Surprise Child

Surprise Child
Bab 44 Belum Selesai


__ADS_3

Setelah berpisah dengan Damien dan yang lainnya Alessa memilih untuk kembali menyelidiki tentang Sang Penunggang, setelah banyak meneliti kerja kerasnya pun membuahkan hasil.


Sejarah memang ditulis oleh si pemenangan, yang sesungguhnya Sang Penunggang tidaklah sehebat rumornya. Ia memiliki kelemahan yakni pada naganya, Sang Penunggang dan tunggangannya terikat pada satu batin kuat yang membuatnya saling merasakan sakit satu sama lain.


Seperti yang terjadi pada Luca Sophia juga ikut merasakannya, rumor tentang Sang Penunggang adalah pemimpin bangsa Elf pun adalah bualan paling besar yang terlanjur menyebar ribuan tahun.


Sang Penunggang hadir bukanlah untuk memimpin bangsa Elf pada ras tertinggi, melainkan dia lahir untuk meratakan semua ras. Hanya saja nenek moyang bangsa Elf memanfaatkan kekuatan Sang Penunggang demi mencapai puncak kejayaannya, inilah yang salah kaprah.


Saat Sang Penunggang menjadi musuh semua ras karena kekuatannya yang di luar nalar sesungguhnya terselip sebuah kebaikan yang tak di sadari, yaitu bersatunya semua ras demi mencapai kedamaian bersama.


Sayangnya bangsa Elf terlalu angkuh untuk tidak mau bersatu, memutar balikkan fakta hanya karena Sang Penunggang lahir dari rahim Elf akhirnya sejarah pun tercipta seperti yang mereka mau.


Mendapati kebenaran Alessa juga menemukan cara untuk menyelamatkan Sophia, kekuatan Sophia sebagai Sang Penunggang hanya akan aktif jika hatinya menjadi negatif. Entah itu merasa sedih, marah atau benci.


Jika perasaan itu sangat kuat maka Sophia akan kehilangan kesadaran dan melepaskan kekuatan Sang Penunggang, maka satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah menenangkan hatinya.


Kini saat kekuatan Sang Penunggang aktif karena kesedihan Sophia melihat kondisi Luca yang terluka parah Alessa segera bergegas mencoba menghampirinya untuk menenangkannya.


Tapi sayang angin kencang berputar-putar di sekeliling Sophia yang membuat siapa pun tak akan bisa mendekatinya.


"Albert! kita harus menenangkan Sophia!" seru Alessa menghampiri.


Albert menurunkan Damien di tempat yang aman, lalu bertanya "Bagaimana caranya?".


" Aku akan membuka jalan untuk mu, setelah kau masuk ke dalam lingkaran angin itu sadarkan Sophia apa pun caranya."


"Kau yakin itu akan berhasil? sejak awal aku sudah mencoba bicara padanya tapi ia bahkan tak menyadari aku ada," tanyanya.


"Albert satu-satunya cara untuk menyelamatkan Sophia adalah menjaganya dari perasaan negatif, dia tidak boleh marah, sedih apalagi benci. Kita harus membuat hatinya nyaman untuk menghilangkan semua perasaan negatif itu," jelas Alessa.


"Pergilah!" seru Damien.


"Aku yakin kau pasti bisa melakukannya," ujar Damien tegas.


Menatap keyakinan di mata Damien membuat Albert berfikir apa yang membuatnya bisa yakin seperti itu, bukankah dia kekasih Sophia jadi seharusnya hanya Damien yang mampu melakukan tugas ini.


Sementara dia hanya seorang figuran, seseorang yang jika tidak ada pun tidak masalah.


"Kita tidak punya banyak waktu," ujar Alessa mengingatkan.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Albert.


"Sampaikan perasaan mu padanya, aku yakin Sophia dapat mendengar mu jika kau bersungguh-sungguh," jawab Damien.


"Tapi kenapa aku?" tanya Albert lagi meragu.


"Sebab kau adalah saudara kembarnya," sahut Damien yang membuat Albert terpaku.


Ya, mereka tidak memiliki DNA yang sama tapi terikat pada darah yang sama. Darah Meseress yang menjadikan Sophia berhati lembut, darah yang membuat Albert rela menjadi umpan asal Sophia selamat.


Mengepalkan tangan Albert mulai menenggakkan tubuhnya, tatapnya yang tajam mengarah pada pusaran angin besar di sekitar Sophia.


