
Langit mendung tak berartikan hujan akan turun, tapi angin dingin tak pernah berbohong tentang kondisi alam dan perubahan cuaca. Saat langkah mereka berhasil menginjak ditanah suci bangsa Elf mereka tahu jalannya tidak akan mudah.
Menatap reruntuhan bangunan yang sudah ditutupi lumut bahkan tak berbentuk, dikegelapan malam sekilas yang terlihat hanya bebatuan dan alam.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Damien ragu.
"Harusnya begitu, tempatnya sesuai dengan peta," jawab Alessa.
Ia berjalan lebih dulu, melihat-lihat bebatuan dengan berbagai ukuran dan bentuk. Bahkan ada yang menyerupai tiang dengan tinggi mencapai tiga meter, meski telah menyatu dengan alam tapi ia yakin akan menemukan jawaban di sana.
"Alessa! lihatlah!" teriak Damien.
Bergegas Alessa menghampiri dan ikut memperhatikan sebuah batu yang nampak terbelah lurus sempurna, bongkahan batu itu juga berbentuk bulat sempurna seperti dipoles.
Meggosok sedikit permukaannya untuk menghilangkan lumut mereka terkejut menemukan sebuah ukiran bergambar naga.
Saling menatap tanpa kata mereka tersenyum sebab satu langkah lebih dekat pada apa yang mereka cari.
Menatap sekitar Alessa mulai memeriksa setiap batu, rupanya semua bongkahan batu berbentuk bulat memiliki ukiran yang berbeda.
Mendapatkan petunjuk Alessa menyuruh Damien untuk menggeser batu-batu itu agar saling berdekatan, butuh tenaga tentunya sebab batu itu cukup berat bahkan bagi seorang vampire sekalipun.
"Kau jarang olahraga," tukas Alessa melihat kesulitan yang dihadapi Damien saat menggeser batu-batu itu.
"Coba kau lakukan sendiri.. uh," sahut Damien dengan ekspresi menahan.
"Aku seorang wanita, lagi pula bukankah kau selalu berhasil menghadapi banyak musuh sekalipun itu troll? ini hanya sebongkah batu yang tak melawan Damien," balasnya.
"Aku lebih suka memakai otak dari pada otot saat bertarung," jawabnya sambil bersandar pada batu terakhir yang ia geser.
Alessa mengangkat satu alisnya sebagai respon ungkapan Damien, beralih pada batu-batu itu ia kembali pada mode serius.
"Menurut mu apa ini?" tanya Damien.
"Mungkin sebuah kisah, kau lihat? disetiap batu ada gambar yang berbeda namun seperti saling berhubungan."
"Kau bisa membacanya?" tanyanya lagi.
"Rasanya aku pernah melihat gambar-gambar seperti ini," gumamnya seraya berfikir.
Butuh beberapa detik bagi Alessa sampai ia ingat, membuka tasnya ia mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul hitam.
__ADS_1
"Untung aku membawanya, susah kuduga benda ini akan berguna."
"Apa itu?" tanya Damien penasaran.
"Catatan Puan Sihir, aku mencurinya dimalam saat aku melarikan diri. Di sini dia menulis berbagai hal yang tidak dijelaskan pada buku-buku lain," jelasnya.
Damien mengernyit, pantas saja Puan Sihir memberi julukan Alessa sebagai murid yang arogan. Rupanya Alessa memang terbilang nakal.
"Ah ini dia!" serunya mencocokkan sebuah gambar berbentuk lonjong yang terbelan.
"Apa artinya?" tanya Damien.
"Hati, kalau begitu... " jawabnya sambil mencari arti dari gambar yang lain.
Ia memutuskan untuk menerjemahkan setiap gambar di catatan itu demi mempermudah membacanya.
"Selesai!" seru Alessa setelah memakan waktu beberapa menit.
"Apa artinya?" tanya Damien yang sejak tadi hanya bisa menunggu dan bertanya.
"Sesuai perkiraan ku ini adalah kisah, sebuah kisah tentang Sang Penunggang yang lahir dari rahim bangsa Elf. Saat dunia berada ditengah kekacauan dewa meneteskan darahnya pada rahim bangsa Elf untuk menjadikannya pemimpin, setelah merasakan kekejaman nafsu tanda muncul di keningnya sebagai tanda bahwa waktunya akan tiba dan peringatan bagi mereka agar segera bersujud. Sang Penunggang akan berkeliling memperlihatkan kemegahannya diatas hewan suci peliharaan dewa, naga."
Ada keheningan setelah Alessa selesai menjelaskan, mereka berdua benar-benar mencerna sepenggal kisah singkat itu berharap menemukan sesuatu.
"Secara harfiah memang hati, tapi setelah ku gabungkan dengan gambar lain artinya berubah mengikuti gambar lain. Aku menggunakan bahasa yang paling mudah dimengerti yaitu 'merasakan kekejaman nafsu'," jawabnya.
