Surprise Child

Surprise Child
Bab 25 Pemurnian


__ADS_3

Albert membaik dalam waktu singkat, namun ia terlihat cemas dan kepergok sesekali melamun. Saat ditanya ia selalu menjawab tak ada apa-apa dengan senyum yang terasa dipaksakan.


Melihat situasi Damien mengajak kedua anak kejutannya bicara serius, tentang apa yang kini akan mereka lakukan.


"Keinginan ku adalah pergi ke selatan, karena kalian adalah anak kejutanku maka seharusnya kalian menuruti perintahku. Tapi mengingat situasi yang sulit aku rasa kemana pun kita pergi bangsa Elf pasti akan mencari kalian," ujar Damien membuka obrolan.


"Aku ingin mengambil kembali istana ku," ujar Albert pelan.


"Kau tidak bisa menjadi Raja menggantikan kakekmu," sahut Damien dingin.


"Kenapa?" tanya Albert keras.


"Karena kau adalah anak kejutan! kau sudah tidak memiliki ikatan apa pun dengan Kerajaan Meseress, karena itu apa pun yang terjadi pada istana itu sudah diluar dari tanggungjawab mu."


"Tidak! aku akan tetap merebut kembali istana ku!" bantah Albert tegas.


"Albert tenanglah... aku pun ingin membalas bangsa Elf tapi kita tidak bisa melakukannya sendirian," ujar Sophia menenangkan.


Albert pun menutup mulutnya, menatap sendu pada gadis yang kini statusnya di pertanyakan. Entah mengapa ucapan Ursula membekas dibenaknya, membuatnya ragu siapakan Sophia yang sebenarnya.


"Tidak ada cara lain," ujar Damien tiba-tiba.


"Kita harus membunuh sang Penunggang sebelum ritual pembangkitannya dilakukan," lanjutnya.


Tak ada yang menyahut, mereka larut dalam benak masing-masing. Begitu juga dengan Damien yang sebenarnya tidak ingin lagi terlibat dalam pertikaian itu, tapi ia tak punya pilihan.


Tak bisa menyimpan unek-unek sendiri Albert memilih menenui Damien secara diam-diam.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu," ujarnya.


"Katakan!" sahut Damien.


Dengan sedikit ragu Albert mengatakan apa yang Ursula ceritakan padanya, ia sebenarnya tidak sepenuhnya percaya pada Ursula tapi entah mengapa ia juga tidak bisa menepis ucapan itu begitu saja.


Selama ini ia hidup di Akademi dan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, bahkan ayahnya pangeran Thodor sedikit pun tidak pernah menyinggung tentang Sophia yang kemungkinan itulah alasan mengapa ia ragu.


"Apa... ada cara agar kita mengetahui siapa Sophia sebenarnya?" tanya Albert.


"Bukannya aku ragu, tapi... bukankah harus kita pastikan?" ujarnya lagi.


Damien merenung keras, andai salah satu saja anggota keluarga kerajaan atau pelayan istana masih hidup tentu ia bisa bertanya dan mulai menyelidiki hal ini.


"Ah aku hampir lupa, seorang pria bernama Jonah menitipkan pesan untuk mu."


"Apa? apa yang dia katakan?" tanya Damien seketika begitu mendengar nama kawan lamanya itu.


"Dia hanya berkata aku adalah anak kejutan mu dan berkata kau akan menyelamatkan ku,"


"Dimana dao sekarang?" tanyanya lagi.


"Sudah pergi," sahut Albert dengan wajah murung.


Tak ada air mata yang mengalir di pipi vampire itu, tapi Albert dapat melihat jelas kesedihan yang dalam dimatanya.


Ia mengucapkan belasungkawa dan memberi waktu kepada Damien untuk sendiri, sementara Yarren yang diam-diam mendengar percakapan itu mengajak Albert untuk pergi ke tempat biasa mereka menghabiskan waktu.


"Saat aku mendengar kebar mu dari Sophia tanpa pikir panjang aku segera pergi dengan niat untuk menyelamatkan mu, Sophia ikut pergi menemaniku dan dalam perjalanan itu kami banyak mengobrol. Dia adalah orang yang menyenangkan," ujar Yarren.


"Ditengah perjalanan prajurit Raja Salim mengajak kami ke istananya, rupanya ia bersama Raja lainnya memiliki rencana untuk meruntuhkan bangsa Elf dan mereka bekerja sama. Sophia yang ikut dalam rencana itu rela menjadi kambing hitam demi memberi waktu kepada pasukan untuk menyerang," lanjutnya.


