Surprise Child

Surprise Child
Bab 48 Impian Zaruta


__ADS_3

Diatas singgasana yang terbuat dari campuran baja, perak dan emas ia duduk dengan malas sambil menatap seorang manusia yang bersimpuh.


Badan manusia itu gemetar dan seluruh tubuhnya basah karena mandi keringat, dengan mata yang melotot ketakutan sesekali ia menatap kiri kanan. Memperhatikan bagaimana mereka memangsa manusia lainnya yang telah menjadi mayat, saat salah satu pemangsa itu balas meliriknya ia segera menundukkan kepala.


"Y-Yang Mulia... saya akan bayar upetinya... saya mohon... belas kasih anda... " ujarnya terbata untuk kesekian kalinya.


"Hhhhhh kau benar-benar tidak belajar dari kesalahan," ujar Zaruta datar namun penuh dengan sarat.


Empat belas tahun telah berlalu, kini ia menjadi seorang pangeran vampire yang paling berkuasa. Setelah insiden itu ia memilih untuk memanfaatkan keadaan dengan menjadi pangeran, tak hanya itu ia juga membuat bangsa vampire mengambil kembali masa kejayaannya.


Setalah berhasil duduk di singgasana ia menemukan bahwa Aro telah mati dan Sophia beserta yang lainnya menghilang begitu saja, ia yakin mereka masih hidup sampai saat ini karena itu diam-diam ia terus mencari mereka. Meski ia mendengar kabar bahwa Sang Penunggang telah mati, tapi ia tak percaya.


Perang melawan Sang Penunggang dan Naganya sepanjang yang telah ia perkirakan membuat banyak kerugian bagi umat manusia, banyak kerajaan bangkrut sebab rakyatnya tak mampu bertani karena lahan yang hancur dan terjangkit penyakit.


Zaruta memanfaatkan hal ini dengan menjadikan mereka bonekanya, memberinya kebutuhan hidup sebagai gantinya mereka harus memberikan apa pun yang ia inginkan termasuk tumbal untuk memenuhi dahaganya.


Kini salah satu bonekanya bersimpuh karena tak sanggup memberikan upeti seperti yang Zaruta minta, anak buahnya sudah habis di makan para pengawal Zaruta dan ia masih bersimpuh ketakutan tanpa bisa menjanjikan apa pun.


"Pulanglah, besok bawakan aku putrimu yang sudah matang," ujar Zaruta.


"Ta-tapi Yang Mulai," ucap Raja lemah itu hendak memprotes.


Zaruta tak menyahut tapi ia memberikan tatapan tajam yang segera membuat Raja itu menutup mulutnya, ia pun mengiyakan meski hatinya tidak rela.


Diantar oleh anak buah Zaruta Raja itu pergi seorang diri keluar dari istana, dengan terpaksa ia memacu kereta kudanya sendiri sebab Zaruta tidak menyisakan satu pelayan manusia pun untuknya.


Bangkit dari singgasananya Zaruta memilih untuk pergi ke kamarnya, begitu pelayan membuka pintu para selirnya berlarian manja menyambut kedatangannya.


"Yang Mulia kenapa lama sekali?" tanya seorang selir sambil menggantungkan tangannya di leher Zaruta.


"Yang Mulai mari kita membuat satu permainan yang seru," ajak pula selir lain yang menggandeng tangannya.


Total ada lima selir utama yang saat ini sedang mengelus semua bagian tubuhnya, semua selir itu merupakan Ratu atau Putri dari sebuah kerajaan yang tak mampu menyanggupi titah Zaruta.


Tentu awalnya mereka semua sangat membenci tempat itu, bahkan beberapa diantaranya sudah mencoba untuk melarikan diri juga mengakhiri hidupnya.

__ADS_1


Tapi Zaruta tidak membiarkan mereka pergi dari genggaman tangannya, ia mengambil hati setiap wanita itu hingga akhirnya luluh kepadanya dan berakhir menjadi selir yang haus akan sentuhannya.


Pintu kamar segera di tutup saat Zaruta berjalan menuju ranjang, tersenyum senang para selir itu melepaskan satu persatu pakaian yang tersemat di badan kekar Zaruta.


Telah bertelanjang bulat ia pun duduk di atas ranjang, membiarkan para selirnya memainkan permainan yang paling mereka suka.


Hanya dalam waktu satu jam saja permainan itu sudah berakhir, Zaruta yang masih terjadi tetap dengan wajah datarnya. Ekspresi yang tak berubah dari pertama kali ia menjadi pelayan ketiga pangeran vampire.


Membungkus diri dengan selimut merah ia berjalan ke arah jendela, membukanya dan membiarkan cahaya bulan yang pucat masuk ke dalam kamar itu.


Sebentar lagi pagi akan menjelang, seharusnya ia bersiap untuk tidur tapi saat ini ia mengantuk pun tidak.


