Surprise Child

Surprise Child
Bab 13 Racun Bagi Vampire


__ADS_3

Pertemuan antara Kerajaan itu tentu Ursula datangi, selain raja Thomas ia juga harus menemui raja lain dari Sekutu. Kesempatan ini akan ia gunakan untuk mendapatkan keuntungan, meski kedatangannya tak sepenuhnya disukai.


Ada beberapa raja yang enggan duduk satu teduhan dengannya, bahkan dengan terang-terangan mereka beringsut menjauhinya.


"Senang melihat mu di sini Ursula," sapa Thomas.


"Begitu juga dengan saya," sahutnya.


"Perlu ku perkenalkan kepadamu, ini adalah Raja Salim, Raja Arthur, dan Raja Abner."


"Salam hormat ku kepada semua Yang Mulia Raja," sapa Ursula sambil membungkukkan badannya.


Ketiga Raja mengangguk, setelah Ursula duduk Thomas pun memulai rapat mereka. Secara garis besar yang mereka bahas adalah perkembangan dari aliansi mereka, beberapa kesepakatan yang saling menguntungkan.


"Para orc itu kini sudah kelewat batas, mereka merusak ladang dan mencuri ternak. Tentara yang kau berikan waktu itu sama sekali tidak berguna melawan makhluk buas itu," keluh Raja Arthur.


"Orc bukanlah tandingan manusia, kita harus mencari cara lain untuk membasmi mereka," timpal Raja Abner.


"Jika diijinkan biarkan saya membantu, Orc adalah musuh alami Elf karena itu bangsa kami tahu betul bagaimana cara membunuh mereka," ujar Ursula menawarkan bantuan.


Tapi pra raja itu terdiam, saling menatap ragu sementara Thomas terlihat menimbang.


"Apa kau yakin kau sanggup?" tanya Thomas.


"Aku tidak akan berani bicara jika hanya omong kosong saja," sahutnya.


"Bagus," balas Thomas seraya tersenyum.


Ia pun mengambil keputusan untuk menerima bantuan Ursula, meski raja yang lain kurang setuju tapi mereka tak bisa berbuat banyak sebab saat ini kepentingan rakyat lebih utama.


Pulang ke istananya Ursula segera memberi perintah kepada panglimanya untuk membawa serta prajurit ke medan perang, bersatu dengan prajurit dari Kerajaan lain untuk memberantas Orc.


Titah itu segera dipenuhi, membawa prajurit sebanyak seratus Elf mereka pun memulai perjalanan.


Beruntung para Elf selama ini sudah biasa hidup di hutan dengan segala kekayaan alam yang sering mereka manfaatkan, karenanya tak sulit hanya untuk makan meski tak membawa bekal.


Karena perjalanan itu membutuhkan waktu sekitar dua hari tiga malam maka mereka juga harus tidur di hutan, tanpa alas apa pun dan harus melindungi satu sama lain.


"Kau mau kemana?" tanya seorang prajurit Elf saat temannya berjalan ke arah kegelapan.

__ADS_1


"Hanya buang air," ujarnya.


"Perlu ku antar?" guraunya sambil terkekeh.


"Sialan! kau pikir aku bayi!" gerutunya yang lebih mengundang tawa.


Berjalan semakin masuk ke dalam kegelapan hutan ia pikir tak membutuhkan pencahayaan karena itu akan berlangsung cepat, tapi ia salah.


Srek Srek


Sebuah suara dari semak-semak yang bergoyang membuatnya terlonjak, mencoba tenang agar tak termakan rasa takut ia mencoba menerka mungkin itu hanya makhluk malam seperti hiena.


Tapi kemudian matanya menangkap sekelebat bayangan gelap yang melintas, kini rasa penasaran menggerogoti nyalinya untuk memeriksa.


Berjalan mengikuti arah bayangan itu pergi tapi yang ia temukan hanya pohon-pohon.


"Mungkin hanya perasaan ku saja," gumamnya.


Memilih untuk kembali ia menengok dan hendak berjalan tapi.


Buk


Satu pukulan di tengkuknya sangatlah kuat hingga membuatnya tak sadarkan diri, tubuhnya yang lemas seketika ambruk ke tanah.


Memperlihatkan makhluk malam yang sesungguhnya, berfisik seperti manusia namun dengan mata hitam yang dipenuhi guratan disekitar kelopaknya.