"Ayo kita lakukan!" ujarnya.


Alessa mengangguk, maka mereka pun bergegas pergi. Alessa membuat perisai di tubuh Albert untuk melindunginya, semakin Albert berjalan mendekati Sophia angin itu semakin terasa kuat.


Alessa pun semakin mengerahkan kekuatannya agar Albert dapat berjalan tanpa masalah, tentu tidak mudah apalagi saat Albert berhasil mendekat kurang dari tiga kaki.


Tekanan dari angin hampir membuat Alessa mencapai batasnya, Albert pun mulai khawatir pada perisainya yang mulai retak.


"Sedikit lagi!" seru Albert meminta Alessa untuk bertahan.


Alessa mengangguk dengan wajahnya yang memerah, sementara Albert kembali mengambil langkah. Terasa berat memang melawan pusaran angin itu, salah-salah ia bisa terhempas atau terjebak dalam putaran


Aaaaaaaarrrrgghhhh....


Teriak Albert untuk memacu tenaganya yang terasa melemah, hanya tinggal dua langkah lagi dan ia akan berhasil masuk. Dari balik pusaran angin Albert sudah dapat melihat Sophia yang berdiri tegak tak bergeming bagai patung.


"Aku... tidak.. akan menyerah... " seru Albert memaksa kakinya untuk melangkah.


whuuusss...

__ADS_1


Prang


Dengan satu lompatan akhirnya Albert berhasil masuk dan seketika perisai buatan Alessa pun pecah, terengah-engah Albert mencoba mengatur nafasnya.


"Sophia!" serunya sambil memegang kedua bahu Sophia.


Tapi meski tubuhnya di goyangkan Sophia tetap tak sadarkan diri, ia tak melihat siapa yang berdiri di hadapannya atau mendengar seruannya.


"Sophia sadarlah! aku tahu kau pasti mendengar ku, aku mohon Sophia.. " pinta Albert dengan suara serak akibat airmata yang membuat hidungnya perih.


Tetap saja Sophia tak bergeming, membuat Albert hampir putus asa dan menyalahkan dirinya atas semua hal yang terjadi.


"Saat pertama kali pulang ke istana yang ku lihat adalah lautan darah dan reruntuhan, dari seorang pangeran tiba-tiba aku berubah menjadi buronan. Sejak kecil aku sudah sendirian tanpa orangtua jadi saat mengetahui mereka sudah mati aku merasa sedih, tapi kesedihan ku karena tak memiliki kesempatan bertemu dengan mereka," ujar Albert pelan mengeluarkan unek-unek yang tak pernah ia katakan pada siapa pun.


Menatap Sophia dengan senyum pahit ia kembali berkata.


"Aku pikir kau lebih beruntung dari aku, setidaknya kau sempat bertemu dan merasakan kasih sayang mereka. Sebenarnya aku sangat iri padamu, karena itu ketika mengetahui kau adalah Sang Penunggang hatiku segera diselimuti kegelapan yang kemudian menginginkan kematianmu. Tapi.... bagaimana bisa aku melukai saudara ku sendiri?"


Pertanyaan itu mengundang bawang yang kemudian meneteskan air matanya, rasa pilu semerbak di cuping hidungnya yang membuatnya sesak.


Dengan penuh sesal ia memeluk Sophia, mendekapnya untuk menyalurkan perasaannya.


"Kenapa kau melukai dirimu dengan semua perasaan itu? jika kau ingin marah benci saja aku yang telah membawamu pada ketidakberuntungan," bisik Albert tepat di telinganya.


"Sophia, jangan pendam sendiri... aku ingin kau membagi semua luka mu padaku. Karena kita adalah saudara.. karena kau juga anak kejutan," lanjutnya.


Sesuatu menyentak hati Sophia, sebuah sengatan yang membuat benaknya menampakkan berbagai kenangan. Semua yang membuat hatinya merasa bahagia, senang, sedih, kecewa, marah, benci, menyesal.


Bercampur menjadi satu membuat genangan di matanya, satu tetesan kemudian membasahi punggung Albert yang membuatnya melepaskan pelukan.


Perlahan pusaran angin yang mengelilingi mereka pun menghilang, Sophia telah kembali.


"Albert," panggil Sophia lirih.


