Surprise Child

Surprise Child
Bab 61 Salah Kelas


__ADS_3

Hari berikutnya di Akademi Latisha sudah mulai paham mengapa kelasnya di anggap jelek, diam-diam karena penasaran ia suka mengintip kelas lain dan ternyata ucapan Percy benar.


Kelas lain terlihat begitu keren apalagi kelas sihir, murid dikelas itu dapat merubah bentuk suatu benda bahkan menghidupkan tanaman yang mati.


Kelas ksatria jauh lebih mengagumkan bagi seorang pria, semua murid disana berlatih setiap hari untuk melawan makhluk jahat.


Hati kecil Latisha mulai bertanya-tanya mengapa ia harus masuk kelas hewan, ia memang menyukai hewan tapi bukan berarti potensinya ada di sana bukan? berfikir terus tiba-tiba ia teringat pernah mengeluarkan sihir dari tangannya.


Itu adalah saat mereka di kejar Amora, saat itu berkat arahan Sophia ia berhasil mengeluarkan sihir yang dahsyat.


"Mungkin terjadi kesalahan," harapnya.


Menaiki tangga ia datang ke atap kastil, disana tidak ada orang sama sekali sehingga ia rasa akan aman jika mencoba menggunakan sihir di sana.


Ia ingat rapalan mantra yang di ajarkan Sophia, merentangkan tangan ke depan ia memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi. Rapalan mantra ia bacakan dengan tingkat ke fokusan yang tinggi, saat cahaya mulai muncul di telapak tangannya ia tersenyum senang.


Tapi tekanan dari dalam tangannya tiba-tiba tak bisa di kontrol, semakin lama cahaya semakin membesar dan saat ia sudah kewalahan cahaya itu melesat ke bawah menghantam lantai.


Duaaarrr...


Suara ledakan yang begitu besar tentu saja membuat semua orang kaget, di tambah lagi getarannya yang bagai gempa bumi menakuti semua orang terlebih murid.


Latisha terengah-engah, asap mengepul dari bekas ledakannya. Perlahan saat asap menghilang ia bisa melihat lantai yang sudah hancur, puingnya berjatuhan ke lantai bawah tepat dimana orang-orang sedang lalu lalang.


Menatap ngeri ia sadar telah membuat kesalahan, tentu saja pengawas segera tahu itu perbuatannya. Ia pun di bawa ke ruang Dekan untuk di interogasi sampai di mintai pertanggungjawaban.


"Maaf," satu kata awal yang menandakan ia menyesal.


"Kenapa kau melakukan hal ini?" tanya Dekan.


"Aku belajar sihir dari ibu, aku pikir aku bisa menggunakannya," sahutnya sebagai pembelaan namun tidak benar-benar membela dirinya.


"Untung saja tidak ada korban jiwa, kau harus lebih berhati-hati Latisha! belajar sihir bukan berarti kau bisa menggunakannya seenakmu," ujar Dekan.


Suaranya lembut seperti biasa namun ekspresinya jelas menunjukkan bahwa ia sedang marah.


"Aku pikir... aku salah masuk kelas," ujar Latisha mengakui alasan di balik tindakannya.


"Maksud mu?" tanya Dekan.


"Kelas hewan sangat jelek, berbeda dengan kelas lainnya yang keren. Aku ingat pernah menggunakan sihir dengan ibu jadi aku pikir mungkin sebenarnya jurusan ku kelas sihir, karena itu aku mencobanya. Jika berhasil aku hendak meminta pindah kelas ke kelas sihir," terangnya.


Dekan menggelengkan kepala, ia sangat memaklumi keresahan Latisha. Ia sendiri kaget mendapati Latisha berbakat di kelas hewan, namun jelas tidak ada yang salah dengan hal itu.


"Apa yang membuat mu berfikir kalau jelas mu tidak keren seperti kelas lain?" tanya Dekan.


Latisha sedikit berfikir, sesungguhnya ia kurang mengerti juga.


"Dikelas ku hanya belajar tentang hewan, setiap hari kami menghafal jenis hewan hingga mempelajari habitat dan segala sesuatu tentangnya. Tapi di kelas lain contohnya kelas sihir mereka bisa menghidupkan tanaman mati! bukankah itu hebat?" jelas Latisha.


