Surprise Child

Surprise Child
Bab 40 Firasat Buruk


__ADS_3

Kali ini Damien tak akan menyuruh Albert untuk menjauh, sebenarnya ia ingin melakukannya tapi tentu tidak akan bisa sebab terlalu banyak musuh yang harus mereka tangani.


Hanya saja ia tetap meminta Albert untuk tidak jauh darinya agar Damien mudah melindunginya.


Pertarungan itu segera berlangsung tak lama setelah mereka terkepung, yang merepotkan tentu saja karena Zaruta turun tangan untuk melumpuhkan Damien.


Mereka yang sebenarnya berteman dan sempat mempelajari ilmu bersama sudah saling memahami cara bertarung masing-masing, Zaruta seringkali menggunakan serbuk atau bahan apa pun yang dapat membius.


Oleh karena itu Damien akan terus memperhatikan gerak tangan Zaruta, saat ia melihat Zaruta mengambil sesuatu atau mengarahkan tangannya ke wajah Damien maka itu artinya ia hendak di bius.


Sayangnya Damien terlalu terpaku pada Zaruta hingga lupa bahwa Albert mulai terpojok, saat mendengar teriakan Albert barulah ia mulai menjauhi Zaruta dan kembali melindungi Albert dari para prajurit itu.


"Kau terlalu fokus pada satu hal seperti biasa," celoteh Zaruta.


Tak mau terjerat lagi akan tipu muslihat Damien segera menghabisi semua prajurit itu, meninggalkan Zaruta seorang.


"Masih mau bertarung?" tanya Damien menghunuskan pedangnya.


"Bagaimana jika dengan ku?" tanya Jacspher tiba-tiba.


"Awas!" teriak Albert segera maju ke hadapan Damien untuk melindungi.


Sreeett....


Tak ada yang mengira hal itu akan terjadi, Jacspher hanya berniat memberi satu serangan saja namun Albert yang melihat pedang itu mengarah pada Damien tanpa pikir panjang menjadikan tubuhnya tameng.


Kini ia harus menanggung rasa sakit seperti yang Cheet, pedang itu benar-benar menembus punggungnya dengan mudah.


"Albert!" seru Damien.


Ia hendak menangkap tubuh Albert yang mulai ambruk, tapi Zaruta dengan cepat membenamkan sapu tangan yang telah ia bumbui dengan zat khusus kedalam mulutnya.


Membengkapnya kuat agar Damien menghirup aromanya, perlahan kesadarannya pun mulai hilang dengan pandangan terakhirnya adalah Albert.


Sementara Jacspher yang masih syok mulai melepaskan pedangnya, membiarkan Albert berlutut untuk menahan rasa sakit.


"Apa yang kau lakukan?" hardik Dimitri yang baru tiba namun sudah di suguhi masalah.

__ADS_1


"A-aku tidak sengaja, anak itu yang datang sendiri padaku," jawabnya gugup.


"Yang Mulia dia tidak akan mampu bertahan, darahnya tidak mau berhenti keluar," lapor Zaruta setelah memeriksa Albert.


"Sial!" gerutu Jacspher menyesal.


"Dia tidak boleh mati," ucap Dimitri.


Mereka saling memandang, berfikir bagaimana cara menyelamatkan Albert sebab hanya dia satu-satunya umpan yang bisa di gunakan untuk membuat Sophia keluar.


"Ada satu cara Yang Mulia, kita harus cepat sebelum dia kehilangan nyawanya," ujar Zaruta.


"Apa itu?" tanya Jacspher.


"Menjadikannya vampire," sahut Dimitri seolah bisa membaca pikiran Zaruta.


Jacspher menatap Dimitri seakan itu adalah malapetaka, mereka tahu betul bahwa vampire muda memiliki energi yang seolah tak terbatas. Mereka dapat bertarung dalam waktu yang lama tanpa mengenal rasa lelah, ditambah dahaga mereka yang sulit dikendalikan akan menjadikannya monster.


Jika mereka membuat Albert menjadi vampire maka mereka harus mau direpotkan olehnya, sementara para pangeran memiliki sifat tidak suka keributan.


"Yang Mulia semua tergantung pada anda semua," ujar Zaruta mengingatkan bahwa waktu mereka tidaklah banyak.


"Apa kau yakin?" tanya Jacspher.


"Panggil Lucy untuk menangani anak ini," sahutnya yang segera memiliki rencana.


