Surprise Child

Surprise Child
Bab 49 Reuni Suku Zimbe


__ADS_3

"Siapa kalian!" seru seorang pria dari kejauhan.


Pria dengan warna kulit gelap itu segera berlari ke arah mereka dan menodongkan tombak, Latisha yang ketakutan segera berlindung di punggung ibunya.


"Maaf atas kelancangan kami, aku adalah Sophia. Aku tamu dari kepala suku kalian Matheo," jawab Sophia santai.


Pria itu menatap tak percaya, perlahan ia menurunkan senjatanya.


"Kau saudara Albert?" tanyanya.


"Ya! kau mengingatnya?" tanya Sophia lebih kaget.


"Oh... pantas kau bisa masuk ke sini, mari masuk! kepala suku pasti senang melihat kedatangan mu!" ujarnya memberi jalan.


Sophia mengangguk, ia pun mengajak Latisha untuk mulai berjalan tanpa mengkhawatirkan apa pun. Sepanjang jalan menuju rumah Matheo mereka terus menatap suasana desa yang cukup hening, apalagi dengan pemandangan yang benar-benar berbeda.


Sampai di rumah Matheo pria itu segera mengetuk pintu, dan begitu Matheo yang keluar mereka bisa langsung saling mengenali.


Matheo menyambut hangat seperti biasa kedatangannya dan mempersilahkannya masuk, tak hanya Matheo tapi istri dan anak laki-laki Matheo yaitu Aslan yang kini sudah menjadi pria dewasa menyambut hangat kedatangan mereka.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ujar Matheo dengan suara yang sedikit serak.


Tentu, memang cukup lama mereka tak bertemu. Kini Matheo sudah telihat lebih tua dari ingatkan Sophia, ada beberapa helai uban di sela rambut Matheo dan keriput nampak jelas di sudut mata dan bibirnya.


"Mm, bagaimana kabar kalian? melihat tempat ini kalian pasti sudah melakukan terobosan baru," sahut Sophia.


"Ya, anak-anak muda tak berhenti bereksperimen. Model rumah-rumah pun adalah hasil eksperimen mereka," sahut Matheo.


"Apa kau masih bersama kak Yarren?" tanya Alsan tiba-tiba yang membuat keheningan.


Sophia menundukkan kepala mengingat calon iparnya yang tak berumur panjang sementara Latisha hanya menatap bingung.


"Maaf, dia sudah tiada."

__ADS_1


Kalimat itu membuat kesedihan yang tak terbayang, tak ada air mata yang keluar dari mereka namun penyesalan dan kesedihan membendung tinggi di setiap hati.


"Yah, ini sudah jalannya. Bagaimana dengan mu? kau belum menceritakan apa pun tentang mu," ujar Matheo mengubah topik.


Sophia segera menceritakan peperangan yang tidak diketahui suku Zimbe, tentu ia juga mengenalkan Latisha yang merupakan buah hatinya dengan Damien.


Mengetahui hal itu sontak Matheo kaget, ia tak menyangka takdir mereka akan begitu rumit dan panjang.


"Aku sedang mencari Alessa, hanya dia yang bisa mengetahui keberadaan Damien dan Albert," ujar Sophia di akhir ceritanya.


"Begitu rupanya, untuk malam ini menginaplah di sini besok baru lanjutkan perjalanan kalian," ujar Matheo ramah seperti biasa.


Sophia mengucapkan terimakasih atas segala kebaikan Matheo dan suku Zimbe kepadanya, di pandu istri Matheo mereka masuk ke dalam kamar tamu yang cukup luas dengan nuansa elegan bak di dunia lain.


"Ibu siapa Yarren? kenapa aku tidak pernah mendengar tentangnya?" tanya Latisha penasaran.


"Dia anak kepala suku, dia seorang putri yang rela melepas gelarnya dan terasing dari sukunya demi membantu paman mu Albert menemukan ibu. Dia bahkan sampai rela berkorban nyawa demi Albert," sahut Sophia mengingat bagaimana kebaikan dan ketulusan sahabatnya itu.


"Latisha, jika kau sudah bertemu dengan Albert jangan pernah sebut nama Yarren di depannya. Dia adalah cinta pertama paman mu dan kisah mereka terlalu menyakitkan, ibu yakin sampai saat ini paman mu masih menyimpan cintanya untuk Yarren dan kau harus menghormati itu," ujar Sophia tegas.