Dekan tersenyum.


"Sebagai pengembala kau harus tahu hewan mu makan apa dan hidup dimana, jika kau tahu maka akan mudah untuk mengendalikan mereka. Kau baru beberapa hari masuk kelas jadi tidak mungkin pengajar akan langsung memberikan pelajaran cara menaklukkan hewan," ujarnya.


"Apa? apa di kelas ku akan di ajarkan hal seperti itu?" tanya Latisha.


"Tentu saja, bahkan akan datang pada masanya kau mampu mengendalikan semua jenis hewan. Kau bisa memerintah mereka semaumu," jawabnya.


"Keren!" seru Latisha.

__ADS_1


Dekan cukup kaget akan seruan itu, ia tak menyangka Latisha mudah di bujuk hingga bisa menerima penjelasan itu.


"Baiklah sekarang kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu," ujar Dekan.


"Um... baik Sir," jawab Latisha.


Semalaman Latisha harus menyapu puing bekas robohnya atap akibat perbuatannya, melelahkan memang sampai ia hanya memiliki waktu tidur selama satu jam saja.


Bangun dengan mata panda Latisha mendapatkan olokan dari murid-murid lain, tapi Latisha tidak peduli.


Ia masuk ke dalam kelasnya seperti biasa, Mam baru memulai pelajaran tapi saking mengantuknya Latisha malah tidur. Barney mencoba membangunkannya namun tidak berhasil, Mam juga tidak berniat untuk membangunkan sebab ia mengerti bahwa Latisha kelelahan.


Tiba jam istirahat Latisha baru bangun, ia bersama kedua teman sekelasnya pergi bersama ke kantin untuk makan siang.


Dugh


"Hei!" seru Latisha saat seseorang menyenggol bahunya.


Hampir saja seluruh makanan di nampannya tumpah karena hal itu.


"Oh maaf, panda... " olok seorang murid laki-laki yang kemarin menghinanya juga.


"Sialan! siapa sih dia?" gerutu Latisha menatap sinis.


"Hiraukan saja dia, namanya pangeran Erick. Dia dari kelas senjata jadi memang seperti itu tingkahnya," sahut Percy sambil berjalan mendahului Latisha.


Masih kesal Latisha duduk dan mulai makan, tapi selang tak berapa lama kemudian Erick kembali mendekatinya.


"Aku tidak percaya kau berani mengacau di Akademi, bagaimana lembur semalam? ku lihat pagi tadi lantainya sudah bersih jadi bagaimana kalau habis ini kau bersihkan juga kamarku?" tanya Erick.


Teman-teman Erick yang ikut mengerubungi mereka tertawa, sementara Latisha yang kesal kemudian memasang wajah tersenyum.


Sontak ucapan itu membuat Erick malu, terlebih Percy dan Barney mencoba menahan tawa mereka.


"Kau... dasar pengembala bodoh! kau memang lebih pantas berada di kandang babi," balasnya.


Ia harap Latisha akan kesal karena ucapan itu, tapi Latisha justru memasang wajah pura-pura sedih dengan tangan terentang di dadanya.


Erick menjadi semakin kesal, ia tak tahu harus menggunakan kata cacian mana lagi agar Latisha marah. Kesal karena tak menemukan kata yang tepat ia pun akhirnya pergi sambil menggerutu.


"Wah.. Latisha... kau benar-benar hebat," puji Barney.


"Sungguh?" tanya Latisha senang mendapat pujian.


"Kau membuatnya tidak bisa bicara," ujar Percy.


Latisha tersenyum dengan bangga, ia tak mengira rasanya di puji teman akan sangat menyenangkan.


Sejak hari itu setiap Erick atau siapa pun yang mengolok-oloknya Latisha akan membalas dan membalikkan perkataan mereka, sampai di akhir pekan itu tidak ada lagi yang berani mengolok-olok mereka.


Hari itu di akhir pekan tak ada pelajaran, mereka bebas melakukan apa pun yang mereka senangi.