Matanya yang awalnya menatap langit luas beralih pada Albert yang mengerutkan keningnya padanya.


"Kadang saudara bukan hanya karena ikatan darah, tapi juga karena ikatan batin. Apa kau tidak merasa kalian memiliki ikatan batin?" tanyanya.


"Kau menguping," tuduh Albert.


"Aku tidak sengaja mendengarnya tapi itu tidak penting."


"Apa kau menyuruhku untuk menerima Sophia meski dia adalah Sang Penunggang? orang yang lahir dari bangsa yang telah menghancurkan keluarga ku?" tanya Albert dengan perasaan tak senang.


"Dia tidak terlibat dalam perang itu, bahkan dia menggantikan posisi mu sebagai anak kejutan awalnya."


"Itu karena dia harus membayar apa yang telah ia perbuat!" seru Albert penuh emosi.


Yarren terdiam, ini adalah kali pertama Albert bicara dengan nada keras padanya. Bahkan menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian, itu membuat satu goresan dihati Yarren yang membuat air matanya mengalir.


Sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan Albert mulai melunak, ia menurunkan pandangannya dengan penuh sesal dan siap untuk meminta maaf tapi Yarren lebih dulu bicara.


"Bahkan Sophia belum tentu sang Penunggang dan kau sudah membencinya."


Andai waktu bisa terulang Albert ingin memperbaiki cara bicaranya tadi, ia terlalu terpengaruh pada ucapan Ursula hingga hilang kepercayaan.

__ADS_1


......................


Satu-satunya nama yang selalu melintas dalam benaknya saat mendapati jalan buntu hanyalah Alessa, sebagai penyihir seharusnya ia tahu banyak hal termasuk tentang Sang Penunggang.


Memutuskan untuk meminta pertolongan Damien mengirimkan pesan yang kemudian dibalas Alessa keesokan harinya, ia menyuruh Damien membawa Sophia menemui seorang puan sihir untuk melakukan pemurnian.


Tanpa menunda waktu lagi Damien segera mengajak Sophia bersiap untuk pergi, Albert yang mengetahui hal itu memilih untuk ikut dalam perjalanan itu sebab ia juga tak mau berpisah dengan Damien setelah lelah mencari vampire itu kemana-mana.


"Tidak bisakah kau tinggal?" tanya Yarren yang belum siap berpisah lagi dengan kekasihnya itu.


"Kau takdir ku bersama Damien," sahutnya.


"Kalau begitu aku ikut dengan mu, lagi pula aku sudah melepas gelar putri ku."


"Tidak Yarren, kumohon... aku sudah banyak kehilangan orang terdekatku dan aku tidak mau bahkan kau lecet sedikit pun. Aku akan datang lagi jadi tunggulah aku," pintanya.


Jika Albert sudah memohon maka ia tak bisa menolak, lagi pula ini waktu yang tepat untuk membiarkan dia saudara itu lebih mengenal satu sama lain.


Demi mematahkan persepsi jelek Albert tentang Sophia ia akhirnya mengangguk tanpa merajuk, mengantarkan mereka bertiga hingga ke mulut gua dan hilang dalam pandangan mata.


"Aku suka dia," ujar Sophia pelan dengan senyum manis di wajahnya.


"Entah siapa yang lebih dulu lahir diantara kita tapi sudah kuputuskan dia akan menjadi adik iparku," lanjutnya.


Itu adalah pernyataan tak terduga, tapi sanggup membuat musim bunga di hati Albert.


Dalam perjalanan yang memakan waktu entah berapa hari mereka bertiga hidup seperti keluarga, saling bertanya dan saling menjawab bahkan bercanda.


Perlahan membuat Albert lebih bersikap layaknya seorang kakak yang menjaga Sophia dari apa pun, hingga akhirnya mereka tiba di tempat tinggal puan sihir.


Cukup mengejutkan tempat tinggal itu berupa rumah bobrok diatas pohon, di penuhi lumut yang membuat mereka sulit naik karena tangga gantung yang licin.


Saat tiba diatas tak ada apapun yang mereka temukan kecuali ruangan berantakan yang hanya ada kursi dan meja, masuk kedalam sarang Laba-laba menyambut.


"Tidak ada apa pun disini," ujar Sophia yang semua orang sudah tahu.