Damien mengangguk, sayang sekali ia tak berhasil menemukan apa pun yang bisa membantunya menyelamatkan Sophia dari takdir.
"Lalu bagaimana? adakah hal lain yang terlewat?" tanya Damien hampir putus asa.
Alessa menggeleng, ia sendiri pun tak tahu. Tak mau pulang dengan tangan kosong Damien mulai melihat setiap bongkahan batu dengan teliti, dari yang terbesar hingga yang terkecil berharap menemukan petunjuk.
Tapi sampai matahari mulai menampakan sinarnya ia tak menemukan apa-apa selain lumut dan tumbuhan liar, tak ada pilihan ia harus segera pergi mencari tempat untuk berlindung.
"Sebaiknya kita kembali, susah tak ada apa-apa disini," ajak Alessa yang lebih mengkhawatirkan Albert.
"Ya," sahut Damien yang tiba-tiba merasa bersalah sebab seharusnya ia lebih memperhatikan Albert anak kejutannya yang asli dari Sophia.
Menghabiskan waktu sepanjang siang dengan istirahat Damien terbangun begitu langit mulai redup, segera ia mengajak Alessa bergegas pulang.
Perjalanan kembali ke suku Zimbe ternyata lebih cepat dari perjalanan mereka menemukan reruntuhan itu, mungkin karena mereka sudah hafal jalan sehingga bisa mengambil rute paling dekat.
__ADS_1
Hanya menghabiskan waktu dua hari mereka telah sampai, ini adalah kali pertama Alessa dapat ke tempat itu dan dia dibuat takjub akan desa itu.
Ia tak menyangka ada sebuah kehidupan dibalik gua yang seakan tidak berujung, terlebih ia juga cukup tahu tentang suku Zimbe.
"Damien... akhirnya kau kembali... " sambut Yarren dengan wajah cemas.
"Ada apa?" tanya Damien.
"Albert pergi, dia bilang mau bertemu Alessa tapi sampai saat ini belum pulang juga."
"Aku Alessa dan aku tidak pernah bertemu Albert," sahut Alessa sambil bergantian menatap Damien dan Yarren.
Sontak ini membuat berbagai pikiran negatif muncul, tak mau termakan berbagai kemungkinan Damien segera pergi mencari Albert ditemani Alessa dan Yarren.
......................
Hahahahahaha Hahahahhaa
Tawa itu masih berlangsung meski sudah lima menit lamanya, disudut matanya air telah menggenang hingga jatuh begitu saja.
Ursula menyekanya dengan selembar kain, saat perutnya mulai terasa kram sebab terlalu lama tertawa akhirnya perlahan ia pun tenang.
"Kenapa kau sangat bodoh? apa gen ayahmu sangat kuat?" tanyanya hampir kembali tertawa.
Albert mendengus, dari tatapannya tentu saja jelas terlihat ia sangat marah namun tak ada yang bisa ia lakukan.
"Sungguh aku tidak menyangka akan mudah menangkap mu," ujarnya lagi.
Albert pun tak menyangka ia akan diculik lagi, padahal seingatnya ia sudah sangat hati-hati saat memutuskan pergi dari suku Zimbe.
Sejauh yang ia ingat dalam perjalanan ke rumah Alessa tak ada siapa pun yang mengikuti atau menyintai, bahkan orang-orang di desa tempat tinggal Alessa pun bersikap acuh padanya dengan normal.
Mengetahui Alessa tak ada dirumahnya ia berniat untuk mencari firat, tapi saat pencarian itulah Cheet tiba-tiba muncul dihadapannya dengan beberapa prajurit.
Tentu Albert bukanlah tandingan Cheet meski ia berhasil menumbangkan para prajuritnya, dari siksaat di sel waktu itu ia sudah mengetahui bahwa Cheet berada jauh diatasnya.
Ia sendiri bingung bagaimana gadis kurus itu bisa memiliki kekuatan yang besar, hanya dengan beberapa pukulan saja ia tumbang dan berakhir di sel yang sama seperti saat itu.
Tak ada yang bisa ia lakukan kini, kecuali berharap Damien akan menemukannya dan menyelamatkannya lagi.
"Dengar, aku tidak pernah bicara bohong padamu. Baik mengenai keluarga mu atau pun Sophia, karena itu aku akan membocorkan satu rahasia lagi kepadamu," ujar Ursula dengan seringai licik.
__ADS_1
"Aku akan menjadikan mu sebagai tumbal dalam ritual kebangkitan Sang Penunggang, aku sudah bisa merasakan eksistensinya maka sudah bisa dipastikan kebangkitan kejayaan kami akan segera tiba. Dan kau akan ada disana sebagai saksi sekaligus kunci," ucapnya.
Albert menelan ludah dengan susah payah, setelah melihat dengan mata kepala sendiri Sophia seperti apa yang dikatakan Ursula maka bisa dipastikan ucapannya kali pun akan menjadi kenyataan.