Ia mulai berfikir akan tidak mudah menjalin hubungan dengan Albert, mungkin mereka tidak akan cocok tapi sekali lagi ia harus memenuhi takdirnya seperti ibunya.


Lagi pula menjadi anak kejutan bukan berarti ia harus menikah dengan pamannya dan memiliki anak seperti orang tuanya, mereka hanya akan hidup bersama dan saling melindungi.


Esoknya setelah matahari terbit Matheo sempat mengajak mereka ke kebun untuk memetik langsung buah-buahan langka yang tidak pernah mereka lihat oleh Sophia sekalipun.


Jalan-jalan santai itu membuat Sophia teringat masa lalu, masa dimana ia dan Yarren bersama untuk membebaskan Albert.


Sebenarnya Matheo berharap mereka mau tinggal satu malam lagi, tapi Sophia menolak dengan sopan sebab ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Damien.


Menjelang siang mereka pun bergegas pergi meninggalkan suku itu, suku yang selalu berbaik hati menolong tanpa pamrih.


......................

__ADS_1


Pegunungan Havertz adalah tempat yang di penuhi jurang terjal, aliran sungainya pun deras meski di musim panas. Tak ada yang tinggal di sana kecuali hewan dengan kelebihan tertentu, seperti kambing gunung yang mampu mendaki meski tebing curam.


Damien dan Albert sampai saat bulan masih tinggi di langit dengan cahaya pucatnya, saat ini Meg beserta keluarganya pasti sedang tidur nyenyak.


Mereka pun memutuskan untuk melihat-lihat tempat itu, seperti yang di ceritakan orang-orang. Tak ada apa pun di pegunungan itu kecuali tebing, sungai dan jurang yang dipenuhi bebatuan.


"Lihat!" seru Albert sambil menunjuk sebuah gua dengan mulut kecil yang hanya cukup untuk satu orang dewasa.


"Mari kita lihat," ujar Damien memimpin jalan.


Mereka melompat dari batu ke batu dengan hati-hati, meski tubuh mereka mampu sembuh dengan cepat dari sebuah luka tapi jatuh dari jurang dengan menghantam bebatuan tajam tetap saja dapat membunuh mereka tentunya secara perlahan.


Itu lebih mengerikan dari di pancang tepat di jantung sebab mereka dapat merasakan sakit yang lama.


Sampai di mulut gua Damien yang masuk lebih dulu tak berapa lama kemudian menemukan helai bulu serigala, ini artinya mungkin manusia serigala pernah memasukinya atau gua ini merupakan jalan menuju suatu tempat.


Mereka terus maju sampai beberapa kilometer kedepan ruang di dalam gua semakin melebar hingga muat untuk dua orang, semakin dalam rupanya gua itu semakin besar.


Tak disangka mereka juga menemukan jalan bercabang di dalam gua, itu membuat mereka bingung harus memilih jalan yang mana. Akhirnya setelah banyak pertimbangan mereka pun memilih jalan di kiri, mulai berjalan masuk nyatanya baru beberapa langkah jalan itu buntu.


Tak ada apa pun di sana kecuali dinding batu yang keras, mendengus kesal mereka pun kembali berbalik hendak masuk ke jalan yang di kiri.


Namun anehnya setelaj beberapa menit berjalan mereka justru menemukan jalan buntu.


"Bukankah kita tadi datang dari arah sini?" tanya Albert.


"Ya," sahut Damien mulai berfikir keras.


"Lalu... kenapa kita malah menemukan jalan buntu?" tanya Albert bingung.


"Kita kembali ke arah yang tadi," ujar Damien.


Merek berbalik dan mulai berjalan lagi, namun setelah sampai yang mereka temukan benar jalan buntu.

__ADS_1


Mematung mereka berfikir apa yang sebenarnya telah terjadi, mengapa kini tiba-tiba mereka di apit oleh jalan buntu padahal nyatanya mereka masuk dari salah satu jalan.


Damien mulai memeriksa dinding batu itu, mengetuk-ngetuknya berharap ada ruang kosong lain yang bisa menjadi jalan keluar namun sayangnya tidak ada.


__ADS_2