"Mungkin dia sudah pindah," ujar Albert.


"Tidak, ini bukan rumahnya melainkan jalan menuju rumahnya," sahut Albert sambil mengecek lantai yang di penuhi dengan serbuk belerang.


Mengecek lebih jauh ia menemukan serbuk itu lebih banyak dibagian dinding, berhasil memecahkan teka-teki ia meminta Sophia membuat perisai untuk mereka bertiga.


Meski tidak mengerti untuk apa Sophia tetap menurut, setelah seluruh tubuh Damien dilingkupi perisai ia berjalan ke arah dinding dan tanpa disangka Damien mampu menembus dindingnya.


Satu persatu mereka masuk menembus dinding dan muncul pada jalan setapak yang dipenuhi dengan salju, menatap sekeliling Damien tahu mereka berada pada satu dimensi buatan.


"Kau bisa menghilangkan perisainya," ujarnya setelah menimbang mereka cukup aman.


Langkah pertama yang dimulai Damien membuat sebuah jejak yang cukup dalam, sambil mengawasi sekitar ia mencoba menerka dimana puan sihir berada.


Sementara Albert dan Sophia larut dalam keriangan yang diciptakan salju itu, mengambil segenggam Sophia menekannya hingga berbentuk bulat dan melemparkannya ke Albert.


Buk


"Aw!" erang Albert bareng dengan suara tipukan yang cukup keras.


Sophia tertawa renyah, mundur perlahan saat Albert mulai mengambil segenggam salju dan membalas. Perang salju pun terjadi, mereka tertawa tanpa mau melakukan gencatan senjata sampai Damien menyuruh mereka berhenti.


Kembali melanjutkan perjalanan temperatur yang terasa semakin menurun membuat bunga es di bulu mata Albert dan Sophia, hembusan nafas mereka mengeluarkan asap putih dengan cuping hidung yang memerah.


"Kalian baik?" tanya Damien.


"Y-ya," sahut Sophia dengan gigi yang bergemelatuk.


Jelas mereka kedinginan.


"Um... Albert, b-bolehkah aku memegang tanganmu?" tanya Sophia yang sudah tak tahan.


"Tentu," sahut Albert sebab dia juga butuh menghangatkan diri.


Melihatnya membuat hati Damien yang beku memanas, andai darahnya mengalir dengan panas ia akan bisa memberi kehangatan pada Sophia.


Ak Ak Ak Ak


Tiba-tiba entah dari mana seekor burung gagak terbang mengitari mereka dan perlahan berubah wujud menjadi seorang wanita setengah baya begitu menginjak tanah, pakaiannya serba hitam dengan bibir merah darah yang mengkilap.


"Siapa kalian?" tanya wanita itu.


"Puan Sihir... Alessa menyuruh kami menemui mu," jawab Damien segera mengenali siapa wanita itu.


"Oh murid ku yang arogan! jika dia menyuruh kalian menemui ku berarti kemampuannya sudah tumpul," ujar wanita itu anehnya dengan suara yang menggelegak bak petir.

__ADS_1


Damien tidak berkomentar, kemampuan Alessa tidaklah tumpul melainkan hal ini diluar kemampuannya.


"Aku harap kau mau menolong kami," pintanya berbelas kasih.


"Apa yang kalian inginkan?" tanyanya.


"Pemurnian," sahut Damien.


Puan sihir menggumamkan sesuatu yang tak bisa meraka dengar atau baca dari gerak bibirnya, membuat Damien cukup terganggu akan rasa penasaran.


"Ikuti aku!" perintahnya.


Mereka kembali berjalan sampai tiba di sebuah kastil megah dengan warna senada salju, daun pintunya yang juga berwarna putih hampir membuat mereka tak tahu dimana letaknya jika tak ada ukiran disana.


Begitu masuk udara hangat segera mencairkan bunga es di bulu mata mereka, memberikan rasa nyaman.


Puan Sihir terus memimpin di depan dan mengajak mereka masuk kedalam sebuah ruangan yang luas, di tengah-tengah ruangan nampak kosong seakan memang sengaja dibuat demikian sementara disemua sudut penuh dengan rak buku dan hal lainnya.


Mengambil satu kapur Puan Sihir segera menggambar sebuah pentacle besar di atas lantai, setelah selesai ia menaruh satu toples berisi air disetiap sudutnya.


"Siapa yang akan melakukannya?" tanyanya.


"Dia," jawab Damien sambil menatap Sophia.