Benaknya terlalu di penuhi dengan perang empat belas tahun yang lalu, meski sudah selama itu tapi ia masih menginginkan darah Sang Penunggang.


Ia ingin bisa berjalan lagi di bawah sinar matahari, mencium aroma bunga yang harum dan tidur diatas rumput tepi danau.


Sudah ratusan tahun dan ia merindukan hidup menjadi manusia lagi, memang ia tak akan pernah bisa menjadi manusia tapi setidaknya ia ingin berkeliaran di siang hari.


Kreeett


Zaruta kemudian menjadikannya vampire dan mengambil hatinya untuk menjadi tangan kanannya, hanya dia yang di ijinkan masuk ke kamar itu selain dari para selir.


"Yang Mulia aku menerima kamar yang akan memberi anda harapan baru," ujar Red.


Suaranya berat dengan sedikit serak, berbanding terbalik dengan wajahnya yang manis meski ia seorang pria.


"Katakan," perintah Zaruta.


"Anak buah yang aku kirim untuk mengawasi gua melaporkan telah melihat seekor naga keluar dari sana, diatasnya ada dua orang wanita namun mereka tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Naga itu terbang cukup jauh dan kembali lagi ke dalam gua beberapa menit kemudian tanpa para wanita itu," lapornya.


Zaruta segera mengerutkan kening, ia yakin yang satu adalah Sophia dan mungkin satunya lagi Alessa.


"Kemana para wanita itu pergi?" tanya Zaruta.


"Menurut jejaknya mereka masuk ke dalam desa, tapi sayangnya hanya sampai situ petunjuk yang kami dapatkan."

__ADS_1


"Mereka berjalan di siang hari, tentu saja sulit menemukan jejak mereka lagi," ujar Zaruta yang mengerti tugas anak buahnya tidaklah mudah.


"Kembali lakukan pencarian, aku ingin mendapatkan mereka hidup-hidup!" titah Zaruta.


"Baik Yang Mulia," sahut Red yang kemudian memberi hormat dan pamit undur diri.


Kembali menatap rembulan sebuah senyum mengerikan khas pemangsa muncul di wajah Zaruta, akhirnya setelah empat belas tahun impiannya akan kembali diraih.


Kali ini ia tidak akan membiarkan Sophia lolos apa pun yang terjadi.


......................


Langit masih gelap gulita namun Sophia sudah terbangun dari tidurnya karena sebuah mimpi buruk, itu merupakan mimpi yang telah lama ia derita. Sebuah mimpi tentang perang dimana kekuatan Sang Penunggang menguasai raganya dan meluluhlantakkan semua hal di depan mata.


Berkeringat dingin Sophia cepat mengambil air dan meneguknya habis, beberapa detik kemudian nafasnya yang tersenggal pun mulai teratur kembali.


Latisha yang ikut terbangun menatap dengan mata sayunya, bangkit untuk memeriksa ibunya tidak menghilang.


"Apa ibu mimpi buruk lagi?" tebak Latisha.


"Tidak apa-apa sayang, ibu sudah baikan," sahut Sophia kembali berbaring di samping Latisha.


Latisha mengangguk dan karena ia masih sangat mengantuk dengan cepat ia pun kembali tertidur, berbeda dengan Sophia yang sudah tidak bisa lagi memejamkan mata.


Di sisa malam yang tinggal seperempat itu ia tetap membuka mata sampai matahari muncul di langit, setelah Latisha bangun mereka segera keluar dari penginapan itu dan hanya meluangkan waktu untuk sarapan baru kembali melanjutkan perjalanan.


Keluar dari Desa mereka berjalan menyusuri hutan, kini Latisha bebas mengekspresikan kekagumannya baik dengan lompat-lompat atau berceloteh menanyakan segala hal yang mengundang tanyanya.


Semakin mereka berjalan masuk ke dalam hutan Sophia merasa ia seperti pernah menyusuri hutan itu, mengikuti instingnya ia mengajak Latisha untuk berjalan ke arah lainnya.


Setelah beberapa menit memotong hutan akhirnya mereka menemukan sebuah gua, Sophia ingat itu merupakan gua tempat dimana jalan menuju suku Zimbe berada.


Merasa rindu akan suku itu Sophia mengajak Latisha untuk memasukinya, rupanya gua itu tak banyak berubah sejak terakhir ia meninggalkannya.


Di ujung gua akhirnya mereka menemukan jalan keluar yang merupakan jalan masuk ke desa suku Zimbe, alangkah terkejutnya Sophai mendapati tempat itu sudah menjadi peradaban yang maju.

__ADS_1


Ia tak lagi melihat rumah-rumah yang terbuat dari kayu dan tanah, kini yang ia lihat adalah bangunan megah dengan batu hitam yang mengkilap.


__ADS_2