
Kamar itu memiliki dua tempat tidur yang artinya dia harus berbagi kamar, seorang gadis yang sebaya dengannya memperkenalkan diri sebagai Ariana. Putri bungsu dari Kerajaan Vandkhonka, ia sudah belajar disana selama lima bulan lamanya.
Setelah berganti pakaian yang diberikan akademi Ariana mengajak Sophia berkeliling, memperlihatkan tempat-tempat yang akan sering mereka kunjungi seperti ruang makan dan perpustakaan.
Esok harinya barulah Sophia memulai pelajaran, atas perintah pendidik ia mengenalkan diri kepada semua teman sekelasnya.
"Sophia setelah pelajaran usai pergilah ke ruangan Dekan," ujar pendidik itu.
Sophia mengangguk, cukup penasaran juga apa yang membuatnya di panggil dihari pertama ia belajar. Apalagi Ariana mengatakan ia harus melakukan ritual penting yang membuatnya semakin penasaran.
Tok Tok Tok
Setelah pelajaran usia Sophia pergi memenuhi panggilan, dengan sabar ia menunggu Sir.Hummut membuka pintu.
"Oh Sophia! aku sudah menunggumu," ujarnya mempersilahkan gadis itu masuk.
Ada yang berbeda dari ruangan Dekan itu, ia melihat sebuah pentacle dilantai dengan berbagai benda yang diletakkan tepat disetiap sudut.
"Berdirilah disana!" perintah Sir.Hummut.
Meski bingung tapi Sophia menurut, ia berdiri tepat di tengah pentacle. Memperhatikan bagaimana Sir.Hummut berjalan mengelilingi pentacle sambil membacakan mantra, perlahan semua benda yang berada di bawah kakinya melayang.
Berputar dengan arah berlawanan dari Sir.Hummut, Sophia dengan bingung memperhatikan setiap benda yang ada seperti pedang dan lainnya.
Cukup lama hal ini berlangsung sampai hatinya tergerak untuk mengambil sebuah amulet merah, begitu amulet itu ia genggam semua benda jatuh begitu saja.
"Kau sudah memilih," ujar Sir.Hummut membuat Sophia bingung ditengah kagetnya.
"Maksud anda?" tanyanya.
"Setiap benda adalah simbol dari kekuatan sejatimu, hatimu sendiri yang memilih amulet itu artinya kau memiliki potensi dalam sihir."
"Sungguh? aku pernah mencoba belajar ilmu sihir tapi nyatanya aku sangat lama mempelajarinya," ujar Sophia mengingat pelajaran dari Alessa.
"Mungkin kau hanya cara belajarmu yang salah, ini adalah akademi. Ditempat ini kami akan mengeluarkan potensi terbesarmu dan menyalurkannya pada hal yang positi," jelas Sir.Hummut.
Sophia mengangguk, apa pun itu tugasnya hanyalah belajar maka akan ia lakukan yang terbaik.
......................
"Albert bangun!" teriak Peter panik.
__ADS_1
Guncangan itu tentu membuat Albert seketika terbangun, bingung ia melihat orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Sementara Peter segera menarik tubuhnya agar ikut berlari, masih dalam kebingungan ia bertanya "Apa yang terjadi?".
"Para Elf itu datang memburu kita, selamatkan dirimu!" seru Peter.
Albert tak menyangka para Elf akan mengejarnya sejauh ini, tak ada pilihan ia terus berlari menembus hutan hingga terpisah dengan lainnya termasuk Peter.
Berjalan seorang diri ia berhasil selamat, tapi berada di hutan sendirian rupanya tidaklah menyenangkan. Dia yang terbiasa hidup dibawah naungan pengawas kini harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup, menyusuri hutan ia harus pandai mencari makanan dan tempat yang aman untuk tidur.
Dua hari berlalu ia baru menemukan sungai, sudah tak tahan karena merasa kulitnya lengket tanpa ragu Albert menyeburkan diri kedalam air yang dingin itu.
Aarrghhhh
Mengerang kedinginan ia menyelam semakin dalam sampai tubuhnya terbiasa akan suhu air, melihat jumlah ikan yang berlimpah ia juga mencoba menangkapnya untuk santap makan siang.
"Sial! aku masih kelaparan," gumamnya setelah menghabiskan dua ikan yang ia bakar.