Di peluknya Albert sampai ia merasa lebih tenang, Luca pun yang awalnya tak berdaya kini sedikit lebih segar hingga bisa bangkit meski pedang masih menancap di dadanya.


"Luca, bertahanlah," pinta Sophia.


"Sophia! biar aku bantu mengobati lukanya," ujar Alessa menghampiri.


Roaaaaaaaaaaaarrrrr...


Jeritan Luca begitu pilu, membuat Sophia tidak tega apalagi saat darah mengalir deras dari lukanya.


Dengan sigap kemudian Alessa membaca mantra penyembuhan, itu akan menguras seluruh energinya tapi ia sama sekali tidak keberatan.


Sebuah cahaya kemudian muncul dari kedua telapak tangannya, Alessa membenamkan cahaya itu ke luka di dada Luca sambil terus membaca mantra.


Perlahan robekan itu menghilang, menghentikan aliran darah yang keluar.


Bruk


"Alessa!" seru Sophia kaget mendapati Alessa tiba-tiba terhuyung jatuh setelah mengobati Luca.


Dengan sigap Albert menopang tubuh Alessa dalam dekapannya.


"Kita harus cepat pergi... matahari akan segera terbit," ujarnya lemah.


Mereka menatap langit, cahaya putih mulai timbul di sisi timur. Tak disangka malam cepat berlalu, Sophia pun menyuruh Albert mengangkat tubuh Alessa ke atas punggung Luca.


"Aku akan membawa Damien juga, kalian bertiga pergilah duluan aku akan menyusul nanti," ujar Albert.


Sophia mengangguk setuju, membawa dua tubuh yang tak berdaya bersama dengan Sophia Luca terbang di atas langit. Meninggalkan kastil yang telah gosong dan menyisakan sedikit api disana sini, sementara Albert memastikan semua kawanan manusia serigala telah pergi baru ia pun pergi.


......................


Pertempuran antara Aro dan Zaruta seketika terhenti saat mereka menyadari Sophia tidak ada di sana, saling memberi perhitungan mereka sepakat untuk tidak terikat dan menempuh jalan masing-masing.


Zaruta memilih kabur saat menyadari fajar akan menyingsing, sementara Aro sempat melihat sekeliling. Mencari tahu kemana arah Sophia pergi untuk mengikuti jejaknya besok malam.


......................

__ADS_1


Di dalam gua tempat tinggal Sophia dan Luca mereka memberi pengobatan kepada Damien dan Alessa, beruntung Alessa hanya kelelahan sehingga ia hanya perlu beristirahat.


Esok siangnya ia sudah bangun dengan bugar, pergi keluar untuk mencari tanaman obat untuk Damien. Saat kembali ia membantu Sophia membuat ramuan, melihat betapa cekatannya Sophia ia sadar sihir Sophia lebih condong dalam ilmu pengobatan.


"Kau belajar ini semua di Akademi?" tanya Alessa.


"Ya, saat diberi tantangan untuk mengubah sehelai bulu menjadi senjata milik ku berubah jadi pisau bedah. Dari sana Dekan menyuruhku untuk memperdalam ilmu pengobatan," sahutnya.


"Aku yakin beberapa tahun kemudian ilmu pengobatan mu akan menjadi yang terhebat di seluruh dunia," ujar Alessa yakin.


"Jangan memuji ku seperti itu, di banding dengan ilmu mu itu tidaklah seberapa. Aku tidak bisa mengobati luka seperti yang kau lakukan kepada Luca," ujarnya.


Alessa tersenyum lalu berkata, "Aku butuh waktu sepuluh tahun untuk menguasai ilmu itu tapi aku yakin kau hanya perlu beberapa bulan saja."


"Bagaimana bisa kau seyakin itu?" tanya Sophia.


"Karena kau ahli dalam pengobatan," sahutnya.


Sophia termenung, ia tak mengerti mengapa orang-orang begitu yakin kepadanya padahal ia sendiri selalu penuh keraguan.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Damien melihat jelas raut wajah Sophia yang bengong saat duduk di sampingnya.


"Ah tidak," sahutnya sambil menggelengkan kepala.


Tangan Damien yang kini sudah bisa di gerakkan beralih menggenggam tangan Sophia, meremasnya lembut.


"Kau sudah berhasil melawan Sang Penunggang, aku yakin kedepannya kita dapat hidup bersama tanpa masalah. Karena itu jangan sembunyikan apa pun dari kami," ujarnya.


