adalah rasa kasih sayang yang tiba-tiba muncul saat ia melihat seekor ular dengan tatapan bengis.
Bisa hingga darah ular beracun bagi vampire, tapi tanpa rasa takut Zaruta mendekati ular itu dan meluluhkannya dengan kasih sayang yang tulus.
Ia memberi ular itu makan setiap hari dan mengobati lukanya jika sakit, sampai suatu hari ular itu berubah menjadi seorang wanita cantik.
Untuk pertama kalinya sebagai vampire Zaruta terpikat akan kemolekan itu, ia terpesona hingga tak tahan untuk memuji keindahannya.
"Kenapa kau begitu baik padaku?" pertanyaan pertama dari sang siluman ular membuat Zaruta terdiam.
Entah ia harus menjawab apa, ia memberi makan tanpa ada maksud tersembunyi atau tujuan apa pun. Ia hanya suka melakukan itu semua dari lubuk hatinya.
"Siapa namamu?" tanya Zaruta.
"Amora," sahut Siluman itu.
Tangan Zaruta yang dingin kemudian membelai rambut hitam mengkilat Amora, anehnya meski tangannya dingin tapi Amora dapat merasakan kehangatan kasih sayang mengalir kepadanya.
Jatuh cinta pada kebaikan Zaruta sementara Zaruta takluk pada keluguan Amora membuatnya memboyong siluman itu ke istana, tentu semua vampire mengeluh sebab selain manusia serigala hewan melata juga merupakan musuh alami vampire.
Tapi Zaruta tak mau menggubris protes mereka, ia menjadikan Amora tangan kirinya setelah Red menempati posisi tangan kanannya.
Setiap hari Amora diberi tugas untuk membereskan cecunguk yang tak mampu membayar upeti atau siapa pun yang melanggar aturannya.
Amora selalu mampu melaksanakan tugas dengan baik dan tak pernah gagal, ini membuat namanya tersemat di hati Zaruta secara instan.
Saat Zaruta mengangkat para ratu dan putri buangan menjadi selirnya sesungguhnya itu ia lakukan hanya untuk memuaskan hasratnya saat berada jauh dari Amora, sebab beberapa tugas dari Zaruta rupanya ada yang tak bisa selesai hanya dalam waktu beberapa jam saja.
Namun semakin ke sini Zaruta semakin menyadari sebanyak apa pun selir yang ia miliki hasratnya tidak akan pernah terpenuhi, sebanyak apa pun rum yang ia minum juga tak akan mampu membuatnya mabuk.
Selezat apa pun makanan yang ia telan tak ada yang bisa mengenyangkan dan sebaik apa pun darah tak ada yang bisa memuaskan dahaganya.
Tak ada yang lebih baik atau lebih cukup selain dari Amora, untuk itu saat Red pulang membawa pesan beserta kepala Amora seketika emosinya meledak hingga tak akan ada kata yang keluar dari mulutnya.
Tapi tatapannya tajam melihat siapa pun, kini pembunuh Amora sudah berdiri di hadapannya. Zaruta sudah tak menginginkan sinar matahari lagi, ia hanya ingin jika bukan Sophia yang mati maka harus dia agar bisa bertemu dengan Amora sekalipun di dalam neraka.
Mencabut pedangnya dari sarung Zaruta menghunuskannya tepat ke depan, mengunci Sophia sebagai target.
Sophia pun melakukan hal yang sama, ia sudah lelah terus berlari sebagai buruan hanya karena darah terkutuk yang ia miliki.
Ia sudah bertekad akan membasmi semua makhluk itu malam ini juga, agar Latisha bisa hidup damai bersama dengan Albert. Jika ia beruntung mungkin ia juga masih memiliki waktu untuk hidup berkeluarga utuh, memiliki suami, saudara dan anak yang akan terus bermanja kepadanya.
__ADS_1