Bangsa vampire memang memiliki tiga pangeran yang duduk di puncak kekuasaan, tapi Dimitri adalah pangeran dengan tahta tertinggi. Dimitri memiliki otak encer yang selalu bisa diandalkan disaat-saat genting seperti sekarang, itulah mengapa Jacspher sekalipun tunduk pada perintahnya.


Zaruta mulai membantu proses perubahan itu dengan membaringkan tubuh Albert dipangkuannya, dari mata Albert yang hampir memutih semua menandakan waktu mereka hanya tersisa beberapa detik saja.


Dimitri segera menghisap darah Albert dari lehernya menggunakan taring, setelah selesai ia menghisap butuh waktu setidaknya lima detik untuk membuat bekas gigitan itu sempurna. Barulah ia menggigit tangannya sendiri untuk mengeluarkan darah, tetesan darah itu kemudian ia berikan pada Albert agar di minumnya.


Tentu itu adalah hal yang paling sulit dilakukan sebab jangankan untuk menelan tetesan darah, untuk sadar sepenuhnya pun Albert sudah tak mampu.


"Ayolah..." gerutu Dimitri tak sabar.


Ia terus memijit tangannya agar darahnya keluar banyak, tapi meskipun darah itu masuk ke mulut Albert beberapa detik kemudian kepala Albert jatuh tanpa tenaga.

__ADS_1


Dengan was-was Zaruta memeriksa hidung Albert dan sayangnya ia tak menemukan tarikan nafas.


"Tidak mungkin," ujar Jacspher tak bisa menerima kesialan itu.


Dengan penuh emosi ia menarik pedang yang masih tertancap di perut Albert, lalu menggigitnya dan memberikan darahnya seperti yang dilakukan Dimitri.


"Bangun keparat! kau tidak boleh mati!" hardik Jacspher sambil mengguncangkan tubuh Albert.


"Hentikan Jacspher!" hardik Dimitri yang tak suka akan perasaan putus asa Jacspher.


Jacspher menurut, ia terduduk diam namun tangannya masih memegang tubuh Albert. Keheningan yang tiba-tiba itu membuat Zaruta tak nyaman, saat Dimitri sedang berpikir keras ia akan menjadi lebih sensitif dan lebih mengerikan dari pangeran lainnya.


"Tak ada pilihan, kita coba hanya dengan menggunakan Damien. Semoga saja gadis itu cukup bodoh untuk menunjukkan diri," ucap Dimitri.


"Biarkan saja mayat itu di sini dan bawa Damien," lanjutnya sambil berdiri.


Zaruta mengangguk patuh, ia segera mengangkat tubuh Damien yang terkulai lemas dan pergi bersama para pangerannya.


Meninggalkan Albert dengan tumpukan mayat prajurit lainnya.


......................


Di ujung gua itu hanya ada jalan buntu dengan tembok gua yang kasar, namun bagi Sang Penunggang dan naganya tembok itu adalah jalan menuju tempat lain.


Kali pertama Luca membawa Sophia ke sana ia di kejutkan akan pemandangan yang sangat berbeda, ada sebuah lautan luas dengan beberapa pulau kecil yang melayang di atasnya.


Itu adalah tempat para naga tinggal, mereka hidup dan berkembang biak layaknya makhluk normal lainnya.


Diantara banyaknya naga Luca membawa Sophia menghadap pada satu naga terbesar diantara yang lain, dialah sang alfa yang memimpin para naga.


Entah mengapa Sophia bisa mengerti bahasa naga padahal mereka hanya mendengus dan mengeluarkan suara erangan yang aneh, mungkin itu adalah salah satu kelebihan Sang Penunggang.


Semenjak Damien dan Albert pergi ia sudah memutuskan untuk tinggal disana, hidup damai bersama para naga meski dia adalah satu-satunya manusia atau makhluk yang berfisik manusia.


Setiap hari ia akan menunggangi Luca untuk memutari tempat itu, menangkap beberapa ikan dan bersenang-senang.


Tapi hari itu saat ia baru saja kembali dari mengudara tiba-tiba kalung yang ia pakai jatuh, tepat saat ia melangkah sehingga potongan tanduk rusa yang Albert berikan kepadanya patah.

__ADS_1


Mengambil patahan tanduk itu tiba-tiba perasan Sophia menjadi tidak enak, kecemasan melanda bagai arus sungai yang cepat.


Menatap satu pulau besar dimana pintu keluar masuk dunia itu berada Sophia mengambil keputusan sulit dimana ia harus memastikan Albert baik-baik saja.


__ADS_2