
Istana itu telah banyak berubah dalam waktu singkat, benteng megah berdiri kokoh dengan penjagaan ketat disetiap sudutnya. Membuatnya nampak seperti kandang ternak.
Dari atas pohon itu meski ditengah kegelapan malam ia bisa melihat rutinitas masih berjalan dibalik tembok, lilin-lilin masih menyala dengan beberapa orang yang berkeliaran.
Di pintu gerbang utama ia melihat sebuah iring-iringan tengah menunggu persetujuan agar bisa masuk, membuatnya penasaran siapa tamu malam buta itu.
Mencari jawaban sekaligus memanfaatkan keadaan secepat kilat ia menyelinap masuk kedalam iringan, bersembunyi dibalik penyamaran sebagai pelayan.
Ikut berjalan perlahan mengikuti iringan yang baru diijinkan masuk ia melihat simbol kerajaan di tenda utama, rupanya Sekutu Ursula hendak bertamu.
Saat telah memasuki wilayah istana ia segera memisahkan diri untuk mencari jalan lain, seingatnya ada jalan menuju dapur yang seharusnya tidak ada penjagaan.
Sialnya justru beberapa pelayan sedang sibuk memasak disana , mencari cara untuk melintas tanpa ketahuan Damien mengambil sebuah kerikil yang kemudian ia lempar ke arah tong anggur.
Trung
Bunyi yang nyaring itu membuat para pelayan kaget sambil menengok ke arah tong anggur, dengan cepat waktu beberapa detik itu ia gunakan untuk melintas.
Sudah menjadi rahasia umum vampire dapat berlari kencang seolah sedang berpindah tempat, tapi tetap saja jika dilakukan dihadapan banyak orang itu akan menyita perhatian sebab hembusan angin yang tercipta cukup kuat.
Berhasil masuk tanpa ketahuan ia terus berjalan sambil mengawasi sekitar, setelah belokan di lorong itu akhirnya ia menemukan tangga menuju ruang bawah tanah yang digunakan untuk sel tahanan.
Sejauh ini ia aman tapi ketika sampai di ruang bawah tanah beberapa pengawal berjaga dengan cukup ketat, tak bisa menghindar ia memutuskan untuk melumpuhkan para pengawal itu.
Buk
Ah..
Satu pengawal langsung tumbang tak sadarkan diri begitu ia memukul titik lemah di tengkuknya.
"Hei!" seru pengawal lain yang melihat.
Buk Buk Buk
Pertarungan segera terjadi, Damien harus melumpuhkan tiga pengawal lain yang salah satunya berbadan besar.
Tentu ia cukup kewalahan sehingga pertarungan itu cukup berisik sampai menyita perhatian para tahanan, sepuluh menit kemudian akhirnya mereka tumbang.
Segera memeriksa satu persatu sel Damien berharap tak ada pengawal lain yang akan datang, kebanyakan dari tahanan yang seorang wanita dan anak-anak berseru meminta pertolongan saat ia melintas.
Tapi Damien merasa tak memiliki kepentingan dengan mereka sehingga ia lewat begitu saja, sampai langkahnya terhenti di depan salah satu sel.
Ia memperhatikan seorang anak laki-laki yang nampak menerima banyak siksaan baru-baru ini, bahkan noda darah dilantai itu masih tercium wangi di cuping hidungnya.
"Albert," panggilnya pelan.
......................
"Selamat datang Raja Thomas," sambut Ursula dengan senyum ramah yang sudah ia latih.
"Ursula, terimakasih atas sambutan yang meriah ini. Maaf karena aku datang lebih cepat," sahutnya.
"Tidak apa-apa, justru aku sudah menantikanmu dari kemarin. Mari masuk! biarkan aku menjamu mu dengan hidangan spesial milik bangsa Elf."
"Oh aku sangat menantikannya," balasnya.
Bersama dengan tangan kanan dan beberapa pengawal Raja Thomas berjalan mengikuti Ursula menuju ruang makan, hidangan mewah segera tersaji beberapa menit kemudian.
"Pelayan mu benar-benar pandai memasak, untuk hidangan mewah ini aku memiliki minuman yang tepat."
Hanya dengan melirik Raja Thomas memerintahkan tangan kanannya untuk memberikan poci kecil yang terbuat dari perak, kemudian ia menuangkan minuman itu ke dalam gelas.
"Ini adalah anggur terbaik yang aku miliki, silahkan dicoba," ujarnya sambil menyerahkan gelas itu.
"Kau baik sekali Raja Thomas, seharusnya kau tidak perlu repot begini. Sekarang kau membuatku berhutang lebih banyak padamu," ujar Ursula.
"Hahahaha kita adalah sekutu Ursula, silahkan dinikmati."
__ADS_1
"Terimakasih tapi aku sedang berpuasa, maaf akan aku minum lain kali."
"Apa? tapi Ursula aku sudah menyiapkannya untukmu! tidak bisakah kau batalkan puasa mu demi menghormati ku?" tanya Raja Thomas merasa tersinggung.