Sophia terdiam, tak tahu harus menjawab apa sebab ia tahu semua belum berakhir. Selama ia masih hidup sampai kapan pun ia akan di buru dan berulang kali Damien serta orang-orang yang ia sayangi akan berada dalam bahaya.


Melepaskan genggaman tangan Damien ia berkata, " Setelah kau sembuh kita akan pergi jauh dari sini, tapi jalan yang kita ambil tidak akan sama."


"Apa maksudmu?" tanya Damien sambil mengernyitkan dahi.


Sophia membuang muka, tak ingin menjawab sekarang karena hatinya juga belum siap mengatakan semua perpisahan sementara kerinduan masih merajam hatinya.


Ia memilih diam dan Damien pun seperti biasa tak memaksa Sophia untuk bicara.


Merenung Sophia duduk ditepian mulut gua, tanpa rasa takut jatuh kebawah dan berakhir dengan kematian. Alessa yang melihat duduk tepat disampingnya, ikut menatap hamparan pohon yang rimbun.


"Aku akan pergi, mungkin besok," ujarnya.


"Kemana?" tanya Sophia.


"Entahlah, semua sudah melihat wajahku jadi pasti aku juga akan diburu sebagai musuh dunia yang berpihak Sang Penunggang. Tapi aku tidak peduli, masih ada bagian dunia yang belum terjamah dan aku yakin ada tempat yang cocok untuk ku."


"Maaf," ujar Sophia sendu.


"Kenapa kau minta maaf?" tanya Alessa.


"Karena aku membuat hidupmu jadi sulit, andai kita tidak bertemu, andai kau tidak berpihak padaku kau pasti dapat hidup tenang."


"Oh Sophia, aku melakukan semua ini demi Damien! tidak ada hubungannya dengan mu!" tukas Alessa yang membuat Sophia mengernyitkan dahi.


Alessa menghembuskan nafas panjang, kepingan hati yang sudah tak dapat di perbaiki memberontak mulutnya untuk bicara.


"Saat usiaku masih belasan tahun itu adalah masa terbaik yang pernah aku miliki, potensi ku sebagai penyihir di sadari Puan sihir yang membuatnya menjadikan ku murid. Tapi aku tidak suka belajar, aku terus berontak dan membuat ulah sampai dia kewalahan. Saat itulah bertemu vampire yang sangat mempesona, tatapan matanya yang dingin membuatku tak ingin berkedip. Sikapnya yang dingin membuatku penasaran apa yang ia suka dan benci," ujar Alessa memulai kisahnya.


"Saat itu aku sadar bahwa aku adalah mangsa baginya, bukannya takut aku malah ketagihan saat ia membenamkan mulutnya di leherku. Aku tidak bisa lagi mengontrol diriku yang haus akan dirinya sampai kabur dari Puan Sihir dan terus berjalan di belakangnya, sampai akhirnya ia meruntuhkan hasratku."


Secara tidak sengaja Sophia mendekat, terlalu penasaran dengan bagaimana kisah itu berlanjut.


"Dia memperlakukan semua wanita dengan sama, perlahan itu membuat ku sadar bahwa sampai kapan pun vampire tidak akan pernah merasakan cinta hingga pada akhirnya harapan yang setinggi langit itu menjadi palu yang memukul hatiku hingga pecah."


"Dia... Damien?" tanya Sophia.


"Hatiku memang pecah sampai aku mengambil sumpah untuk menjadikannya sahabat ku selamanya, tapi namanya masih untuh dalam kepingan hatiku. Saat untuk pertama kalinya aku melihat cinta di matanya aku tahu sumpah ku harus terlaksana dengan baik," ujar Alessa bersungguh-sungguh.


Sophia terpaku, ia tak menyangka ada cinta murni yang menanti Damien selama ini. Itu membuatnya merasa bersalah karena seakan ia telah merenggut Damien dengan paksa.


"Cinta ku tidak terbalas dengan sempurna, tapi sebagai gantinya aku mendapatkan sesuatu yang lebih."

__ADS_1


Alessa menatap Sophia lekat-lekat.


"Awet muda, dengan bersama Damien aku mendapatkan koneksi dengan para vampire. Selama ini aku membantu mereka dalam berbagai hal dan sebagai gantinya aku mendapat serum awet muda yang berasal dari darah mereka. Bukankah aku begitu naif?" tanya Alessa.


__ADS_2