Latisha yang sudah memiliki janji dengan kedua temannya tengah sibuk meneliti seekor nyamuk yang mereka tangkap semalam dan mereka masukan ke dalam toples kaca.


"Latisha... Dekan mencarimu!" ujar seorang murid perempuan.


Latisha yang sedang asik terpaksa pergi dulu untuk memenuhi panggilan, sampai di depan pintu ruang Dekan tak lupa ia mengetuk pintu.


Begitu Dekan mempersilahkannya masuk berapa kagetnya ia melihat Albert sedang duduk di sana.

__ADS_1


"Paman!" serunya.


Albert yang sudah rindu segera bangkit dan memeluk anak kejutannya itu, Dekan mengerti mereka butuh untuk saling melepas rindu sehingga ia mempersilahkan mereka pergi jalan-jalan.


"Bagaimana pelajaran mu?" tanya Albert.


"Menyenangkan, aku belajar banyak hal dan sudah memiliki dua teman."


"Syukurlah, kau masuk kelas apa?"


"Kelas hewan," jawab Latisha.


Albert menghentikan langkahnya, jelas dari ekspresinya ia cukup terkejut mendengar hal itu.


"Aku juga sempat berfikir aku salah masuk kelas," ujar Latisha seakan bisa membaca pikiran Albert.


Albert pun kembali berjalan di samping Latisha.


"Lalu?" tanyanya.


"Ternyata tidak, jika di pikir lagi aku memang berbakat di kelas ini. Sebelum ibu membawaku ke sini aku sudah terbiasa hidup dengan para Naga, meski bukan Sang Penunggang tapi aku bisa memiliki ikatan batin dengan seekor Naga yang besar dengan ku. Bukankah itu artinya aku memang seorang pengendali hewan yang handal?" tanya Latisha.


Albert tersenyum, anak kejutannya begitu polos dan mudah untuk berfikir positif.


"Aku juga dulu pernah memiliki teman dari kelas hewan," ujar Albert.


"Sungguh?" tanya Latisha.


"Namanya Elyos, satu hal yang membuat ku kagum padanya adalah dia mampu membuat atraksi laba-laba. Dia bisa membuat hewan itu menarik gerobak kecil yang dia buat sendiri menggunakan kayu," ujarnya.


"Wah... dia sangat hebat!" ucap Latisha kagum.


Mereka melanjutkan jalan-jalan dengan memasuki taman, disana rupanya ada banyak murid lainnya yang sedang bersantai.


Melihat Albert para murid perempuan terpana pada ketampanannya, mereka mulai berbisik-bisik dan saling bertanya tentang siapa Albert.


Sampai Albert memutuskan untuk pulang mata para gadis itu masih saja mengikuti kemana Albert pergi, di depan pintu gerbang nampak langit sudah temaram saat Latisha mengantar kepergian Albert.


"Lain kali tolong ajak ayah, aku ingin dia lihat langsung bagaimana aku belajar di sini," pinta Latisha.


Albert tertegun, ia sudah meninggalkan rumah Alessa dan tak ada niatan untuk kembali lagi. Tapi jika itu keinginan Latisha maka ia harus bisa meredam kekecewaannya seorang diri.


"Baiklah, nanti aku ajak ayah mu," sahutnya seraya tersenyum.


Latisha balas tersenyum, kali ini ia langsung pergi masuk setelah Albert berpamitan. Tak seperti saat awal ia masuk ke Akademi yang terasa berat untuk jauh dari Albert, Latisha kembali menemui teman-temannya yang kini beralih sedang membaca buku tentunya tentang hewan.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya Percy.


"Maaf, paman ku datang berkunjung jadi kami ngobrol lama," sahutnya.


"Tisha kau sudah pernah membedah kodok?" tanya Barney tiba-tiba.


Latisha menggeleng.


"Kau harus melakukannya, itu ilmu dasar di kelas hewan. Kata Mam kita harus tahu anatomi tubuh hewan dengan baik agar jika mereka sakit atau terluka kita bisa memberi perawatan dengan benar," ujarnya.


"Dimana aku bisa menemukan kodok?" tanya Latisha.


Percy dan Barney saling menatap seraya tersenyum, membuat Latisha berfikir mereka tengah merencanakan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2