"Bagaimana ya.. puasa ku adalah hal yang sakral jadi aku tidak bisa membatalkannya."
"Ursula mengapa kau begitu keras? ini hanya satu tegukan saja."
Ada yang tidak beres, jelas Ursula merasa Raja Thomas sangat bersikukuh. Mungkin di dalam anggur itu terdapat racun yang telah ia siapkan, tidak bisa mengambil resiko ia harus menghindari hal ini.
"Maaf atas kelancangan ku, kalau begitu maukah kau minum bersama ku?" tanyanya.
"Tidak Ursula, ini adalah hadiah yang kubawa untukmu jadi bagaimana aku bisa ikut menikmatinya?" sahut Raja Thomas dengan nada getir.
"Kau hanya memberiku segelas maka kau pun harus mengambil segelas, bukankah kita Sekutu? lalu bagaimana bisa aku menikmatinya sendiri?" balas Ursula.
Menatap panjang akhirnya Raja Thomas menyuruh tangan kanannya untuk menuangkan minuman itu, mengacungkannya ke depan Raja Thomas berkata "Demi persekutuan kita".
" Chers.. " sahut Ursula yang ikut mengangkat gelasnya.
Dengan ragu perlahan Raja Thomas mendekatkan gelas itu pada bibirnya, sambil sesekali melirik Ursula yang masih memegang gelasnya. Menunggu ia meminun habis.
Glek Glek
Akhirnya Raja Thomas meneguk habis minuman itu, barulah Ursula ikut meminumnya. Ia tersenyum dan memberi isyarat agar Raja Thomas melanjutkan makannya, tapi wajahnya tiba-tiba memucat bagai rembulan dengan bulir keringat yang bermunculan di keningnya.
"Penawarnya!" seru Raja Thomas tiba-tiba.
Dengan cepat tangan kanannya memberi sebuah botol kecil berisi cairan berwarna hijau, dengan cepat Raja Thomas meneguknya sampai habis. Sementara Ursula memuntahkan kembali minuman yang sejak tadi menggulum di mulutnya, ia selamat.
"Sudah kuduga," gumamnya dengan mata penuh ancaman.
"Pengawal cepat ringkus mereka!" perintahnya.
"Berhenti atau aku akan menghabisi nyawamu!" seru Sophia yang dengan cepat sudah berada di belakang Ursula dengan belati yang mengancam lehernya.
"Katakan pada mereka untuk mundur," perintah Sophia.
"Lakukan apa yang dia minta," ujar Ursula yang entah mengapa bisa begitu santai.
Para pengawal itu pun mundur, sementara Raja Thomas melanjutkan rencananya untuk menyerang bangsa Elf.
Ia pergi bersama para pengawalnya dan tangan kanannya untuk memberi jalan pada prajuritnya di luar sana, membiarkan Sophia mengurus Ursula sendiri seperti yang telah mereka rencakan.
"Pergi! selamatkan anak-anak dan yang lainnya!" seru Ursula.
Dengan ragu para pengawal Elf itu pun pergi, meninggalkan Ursula masih dalam posisi terancam.
"Rupanya kau Ratu yang bijak, alih-alih menyuruh mereka menolongmu kau malah meminta mereka menyelamatkan rakyat mu," ujar Sophia dengan senyum pahit.
"Kau tidak akan menyakiti ku," ujar Ursula pelan.
"Heh, darimana asal kepercayaan itu?" tanya Sophia mengolok.
"Karena kau adalah putriku."
Tertegun Sophia tak menyangka Ursula akan mengatakan bualan seperti itu.
"Jangan membuatku tertawa, kita bahkan tidak mirip bagaimana bisa kau membual seperti itu?" tanya Sophia.
"Mungkin fisik kita tidak sama, tapi darah yang mengalir dalam tubuhmu tidak akan pernah berubah. Sophia... kau adalah sang Penunggang yang lahir dari rahim Elf, memiliki kecantikan sempurna seperti Elf, abadi seperti vampire, berfisik seperti manusia, memiliki kemampuan sihir sehat seperti penyihir, mampu menyembuhkan luka seperti peri. Kau adalah pemimpin dari segala kaum yang akan membawa bangsa Elf pada masa kejayaan," terang Ursula.
"Tidak! aku adalah putri kerajaan Meseress!" tegas Sophia.
"Dalam perang malam itu Thodor mengambil mu dariku, dia sengaja menjadikan mu putri Meseress agar ia bisa menebus perjanjian dengan Damien. Yang paling penting adalah agar Albert bisa meneruskan tahta tanpa gangguan Damien yang menagih anak kejutan."
Perlahan dekapan Sophia mengendur, ia butuh waktu untuk mencerna semua kata yang entah hanya bualan atau memang kenyataan.
__ADS_1
"Usia mu sudah menginjak enam belas tahun, akan tiba saatnya tanda Sang Penunggang muncul di keningmu dan saat itu kau tidak akan bisa mengelak dari takdir."
