
Latisha kembali masuk ke kamarnya, ia sudah di beri jadwal untuk kegiatan besok oleh pengawasnya maka hari itu ia bisa melakukan apa pun termasuk menjelajah.
Inginnya memang seperti itu, tapi begitu Albert pergi ia tiba-tiba merasa kesepian hingga malas untuk keluar kamar. Pada akhirnya ia hanya keluar untuk makan malam dan kembali lagi untuk tidur, saat pagi menjelang barulah ia memulai rutinitas barunya.
Sebelum masuk ke kelas ia lebih dulu masuk ke ruang Dekan, rupanya Sir.Hummut memang sudah menunggunya dari tadi.
Sudah menjadi hukum setiap murid baru yang datang akan melakukan ritual penentuan dimana itu berpengaruh pada masa pembelajarannya, Dekan menyuruh Latisha untuk berdiri di sebuah pentacle yang sudah ia siapkan.
Kemudian ia membaca mantra yang membuat benda-benda di dalam pentacle melayang di sekitar Latisha, tanpa ragu tiba-tiba Latisha mengambil sebuah peluit.
Benda-benda yang lain pun berjatuhan, membuat Dekan cukup kaget atas apa yang Latisha pilih.
"Apa ada yang salah?" tanya Latisha bingung.
"Tidak sayang, hanya saja sesuatu yang kau pilih tidak biasa."
"Maksud anda?" tanya Latisha lagi.
"Peluit ini dulu milik seorang pengembala kambing, ia biasa menggunkannya untuk memanggil ternaknya yang terlalu jauh. Dia bukan seorang pengembala biasa, dia adalah Dean. Bapak dari segala binatang, semua hewan tunduk kepadanya tanpa terkecuali. Kau sudah memilih ini maka potensi mu ada pada pengendalian hewan," jelas Dekan.
"Sungguh? aku suka binatang!" seru Latisha.
Dekan tersenyum, ia kemudian mengantarkan Latisha ke kelasnya. Masalahnya sangat jarang ada yang memiliki potensi ini, ketika mereka masuk kedalam kelas hanya ada dua murid di sana dan akan menjadi tiga bersama Latisha.
"Mam, ini Latisha. Mulai sekarang dia akan bergabung dengan kelas ini," ujar Dekan kepada pengajar sekaligus wali kelas itu bernama Mariana atau lebih akrab di panggil Mam.
"Selamat datang sayang, masuklah!" seru Mam.
Latisha masuk ke dalam kelas yang merupakan ruangan kecil dengan nuansa hijau dan kuning, hanya ada dua kursi disana dan sudah penuh. Maka dengan sihir Dekan tiba-tiba membuat satu kursi lagi, tentu itu membuat Latisha takjub.
"Duduklah nak," perintah Mam.
Latisha menurut.
"Anak-anak perkenalkan diri kalian," ujar Mam.
"Namaku Percy," ujar seorang pria jangkung dengan tubuh kurus, gigi atasnya nampak lebih maju hingga muncul jika ia tidak menutup mulutnya dengan benar.
Kulitnya nampak lebih pucat seperti kekurangan darah, usianya setidaknya satu tahun lebih tua dari Latisha.
"Namaku Barney, salam kenal!" ucap murid satunya.
Perawakannya lebih pendek bahkan dari Latisha, tapi usianya sama dengan Latisha. Ia memiliki pipi tembem yang menggemaskan dengan wajah menyenangkan, namun pakaiannya lusuh seperti sudah di pakai berpuluh-puluh tahun.
"Ini adalah kali pertama Latisha masuk Akademi jadi dia belum tahu semua tempat yang ada, saat nanti jam kosong jangan lupa ajak Latisha main ke ruang favorit kalian," ujar Mam.
"Baik Mam!" seru kedua anak itu.
Pelajaran pertama di mulai, Latisha belajar tentang hewan pemakan daging yang dikenal ganas. Mengetahui ada hewan seperti itu berkeliaran di hutan sana ia bukannya takut tapi malah penasaran, ia bertanya-tanya seberapa gagah hewan itu jika di lihat secara langsung.
Beberapa jam di kelas tanpa terasa waktu istirahat telah tiba, Latisha merengut sebab ia masih betah mendengar Mam menceritakan tentang banyak hewan.
"Ayo Latisha! aku akan mengajarimu cara mendapatkan makanan yang enak," ajak Barney.
__ADS_1
Latisha langsung antusias, ia penasaran makanan enak apa yang Barney maksud. Saat mereka tiba di kantin Latisha melakukan semua hal yang Barney lakukan, mulai dari mengambil nampan hingga menyodorkannya pada petugas di sana.
Setelah selesai mengambil makanan mereka bertiga duduk di kursi yang kosong, Barney kemudian menyuruh Latisha mencampur semua makanan jadi satu dan langsung melahapnya.
"Bagaimana?" tanya Barney.
"Um... " Latisha belum bisa menjawab.
Mulutnya penuh dan masih mengunyah sementara Barney dan Percy menatap Latisha dengan penasaran.
"Ada rasa manis, asam, gurih bercampur jadi satu. Sedikit lembek tapi tidak buruk," komentar Latisha setelah menelan makanan itu.
"Sungguh? hahahaha kau menyukainya?" tanya Percy tak percaya.
"Entahlah, aku tidak bisa bilang suka karena aku tidak suka teksturnya."
"Benar, itu sangat menjijikkan Latisha. Lain kali jangan mau mengikuti Barney," sahut Percy.
"Memang aku kenapa?" tanya Barney merasa tersinggung.
"Seleramu payah!" sahut Percy.
"Apa kau bilang?" tanya Barney kesal.
Pertarungan kecil terjadi antara dua anak laki-laki itu, Latisha yang melihatnya bukan melerai malah memberi tepuk tangan untuk memeriahkannya.