Saat ia tersenyum sepasang taring mengkilat dibawah sinar rembulan, ketajamannya mampu menancap kuat di leher Elf yang sudah tak sadarkan diri.


Menghisap habis darah korban tanpa meninggalkan setetes pun, lalu menghilang didalam kegelapan setelah dahaganya hilang.


......................


Sepanjang hidupnya adalah kesendirian yang tak akan pernah berakhir meski ia memiliki keluarga, dikutuk dalam keabadian Damien memilih untuk tidak memiliki perasaan apa pun agar hatinya aman dari rasa sakit.


Tapi setelah mengambil haknya dari putri Agrarta ia menyesali apa yang seharusnya tidak ia lakukan, ia pikir bayi itu akan menjadi anak laki-laki yang mampu menjadi asistennya.


Bukan seorang gadis yang membelenggu hatinya dalam kata cinta, kini ia harus berjuang agar hatinya tidak mati bersama jiwa yang mengikatnya.


Pertama yang akan ia lakukan adalah kembali ke rumah, melakukan sedikit perjanjian dengan Lucy bilaman ada hal buruk yang terjadi di masa depan.

__ADS_1


Tapi kepulangannya itu malah disambut dengan rengekan Lucy, ia memberitahu bahwa Firat salah satu vampire muda yang baru lulus ujian terkena penyakit.


Damien segera memeriksa dan mendapati vampire muda itu terkena racun, terlihat jelas dari tidak adanya luka luar.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Lucy.


"Ambil darahnya, aku akan segera memeriksanya."


Lucy menurut, segera diambilnya sedikit darah Firat yang kemudian ia masukan kedalam botol kecil. Damien pun membawa darah itu kepada Alessa, meski di rumahnya ada tempat untuk meneliti tapi hanya Alessa yang mengetahui segalanya dan dapat dipercaya.


Ini bukan kali pertama Damien meminta tolong jadi Alessa sudah mengerti apa yang harus ia lakukan, ditelitinya darah itu hingga terkuatlah penyebab sakitnya Firat.


"Dimana Sophia?" tanya Alessa dengan wajah gusar.


"Aku memasukkannya ke Akademi, ada apa? kenapa kau malah bertanya tentangnya?" tanya Damien.


"Ini gawat, jika tebakanku benar Sophia adalah target utama bangsa Elf."


"Alessa ada apa? katakan dengan jelas!" perintahnya.


"Vampire muda ini terkena racun bunga mawar hitam," jawabnya.


"Apa?" tanya Damien tak percaya.


Mereka semua tahu tentang bunga ini, tidak berbahaya bagi siapa pun tapi jika kandungannya sudah ada di tubuh Elf maka itu beracun bagi vampire.


Dan jika kandungan bunga itu ada ditubuh Elf maka artinya mereka telah melakukan ritual untuk menandai bangkitnya sang penunggang, sebuah legenda kuno yang dipercayai seratus persen oleh makhluk berumur panjang seperti Elf, peri dan vampire.


"Itu artinya para Elf yang mengejar Sophia bukan ingin membalas dendam, tapi mereka membutuhkan Sophia sebagai ritual kebangkitan," ujar Damien yang mengerti isi pikiran Alessa.


"Cukup baik jika Sophia berada di Akademi, setidaknya tidak ada yang berani menyerang tempat itu. Tapi kau harus tetap waspada," ujar Alessa memperingatkan.


"Aku akan membuatkan obat penawar untuk vampire muda itu," lanjutnya sambil berjalan pergi.


Setelah selesai Damien segera membawa penawar itu untuk Firat, sekaligus membicarakan tentang kebangkitan sang penunggang kepada Lucy.


Mendengarnya tentu membuat Lucy gusar, dia yang sudah hidup lebih lama dari Damien pernah mengalami hal ini. Saat dimana sang penunggang bangkit dan meratakan dunia untuk tunduk hanya pada satu ras yaitu Elf, tak bisa membiarkan hal mengerikan itu terjadi lagi ia setuju untuk membantu Damien.


"Aku akan pergi menemui yang lain, untuk saat ini tolong persiapkan segalanya. Dan tolong ingat tentang Sophia," ujarnya hampir dengan nada memelas.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkan Sophia jatuh ke tangan makhluk bertelinga runcing itu," janji Lucy.


__ADS_2