"Bohong! Albert adalah saudara kembarku dan kami akan merebut kembali istana ini darimu!" seru Sophia penuh emosi.
Ia melepaskan Ursula dan berlari keluar dengan kencang, melewati setiap lorong tanpa peduli pada prajurit Elf yang sedang sibuk berperang melawan prajurit Raja Thomas.
Langkahnya yang penuh gusar membawanya ke ruang bawah tanah dan terhenti dianak tangga saat melihat Damien sedang membopong Albert, saling menatap untuk beberapa saat kemudian Sophia berjalan mendekati mereka.
Tanpa kata ia membuat sebuah portal tepat di hadapan mereka, setelah portal itu tercipta ia membantu Damien membopong Albert keluar dari tempat itu.
Melintasi dimensi mereka keluar dari portal dan mendapati diri berada di hutan, tepat di belakang mereka Sophia melihat istana Meseress itu benar-benar kacau dalam peperangan.
"Ayo!" ajaknya kepada Damien kembali membawa Albert pergi meninggalkan tempat itu.
......................
Malam itu Sophia kembali ke kamar dan mengatakan rencana Raja Thomas kepada Yarren, mereka akan menyerbu istana Meseress begitu Ursula sudah dilumpuhkan dengan racun.
Tanpa ragu Yarren menawarkan bantuannya tapi Sophia menolak dengan tegas, justru ia meminta Yarren menunggunya di depan gua jalan menuju suku Zimbe.
Setelah menyelamatkan Albert ia berniat untuk meminta perlindungan di bawah naungan suku Zimbe untuk beberapa waktu, karena Sophia begitu bersikeras akhirnya disanalah ia berada.
Berdiri tepat didepan mulut gua dan menunggu dengan gusar kedatangan Sophia yang akan membawa Albert.
Angin bertiup kencang menelantarkan dedaunan diatas permukaan tanah, memberi rasa dingin dibawah tekanan udara.
Srek
Satu suara terdengar ditelinganya yang peka, menatap semak-semak yang menimbulkan suara ia berharap itu adalah Sophia. Sayangnya yang keluar justru hewan malam, menghembuskan nafas kecewa ia menatap langit untuk memanjakan harapan.
"Yarren!" panggil Sophia yang berjalan sempoyongan sebab terlalu sering membuat portal.
"Oh Albert!" seru Yarren segera menghampiri mereka.
"Kita harus cepat masuk dan mengobati lukanya," ujar Sophia.
Yarren mengangguk dan bergantian dengan Sophia untuk membopongnya, melewati gua mereka masuk ke area suku Zimbe.
Meski Yarren melepas gelarnya sebagai putri suku Zimbe tapi dia tetap diterima, apalagi ia membawa Albert yang sedang membutuhkan pertolongan.
Sementara mereka sibuk dengan Albert Sophia memilih menghirup udara bebas diluar, menenangkan hatinya agar keyakinannya tidak goyah.
"Kau baik?" tanya Damien yang sadar akan sesuatu tengah menganggu kekasihnya itu.
"Oh Damien... " seru Sophia yang segera menjatuhkan diri pada pelukan vampire yang dingin.
......................
Seperti yang telah Raja Thomas perkirakan, akan sulit menghancurkan bangsa Elf terlebih dikandangnya sendiri. Perang yang menghabiskan waktu semalaman itu dimenangkan bangsa Elf setelah Raja Thomas memberi perintah untuk mundur saat menjelang fajar.
Puing-puing imbas perang berserakan dimana-mana, bau darah menyengat menggoda lalat untuk hinggap. Menyedot dari setiap potongan tubuh, baik kaki, tangan, kepala atau organ yang terjajakan di sepanjang jalan.
Ursula menatap bangga dari atas balkon istananya, meski ia mengalami kerugian tapi prajuritnya menang dengan sedikit pengorbanan.
Segera memerintahkan agar semua bangkai itu dibersihkan dan dibakar, biar semua penjuru melihat asap hitam tebal dengan bau gading panggang.
"Yang Mulia, semua rakyat yang mengungsi ke liang tanah selamat. Kita bisa membangun kembali prajurit untuk menambah penjagaan," lapor Cheet sekembalinya ia dari memantau situasi.
"Tidak perlu Cheet, mereka tidak akan menyerang kita dalam waktu dekat."
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya.
"Cukup berbenah dan tunggu Sang Penunggang datang dengan sendirinya ke sini," sahutnya penuh keyakinan.
Menatap jauh melewati hutan yang melintang didepan mata ia yakin tanda itu sebentar lagi akan muncul, dan saatnya tiba kekuatan itu dengan sendirinya akan keluar.
Lewat hati yang mengalami tekanan kemudian makhluk besar nan gagah akan terbang diangkasa, menyebarkan keagungannya hingga semua makhluk merunduk untuk menyembah.
__ADS_1
Sayapnya yang tidak memiliki bulu namun bersisik emas akan menaungi mereka yang siap menjadi hamba, itu adalah hari dimana naga keluar dari sarangnya dengan Sang Penunggang diatas punduknya.