
Albert tak tahu harus berkata apa ketika ia bertemu Latisha, sudah pasti Latisha akan menanyakan Damien dan tak ingin membicarakannya.
Tapi ia juga begitu merindukan anak kejutannya, berdiri selama berjam-jam menatap Akademi ia masih bingung mencari alasan.
Hhhhhhhhhhh
Menghembuskan nafas panjang akhirnya Albert berjalan juga menuju Akademi, seperti biasa dia memberi laporan untuk kunjungan itu.
"Paman... " seru Latisha dari jauh begitu mengetahui Albert mengunjunginya.
Albert tersenyum dan memberikan pelukan kepada Latisha yang membuatnya cukup tersentak kaget karena hawa dingin dari tubuhnya.
Albert tertawa kecil melihat Latisha meringis, ia pun mengajak Latisha untuk berjalan-jalan seperti biasa.
"Mana ayah? apa dia tidak ikut?" sebuah pertanyaan yang sedari tadi Albert hindari akhirnya keluar juga.
"Maaf, ayah mu tidak bisa ikut kali ini. Ada sesuatu yang harus dia kerjakan," sahut Albert memaksakan tersenyum.
"Ohhh... " gumam Latisha dengan wajah murung.
Tentu Albert paling tidak suka dengan ekspresi sedih itu, maka ia pun mengeluarkan sesuatu dari tangannya.
"Wow... apa ini paman?" tanya Latisha takjub pada sebuah kalung dengan bandul yang berkilau.
"Titanium," sahut Albert.
"Cantik... " ujar Latisha terpukau
Tanpa meminta ijin Albert kemudian mengaitkan kalung itu di leher Latisha, membuatnya nampak lebih cantik dengan perhiasan kecil itu.
Mereka kembali berjalan bersama, mengobrolkan tentang segala hal namun lebih di dominasi dengan cerita Latisha tentang petualangannya.
Latisha membuat Albert bangga akan berbagai peningkatan yang Latisha capai, membuatnya khawatir dengan beberapa kecelakaan dan membuatnya tertawa dengan berbagai tingkah lucunya.
Puas bercerita akhirnya mereka harus berpisah setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk sebuah cerita sepekan, Albert berkata akan menengok dengan membawa hadiah lain untuk Latisha lain waktu dengan syarat Latisha harus belajar sungguh-sungguh.
Melambaikan tangan di pintu gerbang Albert pun pergi, menjauh dari Akademi hingga masuk ke hutan. Berjalan di jalan setapak benaknya berkelana mencari sesuatu yang membuat hatinya hampa, setiap hari ia lalui tanpa emosi hingga tanpa sadar malam berlalu dengan cepat.
__ADS_1
Kakinya masih berjalan tanpa rasa lelah, matanya kosong tanpa tau apa yang ia tatap hingga saat ia sadar dia berdiri di hadapan sebuah benteng yang sangat ia kenal.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu setelah perang itu, kini yang tersisa hanyalah puing dengan kenangan mengerikan.
Albert berjalan melewati benteng dan menemukan banyak tulang belulang berserakan di sana sini, mengingatkannya pada pengorbanan Sophia yang tak pernah habis untuknya.
Menatap nanar pada jasad dari berbagai ras yang tumpang tindih di sana sini Albert mulai melangkahkan kaki memasuki area dalam, semakin ia masuk semakin banyak bangkai yang ia temukan.
Istana yang dulu megah dan indah kini hanya tersisa puing dengan sebagian bentuk yang masih utuh namun gosong, Albert tahu tak semakin ia memasuki istana itu hatinya akan semakin menderita.
Tapi ia tak bisa berhenti, hingga sampai ia pada ruang pertemuan dimana singgasana masih kokoh berdiri. Harusnya ia duduk di sana sebagai Pangeran yang siap naik tahta, harusnya kini ia memerintah dengan gelar dan mahkota.