Tentu Sophia membalas dengan tatapan bingung sebab mereka tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya, seingatnya Damien hanya mengajaknya pergi untuk menemui Puan Sihir tanpa mengatakan tujuannya.


"Berdiri disini!" perintah Puan Sihir sambil menarik Sophia kedalam pentacle.


"Kau siap?" tanyanya.


"Tunggu!" sergah Sophia meragu.


"Untuk apa pemurnian ini dilakukan?" tanyanya lebih kepada Damien.


"Untuk mencaritahu ada apa didalam dirimu," sahut Puan Sihir.


"Maksudnya?" tanya Sophia tak mengerti.


"Setiap makhluk bernyawa memiliki dua hal di dalam diri mereka, yaitu sisi baik dan sisi buruk. Tujuan dari pemurnian ini adalah untuk memurnikan sisi mana yang akan mendominasi," jelasnya.


Sophia terdiam, penjelasan singkat itu sudah membuatnya sadar akan satu hal.


"Apa Ursula mengatakan sesuatu pada kalian?" tanyanya dengan wajah murung.


Sontak Damien dan Albert terkejut, mereka sadar kemana arah pertanyaan Sophia.


"Dia sudah bicara padamu?" ujar Damien balik bertanya.


"Saat mencoba menyelamatkan Albert dia berkata tidak seharusnya aku kasihan pada musuh, dia mengatakan seharusnya aku berada di pihaknya sebab aku adalah putrinya. Aku adalah Sang Penunggang," jawab Sophia yang membuat mereka lebih terkejut lagi terlebih Puan Sihir.


"Apa? kau seorang penunggang?" tanya Puan Sihir dengan nada tinggi.


"Aku tidak tahu, Ursula yang mengatakan itu dan aku tidak bisa percaya begitu saja sebab aku ingat masa kecilku di istana. Tapi Ursula mengatakan aku diculik Pangeran Thodor saat masih bayi demi menggantikan Albert sebagai anak kejutan," sahutnya.


"Kalau begitu kita harus cepat mencaritahu," tegas Puan Sihir kembali bersiap.


"Tunggu!" sergah Sophia lagi.


Puan Sihir kembali terdiam untuk mendengarkan.


"B-bagaimana jika aku memang Sang Penunggang?" tanyanya ragu.


"Maka aku harus membunuhmu," jawab Puan Sihir tanpa berbelas kasih.


"Sang Penunggang adalah pemimpin sejati bangsa Elf yang akan membawa kejayaan hanya pada bangsa Elf, dia dipenuhi dengan perasaan ambisi, haus darah dan tidak pernah puas. Selain bangsa Elf ia hanya akan membinasakan semua makhluk bahkan mereka yang tidak berdosa sekalipun," jelasnya.


Tentu itu membuat Sophia ngeri.


"T-tapi... jika aku Sang Penunggang aku tidak akan melakukan hal kejam seperti itu," bantahnya.


"Sayangnya kau tidak bisa menolak, Sang Penunggang memiliki separuh jiwa naga yang artinya ia hanya memiliki setengah kesadaran. Meski kau mencoba berontak tapi kau tidak bisa menekan naluri buasmu, karena itu sebaiknya kita segera mencaritahu apakah kau Sang Penunggang atau bukan."


Dengan susah payah Sophia menelan ludah, rasanya ia ingin lari tapi kakinya terasa berat untuk diangkat. Menatap sendu pada Damien ia meminta pertolongan tanpa kata, berharap meskipun ia adalah Sang Penunggang Damien akan tetap mencintainya.


Ritual pemurnian siap dilaksanakan, Puan Sihir mulai membaca mantra yang membuat air didalam toples itu melayang ke udara.


Berkumpul menjadi satu diatas kepala Sophia, beberapa detik kemudian tiba-tiba Sophia merasa sakit kepala yang sangat menyiksa. Ia jatuh ke lantai masih dengan memegang kepalanya, memukulnya dengan keras berharap rasa sakit itu hilang.


Tapi semakin lama rasa sakitnya semakin bertambah besar hingga rasa tak tahan membuat Sophia mengalirkan air mata, bulirnya tidak jatuh ke lantai justru naik ke atas.


Berkumpul bersama air dari toples yang semakin banyak dan melebar, melihat Sophia begitu menderita baik Damien atau Albert sebenarnya tak tega.

__ADS_1


Tapi mereka harus melakukannya.


__ADS_2