
Alessa benar-benar pendidik yang baik, dia begitu sabar dan menunjukkan kepeduliannya dengan cinta. Membuat Sophia tak ingin berusaha lebih keras lagi, meski Alessa sudah menyuruhnya untuk beristirahat tapi ia masih ingin berlatih.
Tak ingin meruntuhkan semangat gadis itu Alessa memberinya beberapa menit tambahan, toh Sophia hanya mencoba terus merapalkan mantra dan meningkatkan konsentrasi.
"Dimana dia?" tanya Damien sebab Alessa pulang sendiri.
"Masih latihan, pergilah!" ujar Alessa sembari tersenyum.
Tentu Damien akan melihatnya, ia ingin tahu sejauh mana gadis itu telah berkembang. Dibelakang rumah dekat hutan Sophia berdiri tegak dengan kedua tangan terulir kedepan, matanya terpejam dengan bibir menggumamkan mantra singkat.
Daun-daun disekitarnya mulai terangkat secara perlahan, melayang di udara untuk kemudian perlahan bergerak mengikuti arah tangannya.
Tetap berkonsentrasi Sophia mengangkat tangannya ke atas, namun daun-daun itu tak mau ikut melayang ke atas malah terbang tertiup angin.
Kecewa, Sophia menundukkan kepala dan berniat untuk beristirahat. Tapi saat ia berbalik tatapan Damien membuatnya membeku, tersenyum Damien menghampiri Sophia untuk memberinya sedikit saran.
"Kau terlalu fokus untuk membuat daun itu melayang," ujarnya.
"Memang itu yang aku inginkan," balasnya.
"Kalau begitu dia hanya akan melayang, bukan menari bersama mu."
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Sophia bingung.
Sophia cukup kaget saat tangan Damien menyentuh tangannya, sensasi dingin itu memang selalu membuatnya terkejut.
Menempatkan tangannya tepat dibawah tangan Sophia ia menggerakkan tangan itu agar terulur kedepan sementara tubuhnya semakin menempel dibelakang Sophia, membuat jantungnya mulai tak aman.
"Tutup matamu," bisik Damien.
Sophia menatap Damien ragu, tapi saat Damien mengangguk ia pun menurut.
"Rasakan setiap hembusan angin yang menerpa wajahmu, dengar suara alam yang bicara padamu. Resapi... dan baca mantranya."
Dalam kegelapan yang pekat itu Sophia perlahan merasakan hembusan angin bagai tangan surga yang membelai rambutnya, lalu suara lama yang menyanyi dengan merdu.
__ADS_1
Masuk kedalam pesta pora hutan Sophia membaca mantra sebagai undangan, saat ia membuka mata daun-daun telah melayang mengikuti kemana tangannya bergerak dibawah kendali Damien.
Tersenyum takjub karena kali ini ia berhasil melakukan seperti Alessa Sophia mulai menggerakkan tangannya yang lain, ia mengarahkan kedua tangannya ke kiri dan kanan mengikuti irama hingga tubuhnya pun ikut serta dalam tarian.
Damien yang ikut senang melihat tawa bahagia Sophia masih mengikuti alurnya, menempatkan satu tangannya di pinggang Sophia dan mengajaknya untuk berdansa.
Kembali Sophia dapat melihat tatapan hangat dari Damien, bahkan meski tangannya sedingin salju tapi hembusan nafasnya penuh akan kehidupan. Menerpa wajahnya yang kian memanas dan larut dalam buaian, dengan debaran jantung yang semakin kencang ia membiarkan nalurinya mengambil alih untuk lebih dekat lagi pada sang vampire.
"Kau tidak takut padaku?" tanya Damien tapi yang ia tatap adalah bibir gadis itu.
"Kenapa aku harus takut padamu?" balas Sophia tak mengerti.
"Aku seorang vampire, ingat? aku memangsa manusia dan hewan lainnya."
"Kau akan memangsa ku?" tanya Sophia.
"Entahlah, bagaimana jika aku lepas kendali?" balasnya.
Sophia tersenyum, memeluk tubuh kekar Damien bagai makhluk tak berdaya yang mencari perlindungan.
"Mungkin aku juga menginginkannya," bisik Sophia.
......................
Matanya yang merah menatap ke sekeliling, memastikan dimana ia berada. Butuh waktu beberapa menit sampai degupan kencang itu kembali normal, bahkan butuh waktu juga baginya untuk memastikan tubuhnya utuh.
Pagi telah tiba, seorang pelayan mengetuk pintu untuk memberitahu waktunya bersiap memulai hari.
Dia mengangguk, kali ini ia melewatkan sarapan dan menyuruh pelayan untuk memanggil Afragus.
Di dalam ruangannya dengan tak sabar ia menatap keluar jendela sambil menggigit kuku, sampai akhirnya pintu terbuka dan Afragus masuk.
"Anda memanggilku?" tanyanya.
"Aku mendengar banyak jeritan, tangis dan lolongan. Di balik api yang berkobar makhluk itu berdiri dengan kedua kakinya yang kokoh, sementara sepasang sayapnya terbentang meratakan bumi. Ini bukan sekedar mimpi Afra! ini adalah ilham dari sang Dewa," ujarnya yakin.
__ADS_1
"Ursula apa yang kau bicarakan?" tanya Afragus tak mengerti.
"Sang penunggang telah lahir."
Seketika Afragus terdiam, Ursula adalah keturunan tetua dengan darah pemimpin yang murni. Ia memiliki kelebihan dari Elf lain, dia bisa menggunakan sihir dan mengundang makhluk tak berdarah daging. Maka dari itu jika Ursula memimpikan Sang Penunggang artinya legenda yang telah mati itu siap untuk dibangkitkan.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanyanya.
"Kita harus menyiapkan ritual, um.... bukankah pangera Thodor memiliki keturunan?" sahutnya.
"Ya, dia berhasil kabur dari kita."
"Cari dia!" perintahnya.
"Segera laksanakan."
Tanpa menundanya lagi Afragus membawa prajurit terbaiknya untuk melakukan pencarian, dengan tudungan mereka menyembunyikan telinga runcing itu agar tak ada yang curiga.
......................
Harusnya Damien tidur saat matahari telah terbit, tapi anehnya ia tak bisa menutup mata. Akhirnya ia hanya melamun sambil menatap semut yang berbaris rapi, membawa remahan roti keluar dari celah jendela.
"Aku belum pernah melihat tatapan itu dari matamu," ujar Alessa membuyarkan lamunannya.
Damien bangkit dan bertanya "Seperti apa tatapan yang kau maksud?."
"Hahaha jangan pura-pura bodoh! kau tahu apa yang ku maksud," tukas Alessa.
"Kau mencintai gadis itu," lanjutnya dengan serius.
"Aku tidak mengenal perasaan itu," bantah Damien.
"Dan sekarang kau sudah mengenalnya," balas Alessa.
Ia berjalan dan duduk tepat disamping Damien.
__ADS_1
"Aku mengerti perasaan mu, aku pun menyukainya. Dia... spesial," ujarnya.
Kali ini Damien setuju, Sophia memang gadis yang spesial. Dia sangat berbeda dengan putri kebanyakan, bahkan dalam beberapa ratus tahun hidupnya ini adalah kali pertama ia bertemu seorang putri yang unik.