Syuuuuttt
Jleb
Aaaaaaa.....
Jeritan khas seorang gadis kecil menggema di seluruh ruangan saat belati Albert hampir mengenainya, tentu dengan mudah Albert dapat menusuk leher gadis itu hanya dengan satu lemparan saat ia mengetahui keberadaan gadis yang bersembunyi itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Albert.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu!" sahutnya dengan suara kencang yang bergetar.
Albert tahu gadis itu ketakutan tapi ia mencoba terlihat berani, jika di perhatikan usianya lebih muda dari Latisha sekitar satu sampai dua tahun.
"Aku hanya melihat-lihat, lalu kau?" balas Albert.
"Aku tinggal di sini," jawabnya yang membuat Albert heran.
"Sendiri?" tanyanya memastikan.
"Ayahku sedang pergi keluar mencari makan," jawabnya kini dengan lebih santai.
Tentu Albert semakin heran, keluarga macam apa yang mau tinggal di reruntuhan dengan bangkai manusia? pastinya mereka tidak memiliki tujuan sehingga tak punya pilihan.
"Jangan gegabah, aku tidak menyakiti putrimu," ujar Albert yang meski tanpa melihat ia tahu seorang pria tengah berdiri di belakangnya dengan sebilah pedang yang menghunus tepat ke kepalanya.
__ADS_1
Saat ia bicara dengan gadis itu jelas raut wajah yang ketakutan tiba-tiba berubah menjadi pemberani, untuk gadis sekecil dia mudah menebak isi otaknya. Dan lagi Albert sempat mendengar suara nafas berat saat pria itu mengendap-ngendap di belakangnya.
"Angkat tangan mu!" perintah pria itu tegas.
Albert menurut, ia mengangkat kedua tangan tepat di atas kepalanya dan berbalik perlahan. Saat menatap pria yang berdiri dengan penuh pengawasan tiba-tiba raut wajah pria itu berubah, awalnya ia mengerutkan dahi namun kemudian perlahan tangannya menurunkan pedang.
"Yang Mulia... apakah ini anda?" tanyanya.
Sontak Albert bingung, ia tak mengenali satupun orang dari kerajaannya dan tak ada yang tahu bahwa ia adalah seorang pangeran.
"Bagaimana mungkin? wajah anda... tidak berubah sama sekali," ujarnya lagi.
"Apa ayah mengenalnya?" tanya gadis itu penasaran.
"Ya, pangeran Albert!" serunya.
"Siapa kau?" tanya Albert dingin.
"Anda melupakan ku, yah... kita hanya bersama untuk beberapa hari sebelum para prajurit elf datang menyerang."
"Astaga! Peter!" seru Albert seketika teringat pada seorang pemuda yang sebaya dengannya.
Pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya dan membawanya menemui Jonah, Peter mengangguk dan membuka tangan saat Albert mendekatinya untuk memberi pelukan.
"Sudah lama sekali... " ujar Albert.
"Cukup lama memang sampai aku memiliki seorang putri," sahut Peter setuju.
Gadis kecil itu berjalan mendekat, memberi sebuah penghormatan dan minta maaf atas kelancangannya tadi.
"Lupakan, apa yang terjadi? kenapa kau tinggal di sini?" tanya Albert.
"Hanya takdir rakyat kecil, anda tahu hidup orang-orang seperti kami selalu jauh dari kata keberuntungan," jawab Peter seakan menahan tangis.
Albert tentu mengerti, perang yang terus terjadi menyebabkan banyak kerugian bukan hanya kepada Raja tapi rakyat yang lebih merasakan penderitaannya.
Ia ingat bagaimana rasanya menjadi korban perang sehingga kala itu ia ingin sekali merebut istananya, ia ingin mengembalikan rumah-rumah rakyatnya dan memberi kebahagiaan. Sayangnya impian itu tak pernah terwujud, atau mungkin belum.
__ADS_1