"Lihat itu! dua pecundang sedang berkelahi!" seru seseorang.
Hahahahahaha
"Hai cantik, kenapa kau mau duduk dengan dua pecundang ini?" tanya seorang murid pria sambil menghampiri Latisha.
"Apa maksud mu?" tanya Latisha tak mengerti.
"Mereka ini dari kelas hewan," sahutnya.
"Aku tahu, aku juga murid di kelas itu," jawab Latisha membuat semua murid yang mendengar melongo.
"Sungguh? kau bagian dari para pecundang itu?" tanya murid itu tak percaya.
"Aku baru masuk hari ini," jelas Latisha.
"Oh, padahal kau lumayan cantik. Aku tidak menyangka kau sama pecundangnya dengan mereka," tukas murid itu kemudian pergi meninggalkan mereka.
Latisha melihat tatapan semua murid padanya yang terkesan menghina, tentu ia tak mengerti mengapa mereka melakukan semua itu padanya.
"Mereka kenapa sih?" tanyanya.
"Apa maksud mu?" balas Percy bingung.
"Kenapa mereka seperti merendahkanku?" tanya Latisha lebih jelas.
"Kau berasal dari mana sih? masa hal seperti itu saja kau tidak mengerti," gerutu Barney.
__ADS_1
Latisha menatap polos, membuat mereka berdua saling menatap.
"Dengar, dari seluruh jurusan yang ada kelas hewan adalah yang paling buruk. Kelas kita benar-benar tidak keren seperti yang lain itulah kenapa kita di sebut pecundang," jelas Percy.
"Keren? kenapa kita harus keren? bukankah kita datang ke Akademi untuk belajar?" tanya Latisha.
Barney hendak menjelaskan tapi ia rasa Latisha tidak akan mengerti bahwa kata keren sangat di butuhkan bagi remaja seperti mereka, melihat bagaimana Latisha justru mereka bingung karena Latisha begitu polos.
"Sudahlah, aku hanya akan memperingatkan mu jika ada yang mengolok mu sebaiknya kau hiraukan saja. Jika ada yang berani menyakiti baru kau lapor pada pengajar atau Dekan," ujar Barney.
Latisha mengangguk meski ia masih belum paham mengapa ada orang yang mau mengoloknya, sisa jam istirahat itu akhirnya ia gunakan untuk menghabiskan makan siang yang lama kelamaan terasa tidak enak.
Masuk kelas setelah jam istirahat pengajar ganti dengan seorang pria bernama guru Altan, dia melatih fisik mereka agar selalu bugar dan melatih seluruh indera mereka.
Baru dua jam mereka belajar dan Latisha bisa merasakan ia dapat mendengar suara-suara kecil yang samar, itu merupakan suara gaduh kelas lain yang harusnya tidak bisa di dengar karena tembok antar kelas cukup tebal.
Menyadari potensi Latisha guru Altan menjadi bersemangat mengajar kelas itu, padahal awalnya ia sangat malas. Bagaimana tidak? kelas itu hanya berisi dua murid yang tidak begitu pandai.
Pukul empat sore seluruh pelajaran hari itu telah selesai, Latisha kembali ke kamarnya dan mengganti seragam dengan pakaian terusan yang telah di siapkan Akademi.
Ia memilih istirahat sebelum kemudian pergi untuk makan malam, rencananya setelah selesai makan malam ia akan pergi beristirahat lagi di kamar.
Tapi Barney dan Percy datang menemuinya untuk mengajaknya melihat kunang-kunang, karena penasaran Latisha pun ikut.
Mereka menyelinap masuk ke kelas botani, terus menyusuri ruang gelap itu hingga sampai di taman milik kelas botani.
Baru saja mereka tiba puluhan kunang-kunang terbang di sekitar dedaunan, kerlap kerlip cahaya mereka dari kejauhan akan nampak seperti bintang.
Tak dapat menyembunyikan kekagumannya Latisha sampai mendongak menatap kunang-kunang yang terbang di atas kepalanya, Percy menangkap satu ekor dan memperlihatkannya kepada Latisha.
"Mereka serangga?" tanya Latisha tak percaya.
"Ya, bukankah mereka sangat menakjubkan?" tanya Percy.
Latisha mengangguk setuju, ia kemudian mencoba menangkap satu untuk merasakan bagaimana gelinya saat kaki-kaki mungil itu merayap di tangannya.
"Jika ada kunang-kunang itu artinya udara di sini bersih," ujar Barney.
"Memang ada udara yang kotor?" tanya Latisha tidak mengerti.
"Tentu saja ada, seperti kelas sains. Terlalu banyak bahan kimia sehingga jangankan kunang-kunang tanaman saja akan mati di sana," sahut Percy.
Latisha baru tahu tentang hal ini, selama ia di dunia Naga tak ada istilah udara kotor.
Kembali menatap kunang-kunang ia menikmati keindahan mereka sampai menghabiskan waktu berjam-jam, tak terasa bunyi bel tanda jam malam sudah tiba.
Bergegas mereka pun pergi meninggalkan tempat itu, sebagai Pria Barney dan Percy mengantar Latisha hingga ke pintu kamarnya.
"Baiklah terimakasih sudah mengantarku, sampai besok teman-teman!" ujar Latisha melambaikan tangan sebelum menutup pintu.
Percy dan Barney membalas lambaian tangan itu dengan senyum terbaik yang mereka miliki, setelah Latisha menutup pintu barulah mereka pergi dari sana.
"Bukankah Latisha sangat cantik?" tanya Barney sambil mengingat kembali bagaimana senyum Latisha yang manis.
__ADS_1
"Mm, aku masih tidak percaya kita akan mendapatkan teman kelas yang cantik," sahut Percy.