"Apa aku baru saja mengumpat?" tanyanya bingung pada diri sendiri.
Di Akademi ia dikenal sebagai murid yang sopan dan pintar, kini setelah segala hal yang ia lalui membuatnya cukup stress hingga tak sadar mengumpat sendiri.
Menggelengkan kepala Albert memilih untuk kembali memasuki hutan, mencari makanan lain seperti buah-buahan.
Srek Srek
Tiba-tiba sebuah suara daun kering terinjak membuatnya penasaran, berjalan mengendap-endap di balik semak ia mencoba mengintip.
Syuuuut Jleb
"Ah!" pekiknya mendapati sebuah panah menancap tepat di lengannya.
Mengerang Albert mencoba menahan rasa sakitnya, sementara sebuah suara langkah yang tadi ia dengar berjalan kearahnya.
Srek
Semak-semak itu tersingkap, memperlihatkan seorang gadis dengan rambut merah dan ekspresi kaget.
"Astaga... maafkan aku, aku pikir kau... " ujar gadis itu menyesal.
Ia segera menghampiri Albert, melihat seberapa dalam luka yang didapatnya. Wangi harum wanita itu entah mengapa membuat Albert mati rasa, selain mengagumi kecantikannya tak ada lagi yang ia rasakan.
"Pasti sakit," ujarnya panik.
__ADS_1
"Ya, panah mu menancap tepat di lenganku. Tapi wajahmu yang melukai hatiku," ujar Albert pelan tanpa memalingkan pandangannya dari gadis itu.
Sementara si gadis membalas dengan tatapan tajam.
"Sekarang matamu menusuknya," ujarnya yang kini membuat gadis itu tersenyum.
"Maha besar yang memiliki kuasa, senyum mu adalah obat yang menyembuhkan luka ku."
"Yarren," ujar gadis itu memperkenalkan diri sambil menahan tawa.
"Kau bisa memanggilku sayang atau pangeran ku," balas Albert yang membuat Yarren semakin tak bisa menahan tawa.
"Ayo! aku akan mengobati luka mu," ajaknya.
Membantu Albert bangkit Yarren juga memapahnya berjalan, menembus rimbunnya hutan ia tak menyangka ada sebuah gua dibalik tanaman rambat.
Gua itu seperti lorong panjang yang dipenuhi batu dan kerikil, semakin mereka masuk kedalam cahaya semakin hilang hingga menjadi gelap total.
Anehnya Yarren dapat berjalan dengan baik dan memapahnya tanpa tersandung, akhirnya setelah beberapa menit dalam kegelapan ia melihat cahaya didepan.
Begitu mereka keluar Albert dibuat takjub akan pemandangan indah yang luar biasa, ada banyak rumah yang mengartikan ini adalah kota terisolasi.
"Ayo!" ajak Yarren.
Mereka kembali berjalan, melewati rumah dan orang-orang yang menatap mereka. Sampai disatu rumah dengan tanduk rusa menghiasi atas pintu membuat Albert sadar dimana ia berada.
"Yarren, kau dari suku Zimbe?" tanyanya.
"Ya," sahut Yarren seraya tersenyum.
Itu membuat Albert tersenyum senang, ia tak menyangka dapat menemukan suku tersebut. Menurut buku yang telah ia baca suku Zimbe merupakan ras suku yang jarang terlihat karena mereka memang memilih untuk tidak berinteraksi dengan suku lain, mereka adalah suku dengan tingkat kepintaran yang tinggi.
Mereka membangun semuanya sendiri sehingga jarang membutuhkan bantuan suku lain, mereka juga memiliki fisik yang kuat sehingga justru suku lain yang membutuhkan mereka.
"Aku akan mencabutnya," ujar Yarren sebagai peringatan.
Albert bersiap dengan membenamkan segumpal kain ke mulutnya, begitu Yarren menarik panah dari lengannya tentu rasa sakit yang luar biasa itu membuatnya mengerang.
Darah segar keluar dari lubang kecil itu, dengan sigap Yarren menutupnya dan memberi obat kepada Albert agar pendarahannya tidak parah.
Namun obat yang diberikan Yarren membuatnya kedinginan hingga akhirnya ia pun tak sadarkan diri.
__ADS_1